jkbanner

THE TEACHINGS OF J.KRISHNAMURTI   -   INDONESIAN WEBSITE




RENUNGAN HARIAN - MEI

KECERDASAN


THE BOOK OF LIFE (01/05)
Batin yang Kaya dengan Kepolosan


Kebenaran, Tuhan yang sesungguhnya—bukan Tuhan yang dibuat oleh manusia—tidak menghendaki batin yang telah rusak, remeh, dangkal, sempit, terbatas. Ia membutuhkan batin yang sehat untuk mengapresiasikannya; ia membutuhkan batin yang kaya—kaya, bukan dengan pengetahuan, melainkan dengan kepolosan—suatu batin yang padanya tidak pernah ada goresan pengalaman, suatu batin yang bebas dari waktu. Tuhan-Tuhan yang Anda ciptakan untuk kenyamanan Anda sendiri mengizinkan siksaan; mereka menerima batin yang telah dibuat tumpul. Tetapi yang sesungguhnya tidak menginginkan itu; ia menginginkan manusia yang total dan lengkap, yang hatinya penuh, kaya, jernih, mampu merasa secara intens, mampu melihat keindahan sebatang pohon, seulas senyum anak kecil, dan kepedihan seorang perempuan yang tidak pernah makan kenyang.

Anda harus memiliki perasaan yang luar biasa ini, kepekaan terhadap segala sesuatu—kepada binatang, kepada kucing yang berjalan di atas tembok, kepada kekumuhan, sampah dan kotoran manusia yang berkubang dalam kemiskinan, dalam keputusasaan. Anda harus peka—yang berarti merasa secara intens, bukan ke arah tertentu, bukan emosi yang datang dan pergi, tapi yang berarti peka dengan saraf Anda, dengan mata Anda, dengan tubuh Anda, dengan telinga Anda, dengan suara Anda. Anda harus sepenuhnya peka sepanjang waktu. Kecuali Anda sepenuhnya peka seperti itu, tidak ada kecerdasan. Kecerdasan datang bersama kepekaan dan pengamatan.




THE BOOK OF LIFE (02/05)
Apakah Peran Emosi dalam Kehidupan?


Bagaimana emosi muncul? Sederhana sekali. Emosi muncul melalui rangsangan, melalui syaraf. Anda menusukkan jarum ke tubuh saya, dan saya melompat; Anda menyanjung saya, dan saya senang; Anda menghina saya, dan saya tidak senang. Melalui pancaindra kita emosi muncul. Dan kebanyakan dari kita berfungsi melalui emosi senang; jelas, bukan. Anda suka dikenal sebagai seorang Hindu. Lalu Anda termasuk dalam sebuah kelompok, dalam sebuah komunitas, dalam sebuah tradisi, betapa pun tuanya; dan Anda suka itu, Bhagavad Gita, Upanishad, dan tradisi-tradisi tua setinggi gunung. Dan orang Muslim menyenangi tradisinya sendiri, dan seterusnya. Emosi kita muncul melalui rangsangan, melalui lingkungan, dan seterusnya. Itu jelas.

Apakah peran emosi dalam kehidupan? Apakah emosi berarti hidup? Pahamkah Anda? Apakah kenikmatan itu cinta? Apakah keinginan itu cinta? Jika emosi itu cinta, itu adalah sesuatu yang selalu berubah, bukan? Tidakkah Anda tahu semua itu?

... Jadi kita harus menyadari bahwa emosi, sentimen, semangat, merasa baik dan sebagainya tidak ada kaitannya sama sekali dengan rasa sayang, welas-asih yang sejati. Semua emosi berkaitan dengan pikiran, dan oleh karena itu menghasilkan kenikmatan dan kesakitan. Cinta tidak mengenal kesakitan, tidak mengenal kesedihan, oleh karena ia bukan hasil dari kenikmatan atau keinginan.




THE BOOK OF LIFE (03/05)
Membebaskan Kecerdasan


Hal yang pertama-tama perlu dilakukan, kalau boleh saya sarankan, adalah menyelidiki mengapa Anda berpikir dengan cara tertentu, dan mengapa Anda merasa dengan cara tertentu. Jangan mencoba mengubahnya, jangan mencoba menganalisis pikiran dan emosi Anda; melainkan sadarilah mengapa Anda berpikir menurut alur tertentu, dan dari motif apa Anda bertindak. Sekalipun Anda dapat menemukan motifnya melalui analisis, sekalipun Anda mungkin menemukan sesuatu melalui analisis, itu tidak nyata; ia hanya akan nyata apabila Anda sadar secara intens pada saat bekerjanya pikiran dan emosi Anda pada saat kini; maka Anda akan melihat kehalusannya yang luar biasa, kerapuhannya yang halus. Selama Anda mempunyai “harus” dan “tidak boleh”, di dalam dorongan ini Anda tidak akan pernah menemukan pikiran dan emosi yang mengembara dengan cepat. Dan saya yakin Anda telah dibesarkan dalam aliran “harus” dan “tidak boleh”, dan dengan demikian Anda telah menghancurkan pikiran dan perasaan. Anda telah terikat dan lumpuh karena sistem, metode, karena guru-guru Anda. Jadi, tinggalkan semua “harus” dan “tidak boleh” itu. Ini tidak berarti boleh mengumbar hawa-nafsu, melainkan menyadari batin yang terus-menerus berkata, “Saya harus”, dan “Saya tidak boleh”. Maka seperti sekuntum bunga yang mekar pada suatu pagi, begitu pula kecerdasan muncul, ada, berfungsi, menciptakan pemahaman.




