jkbanner

THE TEACHINGS OF J.KRISHNAMURTI   -   INDONESIAN WEBSITE




RENUNGAN HARIAN - APRIL

SEKS


THE BOOK OF LIFE (08/04)
Seks


Seks adalah masalah oleh karena tampaknya di dalam tindakan itu diri tidak ada sama sekali. Pada saat itu Anda berbahagia, oleh karena berakhirnya kesadaran-diri, berakhirnya sang ”aku”. Dan menginginkan itu lebih banyak lagi—lebih banyak pengingkaran diri yang di situ terdapat kebahagiaan sempurna, tanpa masa lampau atau masa depan—menuntut kebagiaan sempurna itu melalui penyatuan penuh, integrasi,  dengan sendirinya menjadi mahapenting. Bukankah begitu? Oleh karena seks adalah sesuatu yang memberi saya sukacita tanpa cacad, melupakan diri secara sempurna, maka saya menginginkannya lebih banyak lagi. Nah, mengapa saya menginginkannya lebih banyak lagi? Oleh karena di dalam segala keadaan yang lain saya berada dalam konflik; di mana-mana, pada segala tingkat eksistensi, terdapat penguatan diri. Di bidang ekonomi, sosial, agama, terdapat penebalan kesadaran-diri terus-menerus, yang adalah konflik. Bagaimana pun juga, Anda sadar-diri hanya bila terdapat konflik. Kesadaran-diri pada hakekatnya adalah hasil dari konflik. ...

Jadi, masalahnya bukanlah seks, jelas, melainkan bagaimana bisa bebas dari diri. Anda telah mencicipi keberadaan yang di situ diri tidak ada, sekalipun hanya beberapa detik, sekalipun hanya sehari, entah berapa lama pun; dan bila diri ada, terdapat konflik, terdapat kesengsaraan, terdapat pergulatan. Jadi, terdapat dambaan terus-menerus akan lebih banyak lagi keadaan yang bebas-diri itu.




THE BOOK OF LIFE (09/04)
Pelarian Yang Terakhir


Apakah yang kita maksud dengan masalah seks? Apakah tindakan seks, ataukah pikiran tentang seks? Jelas, bukan tindakan. Tindakan seksual bukan masalah bagi Anda, sama seperti makan bukan masalah, tetapi jika Anda memikirkan tentang makanan atau lainnya sepanjang hari oleh karena tidak ada lagi yang Anda pikirkan, itu akan menjadi masalah bagi Anda. ... Mengapa Anda membangunnya, yang jelas Anda lakukan? Bioskop, majalah, cerita, cara kaum wanita berdandan, semuanya membangun pikiran tentang seks dalam diri Anda. Mengapa batin membangunnya, mengapa batin memikirkan tentang seks sama sekali? Mengapa, bapak-bapak dan ibu-ibu? Ini adalah masalah Anda. Mengapa? Mengapa ini menjadi masalah pokok dalam hidup Anda? Sementara ada banyak hal menuntut perhatian Anda, Anda memperhatikan sepenuhnya pikiran-pikiran tentang seks. Apa yang terjadi, mengapa batin Anda disibukkan dengan itu? Oleh karena itu adalah cara pelarian yang terakhir, bukan? Itu adalah cara untuk melupakan diri sepenuhnya. Segala sesuatu yang Anda lakukan di dalam hidup menekankan sang ”aku”, diri. BIsnis Anda, agama Anda, tuhan Anda, pemimpin Anda, tindakan politis dan ekonomis Anda, pelarian Anda, kegiatan sosial Anda, pilihan Anda atas partai ini dan tolakan Anda atas partai itu—semua itu menekankan dan memperkuat sang ”aku”. ... Bila hanya ada satu hal dalam hidup Anda yang memberi jalan untuk pelarian terakhir, untuk melupakan diri sepenuhnya sekalipun hanya untuk beberapa detik, Anda melekat kepadanya oleh karena itu adalah satu-satunya saat ketika Anda berbahagia. ...

Jadi, seks menjadi masalah yang luar biasa sulit dan rumit selama Anda tidak memahami batin yang memikirkan masalah itu.




