jkbanner

THE TEACHINGS OF J.KRISHNAMURTI   -   INDONESIAN WEBSITE




TENTANG PENDIDIKAN

SURAT UNTUK SEKOLAH - 1 MEI 1979


Bagaimanapun, sekolah itu tempat di mana orang belajar bukan saja tentang pengetahuan yang diperlukan untuk kehidupan sehari-hari, tetapi juga tentang seni hidup dengan segala kekompleks-an dan kepelikannya. Nampaknya kita melupakan hal ini dan kita tertangkap secara total dalam kedangkalan pengetahuan. Pengetahuan selalu dangkal dan belajar seni hidup itu tidak memerlukan pikiran. Hidup tidak dianggap orang sebagai seni. Apabila orang meninggalkan sekolah, ia berhenti belajar dan melanjutkan hidupnya berdasarkan apa yang telah dikumpulkannya sebagai pengetahuan. Kita tak pernah memasalahkan hidup sebagai suatu keseluruhan proses belajar. Jika orang mengamati hidup, maka kehidupan sehari-hari itu suatu perubahan dan gerak yang tetap, dan batin orang tidak cukup cepat dan peka untuk mengikuti kepelikannya. Orang menghadapi hidup dengan reaksi-reaksi dan ketetapan-ketetapan yang sudah siap pakai. Apakah hal ini dapat dicegah di sekolah-sekolah ini? Bukan itu berarti orang harus mempunyai batin terbuka yang dapat ditembus. Biasanya batin terbuka seperti itu seperti ayakan yang menyimpan sedikit atau tidak menyimpan apa-apa sama sekali. Tetapi batin yang mampu mengamati dan bertindak cepat itulah yang perlu. Itulah sebabnya mengapa kita memasalahkan tentang pengertian dengan tindakan-langsungnya itu. Pengertian tidak meninggalkan goresan dari ingatan. Biasanya, pengalaman sebagaimana orang mengartikannya, meninggalkan bekasnya sebagai memori dan bekas inilah yang mendorong orang untuk bertindak. Jadi tindakan itu memperkuat bekas itu, dan demikianlah tindakan itu menjadi mekanis. Pengertian bukanlah aktivitas yang mekanis. Jadi, dapatkah di sekolah diajarkan bahwa kehidupan sehari-hari itu suatu proses tetap dari belajar dan bertindak dalam keterhubungan, tanpa diperkuatnya bekas yang berupa memori itu? Bagi kebanyakan dari kita goresan itu menjadi maha penting, dan kita kehilangan arus cepat kehidupan.

Keduanya, siswa dan pendidik, hidup dalam keadaan bingung dan kacau, baik lahir maupun batin. Orang mungkin tidak sadar akan fakta ini dan jika orang menyadari hal itu, orang cepat-cepat memberesi urusan-urusan luar, tetapi jarang sadar akan kebingungan dan kekacauan batin.

Tuhan ciptaan manusia itu kekacauan. Perhatikan tuhan-tuhan yang telah dikarang manusia, atau tuhan yang satu, sang juru selamat, dan amatilah kebingungan yang telah diciptakannya di dunia, peperangan yang dibuatnya, pemisahan yang tak terhitung banyaknya, kepercayaan-kepercayaan yang memecah-belah, simbol-simbol dan imaji-imaji. Apakah ini bukan kebingungan dan kekacauan? Kita telah menjadi terbiasa pada semua ini, kita selalu siap menerimanya, karena hidup kita begitu melelahkan dengan kebosanan dan kepedihannya, sehingga kita mencari rasa aman dalam tuhan-tuhan yang telah disusun oleh pikiran Itu. cara kita hidup ribuan tahun lamanya. Setiap peradaban telah mengarang tuhan-tuhannya dan mereka telah menjadi sumber dari tirani, peperangan dan penghancuran. Bangunan-bangunannya mungkin indah sekali, tetapi di dalamnya terdapat kegelapan dan sumber dari kekacauan.

