jkbanner

THE TEACHINGS OF J.KRISHNAMURTI   -   INDONESIAN WEBSITE




TENTANG PENDIDIKAN

1. TENTANG PENDIDIKAN YANG BENAR
(Perihal Pendidikan - Bab I - Dialog dengan para guru)


Krishnamurti : Adalah menjadi maksud kita, di tempat-tempat seperti Rishi Valley di Selatan dan Rajghat di Utara, untuk menciptakan suatu lingkungan, suatu iklim di mana orang bisa menghasilkan jika hal itu memang mungkin — seorang manusia baru. Tahukah anda riwayat kedua sekolah ini? Keduanya sudah berjalan tigapuluh tahun atau lebih. Maksud tujuan dan dorongan dari sekolah-sekolah ini ialah untuk memperlengkapi si anak dengan ketrampilan teknologis yang paling baik sehingga ia bisa berfungsi secara jernih dan efisien di dalam dunia modern dan jauh lebih penting lagi menciptakan iklim yang tepat sehingga si anak bisa berkembang penuh sebagai seorang manusia yang utuh. Ini berarti memberi kesempatan kepadanya untuk mekar dalam kebaikan sehingga ia dapat berhubungan secara tepat dengan orang, benda-benda dan ide-ide, dengan seluruh kehidupan. Hidup berarti berhubungan. Tidak ada hubungan yang benar dengan apapun apabila tidak terdapat perasaan yang benar terhadap keindahan, tanggapan terhadap alam, terhadap musik dan seni, suatu perasaan estetik yang berkembang tinggi.

Saya rasa cukup jelas bahwa pendidikan yang kompetitif dan perkembangan siswa dalam proses itu adalah sangat destruktif. Saya tidak tahu seberapa dalam orang menyadari artinya ini. Jika orang telah menyadarinya, maka apakah pendidikan yang benar? Saya rasa jelas bahwa pola yang sekarang kita pupuk dan kita namakan pendidikan, yaitu penyesuaian diri dengan masyarakat, amat sangat destruktif. Dengan kegiatan-kegiatannya yang ambisius, pendidikan itu menimbulkan frustrasi secara ekstrim. Dan apa yang selama ini kita anggap — baik di Barat maupun di Timur — sebagai perkembangan di dalam proses ini, adalah kebudayaan. Hal itu mau tidak mau mengundang penderitaan. Melihat kebenaran hal itu adalah penting sekali. Jika itu sudah jelas sekali, dan jika orang sudah meninggalkannya dengan sukarela, bukan sebagai reaksi, tetapi sekedar seperti sehelai daun yang gugur dari pohon, terlepas jatuh lalu apakah yang dimaksud dengan mekar, apakah pendidikan yang benar? Apakah anda mendidik siswa untuk menyesuaikan diri, untuk melaraskan diri, untuk mencocokkan diri dengan ataukah anda mendidiknya untuk memahami, untuk melihat secara jelas sekali, seluruh arti semua itu dan pada saat yang sama membantunya agar dapat membaca dan menulis? Jika anda mengajarnya membaca dan menulis di dalam sistim frustrasi yang sekarang ini, maka mekarnya batin akan terhalang. Maka persoalannya ialah, jika orang melepaskan pendidikan yang kompetitif ini, apakah sebenarnya mungkin batin itu dididik sebagaimana umum mengertikan kata "pendidikan" itu? Atau tidakkah pendidikan sesungguhnya terdiri dari justru menjauhkan diri kita dan si siswa dari struktur sosial berupa frustrasi dan keinginan dan pada saat yang sama memberinya pengetahuan tentang matematika, ilmu alam dan sebagainya? Bagaimanapun juga, jika guru dan siswa telah bebas dari semua kekacauan yang hebat ini, apalagi yang perlu dididik? Yang dapat anda ajarkan kepada siswa ialah membaca dan menulis, menghitung, merencana mengingat-ingat dan menyampaikan fakta-fakta dan pendapat-pendapat tentang fakta.

