jkbanner

THE TEACHINGS OF J.KRISHNAMURTI   -   INDONESIAN WEBSITE



DIALOG

DIALOG : KEPERCAYAAN
[Dari buku Mendesaknya Kebutuhan Perubahan Bab 21]



Penanya: Saya tergolong orang yang sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan. Di India saya menjadi pengikut salah seorang orang suci besar dan modern, yang karena kepercayaannya kepada Tuhan, telah menimbulkan perubahan politik yang besar di sana. Di India, seluruh penduduknya hidup sesuai kehendak Tuhan.
Saya telah mendengar bahwa Anda menolak kepercayaan, maka boleh jadi Anda tidak percaya kepada Tuhan. Tetapi Anda adalah orang yang religius, oleh sebab itu dalam jiwa Anda pasti ada semacam perasaan mengenai Yang Maha Agung. Saya pernah menjelajahi seluruh India dan beberapa negara Eropa, meninjau biara, gereja dan masjid dan di mana-mana saya dapati kepercayaan yang sangat kuat, keharusan untuk percaya kepada Tuhan yang diharapkan adalah pembentuk kehidupan manusia. Sekarang karena Anda tidak percaya kepada Tuhan, meskipun Anda orang yang religius, bagaimanakah sebenarnya kedudukan Anda sehubungan dengan persoalan ini? Mengapa Anda tidak percaya? Adakah Anda seorang atheis? Seperti Anda ketahui, dalam Hinduisme Anda bisa menjadi theis atau pun atheis, namun tetap disebut orang Hindu yang baik. Tentu saja lain lagi halnya dengan orang Kristen. Jika Anda tidak percaya kepada Tuhan, Anda tidak bisa menjadi seorang Kristen.  Tapi itu bukan masalah pokok. Pokok persoalannya ialah bahwa saya datang untuk mengharapkan penjelasan Anda mengenai kedudukan Anda dan membuktikan kebenaran sikap itu kepada saya. Orang mengikuti Anda dan oleh sebab itu Anda memikul tanggung jawab, karenanya saya menantang Anda dengan cara ini.

