jkbanner

THE TEACHINGS OF J.KRISHNAMURTI   -   INDONESIAN WEBSITE



DIALOG

DIALOG : MEDITASI
[Dari buku Bebas Kekerasan Bab 7]



Apakah meditasi itu? Sebelum kita memasuki persoalan yang sungguh cukup ruwet sekali dan banyak lika-likunya ini, seyogianya kita mengerti dulu dengan jelas apakah yang kita kejar. Kita selalu mencari sesuatu, terutama mereka yang cenderung kepada agama; bahkan bagi kaum sarjana, mencari merupakan suatu hal yang penting — mencari. Faktor mencari ini haruslah dimengerti secara sangat jelas dan pasti sebelum kita memasuki persoalan apakah meditasi itu dan mengapa pula kita harus bermeditasi, apakah manfaatnya dan kemana anda akan dibawanya.

Kata "mencari" — mengejar, menyelidiki — berarti bahwa kita telah mengenal, sedikit banyak, apa yang kita cari itu, bukan? Bila kita berkata bahwa kita mencari kebenaran, atau kita mencari Tuhan — jika kita cenderung beragama — atau kita mencari suatu kehidupan yang sempurna dan selanjutnya, kita tentu telah mempunyai gambaran pikiran atau gagasan di dalarn batin kita. Untuk dapat menemukan sesuatu setelah kita mencarinya, kita tentu telah mengenal bagaimana bentuknya, warnanya, sarinya dan sebagainya dari sesuatu yang kita cari tadi. Bukankah diartikan dalam kata “mencari" itu, bahwa kita telah kehilangan sesuatu dan kita akan menemukannya kembali dan bahwa apabila kita menemukan kita akan dapat mengenalnya kembali — yang berarti bahwa kita telah mengenalnya, bahwa apa yang harus kita lakukan hanyalah mengejar dan mencarinya?

Di dalam meditasi hal yang pertama-tama kita sadari adalah bahwa tidaklah ada gunanya untuk mencari; karena apa yang anda cari sudah ditentukan lebih dulu oleh apa yang anda inginkan; jika anda tidak bahagia, kesepian, putus asa, anda akan mencari pengharapan, persahabatan, sesuatu untuk menghibur anda dan anda akan menemukan itu, tak salah lagi.

Dalam meditasi, kita harus meletakkan fondasinya, fondasi ketertiban, yaitu kebajikan (righteousness) — bukan kehormatan, moral masyarakat yang bukanlah moral sama sekali, melainkan ketertiban yang datang dari pengertian tentang ketidak-tertiban suatu hal yang sungguh berbeda. Ketidak-tertiban pasti ada selama terdapat pertentangan, baik lahir maupun batin.

Ketertiban, yang datang dari pengertian tentang ketidak-tertiban, bukanlah menurut suatu pola, bukan tunduk kepada suatu otoritas, bukan pula menurut pengalaman istimewa anda sendiri. Jelas bahwa ketertiban ini harus datang tanpa daya upaya, karena daya upaya adalah penyelewengan — ketertiban harus datang tanpa suatu bentuk pengendalian.

Kita bicara tentang sesuatu yang sangat sukar dengan mengatakan bahwa kita harus mendatangkan ketertiban tanpa pengendalian. Kita harus mengerti tentang ketidak-tertiban, bagaimana terjadinya; ketidak-tertiban adalah pertentangan yang berada didalam diri kita sendiri. Dalam mengamatinya ketidak-tertiban telah dimengerti; bukan berarti menaklukkannya, mencekiknya, menekannya. Untuk mengamati tanpa suatu penyelewengan, tanpa suatu dorongan hati yang memaksa atau memimpin, adalah suatu pekerjaan yang amat sukar.

Pengendalian berarti penekanan, penolakan atau penyingkiran; itu berarti suatu pemisahan antara si pengendali dan hal yang di kendalikannya; itu berarti pertentangan. Apabila kita mengerti ini, pengendalian dan pemilihan menjadi berhenti sama sekali. Semua ini boleh jadi tampaknya agak sukar dan agak bertentangan dengan segala sesuatu yang pernah anda pikirkan. Anda boleh jadi barkata: bagaimana bisa terdapat ketertiban tanpa pengendalian, tanpa tindakan dari kemauan? Namun, seperti telah kita katakan, pengendalian berarti pemecah-belahan, di antara yang mengandalikan dan hal yang harus dikendalikan; di dalam pemecahbelahan ini terdapat pertentangan, terdapat penyelewengan. Apabila anda sungguh-sungguh mengerti ini, maka terjadilah pengakhiran dari pemisahan antara yang mengendalikan dan yang dikendalikan dan karena itu terdapatlah pemahaman (comprehension), terdapat pengertian.

