jkbanner

THE TEACHINGS OF J.KRISHNAMURTI   -   INDONESIAN WEBSITE




RENUNGAN HARIAN - MEI

PENGKONDISIAN


THE BOOK OF LIFE (22/05)
Semua Pikiran Tidak Lengkap


Anda dan saya menyadari bahwa kita terkondisi. Jika Anda berkata—seperti dikatakan oleh sementara orang—bahwa pengkondisian tidak bisa dihindarkan, maka tidak ada masalah; Anda budak, dan selesailah sudah. Tetapi jika Anda mulai bertanya-tanya, apakah mungkin untuk mematahkan keterbatasan ini, keterkondisian ini, maka ada masalah; jadi, Anda harus menyelidik ke dalam seluruh proses pikiran, bukan? Jika Anda sekadar berkata, “Saya harus sadar akan keterkondisian saya, saya harus memikirkannya, menganalisisnya, untuk dapat memahami dan memusnahkannya,” maka Anda melakukan upaya. Pemikiran Anda, analisis Anda, masih hasil dari latar belakang Anda; maka melalui pikiran Anda jelas Anda tidak mungkin mematahkan keterkondisian yang pikiran itu sendiri adalah bagiannya.

Jadi, pertama-tama lihatlah masalah itu saja, jangan bertanya bagaimana jawabannya, pemecahannya. Faktanya kita terkondisi, dan bahwa semua pikiran untuk memahami keterkondisian ini selalu tidak lengkap; jadi tidak pernah ada pemahaman total, dan hanya di dalam pemahaman total akan seluruh proses pikiran terdapat kebebasan. Kesulitannya adalah bahwa kita selalu berfungsi di dalam lingkup batin, yang adalah alat pikiran—masuk akal atau tidak masuk akal; dan seperti telah kita lihat, pikiran selalu tidak lengkap.




THE BOOK OF LIFE (23/05)
Kebebasan dari Diri


Untuk membebaskan batin dari semua keterkondisian, Anda harus melihat totalitasnya tanpa pikiran. Ini bukan pepatah; cobalah dan Anda akan melihat. Pernahkah Anda melihat sesuatu tanpa pikiran? Pernahkah Anda menyimak, memandang, tanpa memasukkan semua proses reaksi ini? Anda akan berkata, mustahil untuk melihat tanpa pikiran; Anda akan berkata tidak ada batin yang tak terkondisi. Bila Anda berkata demikian, Anda sudah menghalangi diri Anda sendiri dengan pikiran, oleh karena faktanya adalah Anda tidak tahu.

Jadi dapatkah saya melihat, dapatkah batin menyadari keterkondisiannya sendiri? Saya rasa dapat. Silakan mencoba. Dapatkah Anda menyadari bahwa Anda seorang beragama, seorang Sosialis, seorang Komunis, ini-itu; hanya sadar, tanpa mengatakan itu benar atau salah? Oleh karena begitu sulit untuk sekadar melihat, kita berkata itu mustahil. Saya katakan, hanya bila Anda menyadari totalitas diri Anda ini tanpa reaksi apa pun, maka keterkondisian itu lenyap, secara total, mendalam—yang sesungguhnya adalah kebebasan dari diri.




THE BOOK OF LIFE (24/05)
Kesadaran Dapat Menghabisi Semua Masalah


Jelas semua proses berpikir adalah terkondisi, tidak ada yang disebut berpikir bebas. Berpikir tidak pernah bebas, itu adalah hasil dari pengkondisian kita, dari latar belakang kita, dari budaya kita, dari iklim kita, dari latar belakang sosial, ekonomi, dan politis kita. Bahkan buku-buku yang Anda baca dan praktek-praktek religius yang Anda lakukan semuanya ada di latar belakang, dan setiap pikiran adalah hasil dari latar belakang itu. Jadi, jika kita bisa sadar—dan nanti dapat kita selami apa artinya hal itu, apa artinya sadar—mungkin kita dapat membongkar keterkondisian batin tanpa proses kehendak, tanpa niat untuk membongkar keterkondisian batin. Oleh karena begitu Anda berniat, terdapat entitas yang menginginkan, entitas yang berkata, ”Saya harus membongkar keterkondisian batin saya.” Entitas itu sendiri adalah hasil dari keinginan kita untuk mencapai hasil tertentu, jadi ada konflik di situ. Jadi, mungkinkah untuk sadar akan keterkondisian kita, untuk sekadar sadar, yang di situ tidak ada konflik sama sekali? Keadaan sadar itu sendiri, jika dibiarkan, mungkin dapat menghabisi masalah yang ada.




