jkbanner

THE TEACHINGS OF J.KRISHNAMURTI   -   INDONESIAN WEBSITE



DIALOG

DIALOG : KESELARASAN ANTARA YANG DIKENAL DAN YANG TAK DIKENAL
(Diambil dari buku "This Light in Oneself - True Meditation", J.Krishnamurti 1999m Bab XI)


Bagaimana batin bisa tahu apakah ia telah menemukan apa yang dinamakannya 'yang tertinggi', 'yang tak terukur', 'yang tak bernama', 'yang terhalus'? Karena ia tidak mungkin 'tahu' akan apa yang tak-terbatas, apa yang 'tak-dikenal', apa yang tak mungkin dialami, maka yang dapat dilakukan oleh batin adalah membebaskan diri dari semua kategori kesakitan, kecemasan, ketakutan, dan keinginan yang pada akhirnya menciptakan ilusi. Si 'aku' beserta semua gambarannya [images] adalah pusat yang memecah semua hubungan dan dengan demikian mendatangkan konflik. Jika batin tidak menghasilkan hubungan yang benar dengan orang lain, maka sekadar menyelidiki atau mencari realitas tidak punya arti sama sekali, oleh karena hidup adalah hubungan. Kehidupan adalah tindakan dalam hubungan, dan kalau itu tidak dipahami secara mendalam, penuh, serta ditegakkan, Anda tidak dapat pergi jauh. Tanpa itu, sekadar mencari realitas hanya akan menjadi sebentuk pelarian dari realitas hubungan. Sampai batin menegakkan dengan kuat perilaku yang lurus, ketertiban yang adalah kebajikan [virtue], maka pencarian atau penyelidikan ke dalam apa yang nyata tidak punya makna, oleh karena batin yang tidak bebas dari konflik hanya dapat lari kepada apa yang dianggapnya nyata.

Bagaimana batin--yang begitu terkondisi, yang terbentuk oleh lingkungan, oleh budaya tempat kita dilahirkan--bisa menemukan apa yang tak terkondisi? Bagaimanakah batin yang selalu berada dalam konflik dalam dirinya bisa menemukan apa yang tak pernah berkonflik? Maka di dalam penyelidikan, pencarian tidak punya makna. Yang punya makna dan arti penting ialah apakah batin bisa bebas, bebas dari ketakutan, bebas dari semua pergulatan egoistiknya yang remeh dan kerdil, bebas dari kekerasan, dan sebagainya. Dapatkah batin--batin Anda--bebas dari itu? Itulah penyelidikan yang sesungguhnya. Dan bila batin sungguh-sungguh bebas, hanya di situlah ia mampu tanpa delusi apa pun bertanya, apakah ada atau tidak ada sesuatu yang benar secara absolut, yang tanpa-waktu, tak-terukur.

Nah, sesungguhnya penting untuk menemukan ini sendiri, oleh karena Anda harus menjadi cahaya bagi diri Anda sendiri, Anda tidak mungkin mengambil cahaya orang lain, atau diterangi oleh orang lain. Anda harus menemukan sendiri seluruh gerakan kehidupan ini beserta seluruh keburukannya dan keindahannya dan kenikmatannya dan kesengsaraannya dan kekacauannya, dan keluar dari arus itu. Dan jika Anda telah keluar, dan saya harap Anda telah keluar, lalu apakah agama itu? Semua agama terorganisir adalah masalah pikiran membangun sebuah struktur, suatu legenda di seputar seseorang atau sebuah ide atau sebuah kesimpulan. Itu sama sekali bukan agama. Agama adalah kehidupan yang dijalani secara integral, utuh, tidak terpecah belah.

