jkbanner

THE TEACHINGS OF J.KRISHNAMURTI   -   INDONESIAN WEBSITE



DIALOG

DIALOG : MELIHAT "APA ADANYA"
(Diambil dari buku Andalah Dunia Ini, Bab B-3)


Seperti yang kita katakan kemarin, kita tidak berkepentingan dengan teori-teori, dengan doktrin-doktrin atau filsafat-filsafat spekulatip. Kita berkepentingan dengan fakta-fakta, dengan apa ,adanya yang sesungguhnya. Dan dalam pengertian akan "apa adanya", tanpa dipengaruhi sentimen atau emosi, kita dapat melampauinya, mengatasinya. Apa yang penting dalam seluruh pembicaraan-pembicaraan ini bukanlah gagasan atau penolakan dari ide itu, melainkan lebih penting untuk terlibat dalam keruwetan dari kehidupan, didalam kedukaan, dengan ketiadaharapan dan kekurangan gairah (passion). Akar dari kata gairah berarti "kedukaan". Kita mempergunakan kata itu tidak dalam arti kedukaan, atau sebagai enersi yang datang melalui kemarahan, melalui kebencian, melalui perlawanan, melainkan lebih dalam arti gairah yang datang secara wajar tanpa daya upaya apabila terdapat cinta kasih. Malam ini kita ingin bicara tentang kematian, kehidupan dan cinta kasih.

Kita bukan hanya berkepentingan dengan uraian belaka, dengan keterangan, melainkan lebih berkepentingan dengan pengertian mendalam dari masalah itu, sehingga kita secara menyeluruh terlibat di dalamnya, sehingga itu menjadi napas dari kehidupan kita, bukan hanya pengertian intelektuil belaka. Dapatkah kita memandang, mengerti dan melihat apakah adanya seluruh masalah kehidupan ini. Dapatkah kita secara sungguh berhadapan dengan kehidupan, cinta kasih dan kematian — bukan secara pandangan analisa, bukan secara teoritis? Untuk mengira-ngira tentang apa yang ada di sebelah sana, agaknya bagi saya begitu sia-sia, tidak mempunyai nilai apapun juga. Untuk mengerti seluruh arti dari kehidupan, kita harus menyelidiki apakah adanya kehidupan itu. Orang-orang pandai di seluruh dunia telah mencari-cari suatu arti di balik kehidupan.  Orang-orang beragama mengatakan bahwa kehidupan ini hanya suatu jalan menuju suatu akhir; dan mereka yang tidak beragama berkata bahwa kehidupan tidak mempunyai arti. Kemudian mereka lanjutkan untuk mengarang suatu arti menurut intelek mereka, menurut bebanpengaruh mereka. Kita tidak akan melakukan itu malam ini. Kita akan memandang kepada kehidupan seperti apa adanya —tidak dipengaruhi emosi atau sentimen — melainkan melihat secara sungguh-sungguh apa adanya kehidupan itu. Dan saya pikir adalah penuh arti apabila kita dapat memandang kepada keseluruhan kehidupan yang lengkap, tidak hanya kepada satu bagian kehidupan saja. Kalau sudah begitu barangkali, dengan tidak memberi suatu maksud atau suatu arti kepada kehidupan, kita akan melihat keindahan dari kehidupan, seluruh kebesaran dari kehidupan. Dan keindahan itu, mutu luar biasa dari kehidupan itu, hanya dapat dimengerti atau dirasakan secara mendalam, jika kita menyelidiki secara mendalam apa yang kita namakan kehidupan, apa yang sesungguhnya sedang kita lakukan. Tanpa mengerti apakah kehidupan itu, kita tidak akan dapat mengerti apakah kematian itu, atau apakah cinta kasih itu.

