jkbanner

THE TEACHINGS OF J.KRISHNAMURTI   -   INDONESIAN WEBSITE




RENUNGAN HARIAN - MEI

PERASAAN


THE BOOK OF LIFE (09/05)
Totalitas Perasaan


Apakah perasaan itu? Perasaan itu seperti pikiran. Perasaan adalah sensasi. Saya melihat sekuntum bunga dan saya menanggapi bunga itu; saya suka atau tidak suka. Suka atau tidak suka itu ditentukan oleh pikiran, dan pikiran adalah respons dari latar belakang ingatan. Jadi, saya berkata, ”Saya suka bunga ini,” atau ”Saya tidak suka bunga itu”; ”Saya suka perasaan ini,” atau ”Saya tidak suka perasaan itu.” ... Nah, apakah cinta berkaitan dengan perasaan? Jelas, perasaan adalah sensasi—perasaan suka dan tidak suka, baik dan buruk, citarasa baik dan seterusnya. Apakah perasaan itu berkaitan dengan cinta? ... Pernahkah Anda mengamati jalan di tempat tinggal Anda, pernahkah Anda mengamati cara Anda hidup di rumah Anda, cara Anda duduk, cara Anda bicara? Dan pernahkah Anda mengamati tokoh-tokoh suci yang Anda puja? Bagi mereka gairah adalah seks, dan dengan demikian mereka mengingkari gairah, dengan demikian mereka mengingkari keindahan—mengingkari dalam arti mengesampingkan. Maka, bersama sensasi Anda membuang cinta, oleh karena Anda berkata, “Sensasi akan membelenggu saya—saya akan diperbudak oleh nafsu seks; oleh karena itu saya harus memotongnya.” Dengan demikian Anda membuat seks menjadi masalah besar. ... Bila Anda memahami perasaan dengan tuntas, bukan sebagian-sebagian, bila Anda sungguh-sungguh memahami totalitas perasaan, maka Anda akan tahu apa cinta itu. Bila Anda mampu melihat keindahan sebatang pohon, bila Anda mampu melihat keindahan seulas senyum, bila Anda mampu melihat matahari terbenam di balik dinding kota Anda—melihat secara total—maka Anda akan tahu apa cinta itu.




THE BOOK OF LIFE (10/05)
Jika Anda Tak Memberikan Nama kepada Perasaan Itu


Bila Anda mengamati suatu perasaan, perasaan itu akan berakhir. Tetapi sekalipun perasaan itu berakhir, jika masih ada si pengamat, si penonton, si penyensor, si pemikir yang tetap terpisah dari perasaan itu, maka masih ada kontradiksi. Jadi amat penting untuk memahami bagaimana kita memandang suatu perasaan.

Ambillah, misalnya, suatu perasaan yang sangat umum: cemburu. Kita semua tahu bagaimana rasanya cemburu. Nah, bagaimana Anda memandang rasa cemburu Anda? Bila Anda memandang perasaan itu, Anda adalah pengamat dari cemburu sebagai sesuatu yang terpisah dari diri Anda. Anda berupaya mengubah cemburu, memodifikasikannya, atau Anda berupaya menjelaskan mengapa Anda merasa berhak untuk cemburu, dan seterusnya. Jadi ada suatu sosok, si penyensor, suatu entitas yang terpisah dari rasa cemburu dan yang mengamatinya. Untuk sesaat rasa cemburu itu mungkin lenyap, tapi ia akan datang lagi; dan ia datang lagi karena Anda tidak sungguh-sungguh melihat bahwa cemburu itu adalah bagian dari Anda.

... Yang saya katakan ialah, pada saat Anda memberi nama, suatu label terhadap perasaan itu, Anda telah membawanya ke dalam kerangka tua; dan yang tua adalah si pengamat, entitas terpisah yang terbentuk dari kata, gagasan, opini tentang yang baik dan yang buruk. ... Tetapi jika Anda tidak memberi nama perasaan itu—yang menuntut keadaaan-sadar yang luar biasa, suatu pemahaman langsung yang mendalam—maka Anda akan melihat bahwa tidak ada si pengamat, tidak ada si pemikir, tidak ada pusat yang dari situ Anda menghakimi, dan bahwa Anda tidak berbeda dari perasaan itu. Tidak ada ”Anda” yang merasakan perasaan itu.