Kebanyakan batin manusia terpecah, dan apa yang terpecah rusak. Jadi, apakah batin, otak, yang mampu berfungsi di bidang pengetahuan, dan juga hidup dalam kebebasan dari yang dikenal? Kedua hal ini harus berjalan bersama-sama secara harmonis. Menyelidiki secara mendalam hal ini, kita bertanya: Apakah meditasi itu? Marilah kita temukan sendiri, apakah itu punya makna sama sekali. Untuk melakukannya, Anda harus membuang semua yang dikatakan orang tentang meditasi. Dapatkah Anda? Ataukah Anda terperangkap di dalam jaring, di dalam perangkap ide-ide orang lain tentang meditasi? Jika Anda terperangkap di dalam itu, Anda hanya menghibur diri sendiri, atau mencoba menemukan cahaya orang lain melalui latihan tertentu. Bila Anda berlatih, Anda membuat batin Anda menyesuaikan diri pada suatu pola yang dibuat oleh orang lain. Jangan ikuti siapa pun--termasuk pembicara ini. Jangan terima apa yang dikatakan oleh siapa pun, oleh karena Anda harus menjadi cahaya bagi dirimu. Anda harus berdiri sendiri sepenuhnya, dan untuk melakukannya--oleh karena Anda adalah dunia dan dunia adalah Anda--Anda harus bebas dari hal-hal duniawi, yang berarti bebas dari si 'aku', dari ego beserta segala agresinya, kesombongannya, kebodohannya, ambisinya.

Jadi, apakah meditasi itu? Bagaimana Anda menemukannya? Tentu saja untuk bisa melihat sesuatu dengan amat jelas batin harus hening. Jika saya ingin menyimak apa yang dikatakan, saya harus memberikan perhatian kepadanya, dan perhatian itu mempunyai kualitas keheningan. Untuk menemukan bukan hanya makna kata-kata, tetapi juga melampauinya, saya harus menyimak dengan berhati-hati sekali. Di dalam menyimak itu, saya tidak menafsirkan apa yang Anda katakan, saya tidak menghakimi, saya tidak menilai, saya sungguh-sungguh menyimak kepada kata dan apa yang ada di balik kata, karena mengetahui bahwa kata bukanlah bendanya, bahwa uraian bukanlah apa yang diuraikan. Jadi saya menyimak Anda dengan perhatian total. Di dalam perhatian itu, tidak ada 'aku' sebagai si penyimak, 'aku' yang memisahkan diri dari Anda yang berbicara, yang membagi 'aku' dan 'engkau'. Jadi, batin yang mampu menyimak sepenuhnya kepada apa yang dikatakan dan pergi ke balik kata-kata, harus memberikan perhatian total. Anda melakukannya ketika Anda memandang sebatang pohon dengan perhatian total, atau ketika Anda menyimak sebuah musik, atau ketika Anda menyimak seseorang yang tengah menceritakan sesuatu yang paling urgen, paling serius kepada Anda. Keadaan perhatian di mana si 'aku' sama sekali tidak ada adalah meditasi. Oleh karena di dalam keadaan itu tidak ada arah, tidak ada perbatasan yang dibangun oleh pikiran di sekeliling perhatian.

Perhatian menyiratkan suatu batin yang tidak mempunyai keinginan untuk memperoleh, mencapai, sampai, atau menjadi sesuatu. Kalau tidak, muncul konflik. Jadi, perhatian berarti tidak adanya konflik sama sekali, suatu keadaan batin di mana arah, kehendak tidak punya tempat sama sekali. Dan itu terjadi ketika saya menyimak kepada Anda, ketika saya menyimak kicau seekor burung, atau ketika saya memandang gunung-gunung yang menakjubkan itu. Jadi, di dalam keadaan penuh perhatian itu tidak ada pembagian sebagai si pengamat dan apa yang diamati. Jika ada pembagian seperti itu, maka ada konflik.

Nah, itu baru awal dari meditasi. Dan jika batin betul-betul serius dalam penyelidikannya, meditasi ini perlu oleh karena dengan begitu cara hidup kita, yang telah kehilangan seluruh maknanya, menjadi penuh makna kembali. Kehidupan menjadi gerakan, keselarasan antara yang dikenal dan yang tak dikenal.

Meditasi adalah kehidupan sehari-hari yang di dalamnya tidak ada pengendalian sama sekali. Hidup kita terbuang sia-sia dalam energi besar yang dihabiskan untuk pengendalian. Kita menghabiskan hari-hari kita dengan mengendalikan: "Saya harus ...", "Saya tidak boleh ...". Menekan, memperluas, menahan, menarik, melekat dan melepaskan diri dari kelekatan, menggunakan kehendak untuk mecapai, berjuang, membangun--di sini selalu ada arah, dan di mana ada arah, tentu ada pengendalian. Kita menghabiskan hari-hari kita dengan mengendalikan, dan kita tidak tahu bagaimana hidup yang sama sekali bebas dari pengendalian. Itu menuntut penyelidikan yang hebat, keseriusan besar untuk menemukan cara hidup yang di situ tidak ada pengendalian sedikit pun.

