jkbanner

THE TEACHINGS OF J.KRISHNAMURTI   -   INDONESIAN WEBSITE




RENUNGAN HARIAN - MEI

KATA-KATA


THE BOOK OF LIFE (15/05)
Memahami Kata-kata


Saya tidak tahu apakah Anda pernah merenungkan atau menyelami seluruh proses verbalisasi ini, proses memberi nama. Jika Anda pernah melakukannya, itu adalah hal yang paling menakjubkan dan sangat menarik dan menggairahkan. Bila kita memberikan suatu nama pada segala sesuatu yang kita alami, lihat, atau rasakan, kata itu menjadi amat bermakna; dan kata adalah waktu. Waktu adalah ruang, dan kata adalah pusatnya. Semua proses pikiran adalah verbalisasi; Anda berpikir di dalam kata-kata. Dan dapatkah batin bebas dari kata? Jangan bertanya, “Bagaimana saya bisa bebas?” Itu tidak punya arti. Tetapi ajukan pertanyaan itu kepada diri Anda sendiri, dan lihatlah betapa Anda diperbudak oleh kata-kata seperti India, Bhagavad Gita, Komunisme, Kristen, Rusia, Amerika, Inggris, kasta di bawah Anda dan kasta di atas Anda. Kata ‘cinta’, kata ‘Tuhan’, kata ‘meditasi’—betapa luar biasa makna yang kita berikan kepada kata-kata ini, dan betapa kita diperbudak olehnya.




THE BOOK OF LIFE (16/05)
Ingatan Mengaburkan Persepsi


Apakah Anda berspekulasi, ataukah Anda sungguh-sungguh mengalami sementara kita meneruskan diskusi ini? Anda tidak tahu apa batin religius itu, bukan? Dari apa yang Anda katakan, Anda tidak tahu apa artinya; Anda mungkin mempunyai perasaan atau kilatan yang sekilas tentang itu, seperti Anda melihat langit yang biru, cerah dan indah ketika awan tersibak; tetapi pada saat Anda mencerap langit biru itu, Anda mempunyai ingatan tentang itu, Anda ingin memperoleh lebih banyak lagi, dan dengan demikian Anda tersesat di situ, semakin Anda menginginkan kata untuk disimpan sebagai pengalaman, semakin Anda tersesat di situ.




THE BOOK OF LIFE (17/05)
Kata Menciptakan Keterbatasan


Adakah berpikir tanpa kata? Bila batin tidak dijejali dengan kata, maka berpikir bukanlah berpikir seperti yang kita kenal; melainkan itu suatu kegiatan tanpa kata, tanpa simbol; dengan demikian itu tidak punya batas—kata itu batasnya.

Kata menciptakan keterbatasan, perbatasan. Dan batin yang tidak berfungsi dengan kata-kata tidak mempunyai keterbatasan; ia tidak punya perbatasan; ia tidak terikat. ... Ambillah kata ’cinta’, dan perhatikan apa yang dibangkitkannya dalam batin Anda, amati batin Anda; pada saat saya mengucapkan kata itu, Anda mulai tersenyum dan duduk tegak, Anda merasakan. Jadi kata ’cinta’ membangunkan segala macam gagasan, segala macam pemisahan, sebagai ini jasmaniah, itu spiritual, ini profan, itu tak terbatas, dan sebagainya. Tapi temukan apa cinta itu. Sesungguhnya, Bapak, untuk menemukan apa cinta itu, batin harus bebas dari kata itu dan dari makna kata itu.