Maka, apakah fungsi pendidikan dan adakah metoda tertentu untuk pendidikan? Apakah anda mengajarkan kepada siswa suatu kejuruan sehingga ia menjadi cakap dan dalam ketrampilan itu menumbuhkan perasaan ambisi? Dengan mengajarkan kepadanya suatu kejuruan untuk memperoleh suatu pekerjaan, anda juga membebaninya dengan kaitan-kaitannya berupa sukses dan frustrasi. Ia ingin sukses dalam hidup dan ia juga ingin menjadi manusia yang damai. Seluruh hidupnya adalah suatu kontradiksi. Makin besar kontradiksinya, makin besar ketegangannya. Ini adalah fakta. Jika ada penekanan pada kontradiksi, terdapatlah kegiatan lahiriah yang lebih besar. Anda memberi siswa suatu kejuruan dan pada saat yang sama menumbuhkan dalam dirinya ketidak-seimbangan yang luar biasa ini, kontradiksinya yang ekstrim ini, yang menuju kepada frustrasi dan keputusasaan. Makin ia mengembangkan kemampuannya dalam kejuruan, makin besar ambisinya dan makin besar frustrasinya. Anda mendidiknya untuk memiliki suatu keahlian yang akan membawanya kepada keputus-asaan.

Maka masalahnya ialah, dapatkah anda membantunya supaya tidak hanyut ke dalam kontradiksi? Ia akan hanyut ke situ jika anda tidak membantunya untuk mencintai apa yang dilakukannya.

Anda tahu, jika siswa senang akan ilmu ukur, mencintainya demi ilmu ukur itu sendiri, ia begitu asyik di dalamnya sehingga ia tidak punya ambisi. Ia sungguh-sungguh mencintai ilmu ukur dan hal itu merupakan kegembiraan yang besar. Oleh karena itu ia akan mekar di situ. Bagaimana anda membantu siswa untuk mencintai, secara itu, sesuatu yang si siswa itu belum menemukannya bagi dirinya sendiri.

Jika anda ditanya, sebagai seorang guru, apa tujuan dari sekolah ini, dapatkah anda menjawab? Saya ingin tahu apa yang diusahakan anda semua, hendak dijadikan apakah siswa itu? Apakah anda berusaha membentuknya, membeban-pengaruhinya, memaksanya kearah tertentu? Apakah anda berusaha mengajarkan kepada si siswa matematika, ilmu alam, memberinya sejumlah pengetahuan sehingga ia menjadi trampil secara tehnologis dan mampu bekerja baik dalam suatu karir di kemudian hari? Ribuan sekolah melakukannya, di seluruh dunia — berusaha menjadikan siswa pandai secara tehnologis, sehingga ia menjadi sarjana yang baik, ahli mesin yang baik, ahli ilmu alam yang baik dan sebagainya. Atau apakah anda berusaha berbuat jauh lebih banyak di sini? Jika jauh lebih banyak, apakah itu? Kita harus memiliki kejernihan dalam diri kita tentang apa yang kita inginkan, tentang bagaimana seharusnya seorang manusia — seorang manusia utuh, bukan hanya manusia tehnologis. Jika kita terlalu memusatkan perhatian pada ujian-ujian, pada pengetahuan tehnologis, pada usaha membuat si anak cerdik, trampil dalam mengumpulkan pengetahuan dan sementara itu kita mengabaikan segi yang lain, maka si anak akan tumbuh menjadi manusia yang berat sebelah. Kalau kita berbicara tentang manusia utuh, yang kita maksudkan bukan hanya manusia yang memiliki pengertian batiniah, dengan kemampuan untuk menjelajahi, menyelidiki hidup batiniahnya, keadaan batinnya, beserta kemampuan untuk bebas melampaui keadaan batin tersebut, tetapi juga manusia yang mampu secara lahiriah mengerjakan sesuatu dengan baik. Keduanya harus berjalan bersama-sama. Itulah masalah sesungguhnya dalam pendidikan — untuk mengusahakan apabila si anak meninggalkan sekolah kelak ia dapat kuat sentosa dalam kebaikan, baik lahiriah maupun batiniah.