THE BOOK OF LIFE (25/05)
Tidak Ada Pengkondisian yang Luhur atau Lebih Baik


Tidakkah dorongan batin untuk membebaskan diri dari keterkondisiannya menggerakkan suatu pola lain perlawanan dan pengkondisian? Setelah menyadari pola atau cetakan yang di dalamnya Anda dibesarkan, Anda ingin bebas dari itu; tetapi, tidakkah keinginan batin untuk bebas ini mengkondisikan lagi batin dengan cara lain? Pola lama menekankan bahwa Anda harus menyesuaikan diri dengan otoritas, dan sekarang Anda mengembangkan pola baru, yang menekankan bahwa Anda tidak boleh menyesuaikan diri; jadi Anda mempunyai dua pola, yang satu sama lain berkonflik. Selama ada kontradiksi batiniah ini, terjadi pengkondisian lebih jauh.

... Terdapat dorongan untuk menyesuaikan diri, dan terdapat dorongan untuk bebas. Betapa pun berbeda tampaknya kedua dorongan ini, tidak keduanya secara mendasar mirip? Dan jika keduanya secara mendasar mirip, maka upaya Anda meraih kebebasan adalah sia-sia, oleh karena Anda hanya pindah dari satu pola ke pola lain, tanpa akhir. Tidak ada pengkondisian yang mulia atau lebih baik, dan keinginan itulah yang harus dipahami.




THE BOOK OF LIFE (26/05)
Bebas dari Keterkondisian


Keinginan untuk membebaskan diri dari keterkondisian hanya akan melanjutkan keterkondisian. Tetapi jika—alih-alih mencoba menekan keinginan—kita memahami seluruh proses keinginan, di dalam pemahaman itu sendiri muncullah pembebasan dari keterkondisian. Kebebasan dari keterkondisian bukanlah hasil langsung. Pahamkah Anda? Jika saya berketetapan untuk dengan sengaja membebaskan diri dari keterkondisian saya, keinginan itu menciptakan keterkondisiannya sendiri. Saya mungkin melenyapkan salah satu bentuk keterkondisian, tetapi saya terperangkap di dalam keterkondisian lain. Sedangkan, jika terdapat pemahaman akan keinginan itu sendiri, yang mencakup keinginan untuk bebas, maka pemahaman itu sendiri akan melenyapkan semua keterkondisian. Kebebasan dari keterkondisian adalah hasil samping, itu tidak penting. Yang penting adalah memahami apa yang menyebabkan keterkondisian.




THE BOOK OF LIFE (27/05)
Keadaan-sadar Sederhana


Sesungguhnya setiap bentuk penimbunan, baik pengetahuan maupun pengalaman, setiap bentuk cita-cita, setiap proyeksi pikiran, setiap praktek bersungguh-sungguh untuk membentuk pikiran—apa yang wajib dan apa yang tidak boleh—semua ini melumpuhkan proses penyelidikan dan penemuan.

Jadi, saya rasa penyelidikan kita hendaknya bukan untuk memecahkan masalah-masalah kita yang ada di hadapan kita, alih-alih untuk menemukan apakah batin—batin sadar maupun batin tak sadar yang dalam, yang di situ tertimbun semua tradisi, ingatan, warisan pengetahuan ras kita—apakah semua itu dapat dikesampingkan. Saya rasa itu dapat dilakukan hanya apabila batin mampu sadar tanpa suatu tuntutan, tanpa tekanan—sekadar sadar. Saya rasa itu suatu hal yang paling sukar—untuk sadar—oleh karena kita terperangkap dalam masalah serta pemecahan yang ada di hadapan kita, dan dengan demikian kehidupan kita sangat dangkal. Sekalipun kita mungkin mengunjungi semua psikoanalis, membaca semua buku, memperoleh banyak pengetahuan, datang ke tempat ibadah, berdoa, bermeditasi, mempraktekkan berbagai disiplin, namun, kehidupan kita jelas sangat dangkal oleh karena kita tidak tahu bagaimana menembus secara dalam. Saya rasa pemahaman, jalan penembusan, bagaimana menyelam sangat, sangat dalam, terletak pada keadaan-sadar—sekadar menyadari pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan kita, tanpa menyalahkan, tanpa membandingkan, sekadar mengamati. Anda akan melihat, jika Anda mau mencoba, betapa luar biasa sukarnya, oleh karena seluruh pendidikan kita adalah untuk menyalahkan, membenarkan, membandingkan.




