jkbanner

THE TEACHINGS OF J.KRISHNAMURTI   -   INDONESIAN WEBSITE




TENTANG PENDIDIKAN

1. TENTANG MEDITASI DAN PENDIDIKAN
(Perihal Pendidikan - Bab X - Dialog dengan para guru)


Apakah kita ini makhluk manusia atau ahli-ahli? Profesi kita menyita seluruh hidup kita dan kita menyediakan waktu sangat sedikit untuk memupuk atau memahami batin, yang berarti hidup. Profesi lebih dulu, kemudian baru hidup. Kita mendekati hidup dari sudut pandangan profesi, pekerjaan, dan menghabiskan hidup kita di dalamnya dan pada akhir hidup kita, kita beralih pada meditasi, pada sikap batin yang kontemplatif.

Apakah kita hanya sekedar pendidik-pendidik ataukah kita manusia yang melihat pendidikan sebagai suatu cara yang benar dan penting untuk membantu manusia menumbuhkan batin yang menyeluruh? Hidup mendahului mengajar. Seorang yang menjadi spesialis — spesialis hidung dan tenggorokan menghabiskan seluruh hari-harinya memeriksa hidung-hidung dan tenggorokan dan sudah tentu batinnya dipenuhi oleh tenggorokan dan hidung-hidung dan hanya kadang-kadang saja ia dapat berpikir tentang meditasi atau memandang kebenaran.

Dapatkah kita mendalami masalah meditasi, sebagai suatu cara pendekatan yang total menyeluruh tehadap hidup, yang berarti pula memahami apa meditasi itu? Saya tidak tahu adakah di antara anda yang melakukan meditasi, dan saya tidak tahu apakah arti meditasi bagi anda. Peranan apakah yang dimiliki meditasi di dalam pendidikan dan apakah yang kita maksudkan dengan meditasi? Kita menaruh begitu banyak arti pada pencapaian suatu gelar, memperoleh pekerjaan, keamanan finansiil; itulah seluruh pola pikiran kita. Dan meditasi, penyelidikan yang sesungguhnya mengenai apakah ada tuhan, mengamati, mendalami keadaan yang tak terukur itu, sama sekali bukan merupakan bagian dari pendidikan kita. Kita harus menemukan apa yang kita maksud dengan meditasi, bukan bagaimana caranya berrneditasi. Ini adalah cara yang tidak dewasa dalam melihat meditasi. Jika kita dapat membabarkan apakah meditasi itu, maka proses pembabaran itu sendiri adalah meditasi.

Apakah meditasi itu, dan apakah berpikir itu? Jika kita menyelidiki apakah meditasi itu, kita harus menyelidiki pula apakah berpikir itu. Kalau tidak dengan bermeditasi saja tanpa mengetahui apakah proses berpikir itu, berarti menciptakan suatu khayalan, suatu tipuan, yang tidak mempunyai kenyataan apa-apa. Jadi untuk sungguh-sungguh memahami atau menemukan apakah meditasi itu tidaklah cukup sekedar mempunyai penjelasan-penjelasan yang hanya merupakan kata-kata dan oleh karena itu sedikit sekali artinya; kita harus mendalami seluruh proses berpikir.

Berpikir adalah jawaban dari ingatan. Batin menjadi budak dari kata-kata, budak dari lambang-lambang, dari ide-ide, dan pikiran adalah kata-kata dan batin menjadi budak kata-kata seperti tuhan, komunis, kepala sekolah, wakil kepala sekolah, perdana menteri, inspektur polisi, orang desa, tukang masak. Lihatlah nuansa dari kata-kata ini dan perasaan-perasaan yang menyertai kata-kata ini. Anda menyebutkan "sannyasi" (semacam rahib di India) dan serta merta terdapat suatu kwalitas rasa hormat. Maka kata-kata bagi kita mengandung arti yang amat besar. Bagi kebanyakan dari kita batin adalah kata-kata. Di dalam kerangka kata-kata yang simbolik dan teknis serta dibeban pengaruhi, kita hidup dan berpikir; kerangka ini adalah masa lampau, yang adalah waktu. Jika anda mengamati proses ini berlangsung dalam diri anda, maka hal itu mengandung arti.

Sekarang, adakah pikiran tanpa kata-kata? Adakah berpikir tanpa kata-kata dan oleh karena itu berada di luar waktu ? Kata-kata adalah waktu. Dan Jika batin dapat memisahkan kata-kata, lambang, dari dirinya sendiri, lalu adakah suatu penyelidikan yang tidak mencari suatu tujuan dan oleh karena itu tanpa waktu?