Haruslah terdapat suatu titik awal darimana kita berfungsi sehingga kita dapat memupuk, bukan hanya segi tehnologisnya saja, tetapi juga membuka lapisan-lapisan yang lebih dalam, lapangan-lapangan yang lebih dalam, dari batin manusia. Saya akan mengemukakannya dengan cara lain. Jika anda memusatkan perhatian pada usaha mernbuat si siswa hebat sekali dalam tehnologi dan mengabaikan segi yang lain, seperti yang biasanya kita lakukan, apakah yang terjadi dengan manusia seperti itu? Jika anda memusatkan perhatian pada usaha membuat siswa menjadi penari yang sempurna atau ahli matematika yang sempurna, apa yang terjadi? Ia bukan hanya itu, ia jauh lebih dari itu.

Ia cemburu, marah, mengalami frustrasi, putus asa, ambisius. Maka anda menciptakan masyarakat dimana selalu terdapat ketidak-tertiban, karena anda menekankan tehnologi dan ketrampilan di satu lapangan dan mengabaikan lapangan yang lain. Betapapun sempurnanya seseorang secara tehnologis, ia selalu bertentangan didalam hubungan-hubungan sosialnya. la selalu bertempur dengan tetangganya.

Dengan demikian tehnologi tidak dapat menghasilkan masyarakat yang sempurna atau baik. Tehnologi bisa menghasilkan masyarakat besar, di mana tidak terdapat kemiskinan, di mana terdapat persamaan materiil dan sebagainya. Masyarakat besar tidak selalu berarti masyarakat yang baik. Masyarakat yang baik mengandung arti ketertiban. Ketertiban bukanlah berarti kereta api berjalan menurut jadwal, atau surat pos yang di sampaikan secara teratur. Ketertiban berarti sesuatu yang lain. Bagi seorang manusia, ketertiban berarti ketertiban dalam dirinya. Dan ketertiban seperti itu mau tidak mau akan menghasilkan suatu masyarakat yang baik. Nah, sekarang dari pusat manakah kita akan mulai?

Mengertikah anda pertanyaan saya? Jika saya mengabaikan batin menaruh tekanan pada tehnologi, apa pun yang saya kerjakan akan berat sebelah. Jadi saya harus menemukan suatu cara, saya harus mengadakan suatu gerakan yang akan mencakup keduanya. Sejauh ini kita telah memisahkan kedua hal itu dan setelah memisahkannya kita memberi tekanan pada yang satu dan mengabaikan yang lain. Yang kita coba lakukan sekarang ialah memadukan lagi keduanya. Jika terdapat pendidikan yang semestinya, siswa tidak akan memperlakukannya sebagai dua lapangan terpisah. Ia akan mampu bergerak di dalam keduanya sebagai satu gerakan.

Bukankah begitu? Sambil membuat dirinya sempurna secara tehnologis, ia juga akan membuat dirinya manusia yang berguna. Apakah uraian ini menyampaikan sesuatu atau tidak?

Sebatang sungai tidak selamanya sama, tepinya berubah dan airnya dapat digunakan untuk kepentingan industri atau untuk berbagai keperluan lain, namun ia tetap air. Mengapa kita memisahkan dunia tehnologi dan dunia yang lain? Kita berkata : "Jika kita bisa membuat dunia tehnologi sempurna, kita akan memiliki makanan, pakaian, perumahan untuk setiap orang; jadi marilah kita memusatkan perhatian pada hal-hal tehnologis." Lalu ada pula orang-orang yang hanya memusatkan perhatian pada dunia batin. Mereka mengutamakan apa yang disebut dunia batin dan menjadi semakin terasing, semakin mementingkan diri sendiri, semakin kabur, mengejar kepercayaan, dogma dan visiun mereka sendiri. Terdapatlah pembagian yang hebat ini dan kita berkata bagaimanapun juga kita harus menggabungkan ke dua hal ini. Jadi setelah membagi hidup menjadi yang di luar dan di dalam, sekarang kita mencoba memadukannya. Saya rasa cara ini pun membawa kepada konflik yang lebih banyak. Sedangkan jika kita dapat menemukan sebuah pusat, suatu gerakan, suatu pendekatan yang tidak membagi-bagi, kita akan berfungsi dalam keduanya secara sama.

