jkbanner

THE TEACHINGS OF J.KRISHNAMURTI   -   INDONESIAN WEBSITE



DIALOG

DIALOG :
Melihat dan Mendengarkan - Seni - Keindahan - Kesederhanaan Batin
- Citra - Masalah - Ruang

(Diambil dari buku Bebas Dari Belenggu Harapan)



Kita telah menyelidiki tentang sifat cinta dan kupikir telah sampai pada satu titik yang memerlukan penyelidikan yang lebih mendalam, suatu kesadaran murni yang jauh lebih besar tentang masalahnya. Kita telah menemukan bahwa bagi kebanyakan orang, cinta berarti rasa nyaman, rasa aman, sesuatu yang menjamin bahwa sisa hidupnya akan senantiasa dipenuhi oleh pemuasan emosional. Lalu muncullah seseorang seperti aku yang mengatakan: "Apakah itu benar-benar cinta?" dan menanyai Anda serta meminta kepada Anda untuk mengamati batin Anda sendiri. Lalu Anda berusaha untuk tidak melakukan hal itu karena itu sesuatu yang sangat mengganggu. Anda lebih senang berdiskusi tentang jiwa atau situasi politik atau ekonomi; tetapi, apabila Anda disudutkan untuk mengamati, Anda akan insaf bahwa yang selama ini Anda anggap sebagai cinta, sama sekali bukan cinta. Itu hanya suatu pemuasan timbal-balik, suatu pemerasan timbal-balik.

Bila aku berkata "Cinta tak berhari esok dan tak berhari kemarin", atau "Bila tak ada pusat, maka di situlah cinta", hal itu merupakan sesuatu yang nyata bagiku tetapi tidak bagi Anda. Anda mungkin akan mengutip kata-kataku itu dan menjadikannya sebuah resep, tetapi itu sama sekali bukan kenyataan. Hal itu harus Anda lihat sendiri. Tetapi untuk dapat melihat sendiri harus ada kebebasan untuk mengamati, kebebasan dari segala bentuk pengutukan, segala jenis penilaian, segala pernyataan setuju atau tak setuju.

Nah, mengamati ialah salah satu hal yang paling sukar dalam hidup. Begitu pula mendengarkan; mengamati dan mendengarkan itu sama. Bila penglihatan Anda tertutup oleh kekhawatiran-kekhawatiran Anda, Anda tak akan bisa melihat keindahan matahari terbenam. Kebanyakan dari kita telah kehilangan hubungan dengan alam. Peradaban kian lama kian banyak tertuju pada kota-kota besar. Kita makin lama makin menjadi orang kota, hidup dalam apartemen-apartemen yang sesak dan ruang yang kita miliki bahkan terlalu sempit untuk bisa memandang langit di malam ataupun pagi hari, dan karena itu kita kehilangan hubungan dengan banyak keindahan. Aku tak tahu apakah Anda pernah memperhatikan betapa sedikitnya di antara kita yang mengamati matahari terbit atau matahari terbenam, atau sinar bulan atau pantulan cahaya di atas air.

Karena kehilangan hubungan dengan alam, dengan sendirinya kita cenderung untuk mengembangkan kapasitas intelektual. Kita membaca banyak sekali buku-buku, pergi ke sejumlah besar museum dan konser, nonton televisi dan mempunyai banyak lagi hiburan lainnya. Kita tak habis-habisnya mengutip ide-ide orang lain, berpikir dan berbicara banyak sekali tentang kesenian. Mengapa kita begitu tergantung pada seni? Apakah itu suatu bentuk pelarian, atau perangsangan? Bila Anda berhubungan langsung dengan alam; apabila Anda mengamati gerak burung yang sedang terbang, melihat keindahan setiap gerak langit, mengamati bayangan-bayangan di atas bukit-bukit atau kecantikan pada wajah orang lain, apakah sekiranya Anda akan berkeinginan untuk pergi ke museum manapun untuk melihat lukisan apa pun? Barangkali karena Anda tak tahu bagaimana memandang segala sesuatu di sekitar Anda itulah, maka Anda lari ke salah satu macam obat bius guna merangsang Anda untuk melihat lebih baik.

Ada sebuah cerita tentang seorang guru agama yang setiap pagi biasa memberikan ceramah kepada murid-muridnya. Pada suatu pagi ia naik mimbar dan tepat pada saat ia hendak mulai, datanglah seekor burung kecil hinggap di jendela dan ia pun mulai bersiul. Ia bersiul sepenuh hatinya. Lalu berhentilah ia dan burung itu pun pergi terbang; lalu sang guru berkata: "Khotbah pagi ini selesai".

