jkbanner

THE TEACHINGS OF J.KRISHNAMURTI   -   INDONESIAN WEBSITE




RENUNGAN HARIAN - APRIL

GAIRAH


THE BOOK OF LIFE (20/04)
Memahami Gairah Nafsu


Apakah menghukum diri sendiri itu kehidupan religius? Apakah menyakiti badan atau batin itu tanda pemahaman? Apakah penyiksaan-diri itu jalan menuju realitas? Apakah menghindari seks itu pengingkaran? Apakah Anda bepikir, Anda dapat  maju jauh dengan pelepasan? Apakah Anda berpikir, perdamaian bisa muncul melalui konflik? Tidakkah cara jauh lebih penting daripada tujuan? Tujuan adalah kemungkinan, tapi cara adalah saat kini. Yang aktual, apa adanya, perlu dipahami dan bukan dibungkam dengan ketetapan hati, cita-cita, dan rasionalisasi cerdik. Kesedihan bukan jalan kebahagiaan. Apa yang disebut gairah nafsu harus dipahami dan bukan ditekan atau disublimasikan, dan tidak ada gunanya mencari pengganti baginya. Apa pun yang Anda lakukan, cara apa pun yang Anda temukan, hanya akan memperkuat apa yang belum dicintai dan dipahami. Mencintai apa yang kita namakan gairah nafsu adalah memahaminya. Mencinta adalah menyatu langsung, dan Anda tidak dapat mencintai sesuatu jika Anda menolaknya, jika Anda punya gagasan, atau kesimpulan tentang itu. Bagaimana Anda mencintai dan memahami gairah nafsu jika Anda bersumpah melawannya? Sumpah adalah suatu bentuk perlawanan, dan apa yang Anda tolak pada akhirnya akan menaklukkan Anda. Kebenaran bukan untuk ditaklukkan; Anda tidak dapat menggempurnya; ia akan menyelinap dari jari-jari Anda bila Anda mencoba memegangnya. Kebenaran datang diam-diam, tanpa Anda ketahui. Yang Anda ketahui bukanlah kebenaran, itu cuma suatu gagasan, suatu simbol. Bayangan bukan kenyataan.




THE BOOK OF LIFE (21/04)
Cara dan Tujuan Adalah Satu


Untuk mencapai pembebasan, tidak diperlukan apa-apa. Anda tidak bisa mencapainya melalui tawar-menawar, melalui pengorbanan, melalui pembuangan; itu bukan sesuatu yang dapat Anda beli. Jika Anda melakukan hal-hal itu, Anda akan memperoleh barang dagangan, dan oleh karena itu, tidak nyata. Kebenaran tidak bisa dibeli, tidak ada cara untuk mencapai kebenaran; jika ada cara, hasilnya bukanlah kebenaran, oleh karena cara dan tujuan adalah satu, keduanya tidak terpisah. Kesucian dari seks sebagai cara untuk mencapai pembebasan, kebenaran, adalah pengingkaran kebenaran. Kesucian bukan mata uang untuk membeli kebenaran. ...

Mengapa kita berpikir, kesucian itu penting? ... Apa yang kita maksud dengan seks? Bukan hanya tindakannya, tetapi juga berpikir tentang itu, merasakannya, mengantisipasikannya, melarikan diri darinya—itulah masalah kita. Masalah kita adalah rasa tubuh, menginginkannya makin lama makin banyak. Amatilah diri Anda sendiri, jangan amati orang lain. Mengapa pikiran Anda begitu asyik dengan seks? Kesucian dari seks hanya ada jika ada cinta, dan tanpa cinta tidak ada kesucian. Tanpa cinta, kesucian hanyalah nafsu dalam bentuk lain. Menjadi suci berarti menjadi sesuatu yang lain; seperti orang menjadi berkuasa, sukses sebagai pengacara, politisi terkemuka, atau apa pun—perubahan itu terletak pada tingkat yang sama. Itu bukan kesucian, melainkan sekadar hasil akhir dari suatu impian, hasil dari perlawanan terus-menerus terhadap suatu keinginan. ... Jadi, kesucian tidak lagi menjadi masalah jika terdapat cinta. Maka kehidupan bukan lagi masalah, kehidupan akan dijalani dalam kepenuhan cinta, dan revolusi itu akan menghasilkan dunia yang baru.