Pertama-tama marilah kita melihat gambaran seluruhnya. Suatu batin yang tak mempunyai ruang untuk mengamati tidak memiliki kwalitas persepsi. Dari berpikir tidak terdapat pengamatan. Kebanyakan dari kita melihat melalui kata-kata, dan adakah itu melihat? Bila saya melihat sekuntum bunga dan menyebutnya mawar, adakah saya melihat mawar itu ataukah saya melihat perasaan, gambaran yang ditimbulkan oleh kata itu? Maka, dapatkah batin yang berasal dari waktu dan ruang, menjelajah ke dalam keadaan yang tanpa ruang dan tanpa waktu, oleh karena hanya dalam keadaan yang demikianlah terdapat kreasi? Suatu batin yang teknis, yang memiliki pengetahuan spesialisasi dapat menemukan, menambah, tapi ia tak pernah dapat mencipta. Suatu batin yang tak memiliki ruang, tak memiliki kekosongan dari mana ia bisa melihat, adalah jelas suatu batin yang tak mampu hidup dalam keadaan tanpa ruang dan tanpa waktu. Itulah yang diminta. Maka suatu batin yang hanya terperangkap dalam ruang dan waktu, dalam kata-kata, dalam dirinya, dalam kesimpulan-kesimpulan, dalam teknik-teknik, dalam spesialisasi-spesialisasi, batin yang demikian adalah batin yang amat merana. Jika dunia dihadapkan pada sesuatu yang sama sekali baru, semua jawaban kita, patokan kita, tradisi kita yang semuanya tua tidak memadai lagi.

Nah, apakah berpikir itu? Sebagian besar dari hidup kita dihabiskan dalam daya upaya untuk menjadi sesuatu, untuk mencapai sesuatu. Sebagian besar dari hidup kita merupakan rangkaian daya upaya yang terus menerus yang saling berhubungan dan tidak berhubungan, dan dalam daya upaya ini seluruh masalah ambisi dan kontradiksi menghasilkan proses eksklusif yang tertentu yang kita namakan konsentrasi. Dan mengapa kita harus berdaya upaya? Apakah makna daya upaya ? Apakah kita akan macet kalau kita tidak melakukan daya upaya dan apa salahnya kalau kita macet? Tidakkah kita juga macet dengan daya upaya kita yang amat besar — sekarang ini ? Lalu apa lagi artinya daya upaya? Jika batin memahami daya upaya, tidakkah ia akan melepaskan suatu jenis enersi lain yang tidak berpikir dalam istilah pencapaian, ambisi, dan dengan demikian kontradiksi? Tidakkah enersi itu sendiri merupakan tindakan?

Dalam daya upaya terlibat ide dan tindakan dan masalah bagaimana menjembatani jarak antara ide dan tindakan. Semua daya upaya mengandung arti ide dan tindakan dan pertemuan dari keduanya. Mengapa harus terdapat pemisahan seperti itu, dan tidakkah pemisahan itu bersifat destruktif? Semua pemisahan bersifat bertentangan dan dalam keadaan bertentangan dalam dirinya sendiri ini tidak terdapat perhatian. Makin besar pertentangan itu makin besar tiadanya perhatian dan makin besar pula tindakan sebagai akibatnya. Maka hidup merupakan pertempuran yang tak habis-habisnya dari saat kita lahir hingga saat kita mati.

Mungkinkah mendidik diri kita sendiri maupun siswa untuk hidup? Maksud saya bukan hidup sekedar sebagai makhluk intelektuil melainkan sebagai manusia yang lengkap, memiliki jasmani yang baik, dan batin yang baik, menikmati alam, melihat keseluruhan, kesengsaraan, cinta, kesedihan, keindahan dunia.

Bila kita merenungkan apa meditasi itu, saya rasa salah satu hal yang pertama ialah ketenangan jasmani. Suatu ketenangan yang bukan dipaksakan, bukan pula dicari. Saya tidak tahu apakah anda pernah memperhatikan sebatang pohon tertiup angin, dan pohon yang sama itu pada petang hari setelah matahari terbenam. Ia tenang sekali. Secara itu pula, dapatkah jasmani tenang, wajar, normal dan sehat ? Semua ini mengandung arti batin yang menyelidiki yang tidak mencari kesimpulan atau bertitik tolak dari suatu motif. Bagaimana batin menyelidiki ke dalam apa yang tak di kenal, yang tak terukur ? Bagaimana kita menyelidiki tentang tuhan? Hal itu merupakan bagian juga dari meditasi.. Bagaimana kita membantu siswa menyelami semua masalah ini? Mesin-mesin dan otak-otak elektronis, mulai menggantikan kita, otomatisasi akan datang kenegeri ini kira-kira limapuluh tahun lagi dan anda akan punya waktu luang dan anda bisa berpaling pada buku-buku untuk pengetahuan. Inteligensi kita, bukan sekedar kemampuan untuk memikir melainkan kemampuan untuk melihat, memahami apa yang benar dan apa yang palsu, dihancurkan oleh menaruh tekanan pada otoritas, sikap menerima, meniru, yang di dalamnya terdapat rasa aman. Semua ini tengah berlangsung, tetapi dalam semua ini apakah peranan meditasi? Saya merasakan kwalitas meditasi selagi saya bicara kepada anda. Itulah meditasi.. Saya sedang bicara tetapi batin yang tengah menyatu berada dalam keadaan meditasi.