Apakah gerakan yang luar biasa inteligennya? Saya menggunakan kata "inteligen", bukan pandai, bukan intuitif, bukan berasal dari pengetahuan, keterangan. pengalaman. Apakah gerakan yang memahami semua pembagian ini, semua konflik ini; dan bukankah pemahaman itulah yang menciptakan gerakan dari inteligensi?

Kita melihat di dunia dua gerakan sedang berlangsung, gerakan religius yang dalam yang selalu dicari oleh manusia dan telah menjelma menjadi Katoliksisme, Protestantisme, Hinduisme dan gerakan tehnologi yang duniawi, dunia dari komputer dan serba otomatis yang memberi lebih banyak waktu luang kepada manusia. Gerakan religius itu sangat lemah dan sangat sedikit orang yang mengikutinya. Sedangkan gerakan tehnologi kian bertambah kuat dan manusia kehilangan arah didalamnya, semakin bersifat mekanis sehingga manusia mencoba lari dari mekanisme ini, mencoba menemukan sesuatu yang baru - dalam lukisan, musik, seni, teater. Dan golongan religius, jika ada, berkata : "Itu jalan yang salah" dan menjauhkan diri ke dalam dunia mereka sendiri. Mereka tidak melihat kekurangannya, ketidak-matangannya sifat mekanis, dari keduanya. Sekarang, dapatkah kita bahwa kedua gerakan ini masing-masing tidak memadai? Jika kita dapat melihat itu, kita mulai melihat suatu gerakan yang tidak bersifat mekanis yang akan mencakup keduanya.

Jika saya mempunyai anak yang harus dididik, saya akan membantunya melihat sifat mekanis dan kekurangan dari kedua jalan itu dan di dalam menyelidiki kekurangannya dari kedua jalan itu selagi kedua hal itu bekerja di dalam dirinya, akan lahirlah inteligensi yang timbul melalui penyelidikan.

Tuan-tuan, lihatlah bunga-bunga itu, kecemerlangnya, keindahannya. Sekarang, bagaimanakah saya, sebagai guru, harus membantu siswa untuk melihat bunga-bunga itu dan juga menjadi pintar dalam matematika? Jika saya hanya menaruh perhatian pada bunga-bunga dan tidak pandai dalam matematika, tentu ada yang salah dalam diri saya. Jika saya hanya menaruh perhatian pada matematika, juga ada yang salah pada diri saya.

Anda tidak dapat memupuk pengetahuan tehnologis, menguasainya dengan sempurna lebih dulu, lalu berkata anda harus juga mempelajari yang lain. Dengan mencurahkan hati anda bertahun-tahun untuk mengumpulkan pengetahuan anda telah menghancurkan sesuatu dalam diri anda — perasaan dari kemampuan untuk meIihat. Dengan mengutamakan yang satu atau yang lain anda menjadi tidak peka dan intisari inteligensi adalah kepekaan.

Maka, sifat yang kita inginkan agar dapat dimiliki si anak ialah bentuk kepekaan yang tertinggi. Kepekaan adalah inteligensi; ia tidak datang dari buku-buku. Jika anda menghabiskan empat puluh tahun untuk mempelajari matematika tetapi tidak mampu memandang bunga-bunga itu dan memandang langit biru, anda mati.

