jkbanner

THE TEACHINGS OF J.KRISHNAMURTI   -   INDONESIAN WEBSITE




RENUNGAN HARIAN - JUNI

KEKERASAN


THE BOOK OF LIFE (22/06)
Kekerasan


Apa yang terjadi bila Anda memberikan perhatian sepenuhnya kepada apa yang kita namakan ‘kekerasan’?—kekerasan, bukan hanya yang memisahkan umat manusia, melalui kepercayaan, pengkondisian, dan sebagainya, tetapi juga yang muncul bila kita mencari keamanan pribadi, atau keamanan individual melalui suatu pola masyarakat. Dapatkah Anda memandang kekerasan itu dengan perhatian penuh? Dan bila Anda memandang kekerasan itu dengan perhatian penuh, apa yang terjadi? Bila Anda memberikan perhatian penuh terhadap apa pun—pelajaran sejarah atau matematika, memandang istri Anda atau suami Anda—apa yang terjadi? Saya tidak tahu apakah Anda pernah menyelaminya—mungkin sekali kebanyakan dari kita tidak pernah memberikan perhatian penuh kepada apa pun—tetapi jika Anda lakukan itu, apa yang terjadi? Bapak-Bapak, apakah perhatian itu? Jelas, bila Anda memberikan perhatian penuh terdapat kepedulian, dan Anda tidak peduli bila Anda tidak punya kasih sayang, tidak punya cinta. Dan bila Anda memberikan perhatian yang di situ ada cinta, adakah kekerasan? Mengikutikah Anda? Secara formal saya mengutuk kekerasan, saya melepaskan diri dari itu, saya membenarkannya, saya mengatakan itu wajar. Semua itu bukan perhatian. Tetapi jika saya memberikan perhatian terhadap apa yang saya namakan kekerasan—dan di dalam perhatian terdapat kepedulian, kasih sayang, cinta—di manakah ada ruang bagi kekerasan?




THE BOOK OF LIFE (23/06)
Mungkinkah Mengakhiri Kekerasan ?


Bila Anda berbicara tentang kekerasan, apakah yang Anda maksud dengan itu? Sesungguhnya cukup menarik bila Anda menyelami secara mendalam, untuk menyelidiki apakah manusia yang hidup di dunia ini dapat mengakhiri kekerasan secara total. Mayarakat, komunitas agama, telah mencoba untuk tidak membunuh binatang. Sebagian bahkan berkata, “Jika Anda tidak mau membunuh binatang, lalu bagaimana dengan tumbuhan?” Anda dapat meneruskannya begitu rupa, sampai Anda tidak bisa eksis. Di mana Anda menarik garis? Adakah suatu garis arbitrer, sesuai dengan ideal Anda, dengan gambaran Anda, dengan norma Anda, dengan temperamen Anda, dengan pengkondisian Anda, dan Anda berkata, ”Saya akan berjalan sampai ke situ, tapi tidak lebih jauh”? Adakah perbedaan antara amarah individual, dengan tindakan kekerasan oleh individu, dan kebencian terorganisir dari suatu masyarakat yang memelihara dan membangun suatu tentara untuk menghancurkan masyarakat lain? Di mana, di tingkat mana, bagian kekerasan mana yang Anda bicarakan, ataukah Anda ingin membahas tentang kemungkinan manusia bisa bebas secara total dari kekerasan, bukan hanya bagian tertentu yang disebutnya kekerasan? ...

Kita tahu apa kekerasan itu tanpa mengutarakannya dengan kata-kata, kalimat, dalam tindakan. Sebagai manusia, yang di situ binatang masih kuat, sekalipun selama berabad-abad telah ada apa yang dinamakan peradaban, di mana saya harus mulai? Apakah saya harus mulai di tepi, yang adalah masyarakat, ataukah saya harus mulai di pusat, yang adalah diri saya sendiri? Anda berkata kepada saya, jangan melakukan kekerasan, karena itu buruk. Anda menjelaskan kepada saya seluruh alasan, dan saya melihat bahwa kekerasan adalah hal yang mengerikan pada manusia, di dalam dan di luar. Mungkinkah mengakhiri kekerasan ini?