THE BOOK OF LIFE (10/04)
Kita Telah Membuat Seks Menjadi Masalah


Mengapa semua yang kita sentuh menjadi masalah? ... Mengapa seks menjadi masalah? Mengapa kita menerima hidup dengan masalah; mengapa kita tidak mengakhiri semua masalah? Mengapa kita tidak mati terhadap masalah-masalah kita, alih-alih mendukungnya dari hari ke hari, dari tahun ke tahun? Jelas, seks adalah masalah yang relevan, yang akan saya jawab sebentar lagi, tetapi ada pertanyaan yang utama: mengapa kita membuat hidup menjadi masalah? Bekerja, seks, mencari uang, berpikir, merasa, mengalami, seluruh kegiatan hidup, bukan?--mengapa itu menjadi masalah? Bukankah pada dasarnya karena kita selalu berpikir dari sudut pandang tertentu, dari sudut pandang yang terpaku? Kita selalu berpikir dari sebuah pusat menuju ke tepi, tetapi tepi itu adalah pusat bagi kebanyakan kita, dan dengan demikian apa pun yang kita sentuh adalah dangkal. Tetapi hidup bukanlah dangkal; ia menuntut hidup sepenuhnya, dan oleh karena kita hidup hanya secara dangkal, kita hanya tahu reaksi secara dangkal. Apa pun yang kita lakukan di tepi mau tidak mau menimbulkan masalah, dan itulah kehidupan kita—kita hidup secara dangkal dan kita puas hidup di situ dengan segala masalah yang dangkal. Jadi, masalah timbul selama kita hidup secara dangkal, di tepi—tepi itu adalah sang ”aku” dengan rasa-rasa tubuhnya, yang dapat dieksternalisasikan atau dijadikan subyektif, yang dapat diidentifikasikan dengan alam semesta, dengan negara, atau dengan sesuatu lain yang dibentuk oleh pikiran. Jadi, selama kita hidup di dalam lingkup pikiran selalu akan ada komplikasi, selalu akan ada masalah; dan itulah semua yang kita tahu.




THE BOOK OF LIFE (11/04)
Apa Yang Anda Maksud Dengan Cinta ?


Cinta adalah yang tak dapat diketahui. Ia hanya dapat direalisasikan apabila apa yang diketahui dipahami dan ditransendensikan. Hanya apabila batin bebas dari yang diketahui, baru terdapat cinta. Demikianlah, kita harus mendekati cinta secara negatif, bukan secara positif.

Apakah cinta itu bagi kebanyakan dari kita? Bagi kita, bila kita mencinta, di situ terdapat kemilikan, dominasi, atau penghambaan. Dari pemilikan ini muncul kecemburuan, dan takut kehilangan, dan kita mengesahkan instink posesif ini. Dari kemilikan ini muncul kecemburuan dan konflik yang tak terhitung jumlahnya yang kita semua kenal. Jadi, kemilikan bukanlah cinta. Cinta juga bukan sentimental. Menjadi sentimental, menjadi emosional, berarti tidak mencinta. Sensitivitas dan emosi hanyalah sekadar sensasi.

... Hanya cinta dapat mengubah ketakwarasan, kebingungan, dan pergulatan. Tidak ada sistem, tidak ada teori—baik kiri maupun kanan—yang dapat membawa perdamaian dan kebahagiaan bagi manusia. Apabila terdapat cinta, tidak ada kemilikan, tidak ada irihati; yang ada adalah pengampunan dan welas asih, bukan dalam teori, melainkan secara aktual—terhadap istri Anda dan anak-anak Anda, terhadap tetangga Anda dan pelayan Anda. ... Hanya cinta yang dapat menghasilkan pengampunan dan keindahan, ketertiban dan kedamaian. Terdapat cinta beserta berkahnya apabila ”Anda” berakhir.




THE BOOK OF LIFE (12/04)

Selama Kita Memiliki, Kita Tidak Pernah Mencinta


Kita mengenal cinta sebagai sensasi, bukan? Ketika kita berkata kita mencinta, yang kita kenal adalah kecemburuan, ketakutan, kecemasan. Ketika Anda berkata Anda mencintai seseorang, semua itu tersirat: irihati, keinginan memiliki, keinginan memperoleh, mendominasi, takut kehilangan, dan sebagainya. Semua itu kita namakan cinta, dan kita tidak mengenal cinta tanpa rasa takut, tanpa iri hati, tanpa pemilikan; kita sekadar berceloteh saja tentang cinta tanpa rasa takut, yang kita namakan cinta tanpa-aku, cinta murni, cinta ilahi, atau apa saja; tetapi faktanya ialah kita cemburu, kita mendominasi, kita posesif. Kita akan tahu keadaan cinta itu hanya apabila kecemburuan, iri hati, sikap memiliki, dominasi berakhir; dan selama kita memiliki, kita tidak pernah mencinta ... Kapan Anda memikirkan orang yang Anda cintai? Anda memikirkan dia bila ia tidak ada, bila ia pergi, bila ia meninggalkan Anda. ... Jadi, Anda merasa kehilangan orang yang Anda bilang Anda cintai ketika Anda terganggu, ketika Anda menderita; dan selama Anda memiliki orang itu, Anda tidak perlu memikirkan dia, oleh karena di dalam memiliki tidak ada gangguan. ...

