jkbanner

THE TEACHINGS OF J.KRISHNAMURTI   -   INDONESIAN WEBSITE




TENTANG PENDIDIKAN

SURAT UNTUK SEKOLAH - 1 September 1979


Mengapa kita dididik? Barangkali anda tak pernah mengajukan pertanyaan ini, tetapi jika pernah, apakah jawaban anda? Banyak alasan yang dikemukakan untuk mendukung pendapat perlunya pendidikan, argumentasi yang masuk akal, yang betul-betul perlu dan yang duniawi. Jawaban yang lazim ialah untuk mendapatkan pekerjaan, mempunyai karir yang sukses, atau untuk menjadi trampil dengan tangan atau dengan pikiran. Arti yang besar diberikan kepada kemampuan pikiran untuk mencari karir yang baik dan yang menguntungkan. Jika pikiran anda tidak terlalu cemerlang, maka keterampilan tangan anda menjadi penting. Pendidikan itu perlu, katanya, untuk mempertahankan masyarakat sebagaimana adanya, untuk menyesuaikan diri pada pola yang ditentukan oleh yang disebut berkedudukan mapan dan berwewenang itu, yang tradisional atau yang ultra-modern. Batin yang terdidik mempunyai kemampuan besar untuk mengumpulkan pengetahuan tentang hampir setiap mata studi kesenian, ilmu pengetahuan,dan sebagainya. Batin yang penuh informasi ini terpelajar, profesional, filosofik. Keterpelajaran semacam itu sangat terpuji dan dihormati. Pendidikan ini, jika anda rajin, pintar, cepat dalam belajar anda, menjamin anda akan suatu masa depan yang cemerlang, yang kecemerlangannya tergantung pada keadaan sosial dan ruang lingkup anda. Jika anda tidak begitu cemerlang dalam kerangka pendidikan ini, anda menjadi seorang buruh, seorang pekerja pabrik atau harus mencari tempat pada tingkatan terbawah masyarakat yang kompleks ini. Inilah pada umumnya cara-cara pendidikan kita.

Apakah pendidikan itu? Itu pada hakekatnya seni belajar, tidak saja dari buku-buku, tetapi dari keseluruhan gerak kehidupan. Kata yang tercetak telah mengalahkan segala-galanya yang dianggap penting. Anda belajar tentang apa yang dipikirkan orang lain, pendapat-pendapatnya, nilai-nilainya, keputusan-keputusan dan bermacam-macam pengalamannya yang tak terhitung banyaknya. Perpustakaan menjadi lebih penting daripada manusia yang memiliki perpustakaan itu. Manusia itu sendiri menjadi perpustakaan itu, dan ia berasumsi bahwa dengan terus menerus membaca, ia belajar. Akumulasi informasi ini, seperti dalam sebuah komputer, dianggap sebagai batin yang berpendidikan dan berpengalaman. Kemudian ada orang yang sama sekali tak pernah membaca, yang bersikap sombong terhadap orang lain dan terserap dalam pengalaman-pengalamannya yang berpusatkan-diri dan opini-opininya yang angkuh.

Mengenal semua gejala ini, apakah fungsi dari batin yang seutuhnya itu? Yang kami maksud dengan batin ialah semua respons indriawi, emosi-emosi -- yang samasekali berbeda daripada cinta dan kemampuan intelektual itu. Kita sekarang memberikan nilai yang luar biasa tingginya pada intelek. Yang kita maksud dengan intelek ialah kemampuan untuk berpikir logis, secara sehat ataupun tidak, secara obyektif ataupun yang bersifat pribadi. Intelek dengan gerak pikirnya itulah yang menimbulkan fragmentasi dalam keadaan manusiawi kita. Intelek itulah yang telah membagi-bagi dunia menurut bahasa, bangsa, agama - memisahkan manusia dari manusia. Intelek adalah pusat kemerosotan manusia di seluruh penjuru dunia, karena intelek hanya satu bagian saja dari keadaan manusiawi. Apabila bagian itu dianggap maha penting, maka kehidupan menjadi penuh pertentangan, munafik; lalu kecemasan dan perasaan berdosa muncul. Intelek mempunyai tempatnya sendiri, seperti dalam bidang ilmiah, tetapi manusia telah menggunakan pengetahuan ilmiahnya tidak hanya untuk keperluan hidupnya saja, tetapi untuk menciptakan alat-alat perang dan polusi bumi. Intelek dapat melihat aktivitas-aktivitasnya sendiri yang menimbulkan degenerasi, tetapi ia samasekali tak mampu untuk mengakhiri kemundurannya sendiri karena ia pada hakekatnya hanyalah sebuah bagian saja.