THE BOOK OF LIFE (24/06)
Sebab Utama Konflik


Jangan mengira bahwa hanya dengan mengidamkan perdamaian, Anda akan memperoleh perdamaian,  sementara dalam kehidupan sehari-hari Anda dalam berhubungan dengan orang lain Anda penuh kekerasan, serakah, mencari rasa aman psikologis di sini atau sesudah mati. Anda harus memahami sebab utama konflik dan penderitaan, dan kemudian melarutkannya, dan bukan sekadar mencari perdamaian di luar. Tetapi, kebanyakan dari kita malas. Kita terlalu malas untuk memegang diri kita dan memahami diri kita, dan karena malas—yang sesungguhnya suatu bentuk keangkuhan—kita mengira orang lain akan memecahkan masalah ini buat kita dan memberi kita perdamaian, atau bahwa kita harus memusnahkan segelintir orang sebagai penyebab peperangan. Bila si individu mempunyai konflik dalam dirinya sendiri mau tidak mau ia akan menciptakan konflik di luar, dan hanya dia bisa menghasilkan perdamaian dalam dirinya sendiri dan dengan demikian di dalam dunia, oleh karena ia adalah dunia.




THE BOOK OF LIFE (25/06)
Sadari Anda Keras


Binatang itu keras. Manusia, yang berasal dari binatang, juga keras; sifat dirinya adalah keras, pemarah, pencemburu, iri hati, mengejar kekuasaan, kedudukan, kehormatan dan sebagainya, mendominasi, agresif. Manusia keras—ini diperlihatkan dalam ribuan perang—lalu ia mengembangkan suatu ideologi yang dinamakannya tanpa-kekerasan. ...

Dan bila terjadi kekerasan sesungguhnya, seperti perang antara satu negara dengan negara tetangganya, setiap orang terlibat di dalamnya. Mereka menyenanginya. Nah, bila Anda sesungguhnya keras, dan Anda punya cita-cita tanpa-kekerasan, maka Anda punya konflik. Anda selalu mencoba untuk tidak keras—yang adalah bagian dari konflik. Anda mendisiplinkan diri untuk menjadi tidak keras—yang lagi-lagi suatu konflik, suatu gesekan. Jadi, bila Anda keras dan memiliki cita-cita tanpa-kekerasan, pada dasarnya Anda masih keras. Yang pertama-tama harus dilakukan ialah menyadari bahwa Anda keras—bukan mencoba menjadi tanpa-kekerasan. Melihat kekerasan seperti apa adanya, bukan mencoba menerjemahkannya, bukan mendisiplinkannya, bukan mengatasinya, bukan menekannya, melainkan melihatnya seolah-olah seperti Anda melihatnya untuk pertama kali—yang berarti memandangnya tanpa pikiran muncul. Saya telah menjelaskan apa artinya memandang sebatang pohon dengan kepolosan—yang berarti memandangnya tanpa gambaran sebuah pohon. Secara itu pula, Anda harus memandang kekerasan tanpa gambaran yang terkandung dalam kata itu sendiri. Memandangnya tanpa gerak pikiran sedikit pun berarti memandangnya seolah-olah Anda memandangnya untuk pertama kali, dan dengan demikian memandangnya dengan kepolosan.




THE BOOK OF LIFE (26/06)

Bebas dari Kekerasan


Jadi dapatkah Anda melihat fakta kekerasan—fakta yang bukan hanya di luar Anda tetapi juga di dalam Anda—dan tidak mempunyai selang waktu di antara menyimak dan bertindak? Ini berarti di dalam tindakan menyimak itu sendiri Anda bebas dari kekerasan. Anda bebas sepenuhnya dari kekerasan oleh karena Anda tidak mengizinkan waktu masuk, suatu ideologi yang dengan itu Anda dapat melenyapkan kekerasan. Ini membutuhkan meditasi yang sangat mendalam, bukan sekadar kesepakatan atau ketaksepakatan verbal. Kita tidak pernah menyimak kepada sesuatu; batin kita, sel-sel otak kita begitu terkondisi kepada suatu ideologi tentang kekerasan sehingga kita tidak pernah memandang fakta kekerasan itu sendiri. Kita memandang fakta kekerasan melalui suatu ideologi; dan memandang kekerasan melalui suatu ideologi menciptakan suatu selang waktu. Dan jika Anda mengizinkan waktu masuk, kekerasan tidak akan berakhir; Anda terus memperlihatkan kekerasan, sementara mengkhotbahkan tanpa-kekerasan.