THE BOOK OF LIFE (22/04)
Pelepasan Total


Mungkin Anda belum pernah mengalami keadaan batin yang di situ terdapat pelepasan total dari segala sesuatu, pembuangan segala-galanya. Dan Anda tidak dapat  membuang segala sesuatu tanpa gairah mendalam, bukan? Anda tidak dapat membuang segala-galanya secara intelektual, atau secara emosional. Jelas, hanya terdapat pembuangan total apabila terdapat gairah yang intens. Jangan takut akan kata itu, oleh karena orang yang tanpa gairah, yang tidak intens, tidak pernah dapat memahami atau merasakan kualitas keindahan. Batin yang menahan sesuatu, batin yang mempunyai kepentingan, batin yang melekat kepada kedudukan, kekuasaan, prestise, batin yang terhormat, yang mengerikan—batin seperti itu tidak pernah dapat membuang dirinya.




THE BOOK OF LIFE (23/04)
Nyala Gairah yang Murni


Di dalam diri kebanyakan dari kita terdapat sedikit sekali gairah. Kita mungkin penuh nafsu, kita mungkin mendambakan sesuatu, kita mungkin ingin melepaskan diri dari sesuatu, dan semua ini memang memberikan sedikit intensitas. Tetapi kecuali kita bangun dan masuk ke dalam nyala gairah ini tanpa tujuan, kita tidak pernah dapat memahami apa yang disebut penderitaan. Untuk memahami sesuatu Anda harus memiliki gairah, intensitas dari perhatian yang total. Bila terdapat gairah untuk sesuatu yang menghasilkan kontradiksi, konflik, nyala gairah yang murni ini tidak mungkin ada; dan nyala gairah yang murni harus ada untuk mengakhiri penderitaan, melenyapkannya sama sekali.




THE BOOK OF LIFE (24/04)
Keindahan di Luar Perasaan


Tanpa gairah bagaimana bisa ada keindahan? Maksud saya bukan keindahan lukisan, bangunan, gambar perempuan, dan sebagainya. Semua itu mempunyai wujud keindahannya sendiri. Suatu benda yang dibuat oleh manusia, sebuah katedral, kuil, lukisan, puisi, patung, mungkin indah atau tidak. Tetapi ada keindahan yang di luar perasaan dan pikiran, dan yang tak dapat disadari, dipahami, atau diketahui jika tidak ada gairah. Jadi, jangan salah paham akan kata ’gairah’. Itu bukan kata yang buruk; itu bukan sesuatu yang bisa Anda beli di pasar atau dibicarakan secara romantis. Ia tak punya kaitan sama sekali dengan emosi, perasaan. Itu bukan sesuatu yang terhormat; itu adalah api yang memusnahkan segala sesuatu yang palsu. Dan kita selalu takut membiarkan api itu melalap hal-hal yang kita cintai, hal-hal yang kita sebut penting.




THE BOOK OF LIFE (25/04)
Gairah untuk Segala Sesuatu


Bagi kebanyakan dari kita, gairah digunakan hanya dalam kaitan dengan satu hal, yakni seks; atau Anda menderita dengan bergairah dan Anda mencoba memecahkan penderitaan itu. Tetapi saya menggunakan kata ’gairah’ untuk suatu keadaan batin, suatu keberadaan, keadaan dari inti batin Anda—jika itu ada—yang merasa secara kuat, yang amat peka—sama pekanya terhadap debu, terhadap kekumuhan, terhadap kemiskinan, dan terhadap harta kekayaan yang melimpah dan korupsi, terhadap keindahan sebatang pohon, terhadap seekor burung, terhadap air yang mengalir, dan terhadap sebuah kolam yang memantulkan langit senja. Adalah perlu untuk merasakan semua ini secara intens, secara kuat. Oleh karena tanpa gairah hidup ini kosong, dangkal, tak punya banyak arti. Jika Anda tidak dapat melihat keindahan sebatang pohon, dan mencintai pohon itu, jika Anda tak dapat peduli dengan itu secara intens, Anda tidak hidup.