Menurut hematku, salah satu kesulitan kita yang terbesar ialah melihat untuk diri kita sendiri dengan sungguh-sungguh jelas, bukan saja segala sesuatu yang ada di luar tetapi juga yang ada di dalam kehidupan batin. Pada waktu kita berkata bahwa kita melihat sebuah pohon atau sekuntum bunga atau seseorang, apakah kita sungguh-sungguh melihatnya? Ataukah kita hanya melihat citra yang diciptakan oleh kata yang bersangkutan? Artinya, bila Anda memandang sebuah pohon atau segumpal awan pada suatu sore hari yang penuh kecerahan dan keriangan, apakah Anda melihatnya sungguh-sungguh, bukan hanya dengan mata dan intelek Anda, melainkan secara menyeluruh, selengkapnya?

Pernahkah Anda bereksperimen dengan mengamati sebuah benda yang objektif, seperti sebuah pohon misalnya, tanpa asosiasi apa pun, tanpa pengetahuan yang telah Anda dapatkan tentang pohon itu, tanpa prasangka, tanpa pendapat apa pun, tanpa kata-kata yang membentuk sebuah tirai antara Anda dan pohon itu dan yang mencegah Anda untuk melihat pohon itu dalam keadaan sesungguhnya? Cobalah itu dan lihat apa yang terjadi pada waktu Anda mengamati pohon itu dengan keseluruhan jiwa-raga Anda, dengan keseluruhan energi Anda. Di dalam kesungguhan itu Anda akan menemukan bahwa si pengamat tak ada sama sekali; yang ada hanyalah perhatian. Hanya pada waktu perhatian tak ada, maka yang mengobservasi dan yang diobservasi itu ada. Pada waktu Anda memandang sesuatu dengan perhatian sepenuhnya, di situ tak ada ruang bagi suatu konsepsi, rumusan atau kenangan. Ini satu hal yang penting untuk dimengerti, karena kita akan menyelami sesuatu yang memerlukan penyelidikan yang seksama.

Hanya batin yang bisa mengamati sebuah pohon atau bintang-bintang atau air sungai yang berkilauan dalam keadaan betul-betul bebas-diri itulah yang tahu apa yang disebut keindahan, dan pada waktu kita betul-betul melihat, maka kita berada dalam keadaan cinta. Pada umumnya kita mengetahui keindahan melalui pembandingan atau melalui rekayasa manusia, yang berarti bahwa kita memberikan sifat keindahan kepada satu objek tertentu. Aku melihat sesuatu yang kuanggap sebagai gedung indah, dan penghargaanku akan keindahannya ialah berkat pengetahuanku tentang arsitektur, dan karena aku telah memperbandingkannya dengan gedung-gedung lainnya yang pernah kulihat. Tetapi aku sekarang bertanya pada diriku sendiri: "Apakah ada keindahan tanpa objek?" Bila ada orang yang mengobservasi yang berperan sebagai sensor, yang mengalami, yang berpikir, maka keindahan tak ada, karena keindahan di situ adalah sesuatu yang eksternal, sesuatu yang diamati dan dinilai oleh orang yang mengobservasi. Tetapi, bila yang mengobservasi tak ada—dan ini membutuhkan meditasi, penyelidikan yang sangat dalam—maka di situ ada keindahan tanpa objek.

Keindahan terletak dalam penghapusan total dari yang mengobservasi dan yang diobservasi, dan penghapusan diri hanya bisa timbul bila ada kesederhanaan batin yang total—bukan kesederhanaan sang pendeta dengan kekerasannya, sanksi-sanksinya, peraturan-peraturan dan ketaatannya; bukan kesederhanaan dalam pakaian, ide, makanan dan tingkah laku, melainkan kesederhanaan suatu kehidupan yang sungguh-sungguh bersahaja, yang berarti kerendahan hati sepenuhnya. Maka tak ada pencapaian sukses, tak ada tangga yang harus dinaiki; yang ada hanyalah langkah pertama, dan langkah pertama itu adalah langkah abadi.