Mengapa kita mengendalikan, dan ketika kita mengendalikan, siapakah si pengendali? Dan apakah yang dikendalikannya, artinya, ditahan, diarahkan, dibentuk, disesuaikan, ditiru? Kita mengamati dalam diri sendiri keinginan-keinginan yang saling bertentangan: ingin dan tak ingin, melakukan ini dan tak melakukan itu, pertentangan dalam dualitas. Nah, adakah dualitas, hal-hal yang bertentangan itu? Saya tidak bicara tentang perbedaan antara laki-laki dan perempuan, gelap dan terang; melainkan di dalam, secara psikologis, adakah hal-hal yang bertentangan, ataukah yang ada hanya 'apa adanya'? Pertentangan hanya ada bila saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan terhadap 'apa adanya'. Jika saya tahu apa yang harus saya lakukan terhadap 'apa adanya', jika batin mampu menggarap 'apa adanya' dan melampauinya, pertentangan itu tidak perlu. Artinya, jika Anda keras--seperti kebanyakan orang--maka melatih lawannya, yakni tidak-keras, tidak punya arti, oleh karena ada interval waktu, dan selama interval itu Anda tetap keras. Yang penting ialah berminat melampaui kekerasan, bukan menuju lawannya, melainkan bebas darinya. Saya selalu menerjemahkan yang baru menurut yang lama, dan dengan demikian saya tidak pernah menghadapi yang baru dengan batin yang segar. Saya menerjemahkan reaksi baru, perasaan baru yang saya rasakan, sebagai kekerasan, oleh karena saya memandangnya dengan ide, kesimpulan, kata, makna dari masa lampau. Maka masa lampau menciptakan lawan dari 'apa adanya'. Tetapi jika batin dapat mengamati 'apa adanya' tanpa memberinya nama, tanpa mengkategorisasikannya, tanpa meletakkannya dalam suatu bingkai, atau membuang tenaga untuk lari darinya, jika batin dapat memandangnya tanpa si pengamat, yang adalah masa lampau, memandangnya tanpa mata masa lampau, maka Anda akan bebas total darinya. Lakukan itu dan Anda akan lihat sendiri.

Pernahkah Anda melihat dalam diri sendiri selalu ada si pengamat dan apa yang diamati? Di situ ada Anda yang mengamati hal itu; jadi ada pembagian antara Anda dan hal yang Anda amati. Anda mengamati sebatang pohon, dan si pengamat, masa lampau, berkata: "Itu pohon jati." Ketika ia berkata, "Itu pohon jati," pengetahuan itu adalah masa lampau, dan masa lampau itu adalah si pengamat. Jadi si pengamat berbeda dari pohon. Jelas, memang harus begitu. Tetapi ketika kita berhadapan dengan fakta-fakta psikologis, apakah si pengamat berbeda dari apa yang diamatinya? Ketika saya berkata, "Saya keras," apakah si pengamat, si pelihat yang berkata, "Saya keras," berbeda dari apa yang dinamakannya keras? Jelas tidak. Jadi, ketika ia memisahkan diri dari fakta sebagai si pengamat, ia menciptakan dualitas, konflik, dan ia mencoba lari dari konflik itu melalui berbagai cara; jadi si pengamat tidak mampu bertemu dengan fakta kekerasan. Cobalah selami untuk memahami gerakan pembagian sebagai si pengamat dan apa yang diamati, yang menciptakan konflik dan dengan demikian tidak mempunyai hubungan langsung satu sama lain.