THE BOOK OF LIFE (26/04)
Percayalah, Cinta Adalah Gairah


Anda tidak mungkin peka jika Anda tidak penuh gairah. Jangan takut akan kata ’gairah’. Kebanyakan buku agama, kebanyakan guru, swami, pemimpin dsb berkata, ”Jangan punya gairah.” Tetapi jika Anda tidak punya gairah, bagaimana Anda bisa peka terhadap yang buruk, terhadap yang indah, terhadap dedaunan yang berdesir, terhadap matahari terbenam, terhadap secercah senyum, terhadap sebuah tangis? Bagaimana Anda bisa peka tanpa suatu rasa gairah yang di situ orang melupakan-diri? Tuan, harap dengarkan saya, dan jangan bertanya bagaimana caranya mendapatkan gairah. Saya tahu Anda semua cukup bergairah untuk mendapatkan pekerjaan yang baik, atau untuk membenci seorang yang malang, atau cemburu kepada seseorang; tetapi saya berbicara tentang sesuatu yang sama sekali lain—gairah yang mencinta. Cinta adalah keadaan yang di situ tidak ada sang ”aku”; cinta adalah keadaan yang di situ tidak ada pengutukan, tidak ada pernyataan bahwa seks itu benar atau salah, bahwa ini baik dan yang lain jelek. Cinta bukan salah satu dari hal-hal yang saling bertentangan ini. Kontradiksi tidak ada di dalam cinta. Dan bagaimana kita bisa mencinta jika kita tidak bergairah? Tanpa gairah, bagaimana kita bisa peka? Peka berarti merasakan tetangga Anda yang duduk di sebelah Anda; melihat keburukan kota dengan kekumuhannya, kekotorannya, kemiskinannya, dan melihat keindahan sungai, laut, langit. Jika Anda tidak bergairah, bagaimana Anda bisa peka terhadap semua itu? Bagaimana Anda dapat merasakan seulas senyum, setetes air mata? Percayalah, cinta adalah gairah.




THE BOOK OF LIFE (27/04)
Batin Yang Bergairah Akan Menyelidik


Jelas harus ada gairah, dan masalahnya adalah bagaimana menghidupkan kembali gairah. Harap jangan salah paham. Saya maksudkan ’gairah’ dalam arti apa pun, bukan hanya gairah seksual, yang adalah sangat remeh. Dan kebanyakan dari kita merasa puas dengan itu, karena semua gairah yang lain telah musnah—di kantor, di pabrik, dengan mengikuti pekerjaan, rutinitas, teknik belajar tertentu—jadi tidak ada lagi gairah yang tertinggal; tidak ada rasa mendesak dan pelepasan yang kreatif. Oleh karena itu, seks menjadi penting bagi kita, dan di situ kita tersesat di dalam gairah remeh, yang menjadi masalah besar bagi batin yang sempit dan saleh, atau kalau tidak, segera menjadi kebiasaan dan mati. Saya menggunakan kata ’gairah’ sebagai suatu totalitas. Seorang yang penuh gairah, yang merasakan dengan kuat, tidak puas dengan sekadar memiliki suatu pekerjaan remeh—apakah itu pekerjaan perdana menteri, pekerjaan juru masak, atau pekerjaan apa pun. Batin yang bergairah akan menyelidik, mencari, menatap, bertanya, menuntut; bukan hanya sekadar mencari bagi ketidakpuasannya suatu obyek yang bisa memenuhi dirinya lalu pergi tidur. Suatu batin yang bergairah akan meraba-raba, mencari, menerobos, tidak menerima tradisi apa pun; ia bukan batin yang mempunyai ketetapan, bukan batin yang telah sampai, melainkan batin muda yang terus-menerus sampai.




THE BOOK OF LIFE (28/04)

Batin Yang Remeh


Batin yang bergairah meraba, mencari, menerobos, tidak menerima tradisi apa pun; ia bukan batin yang mempunyai ketetapan, bukan batin yang telah sampai, melainkan batin muda yang terus-menerus sampai.