Dapatkah orang menyingkirkan tuhan-tuhan ini? Orang harus melakukannya jika orang memasalahkan mengapa batin manusia menerima dan hidup dalam kekacauan secara politis, religius dan ekonomis. Apakah sumber dari kekacauan ini, aktualitasnya, bukan alasan teologisnya? Dapatkah orang menyingkirkan konsep-konsep tentang kekacauan, dan bebas untuk menyelidiki ke dalam sumber aktual kekacauan kita sehari-hari; menyelidiki bukan tentang apakah ketertiban itu, melainkan tentang kekacauan? Kita hanya bisa menemukan apakah ketertiban itu apabila kita sudah menyelidiki kekacauan dan sumbernya secara tuntas. Kita begitu tergesa-gesa hendak menemukan apakah ketertiban itu, begitu tak sabar menghadapi kekacauan, hingga cenderung untuk menekannya, dan mengira perbuatan kita itu akan menimbulkan ketertiban. Di sini kita tidak sekedar bertanya tentang apakah ketertiban mutlak itu mungkin dalam kehidupan kita sehari-hari, tetapi juga apakah kekacauan ini dapat berakhir.

Jadi masalah kita yang pertama ialah kekacauan dan apakah sumbernya. Apakah itu pikiran? Apakah itu keinginan-keinginan yang bertentangan? Apakah itu pencarian keselamatan? Apakah itu tuntutan yang konstan akan kenikmatan? Apakah pikiran salah satu sumber atau dasar utama dari kekacauan? Bukan hanya penulis, tetapi andalah yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini; harap selalu diingat hal Anda perlu menemukan sumber itu, bukan diberitahu tentang sumber itu dan kemudian membicarakannya lagi.

Pikiran, seperti yang telah kami tunjukkan, berakhir, terbatas, dan apa pun yang terbatas, seluas apa pun daerah aktivitas-aktivitasnya, sudah pasti membawa kekacauan. Sesuatu yang terbatas itu bersifat memisahkan, dan karena itu destruktif dan membingungkan. Kita telah cukup mendalami sifat dan struktur pikiran itu, dan mempunyai pengertian tentang sifat pikiran berarti memberikan kepadanya kedudukan yang tepat, hingga pikiran itu kehilangan dominasinya yang mengalahkan segala-galanya.

Apakah keinginan dan obyek-obyek keinginan yang berubah-ubah itu salah satu penyebab kekacauan? Menekan keinginan ialah menekan semua sensasi -- yang berarti, melumpuhkan batin. Kita kira inilah cara yang mudah dan tercepat untuk mengakhiri keinginan, tetapi orang tak mungkin menekannya; keinginan itu terlalu kuat, terlalu pelik. Anda tak dapat menggenggamnya dalam tangan dan memutar-balikannya sesuai keinginan anda -- yang merupakan keinginan lainnya lagi. Kita telah membicarakan tentang keinginan dalam surat yang lalu. Keinginan tak pernah bisa ditekan atau diubah atau dirusak oleh keinginan yang benar dan yang salah. Keinginan tetap saja rangsangan dan keinginan, apa pun yang anda lakukan terhadapnya. Keinginan akan penerangan batin dan keinginan akan uang sama saja, walaupun obyeknya berbeda. Dapatkah orang hidup tanpa keinginan? Atau dengan perkataan lain, dapatkah indria itu aktif tanpa diusik oleh keinginan. Ada aktivitas indriawi, yang psikologis dan yang fisik. Tubuh mencari kehangatan, makanan, seks; ada juga kepedihan fisik, dan lain sebagainya. Keterangsangan ini semua wajar, tetapi bila rangsangan itu memasuki bidang psikologis, maka timbullah persoalan. Dan di situlah letak kebingungan kita. Ini penting untuk dimengerti, khususnya jika kita masih muda. Mengamati rangsangan-rangsangan fisik tanpa menekannya atau mengobarkannya, dan menyadari, menjaga jangan sampai rangsangan-rangsangan itu merasuk ke daerah psikologis yang bukan tempatnya -- di situlah letak kesulitan kita. Seluruh proses itu berjalan begitu cepat karena kita tidak melihatnya, tidak mengertinya, tak pernah betul-betul memeriksa apa yang sesungguhnya terjadi.

Ada jawaban indria yang seketika terhadap suatu tantangan. Respons ini wajar dan tidak di bawah dominasi pikiran, keinginan. Kesulitan kita mulai apabila respons-respons indriawi itu memasuki daerah psikologis. Tantangan itu mungkin berbentuk seorang wanita atau pria, atau sesuatu yang menyenangkan, menarik hati; atau sebuah taman yang elok. Jawaban terhadapnya ialah sebuah rangsangan, dan bila rangsangan ini memasuki bidang psikologis, keinginan mulai timbul dan pikiran dengan imaji-imajinya mencari jalan untuk memenuhi keinginan itu.***

KEMBALI KE TENTANG PENDIDIKAN