jkbanner

THE TEACHINGS OF J.KRISHNAMURTI   -   INDONESIAN WEBSITE



DIALOG

DIALOG : PERSEPSI
Diambil dari buku Mendesaknya Kebutuhan Perubahan, bab 16


Penanya: Anda menggunakan kata-kata yang berbeda-beda untuk persepsi. Kadang-kadang Anda mengatakan "persepsi", tapi juga "mengamati", "melihat", "memahami", "menyadari". Saya rasa Anda menggunakan semua kata itu dengan arti yang sama, yaitu : melihat jelas, dengan sempurna, menyeluruh. Dapatkah kita melihat sesuatu secara total? Kita tidak bicara tentang hal yang sifatnya jasmaniah atau teknis, tapi secara psikologis dapatkah kita melihat atau memahami sesuatu secara total? Bukankah disitu selalu ada sesuatu yang disembunyikan sedemikian rupa sehingga kita hanya melihat sebagian saja? Saya akan berterima kasih sekali sekiranya Anda sudi membahas soal ini agak lebih mendalam. Saya rasa ini merupakan persoalan yang penting, sebab barangkali hal tersebut bisa memberikan petunjuk untuk banyak sekali masalah kehidupan. Kalau saja saya dapat memahami diri saya sendiri secara total, maka barangkali akan terpecahlah segala problema saya dan menjadi manusia super yang bahagia.  Bilamana saya membicarakan hal itu, saya agak merasa bergairah dengan adanya kemungkinan mengatasi lingkungan hidup saya yang sempit dengan problema dan kesengsaraannya. Maka apakah yang Anda maksudkan dengan persepsi, dengan melihat ? Dapatkah orang melihat dirinya sendiri selengkap-lengkapnya?

Krishnamurti: Kita selalu melihat segala sesuatu bagian demi bagian. Pertama, karena kita tidak melihat dengan penuh perhatian; kedua, karena kita memandang apa pun dengan prasangka, dengan berbagai citra mengenai apa yang kita lihat, baik yang sifatnya verbal maupun yang psikologis. Maka kita tak pernah melihat apa pun secara menyeluruh. Bahkan mengamati alam secara obyektif pun sungguh sukar. Memandangi bunga tanpa citra apapun, tanpa pengetahuan sedikit pun tentang tumbuh-tumbuhan - hanya mengamatinya saja - menjadi amat sukar karena pikiran kita selalu bergerak kian kemari, tanpa minat. Dan sekalipun ada minat, pikiran memandangi bunga itu dengan apresiasi tertentu dan deskripsi verbal yang tampaknya memberikan kepada si pengamat semacam perasaan bahwa ia benar-benar sudah mengamatinya.  Memandang dengan sengaja bukanlah memandang. Jadi kita tidak pernah sungguh - sungguh memandangi bunga. Kita memandangnya lewat citra. Barangkali agak mudah untuk mengamati sesuatu yang tidak menyentuh perasaan kita dengan mendalam, seperti kalau kita pergi ke bioskop dan melihat sesuatu yang mendebarkan untuk sesaat dan serta merta kita lupakan. Tetapi mengamati diri kita sendiri tanpa citra --- yaitu waktu lampau, pengalaman serta pengetahuan kita yang telah kita kumpulkan --- jarang sekali terjadi. Kita mempunyai citra mengenai diri kita sendiri. Kita berpikir bahwa sebaiknya kita menjadi ini dan bukan itu. Kita telah lebih dulu membangun angan-angan tentang diri kita sendiri dan melalui angan-angan itu kita melihat diri kita sendiri. Kita merasa berbudi luhur atau tidak berbudi luhur dan melihat diri kita yang sesungguhnya membuat kita murung, atau takut. Sebab itu kita tidak bisa mengamati diri kita sendiri; dan apabila kita bisa, itu hanyalah pengamatan yang sebagian saja dan apapun yang sifatnya hanya sebagian atau tidak menyeluruh, tidak bisa menimbulkan pemahaman. Hanya apabila kita dapat memandang diri kita sendiri secara total, maka ada kemungkinan dapat terbebas dari apa yang kita amati. Persepsi kita tidak hanya menggunakan mata saja atau perasaan, tapi juga dengan pikiran, dan jelas bahwa pikiran itu terkondisi berat. Maka persepsi intelektual hanyalah persepsi sepotong, namun menangkap sesuatu dengan intelek nampaknya memuaskan kebanyakan dari kita, dan kita mengira bahwa kita paham. Pemahaman yang sepotong-sepotong adalah hal yang paling membahayakan dan sifatnya merusak. Dan justru itulah yang terjadi di seluruh dunia. Para politisi, pendeta, pengusaha, teknisi, bahkan si seniman --- mereka semua hanya melihat sepotong-sepotong saja. Oleh sebab itu mereka sesungguhnya orang-orang yang merusak. Karena mereka memegang peranan yang besar di dunia, maka persepsinya yang sepotong menjadi norma yang diterima oleh masyarakat, dan manusia tertangkap di dalamnya. Kita masing-masing pada saat yang sama adalah si pendeta, kaum politisi, kaum pengusaha, si seniman dan banyak entitas lainnya yang sifatnya fragmentaris. Dan kita masing-masing pun adalah kancah peperangan dari segala pendapat dan pertimbangan pikiran yang saling bertentangan ini.