Jika anda peka, yang merupakan sifat tertinggi dari inteligensi, anda mampu memandang bunga-bunga itu dan juga mempelajari matematika. Jika terdapat gerak dari inteligensi itu, ia akan mencakup kedua lapangan tersebut. Sekarang, bagaimanakah anda dan saya, sebagai sekelompok guru, akan menciptakan gerak kepekaan itu di dalam diri si anak? Siswa harus bebas. Kalau tidak, ia tidak dapat peka. Jika ia tidak bebas dalam mempelajari matematika, menikmati matematika, mencurahkan sepenuh hatinya kepadanya, yaitu kebebasan, ia tak dapat mempelajarinya dengan memadai. Dan untuk memandang bunga-bunga itu, memandang keindahan itu, ia juga harus bebas. Jadi pertama-tama haruslah ada kebebasan. Itu berarti saya harus membantu anak itu untuk bebas. Kebebasan mengandung arti ketertiban, kebebasan bukan berarti membiarkan si anak berbuat sesuka hatinya, pergi makan dan masuk kelas sesuka hatinya.

Di dalam meneliti, bekerja, belajar, kita mengerti bahwa bentuk kepekaan yang tertinggi adalah intelegensi. Kepekaan ataupun inteligensi itu, hanya timbul di dalam kebebasan, tetapi untuk menyampaikannya kepada seorang anak membutuhkan banyak inteligensi di pihak kita. Saya ingin membantunya, menjadi bebas, namun sekaligus memiliki ketertiban dan disiplin, tanpa penyesuaian diri. Untuk menyelidiki sesuatu kita harus memiliki bukan hanya kebebasan, melainkan juga disiplin. Disiplin ini bukanlah sesuatu dari luar yang diterapkan pada si anak, dan terhadap mana ia mencoba menyesuaikan diri. Di dalam penyelidikan terhadap kedua proses ini sendiri yaitu proses teknologis dan proses religius, terdapat perhatian, dan oleh karena itu disiplin. Maka kita bertanya : "Bagaimana kita dapat membantu anak, laki-laki maupun perempuan, untuk bebas sepenuhnya, namun berdisiplin tinggi, bukan melalui ketakutan, bukan melalui penyesuaian diri, bukan bebas setengah-setengah, tetapi bebas sepenuhnya, namun sekaligus berdisiplin tinggi?" Bukan ini dulu, lalu itu. Keduanya berjalan bersama-sama.

Nah, bagaimana kita melakukannya ? Apakah kita melihat jelas bahwa kebebasan adalah mutlak perlu, dan bahwa kebebasan bukan berarti berbuat sesuka hati ? Anda tak dapat berbuat sesuka hati, oleh karena anda selalu berhubungan dalam hidup dengan orang lain. Lihatlah perlunya dan pentingnya untuk bebas sepenuhnya namun berdisiplin tinggi tanpa penyesuaian diri. Lihatlah bahwa kepercayaan-kepercayaan anda, ide-ide anda, anda, semuanya tidak orisinil. Anda harus melihat semua itu, dan melihat bahwa anda harus bebas secara mutlak. Kalau tidak, anda tak dapat berfungsi sebagai seorang manusia.

Nah, saya ingin tahu apakah anda melihat hal ini sebagai satu ide atau sebagai kenyataan sama nyatanya seperti botol tinta ini. Bagaimana anda, sebagai sekelompok guru, jika anda melihat pentingnya si anak untuk bebas sama sekali, dan juga menyadari perlunya disiplin dan ketertiban — bagaimana anda membantunya sehingga ia dapat mekar dalam kebebasan dan ketertiban ? Bentakan-bentakan anda kepada si anak tak akan menghasilkannya, dengan memukuli si anak maupun membandingkan dia dengan orang lain juga tak akan menghasilkannya. Setiap bentuk paksaan, penindasan, atau sistim pemberian angka atau tanpa angka, tidak akan menghasilkannya.

Jika anda melihat pentingnya si anak untuk bebas dan sekaligus memiliki ketertiban yang tinggi, dan jika anda melihat bahwa menghukumnya atau menyanjungnya tidak menghasilkan apa-apa, apakah anda akan melepaskan semua itu dalam diri anda ?
Cara yang lama tidak menghasilkan kebebasan. Cara itu membuat manusia tunduk dan menyesuaikan diri, tetapi jika anda melihat bahwa kebebasan adalah mutlak perlu dan oleh karenanya ketertiban adalah penting, maka cara-cara yang telah kita pergunakan selama berabad-abad ini harus dilepaskan.

