jkbanner

THE TEACHINGS OF J.KRISHNAMURTI   -   INDONESIAN WEBSITE




RENUNGAN HARIAN - APRIL

KEINGINAN


THE BOOK OF LIFE (01/04)
Hanya Ada Keinginan


Tidak ada entitas yang terpisah dari keinginan; yang ada hanyalah keinginan, tidak ada diri yang ingin. Keinginan mengenakan berbagai topeng pada berbagai waktu, tergantung dari minatnya. Ingatan akan berbagai minat ini bertemu dengan apa yang baru, yang menghasilkan konflik, lalu lahirlah si pemilih, menegakkan dirinya sebagai entitas yang terpisah dan berbeda dari keinginan. Tetapi entitas itu tidak berbeda dari kualitas-kualitasnya. Entitas yang mencoba mengisi atau melarikan diri dari kehampaan, ketaktuntasan, kesepian, tidak berbeda dari apa yang ingin dihindarinya: dia adalah sifatnya. Ia tidak bisa lari dari dirinya sendiri; yang dapat dilakukannya adalah memahami dirinya sendiri. Ia adalah kesepiannya, kehampaannya; dan selama ia menganggapnya berada terpisah dari dirinya, ia berada dalam ilusi dan konflik tak berkeputusan. Bila ia mengalami langsung bahwa dirinya adalah kesepiannya, barulah mungkin terdapat kebebasan dari ketakutan. Ketakutan hanya ada dalam kaitan dengan sebuah gagasan, dan gagasan adalah response ingatan sebagai pikiran. Pikiran adalah hasil dari pengalaman; dan sekalipun ia bisa merenungkan kehampaan, mengalami perasaan tentang kehampaan, ia tidak bisa mengetahui kehampaan secara langsung. Kata ‘kesepian’, dengan ingatannya akan kepedihan dan ketakutan, menghalangi kita untuk mengalaminya secara baru. Kata adalah ingatan, dan kata tidak lagi bermakna, maka hubungan antara orang yang mengalami dan apa yang dialami menjadi lain sama sekali; maka hubungan itu adalah langsung, bukan melalui sebuah kata, melalui ingatan; maka orang yang mengalami adalah pengalamannya, dan hanya itu yang menghasilkan kebebasan dari ketakutan.




THE BOOK OF LIFE (02/04)
Memahami Keinginan


Kita harus memahami keinginan; dan sukar sekali memahami sesuatu yang begitu penting, begitu menuntut, begitu urgen, oleh karena pemenuhan keinginan ini sendiri melibatkan gairah, dengan segala kenikmatan dan kesakitannya. Dan jika kita mau memahami keinginan, jelas tidak boleh ada pilihan. Anda tidak dapat menghakimi keinginan sebagai baik atau buruk, luhur atau rendah, atau berkata, ”Saya akan mempertahankan keinginan ini dan menolak keinginan itu.” Semua itu harus dikesampingkan jika kita ingin menemukan hakikat keinginan—keindahannya, keburukannya, atau apa pun juga.




THE BOOK OF LIFE (03/04)
Keinginan Harus Dipahami


Marilah kita melanjutkan dengan membahas keinginan. Kita mengenal keinginan, bukan; keinginan yang saling bertentangan, yang menyiksa, yang menarik ke arah yang berlainan; kesakitan, susah payah, kecemasan dari keinginan, dan pendisiplinan, pengendalian. Dan dalam pergulatan abadi melawan keinginan kita telah memiuhkannya sehingga tak kita kenali lagi; tetapi ia selalu ada, terus-menerus mengamati, menunggu, mendorong. Apa pun yang Anda lakukan, mensublimasikannya, lari darinya, mengingkarinya atau menerimanya, membiarkannya merajalela—ia selalu ada. Dan kita tahu bagaimana guru-guru agama dan yang lainnya berkata bahwa kita harus tanpa-keinginan, mengembangkan pelepasan, dan bebas dari keinginan—yang sesungguhnya absurd, oleh karena keinginan harus dipahami, bukan dimusnahkan. Jika Anda memusnahkan keinginan, Anda mungkin memusnahkan kehidupan itu sendiri. Jika Anda menyimpangkan keinginan, membentuknya, mengendalikannya, menguasainya, menekannya, Anda mungkin memusnahkan sesuatu yang luar biasa indah.