Kita menggunakan kata-kata "cinta kasih", "kematian", dan "kehidupan" begitu mudahnya — setiap politikus bicara tentang "cinta kasih" dan setiap orang pendeta melekatkan kata itu di bibirnya. Cinta kasih dan kematian, keduanya amat besar artinya, dan saya berkata bahwa tanpa pengertian tentang apakah kematian itu, tidak akan ada tentang cinta kasih. Untuk mengerti apakah kematian itu, kita harus mengerti secara amat mendalam dengan kesungguhan besar, apakah kehidupan itu; kita harus menyelidiki dengan bebas, dengan sesungguhnya tanpa harapan apapun. Hal itu bukan berarti bahwa kita harus berada dalam keadaan putus asa untuk menyelidiki. Suatu batin yang berada dalam keputusasaan menjadi sinis; demikian juga batin yang dibebani oleh pengharapan, tidak dapat menyelidiki secara semestinya, karena is sudah berprasangka. Maka untuk menyelidiki apa yang kita sebut kehidupan, tindakan sehari-hari dari kehidupan, membutuhkan kejernihan, bukan kejernihan pikiran, melainkan kejernihan dari penglihatan yang terang : kejernihan dari melihat secara sungguh-sungguh "apa adanya".

Melihat "apa adanya", tindakan itu sendiri adalah gairah ! Bagi kebanyakan dari kita gairah selalu berasal dari kebencian, dari kedukaan, kemarahan, ketegangan; atau terdapat gairah yang didatangkan melalui kesenangan yang menjadi hawa nafsu. Gairah seperti itu tidak mampu menimbulkan enersi yang dibutuhkan untuk mengerti seluruh proses kehidupan ini. Sesungguhnya mengerti adalah gairah; tanpa gairah anda tidak dapat melakukan sesuatu. Gairah intelektuil bukanlah gairah sama sekali. Akan tetapi untuk menyelidiki keseluruhan dari kehidupan membutuhkan bukan hanya kejernihan luar biasa dari penglihatan yang terang, melainkan juga intensitas dari gairah.

Maka apakah itu yang kita namakan kehidupan ? Bukan kehidupan seperti yang kita inginkan — itu hanyalah suatu gagasan belaka, itu tidak mempunyai kenyataan, itu hanyalah kebalikan-dari "apa adanya". Kebalikan dari "apa adanya" menciptakan pemisah-misahan dan didalam pemisah-misahan itu terdapat konflik. Dalam memandang apa adanya kehidupan itu, kita harus sama sekali menjauhkan gagasan dari apa "yang seharusnya menurut keinginan kita", karena itu berarti melarikan diri ke dalam penglihatan ideologis, yang sama sekali tidak nyata. Kita hanya akan menyelidiki apakah kehidupan itu sesungguhnya; dan mutu dari penyelidikan itu lebih penting dari pada penyelidikannya itu sendiri. Setiap orang yang pintar dapat menyelidiki, dengan suatu ketajaman pikiran tertentu, suatu kepekaan tertentu. Akan tetapi jika penyelidikan itu hanya intelektuil belaka ia kehilangan kepekaan yang datang apabila terdapat suatu mutu tertentu dari belas kasih, kasih sayang, perhatian. Untuk dapat memiliki mutu batin seperti itu yang dapat memandang sangat jelas, haruslah terdapat perhatian ini, terdapat mutu kasih sayang dan belas kasih ini, yang akan ditolak oleh yang intelek. Kita harus awas terhadap dorongan dari intelek di dalam penyelidikan dari apa yang sesungguhnya terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari — kita membutuhan suatu peringatan, jika saya boleh menggunakan kata itu, untuk mengetahui bahwa uraian bukanlah yang diuraian, juga si kata bukanlah si benda.