THE BOOK OF LIFE (11/05)
Emosi Tidak Menghasilkan Apa-apa


Entah Anda didorong oleh emosi Anda, entah Anda didorong oleh intelek Anda, itu membawa kepada keputusasaan, oleh karena tidak menghasilkan apa-apa. Tetapi Anda menyadari, cinta bukanlah kenikmatan, cinta bukanlah keinginan.

Tahukah Anda apa itu kenikmatan, Bapak? Bila Anda memandang sesuatu atau bila Anda mempunyai suatu perasaan, maka memikirkan perasaan itu, menggeluti terus-menerus perasaan itu memberi Anda kenikmatan, dan Anda menginginkan kenikmatan itu dan Anda mengulangi kenikmatan itu terus-menerus. Entah seseorang sangat berambisi atau tidak punya ambisi, itu memberinya kenikmatan. Bila seseorang mencari kekuasaan, kedudukan, keterhormatan atas nama negara, atas nama suatu gagasan, dan sebagainya, itu memberinya kenikmatan. Dia tidak punya cinta sama sekali, dan oleh karena itu ia berbuat kerusakan di muka bumi. Dia menimbulkan perang di dalam maupun di luar.

Jadi, kita perlu menyadari bahwa emosi, sentimen, entusiasme, merasa enak, dan sebagainya tidak ada kaitannya sama sekali dengan kasih sayang, welas-asih sejati. Semua sentimen, emosi berkaitan dengan pikiran dan oleh karena itu menghasilkan kenikmatan dan kesakitan. Cinta tidak punya kesakitan, tidak punya penderitaan, oleh karena ia bukan hasil dari kenikmatan dan keinginan.




THE BOOK OF LIFE (12/05)
Ingatan Menafikan Cinta


Mungkinkah untuk mencinta tanpa berpikir? Apakah yang Anda maksud dengan berpikir? Berpikir adalah respons terhadap ingatan akan kesakitan dan kenikmatan. Tidak ada berpikir tanpa sisa-sisa yang ditinggalkan oleh pengalaman yang tak tuntas. Cinta berbeda dari emosi dan perasaan. Cinta tidak bisa dibawa ke dalam lingkup pikiran; sedangkan perasaan dan emosi bisa. Cinta adalah nyala api tanpa asap, selalu segar, kreatif, bersuka cita. Cinta seperti itu berbahaya bagi masyarakat, bagi hubungan. Maka, pikiran masuk, memodifikasikan, menuntun, mengesahkan, menghilangkan bahayanya; lalu kita bisa hidup bersama itu. Tidakkah Anda tahu, bila Anda mencintai seseorang, Anda mencintai seluruh umat manusia? Tidakkah Anda tahu betapa berbahayanya mencintai seorang manusia? Maka, tak ada lagi dinding penghalang, tak ada lagi nasionalitas; maka, tak ada lagi kehausan akan kekuasaan dan kedudukan; dan segala sesuatu memiliki nilainya yang asli. Orang seperti itu berbahaya bagi masyarakat.

Agar cinta ada, proses ingatan harus berakhir. Ingatan muncul hanya apabila pengalaman tidak dipahami secara penuh dan tuntas. Ingatan hanyalah sisa pengalaman; itu adalah hasil dari suatu tantangan yang tidak dipahami dengan tuntas. Kehidupan adalah proses tantangan dan tanggapan. Tantangan selalu baru, tapi tanggapan selalu tua. Tanggapan ini, yang adalah pengkondisian, yang adalah hasil masa lampau, perlu dipahami dan bukan didisiplinkan atau dikutuk habis. Itu berarti menjalani kehidupan dari hari ke hari secara baru, secara penuh dan tuntas. Hidup secara tuntas ini hanya mungkin bila terdapat cinta, bila hati Anda penuh, bukan penuh kata-kata atau penuh hal-hal yang dibuat oleh pikiran. Hanya apabila ada cinta, ingatan berakhir; maka setiap saat adalah kelahiran kembali.




