jkbanner

THE TEACHINGS OF J.KRISHNAMURTI   -   INDONESIAN WEBSITE




TENTANG PENDIDIKAN

TENTANG BATIN YANG RELIGIUS DAN BATIN YANG ILMIAH
(Dari buku Perihal Pendidikan bab 2)



Tadi, pagi sekali saya melihat seekor burung yang indah, berwarna hitam dengan leher yang merah, saya tidak tahu apa nama burung itu. Ia terbang dari pohon ke pohon dengan dendang dihatinya sungguh indah untuk diparndang Pagi ini saya ingin bicara dengan anda tentang suatu hal yang agak serius. Anda harus mendengarkan baik-baik dan jika anda ingin, mungkin nanti, anda bisa membicarakannya dengan guru-guru anda. Saya ingin bicara tentang sesuatu yang menyangkut seluruh dunia, yang mencemaskan seluruh dunia. Yaitu masalah semangat-religius dan batin yang ilmiah. Terdapatlah dua sikap batin ini didunia. Hanya dua sikap batin inilah yang bernilai, semangat-religius yang sejati dan batin-ilmiah yang sejati. Semua kegiatan lain bersifat merusak, membawa kepada banyak kesengsaraan, kekacauan dan penderitaan.

Batin yang ilmiah sangat mengutamakan fakta-fakta. Tugas serta pandangannya adalah untuk menemukan. Ia melihat benda melalui mikroskop, melalui teleskop; segala sesuatu harus dilihat dengan sesungguhnya seperti apa adanya; dari penglihatan itu ilmu pengetahuan menarik kesimpulan-kesimpulan, membangun teori-teori. Batin seperti itu bergerak dari fakta ke fakta. Semangat ilrnu pengetahuan tidak ada sangkut pautnya dengan keadaan perseorangan, dengan nasionalisme, dengan ras, dengan prasangka. Sarjana-sarjana ilmu pengetahuan bertugas meyelidiki dunia materi, menyelidiki struktur burni dan bintang-bintang dan planet-planet, untuk menemukan bagaimana menyembuhkan penyakit-penyakit manusia, bagaimana memperpanjang hidup manusia, menerangkan hal waktu, baik yang lampau maupun yang akan datang. Namun batin yang ilmiiah beserta penemuan-penemuannya digunakan dan dimanfaatkan oleh batin yang nasionalistik, oleh batin yang berupa India, oleh batin yang berupa Russia, oleh batin yang berupa Amerika. Penemuan ilmiah dipakai dan digunakan oleh negara-negara dan benua-benua yang berdaulat untuk kepentingan sendiri.

Lalu terdapatlah batin yang religius, batin religius yang sejati yang tak mengenal sesuatu kultus, sesuatu kelompok, sesuatu agama, sesuatu gereja yang terorganisir. Batin yang religius bukanlah batin Hindu, batin Kristen, batin Buddhis, atau batin Muslim. Batin yang religius tidak masuk dalam suatu kelompok yang menamakan dirinya agama. Batin yang religius bukanlah batin yang pergi ke gereja, ke kuil, ke mesjid. Ia bukan pula batin yang religius jika ia berpegang pada kepercayaan, dogma-dogma, dalam bentuk tertentu. Batin yang religius benar-benar berdiri sendiri. Ia adalah batin yang telah melihat menembus kepalsuan dari gereja, dogma, kepercayaan, tradisi. Tidak bersifat nasionalistis, tidak dibeban pengaruhi oleh lingkungannya, batin yang demikian itu tidak mempunyai cakrawala, tidak mempunyai batas.

Sifatnya mudah meledak, baru, muda, segar, polos. Batin yang polos, batin yang muda, batin yang luar biasa lentur, halus tak memiliki sauh. Hanya batin yang demikianlah yang dapat mengalami apa yang anda namakan Tuhan, apa yang tak terukur.