Seperti telah kita katakan, tanpa mengerti apakah kehidupan itu, kita tidak mungkin mengerti apakah kematian itu, dan tanpa mengerti apakah kernatian itu, cinta kasih hanya menjadi kesenangan belaka dan karena itu menjadi penderitaan. Apakah yang kita namakan kehidupan ? Kalau kita mengamati dalam kehidupan sehari-hari, di dalam setiap hubungan dengan manusia, dengan gagasan-gagasan, dengan harta milik, dengan, benda-benda, di situ terdapat konflik besar. Bagi kita, semua perhubungan telah menjadi sebuah medan pertempuran, menjadi suatu pergulatan. Dari saat kita dilahirkan sampai kita mati, kehidupan adalah suatu proses dari penumpukan masalah-masalah, tak pernah memecahkannya, proses dari pembebanan diri dengan segala macam persoalan. Pada hakekatnya kehidupan merupakan sebuah lapangan di mana manusia saling berlawanan. Maka kehidupan adalah konflik. Tidak ada orang yang dapat menyangkal hal itu, kita semua berada dalam konflik, baik kita menyukainya ataupun tidak. Kita ingin melarikan diri dari konflik yang terus-menerus ini, maka kita menciptakan segala macam bentuk pelarian — dari sepak bola sampai kepada gambaran dari Tuhan. Setiap orang dari kita bukan hanya mengenal beban dari konflik itu, akan tetapi juga kedukaannya, kesepiannya keputusasaannya, kekhawatirannya, ambisinya dan kekecewaannya, kebosanannya yang memuakkan, pengulang-ulangannya/rutin. Terdapat kadang-kadang sekilas suka ria di mana batin seketika melekat padanya sebagai sesuatu yang luar biasa dan batin ingin mengulangnya; kemudian suka cita itu menjadi suatu kenangan, menjadi abu. Itulah apa yang kita namakan kehidupan. Jika kita memandang kepada kehidupan kita sendiri — bukan hanya arti kata - katanya saja atau secara intelektuil, melainkan sungguh-sungguh seperti apa adanya — kita melihat betapa kosongnya ia. Bayangkan saja empatpuluh, limapuluh tahun terpakai untuk pergi ke kantor setiap hari, menumpuk uang untuk memelihara suatu keluarga dan sebagainya lagi. Itulah yang kita namakan kehidupan.— dengan penyakit, usia tua dan kematian. Dan kita mencoba untuk melarikan diri dari penderitaan ini melalui agama, melalui minuman keras, melalui pelajaran, melalui sex, melalui setiap bentuk dari kesenangan, baik yang bersifat keagamaan atau sebaliknya. Itulah kehidupan kita walaupun kita mempunyai teori-teori, cita-cita dan filsafat-filsafat; kita hidup dalam konflik dan kedukaan.

Kehidupan kita telah mendatangkan suatu kebudayaan, suatu masyarakat, yang telah menjadi perangkap di mana kita terjebak. Perangkap itu dibangun oleh kita; setiap orang dari kita bertanggung jawab atas adanya perangkap itu. Biarpun kita boleh memberontak terhadap tertib lama yang berkuasa, ketertiban itu adalah apa yang kita telah bikin, apa yang kita telah bangun. Dan hanya memberontak terhadap itu mempunyai arti yang kecil, karena anda akan menciptakan suatu ketertiban lain yang berkuasa, menciptakan suatu birokrasi yang lain. Semua ini, dengan perbedaan-perbedaan nasional, rasial, agama, peperangan dan penumpahan darah dan air rnata, adalah apa yang kita namakan kehidupan, dan kita tidak tahu apa yang harus kita lakukan. Kita dihadapkan kepada ini. Karena tidak tahu apa yang harus kita lakukan, kita mencoba untuk melarikan diri, atau kita mencoba untuk menemukan seseorang yang akan memberitahu kita apa yang harus kita lakukan, suatu otoritas, seorang guru kebatinan, seorang guru, seseorang yang akan berkata, “Lihat inilah jalannya".