THE BOOK OF LIFE (28/05)

Tidak Ada Bagian Batin yang Tak Terkondisi


Batin Anda terkondisi seluruhnya; tidak ada bagian diri Anda yang tak terkondisi. Ini fakta, Anda suka atau tidak. Anda mungkin berkata, ada bagian diri Anda—si pengamat, Ruh yang Lebih Tinggi, Atman—yang tak terkondisi; tetapi oleh karena Anda memikirkannya, itu berada dalam lingkup pikiran; oleh karena itu, terkondisi. Anda dapat membuat banyak teori tentang itu, tetapi faktanya batin Anda terkondisi seluruhnya, yang sadar dan yang tak sadar, dan setiap upaya yang dilakukannya untuk membebaskan dirinya juga terkondisi. Jadi, apa yang harus dilakukan oleh batin? Atau lebih tepat, apakah keadaan batin ketika ia mengetahui bahwa dirinya terkondisi dan menyadari bahwa setiap upaya yang dilakukannya untuk membongkar keterkondisian dirinya masih terkondisi?

Nah, ketika Anda berkata, ”Saya tahu saya terkondisi,” apakah Anda sungguh-sungguh mengetahuinya, ataukah itu sekadar pernyataan kata-kata? Apakah Anda mengetahuinya dengan kekuatan yang sama seperti Anda melihat seekor ular kobra? Bila Anda melihat seekor ular dan tahu itu kobra, terdapat tindakan seketika, tindakan yang tak dipikir lebih dulu; dan bila Anda berkata, ”Saya tahu saya terkondisi,” apakah itu memiliki makna penting seperti persepsi Anda tentang ular kobra? Ataukah itu sekadar pengakuan dangkal terhadap fakta itu, dan bukan kesadaran akan fakta itu? Bila saya menyadari fakta bahwa saya terkondisi, terdapat tindakan seketika. Saya tidak perlu berdaya upaya untuk membongkar keterkondisian saya. Fakta bahwa saya terkondisi, dan kesadaran akan fakta itu, membawa pencerahan seketika. Kesulitannya terletak pada tidak menyadari dalam arti memahami seluruh implikasinya, melihat bahwa semua pikiran, betapa halus, betapa licin, betapa canggih atau filosofis, tetap terkondisi.




THE BOOK OF LIFE (29/05)

Beban Bawah-sadar


Di dalam batin, di bawah kesadaran, terdapat beban luar biasa dari masa lampau yang mendorong Anda ke arah tertentu.

Nah, bagaimana kita dapat menghapuskan semua itu? Bagaimana bawah-sadar dapat dibersihkan dari masa lampau dengan seketika? Orang yang suka berpikir secara analitis berkata, bawah-sadar dapat dibersihkan—untuk sebagian atau seluruhnya—melalui analisis—melalui penyelidikan, penjelajahan, pengakuan, penafsiran mimpi, dan sebagainya—sampai setidak-tidaknya Anda menjadi manusia ”normal”, yang mampu menyesuaikan diri Anda dengan lingkungan sekarang. Tetapi di dalam analisis selalu ada si penganalisis dan apa yang dianalisis, si pengamat yang menafsirkan apa yang diamati, yang adalah dualitas, sumber konflik.

Jadi saya melihat, sekadar menganalisis bawah-sadar tidak akan menghasilkan apa-apa. Mungkin bisa membantu saya untuk menjadi agak kurang neurotik, menjadi agak lebih baik hati kepada istri saya, kepada tetangga saya, atau hal-hal dangkal lain seperti itu; tetapi kita tidak membicarakan itu. Saya melihat bahwa proses analitis—yang menyangkut waktu, penafsiran, gerak pikiran sebagai si pengamat yang menganalisis apa yang diamati—tidak dapat membebaskan bawah-sadar; dengan demikian, saya menolak proses analisis sama sekali. Pada saat saya melihat fakta bahwa proses analisis tidak mampu dalam keadaan apa pun melepaskan beban bawah-sadar, saya keluar dari analisis. Saya tidak lagi menganalisis. Jadi apa yang terjadi? Oleh karena tidak ada lagi si penganalisis yang terpisah dari apa yang dianalisisnya, ia adalah itu. Ia bukan entitas yang terpisah dari itu. Maka kita mendapati bahwa bawah-sadar sangat sedikit pentingnya.