Bila terdapat pengertian tentang apa yang ada sesungguhnya, maka tidak dibutuhkan pengendalian.
Terdapatlah dua hal penting yang harus dimengerti dengan sempurna jika kita ingin memasuki persoalan tentang apakah meditasi itu : pertama, tidak ada gunanya mencari; kedua, haruslah ada ketertiban yang datang dari pengertian tentang ketidak-tertiban yang muncul dari pengendalian, dengan segala seluk beluknya tentang dwiunsur (duality) dan kontradiksi yang timbul antara si pengamat dan yang di amati.

Ketertiban timbul apabila orang yang sedang marah dan mencoba untuk menghindarkan kemarahan itu melihat bahwa dialah kemarahan itu sendiri. Tanpa pengertian ini anda sungguh tidak mungkin tahu apakah meditasi itu. Jangan menipu diri sendiri dengan segala kitab-kitab yang ditulis tentang meditasi, atau dengan semua orang-orang yang memberitahu anda bagaimana harus bermeditasi, atau dengan kelompok yang dibentuk dengan maksud bermeditasi, Karena jika tidak terdapat ketertiban yang juga berarti kebajikan, batin tentu hidup dalam daya upaya (effort) dari kontradiksi. Bagaimana suatu batin seperti itu dapat sadar (aware) tentang seluruh seluk beluk meditasi?

Dengan seluruh jiwa raga kita, kita harus bertemu dengan keajaiban yang disebut cintakasih ---dan karenanya bebas dari rasa takut. Kita maksudkan cintakasih yang tidak disentuh oleh kesenangan, oleh nafsu keinginan, oleh cemburu — cintakasih yang tidak mengenal persaingan, yang tidak memecah belah sebagai cintaku dan cintamu. Barulah jiwa — termasuk pikiran dan perasaan — berada dalam keselarasan yang sempurna; dan seharusnya beginilah, kalau tidak, meditasi menjadi penyihiran diri sendiri.

Anda harus bekerja sangat keras untuk menyelidiki keaktifan batin anda sendiri, bagaimana batin anda bekerja dengan keaktifannya yang berpusat pada diri sendiri, si "aku" dan "bukan aku" anda harus cukup mengenal diri anda sendiri dan mengenal semua muslihat dari pikiran yang mempermainkan diri sendiri, angan-angan dan khayal, bayangan angan-angan dan pengkhayalan segala macam ide-ide romantis yang anda miliki. Batin yang dapat dikuasai sentimen tak dapat mengenal cintakasih; sentimen melahirkan keganasan, kekejaman dan kekerasan, bukan cintakasih.

Untuk mewujudkan ini secara mendalam didalam diri anda sendiri adalah cukup sukar; hal itu membutuhkan suatu disiplin yang hebat, untuk belajar dengan mengamati apa yang sedang terjadi di dalam diri anda sendiri. Pengamatan itu tidaklah mungkin jika terdapat bentuk apapun dari prasangka, kesimpulan atau rumus, jika anda mengamati sesuai dengan kesemuanya itu. Jika anda mengamati sesuai dengan apa yang dikatakan seorang ahli jiwa kepada anda, sesungguhnya anda tidak mengamati diri sendiri, karena itu tidak ada pengenalan diri sendiri.

Anda memerlukan batin yang dapat berdiri sendiri sepenuhnya — tidak dibebani oleh propaganda atau pengalaman-pengalaman dari orang lain. Penerangan batin (enlightenment) tidak datang meIalui seorang pemimpin atau melalui seorang guru; penerangan batin datang melalui pengertian dari apa yang ada dalam diri anda sendiri — tidak lari dari diri anda sendiri. Batin harus mengerti sungguh-sungguh apa yang sedang terjadi di dalam lapangan batiniah sendiri; ia harus waspada (aware) tentang apa yang sedang terjadi tanpa suatu penyelewengan, tanpa suatu pilihan, tanpa suatu kebencian, dendam, penjelasan atau pernbelaan — ia harus hanya waspada saja.