Anda memikir-mikir bila Anda terganggu—dan Anda pasti akan terganggu selama pikiran Anda adalah apa yang Anda namakan ’cinta’. Jelas, cinta bukan berasal dari pikiran; dan oleh karena hal-hal dari pikiran telah memenuhi hati kita, kita tidak memiliki cinta. Hal-hal yang dari pikiran adalah kecemburuan, iri hati, ambisi, keinginan menjadi sesuatu, keinginan mencapai sukses. Hal-hal dari pikiran ini memenuhi hati Anda, lalu Anda berkata Anda mencinta; tetapi bagaimana Anda bisa mencinta bila Anda memiliki semua hal yang membingungkan ini di dalam diri Anda? Bila ada asap, bagaimana mungkin ada nyala yang murni?




THE BOOK OF LIFE (13/04)

Cinta Bukan Kewajiban


... Bila terdapat cinta, tidak terdapat kewajiban. Bila Anda mencintai istri Anda, Anda berbagi segala sesuatu dengan dia—harta Anda, permasalahan Anda, kecemasan Anda, sukacita Anda. Anda tidak mendominasi. Anda bukan sang laki-laki dan dia perempuan untuk dipakai dan dibuang, semacam mesin pembiak untuk melestarikan nama Anda. Bila terdapat cinta, kata ’kewajiban’ lenyap. Laki-laki tanpa cinta dalam hatinyalah yang berbicara tentang hak dan kewajiban, dan di negeri ini [India] kewajiban dan hak telah mengambil-alih tempat cinta. Peraturan telah menjadi lebih penting daripada kehangatan rasa sayang. Bila terdapat cinta, masalahnya menjadi sederhana; bila tidak terdapat cinta, masalahnya menjadi rumit. Bila orang mencintai istrinya dan anak-anaknya, ia tidak mungkin berpikir tentang kewajiban dan hak. Tuan, selidikilah hati dan batin Anda sendiri. Saya tahu, Anda menertawakannya—itu adalah salah satu kiat untuk tidak berpikir panjang, menertawakan sesuatu dan mengesampingkannya. Istri Anda tidak ikut memikul tanggung jawab Anda, istri Anda tidak ikut memiliki harta benda Anda, dia tidak memiliki separuh dari apa yang Anda miliki oleh karena Anda menganggap perempuan kurang daripada diri Anda sendiri, sebagai sesuatu untuk disimpan dan digunakan secara seksual sekehendak Anda bila nafsu Anda menginginkannya. Jadi Anda menciptakan kata ’hak’ dan ’kewajiban’; dan bila perempuan berontak, Anda melemparkan kata-kata itu kepadanya. Masyarakat yang statis, masyarakat yang lapuklah yang bicara tentang kewajiban dan hak. Jika Anda sungguh-sungguh meneliti hati dan batin Anda sendiri, Anda akan menemukan bahwa Anda tidak punya cinta.




THE BOOK OF LIFE (14/04)

Sesuatu Yang Termasuk Batin


Apa yang kita sebut cinta kita adalah termasuk batin. Tengoklah diri Anda sendiri, Bapak-bapak dan Ibu-ibu, dan Anda akan melihat jelas kebenaran apa yang saya katakan; kalau tidak, kehidupan kita, perkawinan kita, hubungan kita, akan menjadi lain sama sekali, kita akan mempunyai masyarakat yang baru. Kita mengikat diri kita kepada seorang lain, bukan melalui penyatuan, melainkan melalui suatu kontrak, yang disebut cinta, perkawinan. Cinta bukan pemanfaatan, penyesuaian—ia bukan personal maupun impersonal, ia adalah suatu keadaan berada. Orang yang menginginkan penyatuan dengan sesuatu yang lebih besar, menyatukan dirinya dengan suatu pribadi lain, ia menghindari kesengsaraan, kebingungan; tetapi batin tetap terpisah, yang adalah desintegrasi. Cinta tidak mengenal penyatuan maupun penyebaran, ia bukan personal maupun impersonal; ia adalah suatu keadaan berada yang tak dapat ditemukan oleh batin; batin dapat menguraikanya, memberinya istilah, nama, tetapi kata, deskripsi, bukanlah cinta. Cinta hanya ada apabila batin diam, sehingga ia dapat mengenal cinta, dan keadaan hening itu bukan sesuatu untuk dipupuk.