Guru-guru itu, guru-guru kebatinan itu, para mahatma, para ahli filsafat, semua telah menyesatkan kita, karena kenyataannya kita belum dapat memecahkan masalah-masalah kita, kehidupan kita tidak berbeda. Kita masih merupakan orang-orang yang sama, sengsara, tidak bahagia, dan penuh kedukaan. Maka hal yang pertama adalah jangan sekali-kali mengikuti orang lain, termasuk pembicara sendiri. Jangan sekali-kali mencoba untuk mendapat tahu dari orang lain bagaimana harus bersikap, bagaimana harus hidup. Karena apa yang diceritakan oleh orang lain bukanlah kehidupan anda. Jika anda bertumpu atau bergantung kepada orang lain anda akan disesatkan. Akan tetapi anda menolak otoritas dari guru kebatinan, dari ahli filsafat, dari ahli teori — baik komunis ataupun ketuhanan — maka anda dapat memandang kepada diri anda sendiri, lalu anda dapat menemukan jawabannya. Akan tetapi selama kita bertumpu atau bergantung kepada orang lain, betapapun bijaksana dia boleh jadi, kita tersesat. Orang yang berkata bahwa dia tahu, sesungguhnya dia tidak tahu. Maka hal yang pertama-tama adalah jangan sekali-kali mengikuti orang lain dan hal itu sangat sukar karena kita tidak tahu apa yang harus kita lakukan; kita telah begitu dibeban-pengaruhi untuk percaya, untuk mengikuti.

Dalam menyelidiki hal yang dinamakan “kehidupan" ini, dapatkah kita secara sungguh-sungguh — bukan secara teoritis — mengesampingkan setiap bentuk pengekoran psikologis, setiap dorongan hati untuk menemukan seseorang yang akan memberitahu kita apa yang harus kita lakukan? Bagaimanakah suatu batin yang kebingungan dapat menemukan seseorang yang akan menjelaskan kebenaran ? Batin yang bingung akan memilih seseorang menurut  kebingungannya sendiri. Maka janganlah menaruh kepercayaan atau bergantung kepada orang lain. Jika kita melakukan hal itu, kita memikul suatu beban yang berat, beban dari ketergantungan kepada buku-buku, kepada semua teori di dunia; itu adalah suatu beban yang hebat dan jika anda dapat mengesampingkannya maka anda menjadi bebas untuk mengamati, lalu anda tidak mempunyai pendapat, tidak mempunyai gagasan/ideologi, tidak mempunyai kesimpulan, melainkan dapat melihat dengan sungguh-sungguh "apa adanya". Lalu anda dapat memandang, lalu anda dapat berkata “Kita hidup bersama konflik, apakah adanya konflik ini ?"

Jika kita mengamati — dan saya harap anda juga mengamati, bukan bergantung kepada kata-kata pembicara — anda akan melihat bahwa konflik ini terdapat selama ada kontradiksi dalam diri kita sendiri, kontradiksi dari nafsu-nafsu keinginan yang saling berlawanan; selama terdapat kebalikan, "apa adanya" dan "apa yang seharusnya". "Apa yang seharusnya" itu adalah kebalikan dari "apa adanya" dan "apa yang seharusnya" itu terbentuk oleh "apa adanya". Maka kebalikan itu juga "apa adanya". Kehidupan adalah suatu proses dari konflik di dalam mana terdapat kekerasan; itu adalah "apa adanya", kenyataannya. Kebalikannya adalah "tanpa kekerasan", suatu keadaan di mana tidak terdapat konflik, tidak terdapat kekerasan. Orang yang keras mencoba untuk menjadi tidak keras. Untuk menjadi tanpa kekerasan itu boleh jadi akan memakan waktu sepuluh tahun atau selama hidupnya, akan tetapi sementara waktu itu dia menyebar-nyebar benih-benih kekerasan. Maka terdapatlah fakta dari kekerasan dan bukan fakta, yaitu tanpa kekerasan, ialah kebalikannya. Di dalam kontradiksi ini terdapat konflik : orang yang mencoba untuk menjadi sesuatu. Apabila anda dapat mengusir kebalikannya, tidak mencoba untuk menjadi "tanpa kekerasan", maka anda dapat menghadapi kekerasan dengan sesungguhnya. Lalu anda, memiliki enersi yang tidak dihamburkan melalui konflik dengan kebalikan itu. Lalu anda memiliki enersi, gairah, untuk menyelidiki "apa adanya".

