jkbanner

THE TEACHINGS OF J.KRISHNAMURTI   -   INDONESIAN WEBSITE




RENUNGAN HARIAN - JUNI

ENERGI


THE BOOK OF LIFE (01/06)
Energi Menciptakan Disiplinnya Sendiri


Pencarian realitas membutuhkan energi hebat; dan jika manusia tidak melakukannya, ia menghamburkan energinya untuk hal-hal yang menghasilkan kerusakan, dan oleh karena itu masyarakat harus mengendalikannya. Nah, mungkinkah membebaskan energi dalam pencarian Tuhan atau kebenaran dan, dalam proses menemukan apa yang benar, menjadi warga masyarakat yang memahami masalah-masalah mendasar dari kehidupan dan tak dapat dihancurkan oleh masyarakat?

Begini, manusia adalah energi, dan jika manusia tidak mencari kebenaran, energi ini menjadi destruktif; oleh karena itu masyarakat mengendalikan dan membentuk si individu, yang mencekik energi ini ... Dan mungkin Anda melihat fakta lain yang menarik dan amat sederhana: pada saat Anda sungguh-sungguh ingin melakukan sesuatu, Anda punya energi untuk melakukannya. ... Energi itu sendiri menjadi alat untuk mengendalikan dirinya sendiri, jadi Anda tidak memerlukan disiplin dari luar. Orang yang mencari realitas dengan spontan menjadi warga masyarakat yang baik, yang bukan menurut pola masyarakat atau pemerintah apa pun.




THE BOOK OF LIFE (02/06)
Dualitas Menciptakan Konflik


Konflik apa pun—fisikal, psikologis, intelektual—adalah pemborosan energi. Mohon disimak, adalah luar biasa sulit untuk memahami dan bebas dari ini oleh karena kebanyakan dari kita dibesarkan untuk berjuang, berupaya. Ketika kita bersekolah, itulah yang pertama kali diajarkan kepada kita—berupaya. Dan perjuangan itu, upaya itu dibawa sepanjang hidup—yakni, untuk menjadi baik Anda harus berjuang, Anda harus melawan kejahatan, Anda harus menentang, mengendalikan. Jadi, secara edukasi, secara sosiologis, secara religius, manusia diajar berjuang. Anda diajar, bahwa untuk menemukan Tuhan Anda harus bekerja, mendisiplinkan, berlatih, memelintir dan menyiksa roh Anda, batin Anda, tubuh Anda, mengingkari, menekan; Anda tidak boleh memandang; Anda berkelahi terus-menerus di tingkat yang dinamakan tingkat spiritual—yang sama sekali bukan tingkat spiritual. Lalu, secara sosial, setiap orang harus bekerja untuk diri sendiri, dan untuk keluarganya.

... Jadi, di mana-mana, kita membuang-buang energi. Dan pembuangan energi itu pada dasarnya adalah konflik: konflik antara “saya harus” dan “saya tidak boleh”. Setelah menciptakan dualitas, konflik tak dapat dihindarkan. Jadi kita harus memahami seluruh proses dualitas ini—bukan berarti tidak ada laki-laki dan perempuan, hijau dan merah, terang dan gelap, tinggi dan rendah; semua itu fakta. Tetapi di dalam upaya yang dikerahkan dalam pembagian antara fakta dan gagasan, terdapat pemborosan energi.