THE BOOK OF LIFE (04/05)
Intelek vs Kecerdasan


Melatih intelek tidak menghasilkan kecerdasan. Alih-alih, kecerdasan muncul bila kita bertindak secara selaras dengan sempurna, baik secara intelektual maupun emosional. Terdapat perbedaan besar antara intelek dan kecerdasan. Intelek hanyalah sekadar fungsi pikiran yang bebas dari emosi. Bila intelek, tanpa menghiraukan emosi, dilatih ke arah tertentu, orang mungkin punya intelek kuat, tapi ia tidak punya kecerdasan, oleh karena di dalam kecerdasan terdapat kemampuan inheren untuk merasa dan untuk memikir. Di dalam kecerdasan, kedua kemampuan itu terdapat bersama-sama secara seimbang, secara intens dan harmonis.

... Anda bilang, jika Anda membawa emosi ke dalam bisnis, bisnis itu tak dapat dikelola dengan baik atau bersikap jujur. Jadi Anda membagi-bagi batin Anda ke dalam kotak-kotak: di dalam satu kotak Anda simpan kebutuhan religius Anda, di dalam kotak lain emosi Anda, dan di dalam kotak ketiga kepentingan bisnis Anda, yang tidak ada kaitannya dengan kehidupan intelektual dan emosional Anda. Pikiran bisnis Anda memperlakukan kehidupan sebagai cara untuk memperoleh uang untuk dapat hidup. Begitulah kehidupan yang kacau balau ini, pemecahbelahan kehidupan Anda, terus berlanjut. Jika Anda sungguh-sungguh menggunakan kecerdasan Anda dalam bisnis, artinya jika emosi Anda dan pikiran Anda bertindak secara harmonis, bisnis Anda mungkin gagal. Yah, itu sangat mungkin. Dan Anda mungkin membiarkannya gagal bila Anda sungguh-sungguh merasakan absurditas, kekejaman, dan eksploitasi yang terlibat di dalam cara hidup seperti ini.

Sebelum Anda sungguh-sungguh mendekati seluruh kehidupan dengan kecerdasan Anda, alih-alih sekadar dengan intelek Anda, tak ada sistem apa pun di dunia yang dapat menyelamatkan manusia dari pergulatan tanpa-henti demi sesuap nasi.




THE BOOK OF LIFE (05/05)
Sentimen dan Emosi Menumbuhkan Kekejaman


Kita dapat melihat, baik emosi maupun rasa-hati tidak punya tempat sama sekali sepanjang menyangkut cinta. Sentimentalitas dan emosi hanyalah sekadar reaksi senang dan tak-senang. Saya suka kepada Anda dan saya sangat bergairah terhadap Anda—saya suka tempat ini, oh, indah sekali, dan sebagainya, yang menyiratkan bahwa saya tidak suka yang lain, dan seterusnya. Jadi rasa-hati dan emosi menumbuhkan kekejaman. Pernahkah Anda memandangnya? Gagasanntifikasi dengan secarik kain yang dinamakan bendera nasional adalah faktor emosional dan sentimental, dan demi faktor itu Anda bersedia membunuh orang lain—dan itu disebut cinta tanah air, cita terhadap tetangga ...? Kita dapat melihat, bila rasa-hati dan emosi masuk, tidak ada cinta. Emosi dan rasa-hatilah yang menumbuhkan kekejaman dari rasa senang dan tak-senang. Dan kita juga dapat melihat, bila terdapat kecemburuan, jelas tidak ada cinta. Saya merasa iri terhadap Anda karena Anda mempunyai kedudukan lebih baik, pekerjaan lebih baik, rumah lebih baik, Anda tampak lebih bagus, lebih cerdas, lebih sadar dan saya cemburu kepada Anda. Saya tidak sungguh-sungguh mengatakan saya cemburu terhadap Anda, tetapi saya bersaing dengan Anda, yang adalah semacam kecemburuan, irihati. Jadi, irihati dan kecemburuan bukanlah cinta dan saya menghapuskannya; saya tidak terus-menerus bicara tentang bagaimana menghapuskannya dan sementara itu terus merasa iri—saya sungguh-sungguh menghapuskannya seperti hujan membersihkan debu dari hari-hari kemarin pada dedaunan, saya menghapuskannya begitu saja.