THE BOOK OF LIFE (27/06)

Sebab Utama Kekerasan


Saya rasa, sebab utama kekerasan adalah karena masing-masing dari kita di dalam batin, secara psikologis, mencari rasa aman. Di dalam masing-masing dari kita, dorongan untuk memperoleh rasa aman psikologis—keadaan batin yang merasa aman—memproyeksikan tuntutan lahiriah bagi rasa aman. Di dalam batin, masing-masing dari kita ingin merasa aman, merasa yakin, merasa pasti. Itulah sebabnya kita memiliki undang-undang perkawinan; itu agar kita bisa memiliki seorang perempuan, atau seorang laki-laki, sehingga merasa aman dalam hubungan kita. Jika hubungan ini  diserang, kita menjadi keras, yang adalah tuntutan psikologis, tuntutan batin, untuk merasa pasti dalam hubungan kita dengan segala sesuatu. Tetapi tidak ada barang yang disebut kepastian, keamanan, di dalam hubungan apa pun. Di dalam batin, secara psikologis, kita ingin merasa aman, tetapi tidak ada yang disebut keamanan abadi. ...

Jadi, semua ini adalah sebab-sebab yang menyumbang kepada kekerasan yang ada di mana-mana, merajalela, di seluruh dunia. Saya rasa siapa pun yang pernah mengamati, bahkan hanya sekelumit, apa yang tengah terjadi di dunia, dan terutama di negeri yang malang ini [India], dapat juga, tanpa penyelidikan intelektual yang mendalam, mengamati dan menemukan dalam dirinya hal-hal yang, dengan diproyeksikan keluar, menjadi penyebab dari kebrutalannya, sikapnya yang berhati batu, tak acuh, dan kekerasannya yang luar biasa.




THE BOOK OF LIFE (28/06)

Faktanya Adalah Kita Ini Keras


Kita semua melihat pentingnya mengakhiri kekerasan. Dan bagaimana saya bisa—sebagai individu—bebas dari kekerasan, bukan hanya secara dangkal, melainkan secara total, menyeluruh, di dalam batin? Jika cita-cita ketidakkerasan tidak dapat membebaskan batin dari kekerasan, lalu apakah analisis tentang sebab musabab kekerasan dapat membantu melenyapkan kekerasan?

Bagaimana pun juga, ini adalah salah satu masalah utama kita, bukan? Seluruh dunia terperosok dalam kekerasan, dalam perang; malah struktur masyarakat kita yang bersifat mengambil untuk diri sendiri pada dasarnya adalah keras. Dan jika Anda dan saya ingin bebas dari kekerasan—bebas secara total, secara batiniah, bukan sekadar secara dangkal, secara lisan—lalu bagaimana kita harus menggarapnya tanpa berpusat pada diri sendiri?

Anda memahami masalahnya, bukan? Jika minat saya adalah untuk membebaskan batin dari kekerasan, dan saya mempraktekkan suatu disiplin untuk mengendalikan kekerasan dan mengubahnya menjadi ketidakkerasan, jelas itu menghasilkan pikiran dan kegiatan yang berpusat pada diri sendiri, oleh karena batin saya sepanjang waktu terfokus untuk melenyapkan yang satu dan memperoleh yang lain. Namun saya melihat pentingnya batin untuk bebas secara total dari kekerasan. Jadi apa yang harus saya lakukan? Jelas ini bukan pertanyaan bagaimana agar kita bisa tidak keras. Faktanya adalah kita ini keras, dan bertanya ”Bagaimana saya bisa tidak keras?” hanya menciptakan suatu cita-cita, yang menurut saya sama sekali sia-sia. Tetapi jika kita mampu memandang kekerasan dan memahaminya, maka ada kemungkinan untuk memecahkannya secara total.