THE BOOK OF LIFE (04/04)
Kualitas Keinginan


... Apa yang terjadi jika Anda tidak menyalahkan keinginan, tidak menghakiminya sebagai baik atau buruk, melainkan sekadar menyadarinya? Saya ingin tahu, apakah Anda tahu apa artinya menyadari sesuatu? Kebanyakan dari kita tidak sadar oleh karena kita begitu terbiasa menyalahkan, menghakimi, menilai, mengidentifikasikan, memilih. Pemilihan jelas menghalangi keadaan-sadar, oleh karena pemilihan selalu dibuat sebagai akibat dari konflik. Berada dalam keadaan-sadar ketika memasuki suatu ruangan, melihat semua perabot, adanya atau tidak adanya permadani, dan sebagainya—sekadar melihatnya, menyadari semuanya tanpa sedikit pun menghakimi—adalah sangat sukar. Pernahkah Anda mencoba memandang seseorang, sekuntum bunga, suatu gagasan, suatu emosi, tanpa pemilihan apa-apa, tanpa penghakiman apa-apa?

Dan jika kita melakukan hal yang sama terhadap keinginan, jika kita hidup bersamanya—bukan mengingkarinya atau berkata, ”Apa yang harus saya lakukan dengan keinginan ini? Itu begitu buruk, begitu merajalela, begitu penuh kekerasan,” tanpa memberinya suatu nama, suatu simbol, tidak menutupinya dengan suatu kata—maka, apakah keinginan itu masih menjadi sebab kekacauan? Apakah lalu keinginan itu sesuatu yang perlu disingkirkan, dimusnahkan? Kita ingin memusnahkannya karena satu keinginan mengoyak keinginan lain, menciptakan konflik, kesengsaraan, dan kontradiksi; dan kita dapat melihat betapa kita mencoba melepaskan diri dari konflik yang abadi ini. Jadi dapatkah kita menyadari keseluruhan keinginan? Yang saya maksud dengan keseluruhan adalah bukan hanya satu keinginan atau banyak keinginan, melainkan seluruh kualitas keinginan itu sendiri.




THE BOOK OF LIFE (05/04)
Mengapa Kita Tidak Boleh Memiliki Kenikmatan ?


Anda melihat matahari terbenam yang indah, sebatang pohon yang bagus, sebuah sungai yang alirannya membelok lebar, atau suatu wajah yang cantik, dan memandang semua itu memberikan kenikmatan dan sukacita yang besar. Apa salahnya itu? Saya rasa, kekacauan dan kesengsaraan muncul ketika wajah itu, sungai itu, awan itu, gunung itu menjadi suatu ingatan, dan ingatan ini lalu menuntut kelangsungan kenikmatan itu lebih jauh; kita ingin mengulangi hal-hal seperti itu. Kita semua tahu itu. Saya pernah mengalami suatu kenikmatan, atau Anda pernah bersukacita tentang sesuatu, dan kita ingin itu berulang kembali. Entah itu seksual, artistik, intelektual, atau lainnya lagi, kita ingin itu berulang kembali—dan saya rasa di situlah kenikmatan mulai mengaburkan pikiran dan menciptakan nilai-nilai yang palsu, bukan aktual.

Yang penting adalah memahami kenikmatan, bukan mencoba membuang kenikmatan—itu sangat bodoh. Tidak seorang pun dapat membuang kenikmatan. Tetapi memahami hakekat dan struktur kenikmatan adalah penting; karena jika kehidupan ini semata-mata kenikmatan, dan jika itu yang kita inginkan, maka bersama kenikmatan datang pula kesengsaraan, kekacauan, ilusi, nilai-nilai palsu yang kita ciptakan, dan oleh karena itu tidak terdapat kejernihan.