Penanya: Saya dapat melihatnya dengan jelas. Saya gunakan kata melihat secara intelektual, tentu saja.

Krishnamurti: Kalau Anda melihat segalanya ini secara total, tidak secara intelektual, atau verbal, atau emosional, maka Anda akan bertindak dan menghayati kehidupan yang sungguh berbeda sifatnya. Apabila Anda melihat tebing curam yang berbahaya atau berhadapan dengan seekor binatang yang berbahaya, pada detik itu tak ada pemahaman sebagian atau tindakan yang sepotong-sepotong; yang ada ialah tindakan yang lengkap.

Penanya: Tapi tidak setiap saat dalam hidup ini kita dihadapkan pada krisis berbahaya semacam itu.

Krishnamurti: Kita bahkan senantiasa berhadapan dengan bahaya krisis semacam itu. Anda sudah menjadi terbiasa padanya, atau bersikap acuh tak acuh, atau menyerahkan pemecahan problema krisis itu kepada orang lain; dan orang lain ini sama saja butanya dan berat sebelah.

Penanya: Tetapi bagaimana saya bisa senantiasa menyadari krisis ini dan mengapa Anda mengatakan bahwa senantiasa ada krisis?

Krishnamurti: Keseluruhan hidup ini berada pada setiap saat. Setiap saat adalah sebuah tantangan.  Menghadapi tantangan ini secara tidak memadai berarti suatu krisis dalam kehidupan. Kita tidak mau melihat bahwa ini semua adalah krisis, dan kita menutup mata untuk lari menghindarinya. Dengan demikian kita menjadi semakin buta, dan krisis-krisis itupun semakin membesar.

Penanya: Tetapi bagaimana saya dapat melihat secara total? Saya mulai mengerti bahwa saya hanya melihat sebagian, dan mulai memahami pula pentingnya melihat diri sendiri dan dunia dengan persepsi yang lengkap; tapi banyak sekali persoalan yang memadati pikiran saya sehingga sukarlah untuk menentukan apa yang harus saya lihat. Pikiran saya bagaikan kandang besar penuh kera yang tak pernah tenang.

Krishnamurti: Jika Anda melihat satu gerak secara total, di dalam totalitas itu setiap gerak lainnya akan tercakup. Jika Anda memahami satu problema dengan sempurna, maka Anda memahami semua problema manusia, sebab semuanya itu saling berhubungan. Jadi pertanyaannya ialah: dapatkah orang memahami, atau mencerap, atau melihat satu problema sedemikian lengkapnya, sehingga dalam pemahaman itu juga orang memahami problema-problema lainnya? Problema ini harus dilihat selagi ia terjadi, tidak sesudahnya atau sebelumnya terjadi, sebagai sebuah memori atau sebagai sebuah contoh. Misalnya, tak ada gunanya bagi kita sekarang untuk mengupas kemarahan dan rasa takut; yang perlu kita lakukan ialah mengamatinya selagi ia timbul. Persepsi terjadi seketika itu juga. Anda memahami sesuatu seketika atau tidak sama sekali; melihat, mendengar, memahami terjadi seketika itu juga. Dengan sengaja mendengarkan dan mengamati ada rentang waktunya.