Semua ini mengandung arti batin yang luar biasa lenturnya, bukan batin yang menerima, menolak, setuju atau menyesuaikan diri. Maka meditasi adalah pemekaran batin dan melalui itu melihat, melihat tanpa hambatan, tanpa latar belakang dan dengan demikian suatu kekosongan tanpa batas dari mana kita melihat. Melihat tanpa pembatasan pikiran yang adalah waktu, membutuhkan batin yang luar biasa tenangnya serta hening.

Semua ini mengandung arti suatu inteligensi yang bukan hasil dari pendidikan, belajar dari buku, menguasai tehnik-tehnik. Sudah tentu, untuk mengamati seekor burung anda harus tenang sekali; kalau tidak, oleh karena gerakan yang sedikit saja di pihak anda burung itu akan terbang; seluruh jasmani anda harus diam, santai, peka untuk melihat. Bagaimana anda menciptakan perasaan itu? Ambillah soal yang satu itu yang merupakan bagian dari meditasi. Bagaimana anda menciptakan hal ini dalam sebuah sekolah semacam ini? Pertama-tama, apakah memang perlu untuk mengamati, memikir, memiliki batin yang halus, batin yang diam, jasmani yang cepat memberi jawaban, peka, bergairah?

Kita hanya berkepentingan menolong siswa untuk memperoleh gelar dan memperoleh pekerjaan, lalu kita membiarkan ia tenggelam dalam masyarakat yang mengerikan. Untuk menolongnya hidup, penting sekali bagi siswa memiliki perasaan yang luar biasa ini terhadap hidup, bukan hidupnya sendiri atau hidup orang lain, melainkan terhadap hidup, terhadap orang desa, terhadap pohon. Itu adalah bagian dari meditasi — bergairah terhadapnya, menyinta — yang menuntut suatu rasa kerendahan hati yang besar. Kerendahan hati ini tidak dapat dipupuk. Nah, bagaimana anda menciptakan suatu iklim untuk ini, oleh karena anak-anak tidak dilahirkan dalam keadaan sempurna? Anda mungkin berkata, yang perlu kita lakukan hanyalah menciptakan lingkungannya dan mereka akan tumbuh menjadi makhluk-makhluk yang mengagumkan; tidak akan demikian halnya. Mereka tetap apa adanya mereka, hasil dari masa lampau kita beserta segala kecemasan dan ketakutan kita dan kita telah menciptakan masyarakat di mana mereka hidup dan anak-anak harus menyesuaikan diri dan dibeban pengaruhi oleh kita. Bagaimana anda menciptakan iklim di mana mereka melihat semua pengaruh-pengaruh ini, di mana mereka melihat keindahan bumi ini, melihat keindahan lembah ini? Seperti anda mencurahkan waktu untuk matematika, ilmu pengetahuan, musik, tari, mengapa anda tidak memberikan waktu untuk semua ini ?

Guru: Saya memikirkan kesulitan-kesulitan praktis dan betapa hal itu tidak selalu mungkin.

Krishnamurti: Mengapa anda memberikan waktu untuk tari, untuk musik? Mengapa tidak memberikan waktu ini untuk seperti yang anda berikan untuk matematika? Anda tidak tertarik kepadanya. Jika anda melihat bahwa hal itu juga perlu, anda akan mencurahkan waktu untuknya. Jika anda melihat bahwa hal itu sama pentingnya dengan matematika, anda akan berbuat sesuatu.

Meditasi mengandung arti keseluruhan hidup, bukan hanya kehidupan teknis, kerahiban atau kesekolahan, melainkan hidup seluruhnya, dan untuk memahami serta menyampaikan keseluruhan ini harus terdapat suatu penglihatan tertentu terhadapnya tanpa ruang dan waktu. Suatu batin harus memiliki dalam dirinya perasaan akan keadaan tanpa ruang dan tanpa waktu itu.

Ia harus melihat keseluruhan gambaran ini. Bagaimana anda mendekatinya dan menolong siswa untuk melihat keseluruhan hidup, bukan dalam potongan-potongan kecil, melainkan hidup dalam keseluruhannya ? Saya ingin ia memahami kehebatan semua ini. *****

KEMBALI KE TENTANG PENDIDIKAN