jkbanner

THE TEACHINGS OF J.KRISHNAMURTI   -   INDONESIAN WEBSITE



DIALOG

DIALOG :  KEHIDUPAN YANG RELIGIUS
(Diambil dari buku Mendesaknya Kebutuhan Perubahan)

Penanya: Saya ingin tahu apakah arti kehidupan yang religius itu. Saya pernah tinggal dalam biara selama beberapa bulan, bermeditasi, menjalani kehidupan yang berdisiplin dan banyak sekali membaca. Saya pernah masuk ke berbagai kuil, gereja serta masjid. Saya sudah mencoba menjalani kehidupan yang sangat sederhana dan tanpa merugikan orang, mencoba tidak menyakiti orang atau binatang. Tentu saja itu belum mencakup keseluruhan makna kehidupan yang religius, bukan? Saya sudah berlatih yoga, mempelajari Zen dan mengikuti banyak disiplin yang bersifat religius.  Saya vegetarian dan tidak pernah makan daging. Seperti Anda lihat, saya menjadi semakin tua sekarang, dan saya telah hidup bersama beberapa orang suci di berbagai bagian dunia, tetapi entah bagaimana saya merasa bahwa semuanya ini barulah bagian luar dari hal yang sesungguhnya. Maka saya bertanya-tanya dalam hati apakah kita pada hari ini dapat berdiskusi tentang kehidupan religius menurut pengertian Anda.

Krishnamurti: Pada suatu hari seorang sanyasi datang menemui saya dengan hati yang sedih. Dia berkata bahwa ia telah bersumpah untuk hidup membujang dan telah meninggalkan dunia untuk menjadi pengemis, berkelana dari desa ke desa.  Akan tetapi nafsu seksnya begitu menguasainya sehingga pada suatu pagi ia telah mengambil keputusan untuk menghilangkan alat kelaminnya dengan jalan pembedahan. Untuk beberapa bulan lamanya ia menderita kesakitan yang terus menerus, tetapi entah bagaimana ia akhirnya sembuh dan bertahun-tahun kemudian ia menyadari sepenuhnya apa yang telah ia lakukan. Maka datanglah ia menemui saya dan di dalam ruangan kecil itu ia menanyakan apa yang sekarang, setelah badannya sendiri dirusaknya, bisa ia lakukan agar menjadi normal lagi - tentu saja bukan jasmaninya, melainkan rohaninya. Dia telah berbuat demikian karena kegiatan seks dianggap berlawanan dengan kehidupan religius. Seks dianggap duniawi, sesuatu yang tergolong dunia kenikmatan, yang menjadi pantangan bagi setiap sanyasi yang sejati, apapun akibatnya. Dia berkata, "Saya datang ke mari, merasa kehilangan segala-galanya, kejantanan saya telah tercabut. Saya telah bergulat dengan sengitnya melawan nafsu seks saya, berusaha mengendalikannya dan akhirnya terjadilah peristiwa yang mengerikan ini. Sekarang apakah yang bisa kuperbuat? Saya tahu bahwa apa yang telah kulakukan itu keliru. Energi saya sudah hampir hilang dan nampaknya hidup saya harus berakhir dalam kegelapan".  Dia memegangi tangan saya dan untuk beberapa saat lamanya kami duduk terdiam.

Inikah yang disebut kehidupan yang religius? Apakah menolak kenikmatan dan keindahan itu jalan menuju kepada kehidupan yang religius? Menolak indahnya langit dan bukit-bukit dan bentuk tubuh manusia, dapatkah itu menuju kepada kehidupan yang religius? Tetapi itu adalah kepercayaan bagi kebanyakan orang suci dan rahib. Mereka menyiksa dirinya sendiri dalam kepercayaan itu. Dapatkah batin yang tersiksa, yang sinting, yang kacau menemukan kehidupan yang religius? Namun demikian semua agama menegaskan bahwa satu-satunya jalan menuju kebenaran atau Tuhan atau apapun mereka menyebutnya, adalah melalui penyiksaan ini, distorsi ini. Mereka semua memperbedakan antara apa yang mereka namakan kehidupan yang religius atau spiritual dan apa yang mereka namakan kehidupan duniawi.