Misalkan Anda sedang berjalan sendirian atau dengan orang lain dan Anda berhenti bicara. Anda dikelilingi oleh alam dan tak ada gonggongan anjing, tak ada bunyi mobil lewat ataupun kepak burung sekalipun. Anda betul-betul tenang dan alam sekitar Anda pun sunyi senyap. Di dalam kesunyian yang dalam diri yang mengobservasi dan yang diobservasi—yaitu pada waktu yang mengobservasi tidak menerjemahkan yang diobservasi ke dalam pikiran—terdapat suatu sifat lain dari keindahan. Di situ baik alam sekitar maupun orang yang mengobservasi tak ada. Di situ terdapat suatu kesendirian batin yang seutuhnya, selengkapnya. Ia sendirian bukan terasing—sendirian dalam kesunyian, dan kesunyian itu adalah keindahan. Apabila Anda mencinta, adakah di situ orang yang mengobservasi? Yang mengobservasi hanya ada bila cinta itu keinginan dan kesenangan. Jika keinginan dan kesenangan tidak diasosiasikan dengan cinta, cinta itu bersifat mendalam. Ia, sebagai halnya keindahan, sesuatu yang sama sekali baru setiap hari. Sebagai yang telah kukatakan, cinta tak berhari kemarin dan tak berhari esok.

Hanya apabila kita melihat tanpa prasangka apa pun, tanpa citra, maka kita akan mampu berhubungan langsung dengan apa pun di dalam hidup. Semua hubungan kita sebenarnya bersifat khayali... artinya, didasarkan pada citra yang telah dibentuk oleh pikiran. Bila aku mempunyai citra tentang Anda dan Anda mempunyai citra tentang diriku, sudah sewajarnyalah bahwa kita tak dapat saling melihat keadaan kita masing-masing sebagaimana adanya. Yang kita lihat ialah citra-citra yang telah kita bentuk dari masing-masing kita, yang mencegah kita untuk berhubungan. Itulah sebabnya mengapa hubungan kita berhenti berfungsi.

Pada waktu aku berkata bahwa aku kenal Anda, maksudku ialah aku telah mengenal Anda kemarin. Aku tak mengenal Anda betul-betul di saat ini. Segala sesuatu yang kuketahui adalah citraku tentang Anda. Citra itu telah dibentuk menurut apa yang telah Anda katakan demi memujiku atau demi menghinaku, sesuai dengan apa yang telah Anda lakukan terhadapku. Citra itu dibentuk oleh semua memori yang kumiliki tentang Anda. Citra Anda tentang diriku telah terbentuk menurut cara yang sama. Citra-citra inilah yang saling berhubungan dan yang mencegah kita untuk mengadakan komunikasi yang sebenarnya.

Dua orang manusia yang telah hidup bersama untuk waktu yang lama masing-masing mempunyai citra tentang lainnya yang mencegah mereka untuk mempunyai hubungan dalam arti sebenarnya. Bila kita mengerti apa itu hubungan, kita dapat kerja sama, tetapi kerja sama itu tak mungkin timbul melalui citra, simbol, atau konsep ideologis. Hanya bila kita memahami hubungan yang sejati antara masing-masing kita, barulah cinta mungkin ada, dan cinta itu teringkari jika kita mempunyai citra. Karena itu, pentinglah untuk dimengerti, bukan secara intelektual melainkan secara aktual dalam kehidupan Anda sehari-hari, bagaimana Anda telah membangun citra tentang isteri Anda, pemimpin-pemimpin Anda, ahli-ahli politik Anda, tuhan-tuhan Anda. Tak ada yang Anda miliki selain sejumlah citra.

Citra-citra ini menciptakan ruang antara Anda dan sesuatu yang Anda observasi, dan di dalam ruang itu terdapat konflik. Jadi yang kini akan kita selidiki bersama ialah, apakah ada kemungkinan untuk bebas dari ruang yang telah kita ciptakan itu—bukan saja yang ada di luar, tetapi juga yang ada di dalam batin kita—yaitu ruang yang memecah-belah manusia dalam semua hubungannya.

Nah, perhatian yang Anda curahkan pada sebuah masalah itulah energi yang memecahkan masalah itu. Bila Anda memberikan perhatian Anda sepenuhnya—maksudku, dengan segala sesuatu yang ada pada Anda—maka di situ si pengamat tak ada sama sekali. Yang ada hanyalah keadaan memperhatikan yang merupakan energi murni, dan energi murni itu adalah bentuk tertinggi dari inteligensi. Sudah sewajarnyalah bahwa keadaan batin harus hening dan tenang. Keheningan dan ketenangan itu datang bila ada perhatian sepenuhnya, bukan ketenangan yang dihasilkan oleh disiplin. Keheningan total di mana baik yang mengobservasi maupun sesuatu yang diobservasi tak ada, merupakan bentuk tertinggi dari batin yang religius. Tetapi yang berlangsung dalam keadaan demikian itu tak terumuskan dalam kata-kata, sebab yang dikatakan itu bukanlah faktanya. Untuk mengetahuinya Anda harus mengalaminya sendiri.