THE BOOK OF LIFE (30/05)

Selang Waktu antara Dua Pikiran


Nah, saya katakan, pasti mungkin batin bebas dari semua pengkondisian—bukan berarti Anda harus menerima otoritas saya. Jika Anda menerimanya berdasarkan otoritas, Anda tidak pernah akan menemukannya, itu hanya menjadi satu pengganti lagi dan tidak punya makna. ...

Pemahaman akan seluruh proses pengkondisian tidak datang kepada Anda melalui analisis atau introspeksi, oleh karena pada saat ada si penganalisis, si penganalisis itu sendiri adalah bagian dari latar belakang, dan oleh karena itu analisisnya tidak punya arti. ...

Bagaimana batin ini bisa bebas? Untuk bisa bebas, batin bukan hanya perlu melihat dan memahami ayunannya yang seperti bandul di antara masa lampau dan masa depan, melainkan juga memahami selang waktu di antara dua pikiran. ...

Jika Anda mengamati dengan sangat cermat, sekalipun respons, gerak pikiran, tampak begitu cepat, ada jarak atau interval di antara pikiran-pikiran. Di antara dua pikiran terdapat suatu periode keheningan, yang tidak berkaitan dengan proses pikiran. Jika anda mengamati, Anda akan melihat bahwa periode keheningan itu, interval itu, bukan berasal dari waktu; dan penemuan interval itu, pengalaman penuh akan interval itu, membebaskan Anda dari keterkondisian—atau lebih tepat, itu bukan membebaskan “Anda”, melainkan ada kebebasan dari keterkondisian. ... Hanya apabila batin tidak memberikan kelangsungan kepada pikiran, apabila batin hening dengan keheningan yang tidak dibuat, yang tanpa penyebab apa pun—hanya dengan demikian terdapat kebebasan dari latar belakang.




THE BOOK OF LIFE (31/05)

Amati Bagaimana Kebiasaan Terbentuk


Tanpa kebebasan dari masa lampau, tidak ada kebebasan sama sekali, oleh karena batin tidak pernah baru, segar, polos. Hanyalah batin yang segar, dan polos yang bebas. Kebebasan tidak ada kaitannya dengan umur, tidak ada kaitannya dengan pengalaman; dan saya melihat hakikat kebebasan terletak dalam memahami seluruh mekanisme kebiasaan, baik yang disadari atau tidak. Ini bukan masalah mengakhiri kebiasaan, melainkan melihat secara menyeluruh struktur kebiasaan. Anda perlu mengamati bagaimana kebiasaan terbentuk dan bagaimana—dengan mengingkari atau melawan satu kebiasaan—tercipta kebiasaan lain. Yang penting adalah menyadari sepenuhnya kebiasaan; oleh karena dengan demikian, seperti Anda akan lihat sendiri, tidak akan ada lagi pembentukan kebiasaan. Melawan kebiasaan, menentangnya, mengingkarinya, hanya memberikan kelangsungan kepada kebiasaan. Bila Anda melawan suatu kebiasaan tertentu, Anda memberi kehidupan kepada kebiasaan itu, lalu perlawanan itu sendiri menjadi kebiasaan lebih jauh. Tetapi jika Anda sekadar menyadari seluruh struktur kebiasaan tanpa perlawanan, maka Anda akan mendapati bahwa terdapat kebebasan dari kebiasaan, dan di dalam kebebasan itu terjadilah sesuatu yang baru.

Hanyalah batin yang tumpul dan mengantuk yang menciptakan dan melekat pada kebiasaan. Suatu batin yang penuh perhatian dari saat ke saat—penuh perhatian terhadap apa yang dikatakannya, penuh perhatian terhadap gerak tangannya, gerak pikirannya, gerak perasaannya—akan mendapati bahwa pembentukan kebiasaan lebih jauh telah berakhir. Ini sangat penting untuk dipahami, oleh karena selama batin mematahkan satu kebiasaan dan dalam proses itu menciptakan kebiasaan baru, jelas ia tidak bisa bebas; dan hanyalah batin yang bebas yang dapat melihat sesuatu di luar dirinya.