Seorang manusia adalah rnanusia sejati apabila semangat ilmiah dan semangat religius sejati berjalan bersama-sama. Dengan begitu manusia akan menciptakan dunia yang baik — bukan dunia komunis atau kapitalis, dunia kaum Brahmana, atau Katolik Roma. Sesungguhnya Brahmana yang sejati adalah orang yang tidak termasuk sesuatu kepercayaan agama, tidak mernpunyai kelas, tidak mempunyai otoritas; tidak mempunyai posisi dalam masyarakat. Dialah Brahmana yang sejati, manusia baru, yang memadukan batin ilmiah dan batin religius, dan oleh karena itu harmonis tanpa sesuatu kontradiksi dalam dirinya. Dan saya rasa tujuan pendidikan ialah untuk menciptakan batin yang baru ini, yang bersifat mudah meledak, dan tidak menyesuaikan diri dengan suatu pola yang ditetapkan oleh masyarakat.

Batin yang religius adalah batin yang kreatif. Ia bukan saja harus mengakhiri masa-lampau, melainkan juga harus rneledak dalam masa-sekarang. Dan batin ini — bukan batin yang menafsir-nafsir dari buku-buku, Bhagavad Gita, Upanishad, Injil — yang mampu menyelidiki, dan juga marnpu menciptakan realitas yang eksplosif. Disini tidak terdapat tafsiran maupun dogma. Adalah luar biasa sukarnya untuk bersifat religius dan memiliki batin ilmiah yang jernih dan teliti, untuk memiliki batin yang tidak takut, yang tidak mempedulikan keamanan dirinya sendiri, ketakutan-ketakutannya sendiri. Anda tak bisa memiliki batin yang religius tanpa mengenal diri sendiri, tanpa mengetahui segala sesuatu tentang diri anda, batin anda, emosi anda, bagaimana batin bekerja, bagaimana pikiran berfungsi. Dan untuk mengatasi sernua itu, untuk menyingkap semua itu, anda harus mendekatinya dengan batin ilmiah yang teliti, jernih, tanpa prasangka, yang tidak menyalahkan, yang mengamati, yang melihat. Jika anda memiliki batin seperti itu anda sungguh-sungguh seorang manusia yang berbudaya, seorang manusia yang mengenal kasih-sayang. Manusia yang demikian itu tahu apa artinya hidup.

Bagaimana kita menimbulkan hal ini? Oleh karena sangat penting untuk membantu siswa untuk bersikap ilrniah, untuk berpikir dengan jernih dan teliti sekali, untuk berpikir tajam, disamping membantunya untuk menyingkap lubuk — lubuk hatinya, untuk mengatasi kata-kata, tanda golongan yang beraneka-ragam sebagai Hindu, Muslim, Kristen. Mungkinkah untuk mendidik siswa untuk mengatasi semua tanda golongan dan menemukan, mengalami, sesuatu yang tidak diukur oleh batin, yang tak terdapat dalam buku manapun juga, dan tak seorang gurupun bisa menuntun anda menujunya? Jika pendidikan semacam itu mungkin dilakukan dalam sekolah seperti ini, itu adalah hal yang menarik. Anda semua harus melihat manfaatnya mengadakan sekolah seperti itu. Itulah yang sedang dibicarakan oleh para guru dan saya dalam beberapa hari ini. Kita telah memperbincangkan banyak hal — tentang otoritas, tentang disiplin, tentang bagaimana mengajar, apa yang harus diajar, apa mendengarkan apa pendidikan itu, apa kebudayaan itu, bagaimana untuk duduk diam. Sekedar menaruh perhatian pada menari, menyanyi, berhitung, pelajaran-pelajaran, bukanlah keseluruhan hidup. Adalah bagian dari hidup juga untuk duduk diarn dan memandang diri anda sendiri, untuk memiliki kejelasan pandangan untuk melihat. Juga penting untuk mengamati bagaimana berpikir, apa yang harus dipikir dan mengapa anda berpikir. Merupakan bagian dari hidup juga untuk memandang burung, memandang kepada orang-orang desa, kejorokannya — yang telah ditimbulkan oleh masing-masing dari kita, yang dipertahankan oleh masyarakat. Sernua ini adalah bagian dari pendidikan.


KEMBALI KE TENTANG PENDIDIKAN