Apakah saya membuat hal itu cukup jelas ? Anda tahu, komunikasi adalah sangat berat, akan tetapi apa yang jauh lebih penting dari pada komunikasi adalah merasakan bersama-sama (communion), merasakan bersama-sama masalah ini; yaitu, kita bersama pada saat yang sama, pada tingkat yang sama bersungguh-sungguh untuk mengamati, untuk mempelajari, untuk menyelidiki. Hanya kalau begitulah maka terdapat adanya hal merasakan bersama antara dua orang, yang berada di atas komunikasi. Kita mencoba untuk melakukan kedua-duanya; kita tidak hanya mengadakan komunikasi, akan tetapi juga pada waktu yang sama kita mencoba untuk merasakan bersama-sama atas masalah ini. Ini bukanlah propaganda, kita tidak mencoba untuk menguasai anda, atau membujuk anda, atau mempengaruhi anda, melainkan minta kepada anda untuk mengamati.

Sekarang saya melihat bahwa untuk dapat mengamati, untuk dapat melihat sesungguhnya "apa adanya" tidaklah mungkin apabila terdapat kebalikannya. Cita-cita adalah sebab dari kontradiksi dan karena itu sebab dari konflik. Apabila anda marah dan anda berkata “saya seharusnya tidak marah", maka "seharusnya tidak" itu mendatangkan suatu kontradiksi dan karena itu terdapat suatu pemisahan antara kemarahan dan kepura-puraan bahwa kita seharusnya tidak marah. Untuk mengakui kemarahan anda dan untuk waspada, untuk melihat arti dari kemarahan itu, anda membutuhkan enersi dan enersi itu dihamburkan konflik dan melalui pengejaran dari kebalikan. Maka dapatkah anda meninggalkan kebalikan itu sama sekali? Hal ini sangat sukar, karena kebalikan bukan hanya cita-cita akan tetapi juga proses dari pengukuran dan pembandingan. Apabila tidak terdapat pembandingan maka tidak terdapat kebalikan.

Anda tahu, kita telah terlatih dan dibeban-pengaruhi untuk membanding-bandingkan, untuk mengukur, diri kita sendiri terhadap si pahlawan, si orang suci, si orang besar. Untuk dapat mengamati "apa adanya", batin harus bebas dari seluruh pembandingan, dari cita-cita, dari kebalikannya. Lalu anda akan melihat bahwa apa yang "ada" sesungguhnya, adalah jauh lebih penting daripada apa "yang seharusnya". Lalu anda memiliki enersi, daya hidup, untuk mengesampingkan kontradiksi yang didatangkan oleh kebalikannya. Untuk dapat bebas dari proses pembandingan membutuhkan disiplin dan disiplin itu datang justru dalam tindakan mengerti akan kesia-siaan dari kebalikan itulah. Untuk mengamati ini, secara teliti, untuk melihat seluruh struktur dan sifat dari konflik ini, tindakan dari memandang inilah yang membutuhkan disiplin; itu adalah disiplin. Disiplin berarti belajar dan kita sedang belajar — bukan sedang menekan, bukan sedang rnencoba untuk menjadi sesuatu, bukan sedang mencoba untuk meniru-niru, untuk menyesuaikan diri. Disiplin ini luar biasa luwesnya, luar biasa pekanya.