THE BOOK OF LIFE (06/05)
Kita Harus Mati terhadap Semua Emosi Kita


Apa yang kita maksudkan dengan ’emosi’? Apakah itu suatu rasa-tubuh (sensasi), suatu reaksi, suatu respons dari pancaindra? Kebencian, rasa-bakti, merasa cinta atau simpati terhadap seorang lain—semua itu adalah emosi. Beberapa di antaranya, seperti cinta dan simpati, kita sebut ’positif’, dan yang lain, seperti kebencian, kita sebut ’negatif’, dan ingin kita lenyapkan. Apakah cinta lawan dari kebencian? Dan apakah cinta suatu emosi, suatu rasa-tubuh, suatu perasaan yang berlanjut melalui ingatan?

... Jadi, apa yang kita maksud dengan ‘cinta’? Jelas, cinta bukanlah ingatan. Itu sangat sukar kita pahami, oleh karena bagi kebanyakan dari kita, cinta adalah ingatan. Ketika Anda berkata Anda mencintai istri atau suami Anda, apakah yang Anda maksud dengan itu? Apakah Anda mencintai sesuatu yang memberikan Anda kenikmatan? Apakah Anda mencintai sesuatu yang dengan itu Anda melihat diri Anda dan Anda kenali sebagai milik Anda? Maaf, ini adalah fakta; saya tidak membuat-buat, jadi jangan terkejut.

... Yang kita cintai—atau kita kira kita cintai—adalah gambar, simbol “istriku” atau “suamiku”, bukan individu yang hidup. Saya tidak tahu istriku atau suamiku sama sekali; dan saya tidak akan pernah tahu orang itu selama bagi kita mengetahui berarti mengenali. Oleh karena pengenalan didasarkan pada ingatan—ingatan tentang kenikmatan dan kesakitan, ingatan tentang hal-hal yang saya dambakan, saya rindukan, hal-hal yang saya miliki dan yang terhadapnya saya melekat. Bagaimana saya bisa mencinta bila ada ketakutan, kesedihan, kesepian, bayangan keputusasaan? Bagaimana seorang yang penuh ambisi bisa mencinta? Dan kita semua sangat ambisius, betapa pun terhormatnya.

Jadi, untuk sungguh-sungguh menemukan apa cinta itu, kita harus mati terhadap seluruh masa lampau kita, terhadap semua emosi kita, yang baik maupun yang buruk—mati tanpa upaya, seperti kita menghadapi suatu racun yang berbahaya, oleh karena kita memahaminya.




THE BOOK OF LIFE (07/05)
Kita Harus Memiliki Perasaan Luhur


Di dunia modern, tempat terdapat begitu banyak masalah, kita cenderung kehilangan perasaan luhur. Yang saya maksud dengan kata ’perasaan’ bukanlah sentimen, bukan emosionalisme, bukan sekadar rangsangan, tetapi kualitas persepsi, kualitas mendengar, menyimak, kualitas merasakan seekor burung berkicau di sebuah pohon, gerakan sehelai daun dalam sorotan sinar matahari. Merasakan sesuatu secara luhur, secara mendalam, secara menembus, amat sukar bagi kebanyakan dari kita, oleh karena kita mempunyai banyak masalah. Apa pun yang kita sentuh seolah-olah menjadi masalah. Dan tampaknya masalah manusia tak ada habisnya, dan ia tampak sama sekali tidak mampu menyelesaikannya, oleh karena makin banyak masalah, makin berkurang perasaan.

Yang saya maksud dengan ’perasaan’ ialah menghayati bengkoknya sebuah cabang, kemesuman, kekotoran sebuah jalan, peka terhadap kesedihan orang lain, berada dalam keadaan terpukau ketika kita melihat matahari terbenam. Ini bukan sentimen, ini bukan sekadar emosi. Emosi dan sentimen atau sentimentalitas berubah menjadi kekejaman, hal-hal itu bisa dipakai oleh masyarakat; dan bila ada sentimen, rasa-tubuh, maka kita menjadi budak masyarakat. Alih-alih, kita harus memiliki perasaan luhur. Perasaan terhadap keindahan, perasaan terhadap sebuah kata, keheningan di antara dua kata, dan mendengar sebuah suara secara jelas—semua itu menghasilkan perasaan. Dan kita perlu memiliki perasaan yang kuat, oleh karena hanya perasaanlah yang membuat batin amat peka.




THE BOOK OF LIFE (08/05)
Mengamati Tanpa Pikiran


Tidak ada perasaan tanpa pikiran; dan di balik pikiran terdapat kenikmatan, jadi mereka berada bersama-sama: kenikmatan, kata, pikiran, perasaan; mereka tidak terpisah. Pengamatan tanpa pikiran, tanpa perasaan, tanpa kata adalah energi. Energi terbuang percuma oleh kata-kata, asosiasi, pikiran, kenikmatan, dan waktu; akibatnya, tidak ada lagi energi untuk memandang.