THE BOOK OF LIFE (18/05)
Mengatasi Kata-kata


Untuk saling memahami, saya rasa perlu bahwa kita tidak terperangkap dalam kata-kata; oleh karena sebuah kata, seperti ’Tuhan’, misalnya, mungkin mempunyai makna tertentu bagi Anda, sedangkan bagi saya kata itu mungkin mewakili suatu rumusan yang sama sekali lain, atau tanpa rumusan sama sekali. Jadi hampir tidak mungkin berkomunikasi dengan orang lain kecuali kedua pihak berniat untuk saling memahami dan mengatasi kata-kata. Kata ’kebebasan’ pada umumnya menyiratkan bebas dari sesuatu, bukan? Biasanya itu berarti bebas dari keserakahan, dari iri hati, dari nasionalisme, dari amarah, dari ini atau itu. Sedangkan, kebebasan mungkin mempunyai makna yang lain sekali, yang adalah suatu rasa bebas; dan saya rasa sangat penting untuk memahami makna ini.

... Bagaimana pun juga, batin ini terbentuk dari kata-kata, di samping hal-hal lain. Nah, dapatkah batin bebas dari kata ’iri hati’? Cobalah bereksperimen dengan ini, dan Anda akan melihat bahwa kata-kata seperti ’Tuhan’, ’kebenaran’, ’kebencian’, ’iri hati’, mempunyai efek yang kuat dalam batin. Dapatkah batin secara neurologis dan secara psikologis bebas dari kata-kata ini? Jika batin tidak bebas dari kata-kata itu, ia tidak mampu menghadapi fakta iri hati. Bila batin dapat memandang langsung fakta yang dinamakannya ”iri hati”, maka fakta itu sendiri bertindak jauh lebih cepat daripada upaya batin untuk melakukan sesuatu terhadap fakta itu. Selama batin berpikir untuk melenyapkan iri hati melalui cita-cita tentang tanpa-iri hati, dan seterusnya, perhatiannya menyimpang, ia tidak lagi berhadapan dengan faktanya; dan kata ’iri hati’ itu sendiri merupakan pengalihan perhatian dari faktanya. Proses pengenalan adalah melalui kata; dan pada saat saya mengenali perasaan melalui kata, saya memberikan kelangsungan pada perasaan itu.




THE BOOK OF LIFE (19/05)

Melihat Secara Luar Biasa


Jadi kita bertanya, seperti pada awal tadi, bisakah batin sampai pada penglihatan yang luar biasa, bukan dari tepi, bukan dari luar, bukan dari perbatasan, melainkan sampai ke situ tanpa pencarian apa pun? Dan sampai ke situ tanpa pencarian apa pun adalah satu-satunya jalan untuk menemukan. Oleh karena dengan datang ke situ tanpa tahu, maka tidak ada daya upaya, tiada pencarian, tiada pengalaman; dan ada pengingkaran total dari semua praktek-praktek yang normal untuk sampai kepada pusat itu, kepada pemekaran itu. Jadi batin sangat tajam, sangat sadar, tidak lagi bergantung pada pengalaman apa pun untuk tetap sadar.

Jika kita bertanya kepada diri sendiri, kita bisa bertanya dengan kata-kata—memang, bagi kebanyakan orang bertanya harus dengan kata-kata. Dan kita harus ingat: kata bukanlah hal yang dinamakannya—seperti kata ’pohon’ bukanlah pohon, bukan fakta aktualnya. Fakta aktualnya ialah apabila kita menyentuhnya, bukan melalui kata itu, melainkan apabila kita sungguh-sungguh kontak dengannya. Maka itulah aktualitas—yang berarti kata itu telah kehilangan kekuatannya untuk memukau orang. Contohnya, kata ’Tuhan’ telah terbebani begitu berat dan memukau orang begitu kuat sehingga mereka menerimanya atau menolaknya, dan bertingkah seperti tupai di dalam kurungan. Jadi kata dan simbol harus dikesampingkan.