Dasar ini harus diletakkan dengan bahagia, tidak dengan paksaan melainkan dengan sukarela, dengan sukarela tanpa suatu pengharapan untuk mencapai apapun. Jika anda memiliki pengharapan berarti anda bergerak dari keputus-asaan; kita harus mengerti tentang keputus-asaan, bukan mencari-cari pengharapan. Dalam pengertian tentang "apa adanya" tidaklah terdapat baik keputus-asaan, maupun pengharapan.

Apakah semuanya itu menuntut terlampau banyak dari batin manusia? Kecuali kalau kita bertanya apa yang tampaknya tidak mungkin, kita akan terperosok kedalam perangkap, pembatasan, tentang apa yang dikiranya adalah mungkin. Untuk terjatuh kedalam perangkap ini adalah amat mudah. Kita harus menuntut sebanyak mungkin dari pikiran dan hati, kalau tidak kita akan tinggal dalam hal-hal yang mungkin, yang enak serta menyenangkan.

Apakah kita masih bersama-sama? Secara lisan, mungkin demikian; namun kata-kata bukanlah si benda; apa yang telah kita lakukan adalah untuk menggambarkan dan penggambaran bukanlah yang digambarkan. Jika anda melakukan perjalanan bersama si pembicara, anda melakukan perjalanan secara sungguh-sungguh, tidak hanya teoretis, tidak sebagai suatu gagasan melainkan sebagai sesuatu yang sedang anda amati dengan nyata — bukan sesuatu yang sedang anda alami; terdapat perbedaan antara pengamatan dan pengalaman.

Terdapat perbedaan besar antara pengamatan dan pengalaman. Di dalam pengamatan tidak terdapat si pengamat sama sekali, yang ada hanyalah pengamatan; tidak ada sesuatu yang mengamati dan terpisah lepas dari hal yang di amati Pengamatan sama sekali berbeda dengan penyelidikan dalam mana terlibat analisa. Di dalam analisa terdapat selalu si "penganalisa" dan hal yang dianalisa. Di dalam penyelidikan selalu terdapat sesuatu yang menyelidiki.

Di dalam pengamatan kita belajar selalu, bukan menimbun selalu. Saya harap anda dapat melihat perbedaannya. Belajar seperti itu berbeda dengan belajar untuk menimbun sehingga dari penimbunan itu kita berpikir dan bertindak. Suatu penyelidikan boleh jadi logis, sehat dan rasionil, namun untuk mengamati tanpa si "pengamat" adalah sama sekali berbeda.

Kemudian terdapat persoalan tentang pengalaman. Mengapa kita menginginkan pengalaman? Pernahkah anda memikirkan hal itu? Kita mendapatkan pengalaman setiap saat, yang kita kenal atau yang tidak kita pedulikan. Dan kita menginginkan pengalaman yang lebih mendalam, lebih luas — yang gaib, mendalam, bersifat rohani, illahi, spiritual — mengapa?
Bukankah dikarenakan kehidupan kita begitu palsu, begitu sengsara, begitu kecil dan tidak berarti? Kita ingin melupakan semua itu dan ingin pindah ke dalam dimensi yang lain sama sekali. Bagaimana mungkin suatu batin yang picik, cemas, ketakutan, dilanda problem demi problem, dapat mengalami sesuatu kecuali bayangan (projection) dan keaktifannya sendiri? Tuntutan untuk pengalaman batin yang lebih besar ini adalah pelarian dari apa yang sesungguhnya ada; namun hanyalah melalui apa yang sesungguhnya ada maka hal paling ajaib dalam hidup dapat muncul. Dalam pengalaman tersangkut proses dari pengenalan kembali. Bila anda mengenal kembali sesuatu, itu berarti bahwa anda telah kenal sebelumnya. Pengalaman, pada umumnya datang dari masa lalu, tidak ada yang baru di dalamnya. Maka terdapatlah suatu perbedaan antara pengamatan dan keinginan kuat untuk memperoleh pengalaman.