Nah, bagaimanakah batin seperti itu muncul? Itu harus terjadi. Jelas, batin yang remeh tidak bisa melakukannya. Sebuah batin remeh yang mencoba menjadi bergairah hanya akan memerosotkan segala sesuatu ke dalam keremehannya sendiri. Itu harus terjadi, dan itu hanya akan terjadi apabila batin melihat keremehannya sendiri, namun tidak mencoba berbuat apa-apa terhadap keremehan itu. Apakah saya jelas? Mungkin tidak. Tetapi, seperti saya katakan tadi, setiap batin yang terbatas, betapa pun inginnya, masih tetap remeh; itu jelas. Batin yang kerdil, sekalipun ia mampu pergi ke bulan, sekalipun ia bisa memperoleh suatu teknik, sekalipun ia bisa berdebat dan membela diri dengan cerdik, adalah tetap batin yang kerdil. Jadi, bila batin yang kerdil bertanya, ”Saya harus bergairah untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat,” jelas gairahnya sangat remeh, bukan?—seperti marah-marah tentang suatu ketidakadilan yang remeh, atau mengira seluruh dunia ini akan berubah berkat pembaruan-pembaruan kecil dan remeh yang dilakukan di sebuah desa kecil yang angkuh oleh suatu batin yang kerdil dan angkuh pula. Jika batin yang kerdil itu melihat semua itu, maka persepsi bahwa dirinya kerdil itu sendiri cukup, maka seluruh kegiatannya mengalami perubahan.




THE BOOK OF LIFE (29/04)
Gairah yang Hilang


Kata bukanlah halnya. Kata ‘gairah’ bukanlah gairah. Untuk merasakan itu dan terperangkap di dalamnya tanpa suatu kehendak atau arah atau maksud, untuk menyimak kepada apa yang disebut keinginan ini, menyimak keinginan-keinginan yang Anda miliki, yang banyak jumlahnya, kuat atau lemah—bila Anda lakukan itu, Anda akan melihat betapa besar kerusakan yang Anda lakukan jika Anda menekan keinginan, jika Anda mendistorsikannya, jika Anda ingin memenuhinya, jika Anda ingin melakukan sesuatu tentang itu, jika Anda mempunyai opini tentang itu.

Kebanyakan orang telah kehilangan gairah ini. Mungkin kita memilikinya ketika kita masih muda—untuk kelak menjadi orang kaya, untuk menjadi termasyhur, dan menjalani kehidupan borjuis dan terhormat; mungkin kita menggumamkannya secara tidak jelas tentang itu. Lalu orang harus menyesuaikan diri dengan Anda, Anda yang mati, yang terhormat, yang tidak memiliki bahkan sepercik gairah; lalu orang menjadi bagian dari Anda, dan oleh karena itu juga kehilangan gairah.




THE BOOK OF LIFE (30/04)
Gairah Tanpa Sebab


Di dalam keadaan gairah tanpa sebab, terdapat intensitas yang bebas dari segala kemelekatan; tetapi jika gairah mempunyai sebab, terdapat kelekatan, dan kelekatan ini awal dari kesedihan. Kebanyakan dari kita melekat, kita melekat kepada seseorang, kepada suatu negeri, kepada suatu kepercayaan, kepada suatu gagasan, dan apabila obyek kelekatan kita diambil, atau karena suatu hal kehilangan maknanya, kita mendapati diri kita kosong, tidak memadai. Kekosongan ini kita coba untuk dipenuhi dengan melekat kepada sesuatu yang lain, yang lagi-lagi menjadi obyek gairah kita.

Periksalah hati dan pikiran Anda. Saya hanya sekadar cermin, yang di dalamnya Anda memandang diri Anda sendiri. Jika anda tidak mau memandang, silakan; tetapi jika Anda ingin memandang, pandanglah diri Anda dengan jelas, tak kenal ampun, dengan intens—bukan dengan harapan untuk melenyapkan kesengsaraan Anda, kecemasan Anda, perasaan bersalah Anda, tetapi untuk memahami gairah luar biasa ini yang selalu membawa pada kesedihan.

Bila gairah mempunyai sebab, ia menjadi nafsu. Bila ada gairah untuk sesuatu—untuk seseorang, untuk suatu gagasan, untuk semacam pemenuhan—maka dari gairah itu timbul kontradiksi, konflik, daya upaya. Anda berjuang untuk mencapai atau mempertahankan suatu keadaan tertentu, atau menghadirkan kembali suatu keadaan yang pernah ada dan sudah lenyap. Tetapi gairah yang saya bicarakan tidak menimbulkan kontradiksi, konflik. Gairah itu sama sekali tak berhubungan dengan suatu sebab, dan oleh karena itu ia bukan akibat.