Orang yang hidup hanya untuk kenikmatan, dengan kadang-kadang diselingi duka cita dan kilasan kealiman, yang seluruh hidupnya diisi dengan kesenangan serta hiburan, orang yang demikian itu tentu saja orang yang mengutamakan keduniaan, sekalipun ia pandai, sangat terpelajar, dan mengisi hidupnya dengan pikiran orang lain ataupun pikirannya sendiri. Dan orang yang mempunyai bakat dan menggunakannya untuk kepentingan masyarakat, atau untuk kesenangannya sendiri dan memperoleh ketenaran dalam  mencurahkan bakatnya itu, orang macam itu pun pastilah mengutamakan keduniawian. Akan tetapi itu pun keduniawian jika orang pergi ke gereja atau ke kuil atau ke masjid untuk bersembahyang, sambil terendam dalam prasangka, kefanatikan, tanpa menyadari sama sekali kekerasan yang terkandung di dalamnya. Menjadi patriot, menjadi nasionalis, menjadi idealispun adalah keduniaan. Orang yang mengurung dirinya di sebuah biara - bangun pada jam-jam tertentu dengan sebuah buku di tangan, membaca dan berdo'a - ia pun duniawi. Dan orang yang sibuk dengan berbuat kebaikan, entah sebagai pembaru sosial atau misionaris sama saja dengan kaum politisi dalam hal memikirkan dunia. Pembagian antara kehidupan yang religius dan dunia adalah inti yang sesungguhnya dari keduniawian. Batin dari orang-orang ini semua - biarawan, orang suci, para pembaru - tidak jauh berbeda dengan batin orang yang hanya mau tahu hal-hal yang menyenangkan saja.

Jadi, penting sekali untuk tidak membagi kehidupan ke dalam yang duniawi dan yang tidak duniawi. Adalah penting untuk tidak membuat perbedaan antara yang duniawi dengan apa yang dinamakan religius. Tanpa adanya dunia kebendaan, dunia materi, kita tidak bisa berada di sini. Tanpa adanya keindahan langit dan pohon tunggal di atas bukit, tanpa adanya wanita yang lewat itu dan pria yang menunggang kuda itu, tidak mungkin ada kehidupan. Kita memperhatikan keseluruhan kehidupan, bukan sebagian yang khusus saja dari kehidupan yang di anggap religius sebagai lawan dari yang lain. Maka mulailah orang melihat bahwa kehidupan yang religius memperhatikan keseluruhannya dan bukan yang khusus.

Penanya: Saya mengerti apa yang Anda bicarakan. Kita harus menghadapi keseluruhan kehidupan. Kita tidak bisa memisahkan dunia dari apa yang dinamakan jiwa. Jadi persoalannya ialah : dengan bagaimanakah kita dapat bertindak religius terhadap segala hal dalam kehidupan?

Krishnamurti: Apa yang kita maksud dengan berbuat religius? Bukankah yang Anda maksudkan itu cara hidup yang didalamnya tidak ada pemisah-misahan, pemisah-misahan antara yang duniawi dan yang religius, antara apa yang seharusnya ada dan yang seharusnya tidak ada, antara saya dan Anda, antara suka dan tak suka? Pemisah-misahan ini adalah konfilk. Hidup penuh konflik bukanlah kehidupan yang religius. Kehidupan yang religius hanya mungkin dengan memahami konflik sedalam-dalamnya. Pemahaman ini adalah inteligensi. Inteligensi inilah yang bertindak benar. Apa yang oleh kebanyakan orang dinamakan inteligensi adalah ketangkasan belaka dalam suatu kegiatan teknik, atau kecerdikan dalam bidang usaha atau kecurangan politik.

Penanya: Maka pertanyaan saya benar-benar adalah bagaimana kita dapat hidup tanpa konflik, dan membangkitkan rasa kesucian yang sejati, bukan cuma kealiman yang timbul dari emosi belaka, kealiman yang terkondisi oleh suatu kandang keagamaan - tidak peduli betapapun tuanya dan di muliakannya kandang itu ?

