jkbanner

THE TEACHINGS OF J.KRISHNAMURTI   -   INDONESIAN WEBSITE




TENTANG PENDIDIKAN

SURAT UNTUK SEKOLAH - 15 September 1979


Orang cenderung lupa atau tidak mempedulikan tanggung jawab pendidik untuk mewujudkan suatu generasi baru mahluk manusia yang secara psikologis, batiniah, bebas dari kesengsaraan, kecemasan dan perjuangan. Itu adalah tanggung jawab yang suci, yang tidak boleh dikesampingkan begitu saja demi ambisi-ambisi, status atau kekuasaan diri orang sendiri. Jika pendidik merasakan tanggung jawab semacam itu keagungannya dan kedalaman dan keindahan tanggung jawab itu ia akan menemukan kemampuan untuk mengajar dan mempertahankan energinya sendiri. Hal ini menuntut kecermatan yang besar, bukan usaha serampangan yang dilakukan secara berkala dan tanggung jawab yang sangat mendasar itu akan menyalakan api yang akan menjamin kehidupannya sebagai seorang manusia yang utuh dan sebagai seorang guru yang baik. Karena dunia mengalami kemerosotan yang pesat, maka di sekolah-sekolah ini perlu adanya sekelompok guru dan siswa yang bersungguh-hati dalam mewujudkan suatu perubahan radikal pada mahluk-mahluk manusia melalui pendidikan yang tepat. Kata tepat itu bukan masalah opini, penilaian atau suatu konsep yang dikarang intelek. Kata tepat menunjukkan tindak yang menyeluruh di mana semua motif kepentingan diri lenyap. Pertanggungjawaban yang dominan itu sendiri, yang bukan saja masalah pendidikan tetapi juga masalah siswa, menghalau masalah-masalah yang mengekalkan si diri. Betapapun belum dewasanya batin, tetapi sekali anda menerima tanggungjawab itu, maka diterimanya hal itu sendiri akan mewujudkan perkembangan batin. Perkembangan ini terjadi dalam keterhubungan siswa dan pendidik. Itu bukan sebuah peristiwa yang sepihak. Waktu anda membaca ini, mohon memberikan perhatian sepenuhnya dan anda rasakan betapa mendesaknya dan dalamnya tanggungjawab ini. Mohon tidak menjadikan-nya sebuah abstraksi, sebuah ide tetapi amatilah fakta aktualnya, kejadian aktual itu pada waktu anda membaca ini.

Hampir semua mahluk manusia dalam hidupnya menginginkan kekuasaan dan kekayaan. Apabila ada kekayaan, maka ada perasaan bebas, dan dikejarlah kesenangan. Keinginan akan kekuasaan nampaknya suatu naluri yang mengungkapkan dirinya melalui berbagai macam cara. Hal itu ada pada seorang pendeta, guru, suami atau istri, atau pada seorang anak terhadap anak lain. Keinginan untuk berkuasa, mendominasi atau untuk tunduk merupakan satu dari berbagai keterpengaruhan manusia yang mungkin diwarisinya dari hewan. Agresivitas dan ketundukan padanya memutarbalikkan semua keterhubungan sepanjang hidup. Ini sudah merupakan polanya sejak awal mula waktu. Manusia menerima hal ini sebagai cara hidup yang wajar, dengan segala konflik dan kesengsaraan yang dibawanya.

Pada dasarnya didalamnya terkandung pengukuran yang lebih dan yang kurang, yang lebih besar dan yang lebih kecil-- yang pada hakekatnya adalah pembandingan. Orang selalu membandingkan dirinya dengan orang lain, membandingkan satu lukisan dengan lainnya, ada pembandingan antara kekuasaan yang lebih besar dan yang lebih kecil, antara si pemalu dan si agresif. Itu dimulai boleh dikata sejak lahir dan bersinambung sepanjang hidup pengukuran terus-menerus hal kekuasaan, kedudukan, kekayaan ini. Hal ini ditunjang di sekolah-sekolah, pusat-pusat pendidikan, perguruan tinggi. Seluruh sistem tingkatan-tingkatan mereka merupakan nilai pembandingan dari pengetahuan ini. Apabila A dibandingkan dengan B yang pandai, cemerlang, menonjol, maka pembandingan itu sendiri menghancurkan A. Penghancuran ini berbentuk persaingan, peniruan dan penyesuaian diri pada pola-pola yang ditentukan B. Hal ini menimbulkan, secara sadar atau tak sadar, permusuhan, kecemburuan, kecemasan dan bahkan ketakutan; dan inilah yang menjadi kondisi di mana A menghabiskan sisa hidupnya, selalu dalam keadaan mengukur, selalu membandingkan baik secara psikologis maupun secara fisik.

Pembandingan ini adalah satu dari banyak aspek kecemasan. Kata "lebih" selalu bersifat membandingkan komparatif, seperti juga kata "lebih baik". Pertanyaannya apakah pendidik dapat menyingkirkan semua pembandingan, semua pengukuran, dalam pengajarannya? Dapatkah ia menghadapi siswa sebagaimana ia adanya, bukan sebagaimana ia seharusnya, tidak membuat keputusan-keputusan yang didasarkan pada penilaian komparatif? Hanya apabila ada pembandingan antara orang yang disebut pandai dan orang yang disebut bodoh itulah, maka ada sifat semacam bodoh itu. Si idiot -- apakah ia idiot karena dibandingkan karena ia tidak mampu melakukan beberapa aktivitas tertentu? Kita menentukan standar-standar tertentu yang didasarkan pada pengukuran dan mereka yang tidak memenuhinya dianggap kurang. Bila pendidik menyingkirkan pembandingan dan pengukuran, maka perhatiannya terhadap siswa akan sebagaimana ia adanya dan keterhubungannya dengan siswa bersifat langsung dan samasekali lain. Ini sungguh penting sekali untuk dimengerti. Cinta tidak komparatif. Cinta tidak punya ukuran. Pembandingan dan pengukuran adalah cara kerja intelek. Ini bersifat memisahkan. Jika ini dimengerti secara mendasar bukan arti verbalnya tetapi kebenaran aktualnya hal itu maka hubungan guru dan siswa mengalami perubahan radikal. Tes terakhir dari pengukuran ialah ujian-ujian dengan ketakutan dan kecemasan yang ditimbulkannya, yang mempengaruhi secara mendalam masa depan siswa. Seluruh iklim sebuah sekolah akan berubah apabila tak ada suasana persaingan, pembandingan.


KEMBALI KE TENTANG PENDIDIKAN