Di dalam meditasi, hidup adalah gerakan utuh, tak terfragmentasi, tidak terpecah sebagai 'aku' dan 'kamu'. Di situ tidak ada 'aku' yang mengalami. Melihatkah Anda bahwa batin tidak mampu mengalami sesuatu yang tidak dikenalnya? Batin tidak mungkin mengalami apa yang tak terukur. Anda bisa memberikan arti penting kepada kata itu dan berkata, "Saya akan mengalami keadaan yang tak terukur itu," Kesadaran Agung dan segala macam nonsens itu, tetapi siapakah pribadi yang mengalami? Pribadi yang mengalami adalah masa lampau, dan ia hanya dapat mengenali pengalaman itu menurut pengertian-pengertian di masa lampau, dengan demikian ia tentu sudah
mengetahuinya. Dengan demikian, di dalam meditasi tidak ada 'mengalami'. Ah, jika Anda lakukan ini, Anda akan naik ke surga yang tertinggi.

Anda harus memahami bukan hanya seluruh gerakan dari kehidupan sehari-hari, yang adalah bagian dari meditasi, dan di situ tidak ada pengendalian sama sekali, sehingga tidak ada konflik, tidak ada arah, tetapi Anda juga harus memiliki kehidupan yang penuh tenaga, aktif, nyata, kreatif. Di dalam meditasi, batin menjadi hening, diam sepenuhnya. Keheningan memiliki ruang--dan batin tidak memiliki ruang. Batin penuh sesak dengan pengetahuan yang kita kumpulkan dan terus-menerus sibuk dengan dirinya sendiri--apa yang harus dilakukannya, apa yang tidak boleh dilakukannya, apa yang harus dicapainya, apa yang harus diperolehnya, apa pikiran orang lain tentang dirinya. Ia penuh dengan pengetahuan tentang orang lain, kesimpulan, ide dan opini. Jadi kita tidak punya banyak ruang dalam batin kita. Dan salah satu faktor kekerasan adalah tidak adanya ruang. Di dalam diri kita, kita punya sangat sedikit ruang, dan kita harus punya ruang. Bagian dari meditasi ialah sampai kepada ruang yang tidak diciptakan oleh pikiran, oleh karena jika Anda punya ruang, batin dapat berfungsi secara total. Sebuah otak yang sama sekali tertib--ketertiban mutlak, bukan ketertiban relatif--tidak punya konflik, dan dengan demikian ia dapat bergerak di dalam ruang.

Keheningan sesungguhnya adalah wujud ekstrem dari ketertiban tertinggi. Jadi keheningan bukan sesuatu yang Anda rekayasa, yang Anda coba latih, atau coba sadari. Pada saat Anda sadar bahwa Anda hening, itu bukan lagi keheningan. Keheningan adalah ketertiban matematis tertinggi, dan di dalam keheningan itu bagian-bagian lain dari otak yang tidak digunakan, yang tidak aktif, menjadi aktif secara total. Otak, yang tidak berkonflik, memiliki ruang luas, yang bukan diciptakan oleh pikiran sebagai ruang, melainkan rasa akan ruang aktual, dan ruang itu tidak punya tapal batas. Pikiran tidak punya tempat sama sekali di sini. Sementara kita menguraikan ini, kita menggunakan pikiran, menggunakan kata-kata yang digunakan oleh pikiran untuk berkomunikasi, tetapi uraian bukanlah apa yang diuraikan. Jadi, batin beserta otaknya menjadi hening secara total, dan dengan demikian berada dalam ketertiban yang tertinggi. Di mana ada ketertiban, di situ ada ruang yang luas.

Dan apa yang terletak di dalam ruang yang mahaluas ini tidak seorang pun dapat menceritakannya kepada Anda, oleh karena hal itu mutlak tak terperikan. Siapa pun--tidak peduli siapa dia--yang menceritakannya atau mencoba mencapainya dengan mengulangi kata-kata dan segala omong kosong yang bodoh itu, mengotori sesuatu yang suci.

Itulah meditasi. Dan ini adalah bagian dari kehidupan kita sehari-hari; itu bukan sesuatu yang Anda lakukan pada waktu-waktu luang, itu ada sepanjang waktu, menghasilkan ketertiban dalam segala sesuatu yang dilakukannya. Dan di sini ada keindahan besar. Bukan keindahan yang ada di bukit-bukit dan pepohonan dan dalam lukisan-lukisan di museum, atau di dalam musik, oleh karena ia adalah keindahan itu sendiri, dan dengan demikian, cinta.


[Diterjemahkan oleh Hudoyo Hupudio]

KEMBALI KE DIALOG