Jika semua ini, yang demikian luar biasa halusnya, yang membutuhkan perhatian batiniah yang besar, sudah jelas, barulah kita dapat menyelidiki persoalan yang pada mulanya kita ajukan, yaitu : apakah meditasi itu? Telah begitu banyak dibicarakan tentang meditasi; begitu banyak kitab tentang itu telah ditulis orang; terdapat yogi-yogi besar (saya tidak tahu apakah mereka itu besar) yang datang dan yang mengajar anda bagaimana caranya untuk bermeditasi. Seluruh Asia bicara tentang meditasi; itu adalah satu di antara kebiasaan-kebiasaan mereka, seperti kebiasaan percaya kepada Tuhan atau kepada sesuatu yang lain. Mereka duduk selama sepuluh menit sehari di dalam sebuah kamar sunyi dan "bermeditasi" berkonsentrasi, menujukan pikiran mereka pada suatu gambaran pikiran, suatu bayangan yang mereka bentuk sendiri, atau dibentuk oleh orang lain yang menawarkan gambaran pikiran itu melalui propaganda. Selama sepuluh menit itu mereka rnencoba untuk mengendalikan pikiran; pikiran ingin pergi kesana kemari dan mereka berperang melawan itu ---permainan yang mereka mainkan tak henti-hentinya; dan itulah apa yang mereka namakan meditasi.

Jika kita tidak tahu apapun tentang, meditasi, kita harus menyelidiki apakah itu sesungguhnya — bukan menurut orang lain siapapun — dan hal itu bisa membawa kita kepada kesia-siaan atau bisa juga membawa kita kepada segala-galanya. Kita harus menyelidiki, mengajukan pertanyaan, tanpa suatu pamrih.

Untuk mengamati pikiran — pikiran yang mengoceh ini, pikiran yang merencanakan ide-ide, yang hidup dalam kontradiksi, dalam konflik dan pembandingan selalu — tentu saja saya harus tenang sekali. Jika saya ingin mendengarkan kepada apa yang sedang anda katakan saya harus memberi perhatian, saya tidak boleh mengoceh, saya tidak boleh memikirkan hal lain lagi, saya harus tidak membandingkan apa yang anda katakan dengan apa yang telah saya ketahui, saya harus mendengarkan anda dengan selengkapnya; batin haruslah penuh perhatian, haruslah diam, tenang.

Adalah suatu keharusan untuk melihat dengan jelas seluruh struktur dari kekerasan; memandang kepada kekerasan, pikiran menjadi diam dengan sempurna — anda tidak harus "memupuk" pikiran yang tenang. Memupuk pikiran tenang menunjukan adanya seseorang yang memupuk, di dalam lapangan waktu, sesuatu yang di harapkan untuk dapat tercapai. Lihatlah kesukarannya. Mereka yang mengajar meditasi berkata, "Kendalikan pikiranmu, pikiranmu sama sekali tenang." Anda mencoba untuk mengendalikannya dan selamanya anda berperang dengan pikiran; anda membuang waktu empat puluh tahun untuk mengendalikannya. Batin yang mengamati tidaklah mengendalikan dan tidak berperang selamanya.

Tindakan melihat atau mendengar itu sendiri adalah perhatian; hal ini tidak harus anda praktekkan sama sekali; jika mempraktekkannya, segera anda menjadi tiada perhatian (lengah). Anda sedang memperhatikan dan pikiran anda mengembara; biarkan saja ia mengembara akan tetapi ketahuilah bahwa ia adalah kelengahan; kesadaran akan pikiran yang lengah itu adalah perhatian. Jangan memerangi kelengahan dengan mencoba berkata, "Aku harus memperhatikan" ini adalah kekanak-kanakan. Ketahuilah bahwa anda lengah; sadarilah, tanpa pilihan, bahwa anda lengah — apa salahnya? — dan pada saat itu, di dalam kelengahan itu, jika terdapat tindakan, waspadalah akan tindakan itu. Apakah anda mengerti ini? Ini demikian sederhana. Jika anda melakukan itu, maka batin akan menjadi jernih, jernih seperti air.

Ketenangan batin adalah keindahan itu sendiri. Mendengarkan seekor burung, suara seorang manusia, mendengarkan seorang politikus, pendeta, mendengarkan semua kebisingan propaganda yang sedang berlangsung, mendengarkan dengan ketenangan yang sempurna, berarti mendengar jauh lebih banyak; melihat jauh lebih banyak. Ketenangan seperti itu tidak mungkin jika tubuh anda tidak diam sama sekali pula. Anggauta badan, dengan semua kepekaan syarafnya — kegugupannya, pergerakan tiada hentinya dari jari-jari tangan, dari mata — dengan semua kegelisahannya yang umum, haruslah diam seluruhnya. Pernahkah anda mencoba untuk duduk dengan diam sama sekali tanpa suatu gerakanpun dari tubuh, termasuk mata? Lakukanlah itu selama dua menit. Di dalam dua menit ini seluruhnya terbuka bagi anda — jika anda tahu bagaimana untuk memandang.

