jkbanner

THE TEACHINGS OF J.KRISHNAMURTI   -   INDONESIAN WEBSITE




RENUNGAN HARIAN - APRIL

PERKAWINAN


THE BOOK OF LIFE (15/04)
Mempertimbangkan Perkawinan


Kita mencoba memahami masalah perkawinan, yang di situ terkandung masalah hubungan seksual, cinta, hidup bersama, penyatuan. Jelas bahwa jika tidak ada cinta, perkawinan menjadi memalukan, bukan? Lalu perkawinan menjadi sekadar pemuasan nafsu. Mencinta adalah salah satu hal yang paling sukar, bukan? Cinta hanya bisa muncul, hanya bisa ada apabila diri ini lenyap. Tanpa cinta, hubungan adalah menyakitkan; betapa pun memuaskan, atau betapa pun dangkal, ia membawa kepada kebosanan, kepada rutinitas, kepada kebiasaan dengan semua implikasinya. Lalu, masalah seksual menjadi mahapenting. Di dalam mempertimbangkan perkawinan, apakah perlu atau tidak, kita harus pertama-tama memahami cinta. Sesungguhnya, cinta adalah murni, tanpa cinta Anda tidak bisa murni; Anda mungkin menjadi selibat, laki-laki maupun perempuan, tetapi itu bukan murni, itu bukan suci, bila tidak ada cinta. Jika Anda mempunyai cita-cita tentang kemurnian, artinya jika Anda ingin menjadi murni, di situ juga tidak ada cinta, oleh karena ia sekadar keinginan untuk menjadi sesuatu yang Anda pikir mulia, yang Anda pikir akan membantu Anda menemukan realitas; di situ sama sekali tidak ada cinta. Mengumbar hawa nafsu adalah tidak murni, ia hanya membawa kepada kemerosotan, kepada kesengsaraan. Begitu pula mengejar suatu cita-cita. Kedua-keduanya menyingkirkan cinta, keduanya menyiratkan upaya menjadi sesuatu, memuaskan diri di dalam sesuatu; oleh karena itu Anda menjadi penting, dan bila Anda penting, maka cinta tidak ada.




THE BOOK OF LIFE (16/04)
Cinta Tidak Dapat Disesuaikan


Cinta bukanlah berasal dari pikiran, bukan? Cinta bukanlah sekadar perbuatan seksual, bukan? Cinta bukanlah sesuatu yang dapat dibayangkan oleh pikiran. Cinta bukanlah sesuatu yang dapat dirumuskan. Dan tanpa cinta Anda berhubungan; tanpa cinta Anda kawin. Lalu, di dalam perkawinan itu, Anda “menyesuaikan diri” satu sama lain. Manis sekali kalimat itu! Anda menyesuaikan diri satu sama lain, yang lagi-lagi suatu proses intelektual, bukan? ... Penyesuaian ini jelas suatu proses mental. Begitulah semua penyesuaian. Tetapi, sesungguhnya cinta tidak dapat disesuaikan. Tuan, Anda tahu, bukan, bahwa jika Anda mencintai seseorang, tidak ada ”penyesuaian diri”. Yang ada tidak lain adalah penyatuan lengkap. Hanya bila tidak ada cinta, maka kita mulai menyesuaikan. Dan penyesuaian ini dinamakan perkawinan. Dengan demikian, perkawinan akan gagal, karena ia adalah sumber konflik itu sendiri, pertempuran antara dua orang. Ini adalah masalah yang luar biasa rumit, seperti sifat semua masalah, tetapi lebih rumit lagi karena nafsu-nafsu, dorongan-dorongan begitu kuat. Jadi, batin yang hanya sekadar menyesuaikan diri tidak pernah dapat suci. Batin yang mencari kenikmatan melalui seks tidak pernah dapat suci. Sekalipun Anda, dalam perbuatan itu, untuk sesaat menafikan diri Anda, melupakan diri Anda, tindakan mengejar kenikmatan itu, yang berasal dari pikiran, membuat batin tidak suci. Kesucian hanya muncul apabila ada cinta.