Krishnamurti: Marilah pertama-tama kita jelaskan persoalan yang disebutkan terakhir tadi. Tidak ada penganut dan saya tidak memikul tanggung jawab terhadap Anda atau terhadap mereka yang mendengarkan ceramah saya. Saya bukan pula seorang Hindu atau apapun lainnya, sebab saya tidak termasuk kelompok apapun, baik yang religius maupun yang lainnya. Kita masing-masing harus menjadi pelita penerang untuk diri kita sendiri. Oleh sebab itu tidak ada guru dan tidak ada murid. Hendaklah hal ini benar-benar dipahami sejak awal, sebab kalau tidak orang akan terpengaruh, orang menjadi budak propaganda dan bujukan. Sebab itu, segala sesuatu yang diucapkan sekarang ini bukanlah dogma atau kepercayaan atau bujukan : salah satu dari dua, kita sama-sama bertemu dalam pemahaman atau tidak. Sekarang. Anda menyatakan dengan tegas sekali bahwa Anda percaya kepada Tuhan dan barangkali melalui kepercayaan ini Anda ingin mengalami sesuatu yang dinamakan keTuhanan. Kepercayaan mengandung berbagai hal. Ada kepercayaan pada fakta-fakta yang mungkin Anda belum pernah melihatnya, tapi dapat membuktikan benar tidaknya, misalnya adanya kota New York atau menara Eiffel. Lalu, Anda mungkin percaya bahwa isteri Anda setia meskipun Anda tidak mengetahuinya sungguh. Mungkin saja ia tidak setia dalam hatinya, namun Anda percaya bahwa isteri Anda setia karena Anda tidak pernah melihat dengan mata kepala sendiri ia pergi dengan orang lain; barangkali saja ia membohongi Anda dalam hatinya sehari-hari, dan Anda pasti berbuat demikian juga. Bukankah Anda percaya akan reinkarnasi, sekalipun tidak bisa dipastikan bahwa itu ada? Tapi bagaimanapun juga, kepercayaan itu tidak ada kebenarannya dalam kehidupan Anda, bukan? Semua orang Kristen percaya bahwa mereka harus mencinta tapi nyatanya mereka tidak mencinta - sama saja dengan siapa pun lainnya, mereka membunuh, baik secara fisik maupun secara psikologis. Ada orang yang tidak percaya kepada Tuhan tetapi perbuatannya baik. Ada pula orang yang percaya kepada Tuhan dan membunuh demi kepercayaan itu; ada pula yang bersiap-siap untuk berperang demi tuntutannya akan perdamaian, dan lain sebagainya. Maka orang harus bertanya-tanya pada diri sendiri apa pula perlunya orang percaya pada apa pun, meskipun ini tidak berarti mengingkari misteri kehidupan yang luar biasa itu. Akan tetapi kepercayaan adalah satu hal dan “apa adanya” adalah sesuatu yang lain. Kepercayaan adalah sebuah kata, buah pikiran dan ini bukanlah benda sesungguhnya, seperti halnya nama Anda bukanlah Anda sesungguhnya..
Dengan pengalaman Anda berharap bisa menyentuh kebenaran dari kepercayaan Anda, untuk membuktikannya  pada diri Anda sendiri, tetapi kepercayaan ini mempengaruhi pengalaman Anda. Bukannya pengalaman itu datang untuk membuktikan benarnya kepercayaan, tapi kepercayaan itulah yang melahirkan pengalaman. Kepercayaan Anda kepada Tuhan akan memberikan kepada Anda pengalaman sesuai dengan apa yang Anda namakan Tuhan. Anda hanya akan mengalami apa yang Anda percayai dan selain itu tidak. Dan kepercayaan ini membuat pengalaman Anda tidak sah, tidak benar. Orang Kristen akan melihat si perawan, bidadari dan Kristus, dan orang Hindu akan melihat dewa-dewa serupa dalam jumlah yang luar biasa. Orang Islam, orang Buddhis, orang Yahudi, dan orang Komunispun sama saja. Kepercayaaan menciptakan pengalaman yang dianggapnya sebagai bukti. Yang penting bukanlah apa yang Anda percaya, tapi hanyalah mengapa Anda percaya. Mengapa Anda percaya? Dan apa bedanya bagi apa yang senyatanya ada, apakah Anda percaya pada ini atau itu ? Fakta tidak terpengaruh oleh percaya atau tidak percaya. Maka orang harus mempertanyakan mengapa orang percaya pada sesuatu; apakah itu yang melandasi kepercayaan? Adakah itu rasa takut, adakah itu ketidakpastian hidup, rasa takut akan apa yang tidak kita kenal, kurangnya rasa aman dalam dunia yang senantiasa berubah-ubah ini? Adakah itu rasa tidak pasti dalam antar-hubungan, ataukah karena dihadapkan pada keluasan kehidupan tapi tidak memahaminya, orang lantas menutup dirinya dalam tempat perlindungan kepercayaan? Jadi, sekiranya saya boleh menanyakannya kepada Anda, jika Anda sama sekali tidak punya rasa-takut, apakah Anda akan punya kepercayaan?

Penanya: Saya tidak begitu yakin bahwa saya merasa takut, tapi saya mencintai Tuhan dan cinta inilah yang membuat saya percaya kepadanya.

Krishnamurti: Apakah Anda bermaksud mengatakan bahwa tidak ada rasa-takut dalam diri Anda? Dan oleh karenanya Anda tahu apakah cinta-kasih itu?

Penanya: Saya telah mengganti rasa takut dengan cinta-kasih, maka bagi saya rasa takut itu tidak ada, dan sebab itu kepercayaan saya tidak dilandasi rasa-takut.

Krishnamurti: Dapatkah Anda menggantikan rasa-takut dengan cinta-kasih? Apakah itu bukan kerjanya pikiran yang takut, dan karenanya menutupi rasa-takutnya itu dengan kata-kata yang disebut cinta, lagi-lagi suatu kepercayaan? Anda telah menutupi rasa-takut itu dengan sebuah kata dan Anda lekat pada kata itu, sambil mengharapkan rasa-takut itu akan hilang.

Penanya: Yang Anda katakan itu sungguh-sungguh mengganggu batin saya. Saya tidak begitu yakin bahwa saya mau meneruskan percakapan ini, sebab kepercayaan saya dan cinta-kasih saya telah menunjang dan membantu saya untuk menjalani suatu kehidupan yang baik. Dengan dipertanyakannya kepercayaan saya ini timbul rasa kacau dan terus terang saja, saya takut.