Tubuh yang diam membuat aliran darah ke kepala menjadi lebih banyak. Namun jika anda duduk membungkuk bermalas-malasan, akan lebih sukarlah bagi darah untuk mengalir ke kepala —anda harus tahu akan semua ini. Akan tetapi, sebaliknya anda dapat melakukan apapun dan pada saat itu pula bermeditasi, ketika anda berada di dalam otobis, atau ketika anda sedang mengemudi — ini adalah hal yang paling luar biasa, bahwa anda dapat bermeditasi selagi anda mengemudi — berhati-hatilah, saya bersungguh-sungguh dalam hal ini. Tubuh memiliki kecerdasannya sendiri, yang dihancurkan oleh pikiran. Pikiran mencari kesenangan dan secara ini pikiran menuntun kepada kepuasan, kerakusan, hanyut dalam kesenangan sex; pikiran memaksa tubuh untuk melakukan hal-hal tertentu jika tubuh malas, pikiran memaksanya agar tidak malas, atau pikiran mengusulkan makan sebutir pil agar tidak tidur. Secara demikian kecerdasan pembawaan dari anggauta badan dirusak dari tubuh menjadi tidak peka. Kita memerlukan kepekaan yang halus, karena itu kita harus menjaga apa yang kita makan — jika kita makan terlalu banyak, kita tahu apa yang terjadi. Apabila terdapat kepekaan yang tinggi, terdapat pula kecerdasan dan karena itu terdapat pula cintakasih lalu cintakasih adalah kegembiraan dan tanpa unsur waktu.

Kebanyakan dari kita pernah mendapat sakit badaniah, dalam satu dan lain betuk. Rasa sakit itu umumnya mengganggu batin selama berhari-hari, bahkan bertahun, memikirkan tentang itu — "Ku harap aku tidak menderita penyakit itu;" "Apakah aku akan dapat terlepas darinya?" Apabila tubuh menderita nyeri, awasilah itu, amatilah, jangan biarkan pikiran mencampurinya.

Batin, termasuk pikiran dan hati, haruslah berada dalam keselarasan (harmony) sempurna. Nah apakah artinya semua ini, kehidupan macam ini, keselarasan macam ini, apakah kebaikannya di dunia, di mana terdapat begitu banyak penderitaan? Jika ada satu/dua orang memiliki kehidupan penuh sukacita seperti ini, apakah gunanya? Apakah artinya mengajukan pertanyaan ini? — tidak ada artinya apapun. Jika hal yang luar biasa itu terjadi didalam kehidupan anda, maka itu adalah segala-galanya, maka anda menjadi si guru, si murid, si tetangga, keindahan awan — anda adalah semua itu dan itulah cintakasih.

Kemudian datanglah lain faktor dalam meditasi. Pikiran diwaktu tidak tidur, pikiran yang bekerja selama sehari sepanjang garis yang telah di latihnya, pikiran sadar dengan seluruh keaktifan sehari-hari, sewaktu tidur pikiran melanjutkan keaktifan-keaktifan itu di dalam mimpi. Di dalam mimpi terjadilah tindakan dari satu atau lain macam, suatu kejadian, sehingga tidur anda adalah kelanjutan dari waktu jaga. Dan terdapat banyak ketakhayulan aneh-aneh mengenai mimpi — bahwa mimpi membutuhkan penafsiran artinya, maka muncullah ahli-ahli tafsir mimpi — yang dapat anda amati sendiri sangat mudahnya, jika anda mengawasi seluruh kehidupan anda selama siang harinya. Namun, mengapa harus ada mimpi?
(Sungguhpun para ahli jiwa mengatakan bahwa anda harus bermimpi, kalau tidak anda akan menjadi gila). Akan tetapi apabila anda telah mengamati dengan sangat teliti di waktu anda jaga, seluruh keaktifan anda yang berpusat pada diri pribadi, yang ketakutan, yang kecemasan, yang bersalah, apabila anda mencurahkan perhatian kepada semua itu sehari penuh anda akan melihat bahwa apabila anda tidur, anda tidak akan bermimpi. Batin telah mengawasi setiap saat dari pikiran, memperhatikan setiap kata dari pikiran; jika anda melakukan ini, anda akan melihat keindahannya — bukan kebosanan pengawasan yang lelah, melainkan keindahan dari pengawasan; anda akan melihat bahwa terdapat perhatian pula dalam tidur. Dan meditasi, hal yang kita bicarakan saat ini, menjadi luar biasa penting dan berharga, penuh kemuliaan dan keindahan. Apabila anda mengerti apakah perhatian itu, tidak hanya diwaktu terjaga melainkan juga di waktu tidur, maka seluruh batin anda waspada/sadar sepenuhnya. Di luar itu, setiap bentuk dari penggambaran bukanlah yang digambarkan; anda tidak bicara tentang itu.