Setiap orang dari kita sedang menyelidiki konflik ini. Kita mengatakan bahwa konflik timbul melalui kebalikannya. Kebalikannya adalah bagian dari "apa adanya". Kebalikannya adalah juga "apa adanya". Dan karena batin tidak dapat mengerti atau memecahkan "apa adanya", ia melarikan diri ke dalam "apa yang seharusnya". Apabila anda mengesampingkan kesemuanya itu, maka batin mengamat-amati secara teliti "apa adanya", yaitu kekerasan (kita mengambil kekerasan sebagai suatu contoh). Maka apakah adanya hal yang kita namakan kekerasan ini ? Apabila tidak terdapat kebalikan terhadap kekerasan, apabila anda secara sungguh-sungguh berhadapan dengan fakta dari kemarahan, perasaan dari kebencian — lalu apakah ada kekerasan di situ, apakah ada kemarahan ? Selidikilah oleh anda, jika saya boleh usulkan, anda akan melihatnya sendiri. Saya tidak dapat memasuki hal itu secara terlampau mendetail lagi karena keta harus mengerti apakah adanya kematian itu, apakah adanya cinta kasih itu; maka kita harus melanjutkan agak cepat.

Apa yang kita namakan kehidupan adalah konflik dan kita melihat apakah adanya konflik itu. Apabila kita mengerti konflik itu, "apa adanya" adalah kebenaran dan pengamatan akan kebenaran itulah yang membebaskan batin dari "apa adanya". Juga terdapat banyak kedukaan dalam kehidupan kita dan kita tidak tahu bagairnana untuk mengakhirinya. Pengakhiran duka adalah permulaan dari kebijaksanaan. Tanpa mengerti apakah kedukaan itu dan mengerti akan sifat dan strukturnya, kita tidak akan mengenal apakah cinta kasih itu, karena bagi kita cinta kasih adalah kedukaan, penderitaan, kesenangan, cemburu/iri hati. Apabila seorang suami berkata kepada isterinya bahwa dia mencintainya dan pada saat yang sama dia ambisius; apakah cinta kasih itu ada artinya ? Apakah seorang yang ambisius dapat mencinta ? Apakah seorang yang suka bersaing dapat mencinta ? Namun demikian kita bicara tentang cinta kasih, tentang kehalusan budi, tentang mengakhiri perang, sedangkan kita suka bersaingan, ambisius, mencari kedudukan, kemajuan diri sendiri dan selanjutnya. Semua ini mendatangkan kedukaan. Dapatkah kedukaan berakhir ? Kedukaan dapat berakhir apabila anda mengerti diri anda sendiri, yang sesungguhnya "apa adanya". Lalu anda mengerti mengapa anda mernpunyai kedukaan, apakah kedukaan itu adalah iba diri, atau rasa-takut karena bersendirian, atau kekosongan dari kehidupan anda sendiri, atau kedukaan yang datang apabila anda bergantung kepada orang lain. Dan semua ini adalah bagian dari kehidupan. Apabila kita mengerti akan semua ini kita tiba pada suatu masalah yang jauh lebih besar, yaitu kematian. Harap camkan bahwa kita tidak sedang bicara tentang reinkarnasi, tentang apa yang terjadi sesudah mati. Kita tidak bicara tentang itu, atau memberi harapan kepada orang-orang yang takut akan kematian itu.