THE BOOK OF LIFE (03/06)
Pola Suatu Gagasan


Jika Anda berkata, “Bagaimana saya bisa menghemat energi?”, maka Anda telah menciptakan suatu pola gagasan—bagaimana menghemat energi—lalu menjalankan hidup Anda menurut pola itu; dengan demikian, mulai lagi suatu kontradiksi. Sedangkan, jika Anda melihat sendiri keadaan-keadaan di mana energi itu diboroskan, Anda akan melihat bahwa kekuatan utama yang menyebabkan pemborosan itu adalah konflik—yang berarti memiliki masalah dan tidak pernah menyelesaikannya, hidup dengan ingatan berbahaya tentang sesuatu yang sudah tidak ada, hidup dalam tradisi. Kita harus memahami hal-ihwal pemborosan energi, dan pemahaman akan pemborosan energi ini bukan menurut Shankara, Buddha, atau orang suci lain, melainkan pengamatan aktual terhadap konflik sehari-hari dalam hidup kita. Jadi pemborosan energi yang terutama adalah konflik—yang bukan berarti lalu Anda duduk dan bermalas-malas. Konflik akan selalu ada selama gagasan lebih penting daripada fakta.




THE BOOK OF LIFE (04/06)
Di Mana Ada Kontradiksi, Ada Pula Konflik


Anda lihat, kebanyakan dari kita berada dalam konflik, menjalani kehidupan penuh kontradiksi, bukan hanya di luar, tetapi juga di dalam. Kontradiksi menyiratkan daya upaya. ... Di mana ada daya upaya, ada pemborosan, ada pemborosan energi. Di mana ada kontradiksi, ada pula konflik. Di mana ada konflik, ada pula daya upaya untuk mengatasi konflik itu—yang adalah bentuk lain perlawanan. Dan di mana Anda melawan, ada pula sejenis energi yang dilibatkan—Anda tahu, bila Anda melawan sesuatu, perlawanan itu sendiri menciptakan energi. ...

Semua tindakan berdasarkan pada gesekan antara boleh dan tidak boleh. Dan bentuk perlawanan ini, bentuk konflik ini, menghasilkan energi; tetapi energi itu, jika Anda mengamatinya dengan teliti, sangat destruktif; itu tidak kreatif. ... Kebanyakan orang berada dalam kontradiksi. Dan jika mereka mempunyai karunia, bakat untuk menulis atau melukis atau ini itu, ketegangan dari kontradiksi itu memberi energi untuk berekpresi, mencipta, menulis, berada. Makin banyak ketegangan, makin besar konflik, makin besar keluaran, dan itulah yang kita namakan ciptaan. Tapi itu bukan ciptaan sama sekali. Itu hasil konflik. Menghadapi fakta bahwa Anda berada dalam konflik, Anda berada dalam kontradiksi, akan membawa kualitas energi yang bukan hasil perlawanan.




THE BOOK OF LIFE (05/06)

Energi Kreatif


Nah, pertanyaannya ialah: adakah energi yang bukan di dalam lingkup pikiran, yang bukan hasil dari energi kompulsif yang saling bertentangan, hasil dari pemenuhan-diri sebagai frustrasi? Anda paham pertanyaan itu? Saya harap saya menyampaikannya dengan jelas. Oleh karena, jika kita tidak menemukan kualitas energi yang bukan sekadar produk pikiran, yang sedikit demi sedikit menciptakan energi tetapi juga bersifat mekanis, maka tindakan menjadi destuktif, entah kita melakukan reformasi sosial, menulis buku yang hebat, sangat cerdik dalam bisnis, atau menciptakan pembagian kebangsaan, atau ikut serta dalam kegiatan politik lain, dan sebagainya. Nah, pertanyaannya ialah, apakah ada energi seperti itu, bukan secara teoretis—oleh karena ketika kita dihadapkan dengan fakta, menampilkan teori adalah kekanak-kanakan, tidak matang. Itu seperti kasus orang yang terkena kanker dan harus dioperasi; tidak ada gunanya mendiskusikan alat apa yang akan digunakan dan sebagainya; Anda harus menghadapi kenyataan bahwa ia harus dioperasi. Seperti itu pula, batin harus menembus dalam, atau berada dalam keadaan begitu rupa sehingga tidak diperbudak oleh pikiran. Bagaimana pun juga, semua pikiran dalam waktu adalah penemuan; semua alat, mesin jet, lemari es, roket, penyelidikan ke dalam atom, ruang angkasa, semua itu hasil pengetahuan, pikiran. Semua itu bukan kreasi; penemuan bukan kreasi; kemampuan bukan kreasi; pikiran tidak mungkin kreatif oleh karena pikiran selalu terkondisi dan tidak pernah bisa bebas. Hanyalah energi yang bukan produk pikiran yang kreatif.