Tiap masalah berkaitan dengan masalah lainnya begitu rupa hingga bila Anda dapat memecahkan satu masalah secara menyeluruh—tak peduli apa masalahnya—Anda akan melihat bahwa Anda akan mampu menghadapi dan memecahkan semua masalah lainnya dengan mudah. Yang kita bicarakan di sini sudah barang tentu masalah psikologis. Kita telah melihat bahwa masalah hanya terdapat dalam waktu, artinya, pada saat kita menghadapi masalah itu secara tidak menyeluruh. Jadi kita tidak hanya harus menyadari sifat dan struktur persoalan itu dan melihatnya secara menyeluruh, tetapi kita harus menghadapinya semenjak timbulnya, dan memecahkannya seketika itu juga, sehingga ia tak berurat berakar dalam batin. Bila kita membiarkan suatu persoalan berlarut sebulan atau sehari, ataupun selama beberapa menit, ia akan mengeruhkan batin kita. Karena itu, mungkinkah kita menghadapi sebuah masalah dengan segera tanpa distorsi sedikit pun dan pada saat itu juga menjadi bebas darinya secara menyeluruh, tanpa membiarkan memori, noda sekecil apa pun tertinggal dalam batin? Memori adalah citra yang kita bawa terus ke mana-mana. Citra inilah yang berhadapan dengan benda luar biasa yang disebut hidup dan karena itulah timbul kontradiksi dan kemudian konflik. Hidup adalah sesuatu yang benar-benar nyata. Hidup bukan sebuah abstraksi. Pada waktu Anda menghadapinya dengan citra, timbullah masalah.

Apakah mungkin menghadapi setiap masalah tanpa jarak ruang-waktu, tanpa jurang pemisah antara diri kita dan sesuatu yang kita takuti? Itu hanya mungkin bila yang mengobservasi—yaitu yang membangun citra, yang merupakan kumpulan memori dan ide, serta merupakan simpul abstraksi itu—tidak berkontinuitas.

Apabila Anda mengamati bintang-bintang, di situ ada Anda yang mengamati bintang-bintang di langit. Langit itu bertaburkan bintang-bintang yang gemerlapan; udara pun sejuk; dan di situ ada Anda, yang mengobservasi, yang mengalami, yang memikir—Anda dengan hati Anda yang luka; Anda, satu pusat yang menciptakan ruang. Anda tak akan paham tentang ruang yang ada antara diri Anda dan bintang-bintang, antara diri Anda dan isteri atau suami, atau sahabat Anda, karena Anda belum pernah mengamati tanpa citra. Itulah sebabnya mengapa Anda tak tahu apa itu keindahan atau apa itu cinta. Anda berbicara tentang itu, menulis tentang itu, tetapi Anda belum pernah mengetahuinya kecuali mungkin pada saat ada penghapusan-diri total yang jarang Anda alami. Selama ada sebuah pusat yang menciptakan ruang di sekelilingnya, tak mungkin ada cinta atau keindahan. Apabila pusat dan keliling tak ada, terdapatlah cinta. Dan pada saat Anda mencinta Anda adalah keindahan.

Apabila Anda menatapi wajah seseorang di depan Anda, Anda memandangnya dari sebuah pusat, dan pusat itu menciptakan ruang yang ada antara pribadi dan pribadi. Itulah sebabnya hidup kita menjadi begitu kosong dan tidak berperasaan. Anda tak dapat mengembangkan cinta atau keindahan, ataupun mengarang kebenaran. Tetapi, bila Anda senantiasa sadar tentang apa yang sedang Anda lakukan, maka Anda dapat mengembangkan kesadaran dan dari kesadaran itu Anda akan mulai melihat sifat dari kesenangan, keinginan, kesengsaraan, kesepian dan kebosanan manusia yang tiada bandingnya. Maka, barulah Anda mulai menemukan benda yang disebut "ruang" itu.
Pada waktu ada ruang di antara Anda dan objek yang Anda amati, Anda akan tahu bahwa di situ tak ada cinta, dan tanpa cinta, betapapun keras Anda berusaha untuk mengubah dunia atau membentuk tata-kehidupan masyarakat yang baru atau betapapun banyaknya Anda berbicara tentang perbaikan, Anda hanya akan menciptakan kesusahan yang besar. Semua itu terserah Anda. Tak ada pemimpin, tak ada guru, tak ada seorang pun yang bisa memberitahu Anda tentang apa yang harus Anda perbuat. Anda seorang diri dalam dunia yang gila dan ganas ini.


KEMBALI KE DIALOG