Satu-satunya yang dapat dilakukan hanyalah menunjuk ke pintu.

Dan jika anda suka untuk pergi, melakukan perjalanan kepintu itu, maka anda sendirilah yang akan melampauinya; tak seorangpun dapat menggambarkan sesuatu yang tak dapat di namakan, baik yang dapat dinamakan itu bukan apa-apa atau segala-galanya --- tidaklah menjadi soal. Siapapun yang menggambarkannya, dia tidak tahu. Dan seseorang yang mengatakan dia tahu, dia tidak tahu.

Penanya: Apakah keheningan apakah ketenangan? Apakah itu akhir dari kebisingan?

Krishnamurti: Suara adalah sesuatu yang aneh. Saya tidak tahu apakah anda pernah mendengarkan suara — bukan suara yang anda suka atau tidak suka — melainkan hanya mendengarkan saja kepada suatu suara! Suara dalam ruang angkasa rnenimbulkan akibat yang luar biasa. Pernahkah anda mendengarkan sebuah pesawat udara jet yang terbang diatas kepala? pernahkah anda mendengarkan suaranya yang dalam, tanpa suatu penolakan apapun ? Pernahkah anda mendengarkan dan bergerak bersama suara itu ?
Suara mempunyai suatu gema tertentu.
Sekarang, apakah keheningan itu? — apakah itu "ruang" yang anda ciptakan, yang anda sebut keheningan, dengan pengendalian, dengan menekan kebisingan? Pikiran aktif setiap waktu, menanggapi rangsangan (stimuli) dengan kebisingannya sendiri. Maka, apakah keheningan itu? Anda mengerti pertanyaan itu sekarang? Apakah keheningan itu penghentian dari kebisingan ciptaan sendiri? —apakah keheningan itu penghentian dari ocehan, kata-kata, dari setiap pikiran? Bahkan apabila tidak lagi terdapat kata-kata dan pikiran agaknya telah berakhir, otak masih terus bekerja. Karena itu bukankah keheningan tidak hanya akhir dari kebisingan melainkan penghentian seluruhnya dari semua gerakan? Amatilah itu, selamilah, lihat betapa otak anda sebagai hasil dari beban pengaruh jutaan tahun, selalu menanggapi setiap rangsangan seketika itu juga; lihat apakah sel-sel otak itu yang selalu aktif, mengoceh, menanggapi, dapat diam.

Dapatkah pikiran, otak, seluruh susunannya, keseluruhan jiwa raga ini diam sama sekali? — tidak dipaksa, tidak ditekan, tidak dikendalikan, tidak timbul dari keserakahan yang berkata "Aku harus diam agar bisa mendapatkan pengalaman yang paling hebat?" Selamilah, selidiki dan lihatlah apakah keheningan anda itu hanya suatu hasil usaha, ataukah mungkin karena anda telah meletakkan fondasinya. Jika anda tidak meletakkan fondasinya, yaitu cintakasih, yaitu kebajikan, yaitu kebaikan, yaitu belas kasihan yang sungguh di dasar seluruh jiwa raga anda, jika anda tidak meletakkan fondasi itu, maka keheningan anda hanyalah merupakan akhir dari kebisingan belaka.