THE BOOK OF LIFE (20/05)

Persepsi Kebenaran Terjadi Seketika


Keadaan berpikir dengan kata-kata telah dibangun selama berabad-abad, dalam hubungan antara individu dan masyarakat; sehingga kata, keadaan verbal adalah keadaan sosial di samping keadaan individual. Untuk berkomunikasi seperti kita lakukan sekarang, saya membutuhkan ingatan, saya membutuhkan kata, saya harus bisa berbahasa Inggris, Anda harus bisa berbahasa Inggris; itu telah dicapai selama berabad-abad. Kata bukan hanya dikembangkan di dalam hubungan sosial, melainkan juga sebagai reaksi di dalam hubungan sosial itu terhadap individu; di situ diperlukan kata. Masalahnya ialah, setelah memakan waktu begitu lama, berabad-abad, untuk membangun keadaan simbolik, kata-kata, dapatkah itu terhapus dengan seketika begitu saja? ... Melalui waku apakah kita akan membebaskan batin dari pembelengguan oleh kata-kata, yang telah dibangun selama berabad-abad? Ataukah belenggu itu harus patah dengan seketika? Nah, Anda mungkin berkata, ”Itu perlu waktu; saya tidak dapat melakukannya dengan seketika.” Ini berarti Anda membutuhkan waktu berhari-hari, ini berarti kelangsungan apa yang sebelumnya ada, sekalipun dimodifikasikan dalam prosesnya, sampai Anda mencapai tingkat yang di situ Anda tidak dapat berjalan lebih jauh lagi. Dapatkah Anda melakukannya? Oleh karena kita takut, karena kita malas, karena kita tidak mau berubah, kita berkata ”Mengapa pusing-pusing? Itu sangat sukar,” atau kita berkata, ”Saya tak tahu harus berbuat apa”—jadi Anda menunda, menunda, menunda. Tetapi Anda harus melihat kebenaran dari kelangsungan dan modifikasi kata. Persepsi akan kebenaran apa pun berlangsung seketika—bukan di dalam waktu. Dapatkah batin menembus dengan seketika, terhadap pertanyaan itu sendiri? Dapatkah batin melihat kata sebagai penghalang, memahami makna kata dengan sekilas, dan berada dalam keadaan yang di situ batin tidak lagi terperangkap di dalam waktu? Anda tentu pernah mengalami ini; cuma itu amat jarang bagi kebanyakan dari kita.




THE BOOK OF LIFE (21/05)

Kebenaran Halus


Anda mengalami kilatan pemahaman, pencerahan yang luar biasa cepat, ketika batin sangat hening, ketika pikiran tidak ada, ketika batin tidak dibebani oleh kebisingannya sendiri. Jadi, pemahaman terhadap sesuatu—suatu lukisan modern, seorang anak, istri Anda, tetangga Anda, atau memahami kebenaran, yang ada di dalam segala sesuatu—hanya dapat muncul bila batin sangat hening. Tetapi keheningan itu tidak dapat dipupuk, oleh karena jika Anda memupuk batin agar hening, itu bukan batin yang hening, itu batin yang mati.

... Makin Anda berminat terhadap sesuatu, makin Anda berniat memahami, makin sederhana, jernih dan bebas batin itu. Maka penggunaan kata-kata pun berhenti. Bagaimana pun juga, pikiran adalah kata, dan kata itulah yang mengganggu. Tabir kata-kata, yang adalah ingatan, itulah yang menyela di antara tantangan dan tanggapan. Katalah yang menanggapi tantangan, yang kita namakan penalaran. Jadi, batin yang berceloteh, yang menggunakan kata-kata, tidak dapat memahami kebenaran—kebenaran di dalam hubungan, bukan kebenaran abstrak. Tidak ada kebenaran abstrak. Tetapi kebenaran itu sangat halus. Yang halus sukar diikuti. Itu bukan abstrak. Ia muncul begitu cepat, begitu gelap, sehingga tidak dapat digenggam oleh batin. Bagaikan pencuri di waktu malam, ia datang dalam kegelapan, bukan pada saat Anda siap menerimanya. Penerimaan Anda hanyalah sekadar mengundang keserakahan. Jadi, batin yang terperangkap di dalam kata-kata tidak dapat memahami kebenaran.