Kemarin kita memasuki persoalan rasa-takut. Apabila batin bebas dari rasa-takut, lalu apakah adanya kematian itu ? Terdapat usia tua dengan segala kesukarannya : penyakit kehilangan ingatan/pikun ribuan macam gangguan kesehatan, rasa-takut akan ketuaan. Dalam negeri ini semua orang yang tua disebut muda ! Seorang wanita berusia kurang lebih delapanpuluh tahun disebut seorang nyonya muda ! Orang-orang ketakutan dan di mana terdapat rasa-takut di situ tidak terdapat pengertian; di mana terdapat iba diri di situ tidak ada akhir dari kedukaan. Maka apakah mati itu ? Organisme tubuh berakhir, ini jelas. Manusia hidup untuk sembilan puluh tahun, dan jika para sarjana menemukan suatu obat dia boleh jadi hidup seratus limapuluh tahun —dan Tuhan saja yang tahu mengapa manusia ingin hidup seratus limapuluh tahun lamanya, dengan cara kita hidup sekarang ini ! Sekalipun demikian, biarpun anda hidup sampai seratus tahun, tubuh melayu, karena kita hidup secara keliru sekali : dalam konflik rasa-takut, ketegangan, membunuhi binatang dan manusia. Betapa kita telah membuat hidup kita menjadi kacau. Maka usia tua menjadi sesuatu yang mengerikan. Namun di situ selalu terdapat kematian — bagi yang muda, bagi yang setengah baya dan bagi yang tua. Apakah yang kita artikan dengan mati, terlepas dari kematian jasmaniah, yang tak terelakan itu ? Terdapat suatu arti yang lebih dalam pada kematian dari pada hanya berakhirnya jasmani belaka; yaitu, batiniah berakhir — si "aku”, si "kamu" tiba-tiba berakhir. Si "aku", si "kamu", yang telah menumpuk pengetahuan, telah menderita, telah hidup dengan kenangan-kenangan yang menyenangkan dan menyakitkan, dengan seluruh siksaan dari yang dikenal, dengan konflik-konflik batiniah, hal-hal yang tidak kita mengerti, hal-hal yang kita ingin lakukan dan tidak pernah kita lakukan. Pergulatan batiniah, kenangan-kenangan, kesenangan-kesenangan, penderitaan-penderitaan — semua itu berakhir. Itulah sesungguhnya apa yang kita takutkan, bukan apa yang terdapat di ujung sana kematian. Kita tidak pernah takut akan yang tak dikenal; kita takut akan berakhirnya yang dikenal. Yang dikenal yaitu rumah anda, keluarga anda, isteri anda, anak-anak anda, gagasan-gagasan anda, barang-barang perabot anda, buku-buku anda, barang-barang yang anda telah menyamakan diri anda dengan semua itu. Apabila semua itu pergi anda merasa sama sekali terasing, kesepian, itulah yang anda takutkan. Itu adalah suatu bentuk kematian dan itulah satu-satunya kematian.

Melihat bahwa—bukan secara teoretis, melainkan kenyataannya—melihat bahwa kita takut akan kehilangan segala sesuatu yang telah kita miliki atau kita ciptakan atau kita kerjakan, kita bertanya : “Apakah tidak mungkin untuk mati secara batiniah, setiap hari, terhadap segala sesuatu yang telah kita kenal ?" Dapatkah kita mati setiap hari, sehingga batin menjadi segar, muda dan bersih setiap hari ? Lakukanlah itu dengan nyata dan anda akan menemukan hal-hal luar biasa terjadi. Batin lalu menjadi polos murni. Suatu batin yang tua, betapapun berpengalaman, tidak pernah polos murni. Hanya suatu batin yang telah menanggalkan seluruh bebannya setiap hari, yang mengakhiri setiap problema setiap hari, adalah suatu batin yang polos murni. Lalu kehidupan mempunyai suatu arti yang berbeda sama sekali. Lalu kita dapat menyelidiki. apakah adanya cinta kasih. Jelas bahwa cinta kasih bukan kesenangan; seperti telah kita katakan kemarin, kesenangan mendatangkan penderitaan karena kesenangan, seperti rasa-takut, adalah proses dari pikiran. Jika cinta kasih adalah proses dari pikiran, lalu apakah yang demikian itu cinta kasih? Kebanyakan dari kita cemburu, iri hati, namun kita bicara tentang cinta. Apakah suatu batin yang iri dapat mencinta ? Jika kita berkata bahwa kita mencinta, apakah itu cinta adanya. Atau apakah batin melindungi kesenangannya sendiri dan karena itu memupuk rasa-takut ? Dapatkah cinta kasih dipupuk apabila terdapat rasa-takut dan kesenangan yang sesungguhnya adalah pikiran. Dan bersama itu datanglah masalah sex (Hadirin tertawa). Mengapa anda ketawa ? Saya girang bahwa anda tertawa, akan tetapi mengapa ?