THE BOOK OF LIFE (06/06)
Wujud Tertinggi dari Energi


Gagasan tentang energi berbeda dari energi itu sendiri. Kita memiliki rumusan atau konsep tentang bagaimana menghasilkan suatu kualitas energi yang mempunyai mutu tertinggi. Tetapi rumusan itu lain sama sekali dari energi yang memperbarui dan menyegarkan.

... Wujud tertinggi dari energi ini, puncaknya, adalah keadaan batin yang di situ ia tidak memiliki gagasan, tidak memiliki pikiran, tidak ada perasaan akan arah atau motif—ia adalah energi murni. Dan kualitas energi seperti itu tidak bisa dicari. Anda tidak bisa berkata, ”Tunjukkan kepada saya, bagaimana cara mencapainya, modus operandi-nya, jalannya.” Tidak ada jalan ke situ. Untuk menemukan sendiri hakikat energi ini, kita harus mulai dengan memahami energi yang kita buang sehari-hari—energi ketika kita bicara, ketika kita mendengar seekor burung, sebuah suara, ketika kita melihat sebuah sungai, langit yang terbentang luas, dan orang-orang desa yang kumuh, berpakaian compang-camping, sakit, kelaparan, dan pohon yang pada waktu senja menarik diri dari seluruh cahaya siang. Pengamatan akan segala sesuatu itu sendiri adalah energi. Dan energi ini kita peroleh melalui makanan, melalui sinar matahari. Energi fisik sehari-hari yang kita miliki ini jelas dapat diperkuat, ditambah dengan makanan yang baik, dan sebagainya. Itu jelas perlu. Tetapi energi yang sama yang menjadi energi jiwa—yakni pikiran—pada saat energi itu berkontradiksi dalam dirinya, energi itu merupakan pembuangan energi.




THE BOOK OF LIFE (07/06)
Seni Menyimak Adalah Seni Melepaskan


Ada orang mengatakan sesuatu kepada Anda, dan Anda menyimak. Tindakan menyimak itu sendiri adalah tindakan melepaskan. Bila Anda melihat suatu fakta, persepsi tentang fakta itu sendiri adalah pelepasan fakta itu. Menyimak itu sendiri, melihat sesuatu sebagai fakta itu sendiri, mempunyai efek luar biasa tanpa usaha pikiran.

... Marilah kita ambil satu contoh—misalnya, ambisi. Kita telah cukup membahas apa yang dilakukannya, apa akibatnya. Batin yang penuh ambisi tidak pernah tahu apa artinya bersimpati, menaruh belas kasihan, mencinta. Batin yang ambisius adalah batin yang kejam—entah secara spiritual, entah secara lahiriah atau batiniah. Anda pernah mendengar tentang itu. Anda mendengarnya; dan ketika Anda mendengarnya, Anda menerjemahkannya dan berkata, ”Bagaimana saya harus hidup di dunia yang dibangun atas ambisi ini?” Dengan demikian, Anda tidak menyimak. Anda merespons, Anda bereaksi terhadap suatu pernyataan, terhadap suatu fakta; dengan demikian, Anda tidak memandang fakta itu. Anda hanya sekadar menerjemahkan fakta itu, atau membuat opini tentang fakta itu, atau merespons fakta itu; dengan demikian, Anda tidak memandang fakta itu.  ... Jika kita menyimak—dalam arti tanpa evaluasi, reaksi, penilaian apa pun—pada waktu itu sesungguhnya fakta itu menciptakan energi yang memusnahkan, menghapuskan, membersihkan ambisi yang menciptakan konflik.