THE BOOK OF LIFE (17/04)
Mencinta Berarti Suci


Masalah seks tidak sederhana, dan itu tidak dapat dipecahkan pada tingkatannya sendiri. Mencoba memecahkannya secara biologis adalah absurd; dan mendekatinya melalui agama, atau mencoba memecahkannya seolah-olah itu sekadar masalah penyesuaian fisik, proses kelenjar, atau memagarinya dengan tabu-tabu dan pengutukan, semuanya begitu tidak matang, kekanak-kanakan dan bodoh. Ia membutuhkan kecerdasan pada tingkat tertinggi. Memahami diri kita di dalam hubungan kita dengan orang lain membutuhkan kecerdasan yang jauh lebih cepat dan halus daripada memahami alam. Tetapi kita mencoba memahami tanpa kecerdasan; kita ingin tindakan seketika, solusi seketika, dan masalahnya makin lama menjadi makin menonjol. ... Cinta bukanlah sekadar pikiran; pikiran hanyalah tindakan luar dari otak. Cinta adalah jauh lebih dalam, jauh lebih halus, dan kehalusan hidup hanya dapat ditemukan di dalam cinta. Tanpa cinta, hidup tidak punya arti—dan itulah yang menyedihkan dalam eksistensi kita. Kita menjadi tua sementara tetap tidak matang; tubuh kita menjadi tua, gemuk, jelek, dan kita tetap tidak berpikir. Sekalipun kita membaca dan membicarakan hal itu, kita tidak pernah mengenal keharuman hidup. Sekadar membaca dan memperbincangkan saja menunjukkan tidak adanya kehangatan hati yang memperkaya hidup; dan tanpa kualitas cinta, apa pun yang Anda lakukan, memasuki perkumpulan apa pun, membuat hukum apa pun, Anda tidak akan memecahkan masalah ini. Mencinta berarti suci.

Sekadar intelek bukanlah kesucian. Orang yang mencoba suci dalam pikiran adalah tidak suci, oleh karena ia tidak memiliki cinta. Hanyalah orang yang mencinta yang suci, murni, tak dapat dikotori.




THE BOOK OF LIFE (18/04)
Berpikir Terus-Menerus Adalah Pembuangan Energi


Kebanyakan kita menghabiskan hidup kita dalam daya upaya, dalam pergulatan; dan daya upaya itu, pergulatan itu, perjuangan itu, adalah pembuangan energi. Manusia, sepanjang sejarah umat manusia, berkata, untuk menemukan realitas Tuhan—atau nama apa pun yang diberikan kepadanya—Anda harus selibat; yakni Anda mengangkat sumpah kemurnian, lalu menekan, mengendalikan, bertempur dengan diri Anda sendiri sepanjang hidup Anda, untuk mempertahankan sumpah Anda. Lihatlah pembuangan energi itu! Mengumbar hawa nafsu juga pembuangan energi. Dan jauh lebih berarti bila Anda menekan. Daya upaya yang dikerahkan untuk menekan, untuk mengendalikan, untuk mengingkari keinginan Anda, mendistorsikan batin Anda, dan melalui distorsi itu Anda memperoleh perasaan kesalehan, yang menjadi keras. Harap simak ini. Amatilah dalam diri Anda sendiri dan amati orang-orang di sekitar Anda. Dan amati pembuangan energi ini, pertempuran ini. Bukan implikasi dari seks, bukan perbuatan sesungguhnya, melainkan cita-cita, gambaran, kenikmatan—berpikir terus-menerus tentang hal-hal itu adalah pembuangan energi. Dan kebanyakan orang membuang energi, entah melalui pengingkaran, entah melalui sumpah kemurnian, entah memikirkannya terus-menerus.




THE BOOK OF LIFE (19/04)

Sang Idealis Tak Mengenal Cinta


Orang yang mencoba hidup selibat untuk mencapai Tuhan adalah tidak suci, oleh karena mereka mencari hasil atau keuntungan, dengan demikian menukar tujuan, hasil itu dengan seks—yang adalah ketakutan. Hati mereka tak mengenal cinta, dan tak mungkin ada kemurnian, dan hanya hati yang murni dapat menemukan realitas. Sebuah hati yang didisiplinkan, sebuah hati yang tertekan, tak dapat mengenal cinta. Ia tak dapat mengenal cinta jika ia terperangkap dalam kebiasaan, dalam rasa tubuh—baik religius maupun fisik, psikologis atau jasmaniah. Seorang idealis adalah peniru, dan oleh karena itu ia tak dapat mengenal cinta. Ia tak dapat bermurah hati, memberikan dirinya sepenuhnya tanpa memikirkan dirinya. Hanya apabila pikiran dan hati tak terbebani rasa takut, tak terbebani kerutinan kebiasaan rasa tubuh, apabila terdapat kemurahan hati dan kasih sayang, maka terdapat cinta. Cinta seperti itu adalah suci.