Penanya: Problema saya berjalan terus. Dia ada dalam rentang waktu. Anda mengatakan bahwa melihat terjadi seketika itu juga, jadi di luar unsur waktu. Apakah yang memasukkan proses waktu pada iri hati atau sebarang kebiasaan lainnya, atau sebarang problema lainnya?

Krishnamurti: Bahwasanya problema Anda itu berjalan terus, apakah itu bukan karena Anda tidak memandangnya dengan kepekaan, dengan kesadaran tanpa pilih-pilih, dengan inteligensi? Anda telah melihatnya sepotong-sepotong dan dengan demikian membiarkan problema itu berlanjut-lanjut. Dan sebagai tambahan, keinginan untuk bebas dari problema tadi adalah problema lain lagi dengan rentang waktu. Ketidak-mampuan untuk menghadapi sesuatu menjadikannya sebuah problema dengan rentang waktu dan memberikannya kehidupan.

Penanya: Tapi bagaimanakah saya dapat melihat keseluruhan problema itu seketika? Bagaimanakah saya bisa memahaminya sedemikian rupa sehingga problema itu tidak pernah muncul lagi?

Krishnamurti: Apakah Anda memberikan tekanan pada "tidak pernah" atau pada "memahami"? Jika Anda menekankan pada "tidak pernah", itu berarti Anda ingin  lari dari problema itu secara permanen dan ini berarti terciptanya problema yang kedua. Jadi hanya tinggal satu pertanyaan, yaitu bagaimana melihat problema tadi sedemikian menyeluruhnya, sehingga orang terbebas dari padanya. Persepsi hanya bisa timbul dari keheningan, tidak dari batin yang mengoceh. Boleh jadi ocehan batin itu adalah keinginan pikiran untuk bebas, untuk mengurangi, untuk lari dari problema, menekannya atau mencari penggantinya, tetapi hanya pikiran yang tenanglah yang melihat.

Penanya: Bagaimana saya bisa memiliki batin yang tenang?

Krishnamurti: Anda tidak melihat kebenaran bahwa hanya batin yang tenanglah yang melihat. Bagaimana memperoleh batin yang tenang tidak muncul. Itulah kebenaran bahwasanya batin harus tenang dan melihat kebenaran ini membebaskan batin dari ocehan. Persepsi, yaitu intelegensi lalu beroperasi; bukan anggapan bahwa Anda harus menjadi tenang supaya bisa melihat. Anggapan ini bisa beroperasi juga, tetapi itu gerak sebagian, yang sifatnya fragmentaris. Antara yang sebagian dan yang menyeluruh tak ada hubungannya; yang bersifat sebagian tidak dapat tumbuh menjadi yang total. Oleh sebab itu melihat sungguh-sungguh penting. Melihat adalah memperhatikan dan tiadanya perhatian sajalah yang menimbulkan problema.

Penanya: Bagaimana saya bisa senantiasa penuh perhatian? Itu tidak mungkin!

Krishnamurti: Memang benar, itu tidak mungkin. Akan tetapi menyadari tiadanya perhatian Anda adalah yang teramat penting, jadi bukan bagaimana senantiasa penuh perhatian. Keserakahanlah yang mengajukan pertanyaan "Bagaimana saya bisa setiap saat melihat dengan penuh perhatian?" Orang terhanyut dalam latihan untuk menjadi penuh perhatian. Latihan untuk menjadi penuh perhatian adalah tiadanya perhatian. Anda tidak bisa berlatih untuk menjadi indah, atau untuk mencinta. Apabila kebencian berakhir, muncullah yang bukan kebencian. Kebencian hanya bisa berakhir manakala Anda mencurahkan segenap perhatian Anda padanya, manakala Anda belajar dan tidak mengumpulkan pengetahuan tentang hal itu. Mulailah secara sangat sederhana.

Penanya: Apalah maksud pokok dari pembicaraan Anda, jika tidak ada sesuatupun yang bisa kita praktekkan setelah mendengarkan Anda ?

Krishnamurti: Mendengarkan adalah hal yang teramat penting, bukan yang Anda praktekkan kemudian. Mendengarkan adalah tindakan yang seketika itu juga. Latihan memberikan rentang waktu kepada problema. Latihan adalah ketiadaan perhatian total. Jangan sekali-kali berlatih : Anda cuma bisa melatih kekeliruan. Belajar bersifat baru selalu.


KEMBALI KE DIALOG