Seperti telah kami katakan, pendidikan itu hakekat dari belajar. Belajar tentang sifat intelek, dominasinya, aktivitas-aktivitasnya, kemampuan-kemampuannya yang maha besar dan kekuatan merusaknya, adalah pendidikan. Belajar tentang sifat pikiran, yang merupakan gerak intelek itu sendiri, bukan dari sebuah buku tetapi dari pengamatan dunia sekitar anda belajar apa yang sesungguhnya terjadi tanpa teori-teori, prasangka dan penilaian, adalah pendidikan. Buku itu penting, tetapi yang lebih penting ialah mempelajari buku, cerita tentang diri anda sendiri, karena anda adalah seluruh umat manusia. Membaca buku itu adalah seni belajar. Semuanya ada disitu; adat istiadat, tekanan-tekanannya, paksaan-paksaan dan doktrin-doktrin keagamaan, kekejamannya, keyakinan-keyakinannya. Struktur sosial dari semua masyarakat adalah keterhubungan antar manusia dengan segala kerakusannya, ambisinya, kekerasannya, kesenangan-kesenangan, kekhawatirannya. Itu semua di situ jika anda tahu caranya memandang. Pandangan itu bukan ke dalam. Buku itu tidak di luar sana atau tersembunyi di dalam diri anda. Buku itu ada di sekeliling anda: anda bagian dari itu. Buku itu menceritakan kepada anda kisah makhluk manusia dan ia harus dibaca dalam keterhubungan anda, dalam reaksi-reaksi anda, dalam konsep-konsep anda dan nilai-nilai anda. Buku itu pusat kehidupan anda sendiri dan belajar adalah membaca buku itu dengan kecermatan yang besar. Buku itu menceritai anda kisah masa lampau, bagaimana masa lampau membentuk batin anda, hati anda dan indria anda. Masa lampau membentuk keadaan sekarang, mengubah-ubah dirinya sesuai dengan tantangan saat kini. Dan dalam gerak waktu yang tanpa akhir inilah manusia terjerat. Inilah keterpengaruhan manusia. Keterpengaruhan telah merupakan beban abadi manusia, beban anda dan saudara anda.

Para filsuf, teolog, orang-orang suci, telah menerima keterpengaruhan ini, telah membiarkan keadaan diterimanya hal itu dan mempergunakan keadaan itu sebaik-baiknya, atau mereka telah menawarkan pelarian-pelarian ke dalam khayalan-khayalan pengalaman mistik, tuhan--tuhan dan sorga-sorga. Pendidikan adalah seni belajar tentang keterpengaruhan ini dan jalan keluarnya; pendidikan adalah kebebasan dari beban ini. Ada jalan keluar yang bukan pelarian, yang tidak menerima begitu saja, apa-apa sebagaimana adanya. Jalan itu bukan penghindaran dari keterpengaruhan, bukan penekanannya. Ia adalah penghapusan keterpengaruhan itu.

Apabila anda membaca ini atau mendengarnya, sadarilah tentang apakah anda mendengarkan atau membaca dengan kemampuan verbal intelek atau dengan kecermatan perhatian. Jika perhatian total ini ada, maka tak ada masa lampau tapi hanya pengamatan murni dari apa yang sedang terjadi.


KEMBALI KE TENTANG PENDIDIKAN