Lalu terdapatlah segala macam persoalan obat bius. Di India di jaman kuno, terdapat semacam zat yang disebut "soma". Ini adalah semacam jamur yang mereka minum air perasannya dan menghasilkan ketenangan atau segala macam pengalaman khayali (hallucination); pengalaman-pengalaman itu adalah hasil dari beban pengaruh. (Semua pengalaman seperti itu adalah hasil dari beban pengaruh; jika anda percaya tentang Tuhan; namun kepercayaan berdasarkan pada rasa takut dan semua kesengsaraan dari konflik; tuhan anda adalah hasil dari rasa takut anda sendiri. Dan demikianlah, pengalaman tentang Tuhan yang paling hebat tak lain adalah proyeksi anda sendiri). Namun mereka telah kehilangan rahasia dari jamur itu, benda aneh yang disebut soma itu. Semenjak itu di India, seperti di sini pula, terdapat bermacam-macam obat bius, hashish, LSD, mariyuana, anda tahu masih banyak semacam itu, tembakau, minuman keras, heroin. Juga terdapat puasa. Jika anda berpuasa, terjadilah aksi-aksi kimiawi tertentu yang menimbulkan suatu kejernihan istimewa dan terdapat kenikmatan didalamnya.

Jika kita dapat menghayati suatu kehidupan yang indah tanpa obat bius, mengapa kita menggunakannya? Akan tetapi mereka yang telah menggunakan obat bius menceritakan kepada kita bahwa terjadi perubahan-perubahan istimewa; kekuatan (vitalitas) tertentu, suatu enersi timbul dan ruang antara si pengamat dan yang diamati lenyap; benda-benda nampak lebih jelas. Seorang pecandu obat bius bercerita bahwa dia memakai obat bius apabila dia pergi ke museum, karena dengan demikian dia melihat warna-warna lebih cemerlang daripada biasanya. Akan tetapi anda dapat melihat warna-warna tadi secemerlang itu tanpa rnenggunakan obat bius apabila anda mencurahkan seluruh perhatian, apabila anda mengamatinya tanpa ruang antara anda sebagai pengamat dan benda yang di amati. Apabila anda menggunakan obat bius anda tergantung kepadanya dan cepat atau lambat obat bius itu akan menimbulkan segala macam akibat yang merusak.

Maka terdapatlah disitu — puasa, obat bius, yang diharapkan akan memuaskan keinginan untuk pengalaman-pengalaman luar biasa, yang akan menghasilkan segala yang anda inginkan. Dan apa yang diinginkan adalah suatu hal yang begitu remeh; suatu pengalaman kecil yang tak berarti, yang ditiup menjadi sesuatu yang luar biasa. Maka seorang bijaksana, seorang yang telah mengamati kesemuanya ini, menyingkirkan semua rangsangan, dia mengamati diri sendiri dan mengenal diri sendiri. Mengenal diri sendiri adalah permulaan dari kebijaksanan dan pengakhiran dari duka cita.

Penanya: Di dalam perhubungan yang benar, apakah kita sungguh menolong orang lain? Apakah itu cukup hanya mencinta mereka?

Krishnamurti: Apakah perhubungan itu? Apa yang kita maksudkan dengan perhubungan? Apakah kita berhubungan dengan seseorang? — kecuali hubungan berdarah? Apa yang kita maksudkan dengan kata "perhubungan?" Apakah kita berhubungan dengan sesuatu kalau setiap orang dari kita hidup dalam pengasingan diri —pengasingan dalam arti kata keaktifan yang bersumber kepada diri sendiri, setiap orang dengan persoalan masing-masing, rasa takut masing-masing, keputus-asaan masing-masing, keinginan masing-masing untuk di penuhi — yang merangkum semua harta benda. Jika dia dianggap berhubungan dengan isterinya, dia telah menambah gambaran pikirannya. Adalah gambaran pikiran inilah yang saling berhubungan dan hubungan seperti itu di sebut cintakasih! Hubungan sejati hanyalah ada apabila gambaran pikiran, proses pengasingan diri berakhir; apabila anda tidak mempunyai ambisi terhadap isteri anda dan dia tidak mempunyai ambisi terhadap anda, apabila dia tidak memiliki anda atau anda memiliki dia, atau anda tergantung kepadanya atau dia kepada anda.
Apabila terdapat cintakasih, anda tidak akan bertanya apakah anda menolong atau tidak. Setangkai bunga ditepi jalan, dengan kecantikannya, dengan keharumannya, tidak minta kepada anda yang lewat untuk menghampiri dan menciumnya, untuk rnemandangnya, menikmatinya, melihat kecantikannya, kehalusannya, sifatnya yang mudah layu —bunga itu ada disitu untuk anda pandang atau tidak. Namun jika anda berkata, "Aku ingin menolong orang lain," itulah permulaan rasa takut, permulaan kejahatan.

San Diego College, 9 April 1970
                                                                                                
KEMBALI KE DIALOG