Krishnamurti: Jadi disitu ada rasa-takut. Anda telah mulai menemukannya untuk Anda sendiri. Inilah yang mengganggu batin Anda. Kepercayaan timbul dari rasa takut dan merupakan hal yang paling merusak. Orang harus bebas dari rasa takut dan dari kepercayaan. Kepercayaan memecah belah umat manusia, membuat orang menjadi keras, membuat orang saling membenci dan memupuk keinginan untuk perang. Secara tidak langsung, dengan rasa segan, Anda telah mengakui bahwa rasa takut melahirkan kepercayaan. Bebas dari rasa takut itu perlu untuk menghadapi fakta adanya rasa takut. Kepercayaan seperti halnya cita-cita apa saja lainnya merupakan pelarian dari “apa adanya”. Bilamana tidak ada rasa takut maka batin berada dalam dimensi yang lain sama sekali. Maka barulah Anda bisa mengajukan pertanyaan mengenai ada atau tidak adanya Tuhan itu. Batin yang diliputi kabut rasa takut atau kepercayaan apa saja tidak akan mampu memahami apa pun, tidak akan mampu menginsafi apa kebenaran itu. Batin seperti itu hidup dalam khayalan dan sudah jelas tidak akan dapat menemukan Yang Maha Tinggi. Yang Maha Tinggi tidak ada sangkut pautnya dengan kepercayaan Anda atau kepercayaan orang lain, dengan pendapat atau kesimpulan.
Karena tidak tahu, Anda percaya; tapi mengetahui bukanlah tahu. Mengetahui berada dalam wilayah waktu yang sangat kecil dan pikiran yang berkata “Saya tahu“ itu terikat oleh waktu, dan karenanya tidak mungkin dapat memahami apa adanya. Bagaimanapun juga, manakala Anda berkata “Saya tahu istri saya dan sahabat saya“, sesungguhnya yang Anda ketahui hanya citra atau ingatan tentang mereka saja, dan ini adalah masa lampau. Oleh sebab itu Anda tak pernah dapat betul-betul mengetahui seseorang atau sesuatu apa pun. Anda tidak dapat mengetahui sesuatu yang hidup, hanya sesuatu yang telah mati saja. Jika Anda menyadari hal ini, Anda tak akan berpikir lagi mengenai antar-hubungan dalam istilah mengetahui. Jadi orang tak mungkin dapat mengatakan “Tuhan tidak ada,“ atau “Saya tahu Tuhan“. Keduanya adalah fitnah. Untuk memahami apa yang ada, kebebasan harus ada, tidak hanya kebebasan dari yang dikenal, tapi juga dari rasa takut akan yang tak dikenal.

Penanya: Anda bicara tentang apa yang "ada", namun Anda menyangkal kebenarannya mengetahui. Apakah artinya pemahaman ini, kalau itu bukan mengetahui?

Krishnamurti: Kedua itu berbeda sekali. Mengetahui selalu berhubungan dengan masa lampau dan oleh sebab itu Anda terikat pada masa lampau. Berbeda dengan mengetahui, pemahaman bukanlah suatu kesimpulan, bukan pula pengumpulan. Jika Anda telah mendengarkan, Anda telah memahami. Memahami adalah perhatian. Apabila Anda memperhatikan sepenuhnya, Anda mengerti. Maka memahami rasa-takut adalah berakhirnya rasa-takut. Dengan demikian kepercayaan Anda tidak lagi menjadi faktor yang utama; memahami rasa takut adalah yang utama. Manakala tidak ada rasa takut, kebebasan ada di situ. Maka barulah orang bisa menemukan apa yang benar. Apabila apa “yang ada“ itu tidak di-distorsi oleh rasa takut, maka apa “yang ada“ itu benar, "Ada" bukanlah kata "ada". Kebenaran tidak dapat diukur dengan kata-kata. Cinta kasih bukanlah kata-kata, bukan kepercayaan, bukan pula sesuatu yang bisa Anda tangkap lalu mengatakan “Ini milikku“. Tanpa cinta kasih dan keindahan, yang Anda namakan Tuhan sama sekali tidak ada artinya.


KEMBALI KE DIALOG