THE BOOK OF LIFE (13/05)
Jangan Beri Nama Suatu Perasaan


Apa yang terjadi jika Anda tidak memberi nama? Anda akan memandang suatu emosi, suatu rasa-tubuh secara lebih langsung dan oleh karena itu mempunyai hubungan yang lain dengannya, seperti hubungan Anda dengan sekuntum bunga jika Anda tidak memberinya nama. Anda terpaksa memandangnya secara baru. Jika Anda tidak memberi nama pada sekelompok manusia, Anda terpaksa memandang masing-masing wajah individual dan tidak memperlakukan mereka sebagai kerumunan massa. Oleh karena itu Anda jauh lebih waspada, jauh lebih tajam mengamati, lebih memahami, Anda memiliki perasaan welas asih dan cinta lebih mendalam; tetapi jika Anda memperlakukan mereka sebagai kerumunan massa, selesailah sudah.

Jika Anda tidak memberi label, Anda harus memperhatikan setiap perasaan pada saat munculnya. Bila Anda memberi label, apakah perasaan itu berbeda dari labelnya? Ataukah label itu membangunkan perasaan itu? ...

Jika saya tidak memberi nama suatu perasaan, dengan kata lain pikiran tidak berfungsi sekadar karena kata-kata, atau jika saya tidak berpikir dalam kata-kata, gambar-gambar, atau simbol-simbol—yang dilakukan oleh kebanyakan dari kita—lalu apa yang terjadi? Jelas kemudian batin bukanlah sekadar si pengamat. Bila batin tidak berpikir dalam kata-kata, simbol-simbol, gambar-gambar, tidak terdapat si pemikir yang terpisah dari pikirannya, yang adalah kata. Maka batin menjadi hening, bukan?—bukan dibuat hening, dia hening. Bila batin sungguh-sungguh hening, maka segala perasaan yang muncul dapat digarap dengan seketika. Justru jika kita memberi nama perasaan-perasaan itu, dan dengan demikian memperkuatnya, maka perasaan-perasaan itu mempunyai kelangsungan; mereka tersimpan di pusat, yang dari situ kita memberi label-label lagi, untuk memperkuatnya atau mengkomunikasikannya.




THE BOOK OF LIFE (14/05)
Tetaplah Berada Bersama Perasaan dan Lihatlah Apa yang Terjadi


Kita tidak pernah berada bersama perasaan apa pun, dan selalu mengelilinginya dengan tetek-bengek kata-kata. Kata mendistorsikannya; pikiran, yang berputar mengitarinya, mendesaknya ke dalam bayangan, melumpuhkannya dengan ketakutan dan keinginan yang menggunung. Anda tidak pernah tetap berada bersama perasaan, berada bersama apa pun: bersama kebencian, bersama rasa indah yang asing itu. Jika perasaan benci muncul, Anda berkata betapa buruk itu; terdapat dorongan, pergulatan, untuk menaklukkannya, goncangan pikiran tentang hal itu. ...

Cobalah tetap berada bersama perasaan benci itu, bersama perasaan iri hati, cemburu,  bersama racun ambisi; oleh karena bagaimana pun juga, itulah yang Anda miliki dalam kehidupan sehari-hari, sekalipun Anda ingin hidup bersama cinta, atau bersama kata ‘cinta’. Karena Anda memiliki perasaan benci, keinginan untuk menyakiti seseorang dengan suatu isyarat tubuh atau suatu kata yang menyengat, lihatlah apakah Anda dapat berada bersama perasaan itu. Dapatkah? Pernahkah Anda coba? Cobalah tetap berada bersama suatu perasaan, dan lihatlah apa yang terjadi. Anda akan mendapati bahwa itu sukar sekali. Pikiran Anda tidak membiarkan perasaan itu; pikiran menyerbu masuk dengan berbagai ingatan, berbagai asosiasi, perintah dan larangan, dan celotehnya yang tak penah habis. Pungutlah sebuah kerang. Dapatkah Anda memandangnya, mengagumi keindahannya yang rapuh, tanpa berkata betapa cantiknya itu, atau binatang apa yang membuatnya? Bisakah Anda memandang tanpa gerak pikiran? Dapatkah Anda tinggal bersama perasaan di balik kata, tanpa perasaan yang dibangun oleh kata? Jika bisa, maka Anda akan menemukan sesuatu yang luar biasa, suatu gerak di luar ukuran waktu, suatu musim semi yang tak mengenal musim panas.