Krishnamurti: Orang yang hidup tanpa terlalu banyak konf lik di suatu desa, atau bermimpi dalam gua di lereng bukit yang "keramat", pastilah tidak menjalani kehidupan yang religilis seperti yang sedang kita bicarakan ini. Mengakhiri konflik ialah salah satu hal yang, paling kompleks. Untuk itu di butuhkan pengamatan diri dan kepekaannya kesadaran akan hal yang lahiriah maupun yang batiniah. Konflik hanya bisa berakhir bila terdapat pemahaman akan kontradiksi didalam batin kita sendiri. Kontradiksi ini akan selalu ada selama tidak ada kebebasan dari yang dikenal, yaitu masa lampau. Bebas dari yang dikenal berarti hidup di saat sekarang tanpa adanya unsur waktu, dimana yang ada hanyalah gerak kebebasan ini, yang tidak dijamah oleh masa lampau, oleh yang di kenal.

Penanya: Apa yang Anda maksudkan dengan bebas dari yang dikenal ?

Krishnamurti: Masa lampau adalah segala memori yang kita himpun. Memori ini bertindak di saat sekarang dan menciptakan pengharapan serta rasa takut kita akan masa depan. Pengharapan dan rasa takut ini adalah masa depan psikologis : tanpa adanya pengharapan dan rasa takut, masa depan tidak ada. Jadi saat sekarang adalah bertindaknya masa lampau dan pikiran adalah gerak masa lampau ini. Bertindaknya masa lampau di saat sekarang menciptakan apa yang kita namakan masa depan. Tanggapan terhadap masa lampau terjadi di luar kemauan kita, tanpa kita panggil atau kita undang, tanggapan itu sudah ada sebelum kita mengetahuinya.

Penanya: Dalam hal tadi, bagaimanakah kita dapat membebaskan diri dari masa lampau?

Krishnamurti: Menyadari gerak ini tanpa pilih-pilih - sebab pilihan itu lagi-lagi sesuatu yang gerak masa lampau - ialah mengamati masa lampau pada saat ia berakhir. Pengamatan seperti itu bukanlah gerak masa lampau.  Mengamati tanpa citra pikiran adalah tindakan dimana masa lampau telah berakhir. Mengamati pohon tanpa adanya pikiran adalah tindakan tanpa hadirnya masa lampau. Mengamati berakhirnya masa lampau pun tindakan tanpa hadirnya masa lampau. Keadaan melihat adalah lebih penting daripada apa yang kita lihat. Menyadari masa lampau dalam pengamatan yang tanpa pilih-pilih itu tidak saja berarti bertindak secara lain, tapi hidup berbeda.  Dalam kesadaran ini memori bertindak tanpa rintangan, bertindak efisien. Religius berarti menyadari tanpa memilih-milih sedemikian rupa sehingga ada kebebasan dari yang dikenal, kendatipun yang dikenal - bertindak dimana pun ia harus bertindak.

Penanya: Akan tetapi yang di kenal, yaitu masa lampau, kadang-kadang masih bertindak saja kendatipun seharusnya sudah tidak; dia masih saja bertindak menjadi penyebab konflik.

Krishnamurti: Menyadari hal ini berarti pula berada dalam keadaan tidak bertindak terhadap masa lampau yang sedang beraksi. Jadi bebas dari yang dikenal adalah benar-benar kehidupan yang religius. Itu tidak berarti membuang yang dikenal, melainkan memasuki dimensi yang lain sama sekali, darimana yang dikenal itu diamati. Melihat tanpa pilih-pilih ini merupakan tindakannya cinta kasih. Kehidupan yang religius adalah tindakan ini, dan segenap kehidupan adalah tindakan ini, dan batin yang religius adalah tindakan ini. Jadi religi dan batin dan kehidupan dan cinta kasih adalah satu.*****


KEMBALI KE DIALOG