Kita harus menyelidiki persoalan ini, seperti kita telah menyelidiki rasa-takut dan apakah adanya kehidupan itu. Mengapa kita telah membuat sex menjadi suatu persoalan yang demikian besar? Mengapa sex telah menjadi suatu masalah seperti itu ? Nampaknya segala sesuatu berputar di sekelilingnya, tidak hanya sekarang, akan tetapi juga dalam masa lalu. Sex telah menjadi sesuatu yang demikian luar biasa pentingnya dalam kehidupan. Mengapa ? Maukah anda menyelidikinya ? Kita tidak mengemukakan suatu pendapat, kita sedang menyelidiki. Sex telah menjadi demikian amat luar biasa pentingnya, pertama-tama, karena secara intelektuil kita adalah manusia peniru. Kita tahu apa yang telah dilakukan orang-orang lain dan kita melakukan itu, kita mengulangi apa yang telah dikatakan orang-orang lain, — Sang Buddha, Kristus, dan semua yang lain lagi — kita berteori. Itu bukanlah suatu kebebasan intelektuil, yang merupakan kebebasan dari pikiran. Kita terikat oleh pikiran, dan pikiran selalu adalah tua, ia tak pernah baru; maka secara intelektuil tidak terdapat kebebasan dalam arti kata yang mendalam, karena pikiran tidak dapat rnendatangkan kebebasan itu. Secara intelektuil kita terikat dan secara emosionil kita adalah rendah, buruk, sentimentil, palsu, munafik. Maka dalam kehidupan kita telah kehilangan semua kebebasan, kecuali dalam sex. Itu barangkali adalah satu-satunya hal bebas yang anda miliki. Dan bersama itu terdapatlah kesenangan, gambaran yang diciptakan oleh pikiran tentang tindakan sex itu dan kita memamah bayangan itu, kesenangan itu, seperti seekor lembu memamah rumput yang dimakannya, berulang-ulang. Sex adalah satu-satunya yang anda punyai di mana anda sungguh-sungguh bebas sebagai seorang manusia. Dalam segala hal lainnya anda tidak bebas, karena kita adalah hamba-hamba terhadap propaganda. Karena tidak ada kebebasan dalam apapun, hanya terdapat kebebasan ini dan itupun bukan kebebasan, karena anda tertangkap oleh kesenangan dan pertanggungan jawab dari kesenangan, yaitu keluarga. Akan tetapi jika anda benar-benar mencinta keluarga, anak-anak, jika anda benar-benar mencinta dengan hati anda, apakah anda pikir anda akan mengobarkan perang biar cuma satu haripun ?

Keamanan anda berada dalam kesenangan dan karena itu di dalam keamanan itu terdapat penderitaaan, kedukaan dan kebingungan,- dan demikianiah pula dalam segala sesuatu, termasuk sex, di situ terdapat penderitaan, siksaan, keraguan, cemburu, ketergantungan. Satu-satunya hal yang anda miliki dalam mana anda merasa bebas juga telah menjadi suatu ikatan. Maka melihat semua ini — kenyataannya, bukan arti kata-katanya belaka, bukan terseret oleh uraian, karena uraian selamanya bukan hal yang diuraikan — melihat hal itu dengan mata anda, dengan hati anda, dengan batin anda, dengan perhatian sepenuhnya, anda akan mengenal apakah adanya cinta kasih itu. Dan juga anda akan mengenal apakah adanya kematian itu, dan apakah adanya kehidupan itu.


KEMBALI KE DIALOG