Kesukarannya ialah bahwa anda telah terbiasa dengan cara-cara lama itu dan tiba-tiba anda kehilangan dia. Maka anda dihadapkan kepada suatu masalah di mana anda harus berpikir dengan suatu cara yang sama sekali berbeda. Ini adalah masalah anda. Ini adalah tanggung jawab anda. Anda dihadapkan kepada masalah ini. Anda tak mungkin menggunakan cara-cara lama, karena anda telah melihat bahwa si anak harus bebas sepenuhnya, namun harus terdapat ketertiban. Maka apakah yang terjadi dengan anda, yang sejauh ini telah menerima dan bekerja dengan rumusan yang lama ? Anda telah membuang rumusan itu, dan memandang masalah itu secara baru, bukan? Anda memandang masalah itu dengan batin yang segar, yang bebas.

Guru: Untuk melihat, apakah kita harus selalu berada dalam keadaan itu ?

Krishnamurti: Jika anda tidak melihatnya sekarang, tetapi menuntut untuk selalu melihatnya, itu tidak ada artinya. Sekali melihat merupakan benih yang ditanam dalam tanah, ia akan berkembang. Tetapi jika anda berkata bahwa anda harus selalu melihatnya, maka anda kembali dalam rumusan yang lama.

Lihatlah apa yang terjadi : pola berpikir lama berkenaan dengan pengajaran dan kebebasan dan ketertiban telah lepas dari diri anda. Maka anda memandang masalah-masalah itu secara lain. Perbedaannya ialah bahwa batin anda sekarang bebas untuk memandang, bebas untuk menyelidiki masalah kebebasan dan ketertiban. Sekarang, bagaimana anda akan menyampaikan kepada si anak bahwa anda tidak akan menghukumnya, tidak akan mengganjarnya, namun ia harus bebas sepenuhnya dan tertib ?

Guru: Saya rasa guru mempunyai masalah yang sama dengan si anak. Ia harus bekerja dari sebuah lapangan di mana ia merasakan kebebasan dan disiplin berjalan bersama-sama. Dalam cara berpikirnya yang sekarang, ia memisahkan ketertiban dan kebebasan. Ia berkata kebebasan bertentangan dengan ketertiban dan ketertiban bertentangan dengan kebebasan,

Krishnamurti: Saya kira ada sesuatu yang luput. Apabila anda melihat bahwa cara lama dari hukuman dan ganjaran sudah mati, batin anda menjadi jauh lebih aktif. Karena anda harus memecahkan masalah ini, batin anda hidup. Jika ia hidup, ia akan menyentuh masalahnya.

Karena anda bebas dan memahami kebebasan, anda akan datang tepat pada waktunya di kelas dan dari kebebasan anda akan bicara dengan siswa dan bukan dari sebuah ide. Bicara dari sebuah ide, sebuah rumusan, sebuah konsep, sama sekali berbeda dengan bicara dari sebuah fakta nyata yang telah anda lihat sendiri — bahwa siswa harus bebas dan oleh karena itu tertib. Jika anda sebagai guru bebas dan tertib, anda sudah menyampaikannya, bukan hanya dengan kata-kata, melainkan tanpa kata-kata, dan siswa segera mengetahuinya.

Sekali anda melihat fakta bahwa hukuman dan ganjaran dalam segala bentuk bersifat merusak, anda tak akan kembali kepadanya. Dengan membuangnya, anda sendiri menjadi berdisiplin dan disiplin itu timbul dari kebebasan penyelidikan. Anda menyampaikan kepada si anak fakta itu dan bukan suatu ide. Maka anda berkomunikasi dengannya bukan hanya melalui kata-kata, melainkan pada suatu tingkat yang sama sekali berlainan. *****

KEMBALI KE TENTANG PENDIDIKAN