THE BOOK OF LIFE (29/06)
Memusnahkan Kebencian


Kita melihat dunia kebencian tengah panen pada saat ini. Dunia kebencian telah diciptakan oleh orang tua kita, oleh leluhur kita, dan oleh kita. Demikianlah, ketidaktahuan dapat ditelusuri ke masa lampau yang tak terbatas. Ia tidak muncul begitu saja. Itu adalah hasil dari ketidaktahuan manusia, suatu proses sejarah, bukan? Kita sebagai individu telah bekerja sama dengan leluhur kita, yang bersama leluhur mereka menggerakkan proses kebencian, ketakutan, keserakahan, dan sebagainya. Sekarang, sebagai individu, kita berperan dalam dunia kebencian ini selama kita, secara individual, menyenanginya.

Maka, dunia adalah perluasan dari diri Anda. Jika Anda sebagai individu ingin memusnahkan kebencian, maka Anda sebagai individu harus berhenti membenci. Untuk memusnahkan kebencian, Anda harus menjauhkan diri dari kebencian dalam segala bentuknya yang kasar dan halus, dan selama Anda terseret di dalamnya, Anda bagian dari dunia ketidaktahuan dan ketakutan itu. Maka dunia adalah perluasan dari diri Anda, diri Anda yang dicetak ulang dan dilipatgandakan. Dunia ini tidak ada terlepas dari individu. Ia mungkin ada sebagai gagasan, sebagai keadaan, sebagai organisasi sosial; tetapi untuk menjalankan gagasan itu, untuk membuat organisasi sosial atau keagamaan itu berfungsi, harus ada individu. Ketidaktahuannya, keserakahannya, ketakutannya mempertahankan struktur ketidaktahuan, keserakahan dan kebencian. Jika si individu berubah, daspatkah ia mempengaruhi dunia, dunia kebencian, keserakahan dan seterusnya? ... Dunia adalah perluasan dari diri Anda selama Anda tidak berpikir, terseret dalam ketidaktahuan, kebencian, keserakahan; tetapi jika Anda bersungguh-sungguh, banyak berpikir, dan sadar, Anda bukan saja menjauhkan diri dari sebab-sebab buruk yang menciptakan kesakitan dan kesedihan, tetapi juga di dalam pemahaman itu terdapat kelengkapan, keutuhan.




THE BOOK OF LIFE (30/06)
Anda Menjadi Apa yang Anda Lawan


Sesungguhnya Anda menjadi apa yang Anda lawan ... Jika saya marah dan Anda menghadapi saya dengan kemarahan apa akibatnya? Lebih banyak kemarahan. Anda menjadi seperti saya. Jika saya jahat dan Anda melawan saya dengan cara-cara yang jahat pula, maka Anda pun menjadi jahat, betapa pun Anda merasa benar. Jika saya brutal dan Anda menggunakan cara-cara brutal untuk mengalahkan saya, maka Anda menjadi brutal seperti saya. Dan ini sudah kita lakukan selama ribuan tahun. Tentunya ada pendekatan lain selain menghadapi kebencian dengan kebencian? Jika saya menggunakan cara-cara keras untuk melenyapkan marah dalam diri saya, maka saya menggunakan cara salah untuk tujuan benar, dengan demikian tujuan benar itu berakhir. Di sini tidak ada pemahaman, orang tidak mengatasi marah.  Marah perlu dikaji dengan toleran dan dipahami; ia bukan dikalahkan dengan cara-cara keras. Marah mungkin disebabkan oleh banyak hal, dan tanpa memahaminya tidak ada pembebasan dari marah.

Kita telah menciptakan musuh, penjahat, dan kalau kita sendiri menjadi musuh, itu sama sekali tidak akan mengakhiri permusuhan. Kita harus memahami sebab-sebab permusuhan, dan tidak lagi memberinya bahan bakar dengan pikiran, perasaan dan tindakan kita. Ini pekerjaan sulit, menuntut kesadaran-diri dan kelenturan cerdas terus-menerus, oleh karena sesuai dengan kita, begitu pula masyarakat atau negara. Lawan atau kawan adalah hasil dari pikiran dan tindakan kita sendiri. Kita bertanggung jawab menciptakan permusuhan, dengan demikian lebih penting menyadari pikiran dan tindakan kita sendiri daripada memikirkan lawan atau kawan, oleh karena pikiran yang benar mengakhiri pembagian. Cinta mengatasi kawan dan lawan.