THE BOOK OF LIFE (06/04)
Reaksi yang Sehat dan Normal


... Saya harus menemukan, mengapa keinginan mempunyai pengaruh begitu besar dalam kehidupan saya. Itu mungkin benar, mungkin pula tidak benar. Saya harus menemukannya. Saya melihatnya. Keinginan muncul, yang adalah reaksi, yang adalah reaksi yang sehat dan normal; kalau tidak, saya mati. Saya melihat sesuatu yang indah, dan saya berkata, „Ya Tuhan, saya ingin memilikinya.“ Kalau tidak, saya mati. Tetapi di dalam pengejaran yang terus-menerus, terdapat kepedihan. Itulah masalah saya—terdapat kepedihan dan juga kenikmatan. Saya melihat seorang perempuan cantik, ia cantik; adalah suatu absurditas untuk mengatakan, „Dia tak cantik.“ Itu adalah fakta. Tetapi apakah yang memberi kelangsungan kepada kenikmatan? Jelas pikiran, memikirkannya. ...

Saya memikirkan itu. Itu bukan lagi berhubungan langsung dengan obyek itu, yang adalah keinginan, tetapi pikiran sekarang menambah keinginan dengan memikirkannya, dengan memiliki gambaran, potret, gagasan. ...

Pikiran masuk dan berkata, „Silakan, Anda harus memilikinya; itu kemajuan; itu penting; itui tak penting; ini sangat penting bagi hidup Anda; ini tak penting bagi hidup Anda.“  Tetapi saya dapat memandangnya, dan mempunyai keinginan, dan semuanya berakhir di situ, tanpa pikiran menyela masuk.




THE BOOK OF LIFE (07/04)
Mati Terhadap Hal-Hal Remeh


Pernahkah Anda mencoba mati terhadap suatu kenikmatan secara suka rela, bukan dipaksa? Biasanya Anda tidak mau mati; maut datang dan mencabut nyawa Anda; itu bukan tindakan suka rela, kecuali dalam bunuh diri. Tetapi pernahkah Anda mati secara suka rela, dengan mudah, menghayati perasaan melepaskan kenikmatan? Jelas tidak! Pada saat ini, idealisme Anda, berbagai kenikmatan Anda, ambisi Anda adalah hal-hal yang Anda anggap penting. Kehidupan adalah penghayatan, kelimpahan, kepenuhan, pelepasan, bukan rasa ”aku” yang merasa penting. Itu sekadar pemikiran intelektual. Jika Anda bereksperimen dengan mati terhadap hal-hal yang remeh—itu sudah bagus. Mati terhadap kenikmatan-kenikmatan remeh—dengan mudah, dengan nyaman, dengan seulas senyum—sudah cukup, karena dengan begitu Anda akan melihat bahwa batin Anda juga mampu untuk mati terhadap banyak hal, mati terhadap semua ingatan. Mesin telah mengambil-alih fungsi ingatan—komputer—tetapi batin manusia adalah lebih besar daripada sekadar kebiasaan mekanis dari asosiasi dan ingatan. Tetapi ia tidak bisa menjadi sesuatu yang lebih besar itu jika ia tidak mati terhadap segala sesuatu yang diketahuinya.

Nah, untuk melihat kebenaran semua ini, perlu suatu batin yang muda, batin yang tidak sekadar berfungsi di dalam lingkup waktu. Batin yang muda mati terhadap segala sesuatu. Dapatkah Anda melihat kebenaran hal itu secara langsung, merasakan kebenarannya dengan seketika? Anda mungkin tidak melihat makna luar biasa dari hal itu dalam keseluruhannya, kehalusannya yang amat dalam, keindahannya dalam mati, kekayaannya; tetapi bahkan menyimaknya saja akan menebarkan benih, dan makna kata-kata ini akan berakar—bukan saja pada lapisan dangkal yang sadar, melainkan merambah ke segenap bawah-sadar.