jkbanner

THE TEACHINGS OF J.KRISHNAMURTI   -   INDONESIAN WEBSITE



DIALOG

DIALOG : KETERTIBAN
(Diambil dari Jaringan Kerja Pikiran, Bab IV)



Ketertiban perlu dalam aktivitas kita sehari-hari; ketertiban dalam tindakan kita dan ketertiban dalam tata pergaulan seorang dengan lainnya. Orang harus mengerti bahwa kualitas ketertiban itu sendiri sesuatu yang lain sama sekali daripada kualitas disiplin. Ketertiban datang langsung dari belajar tentang did kita bukan menurut seorang filsuf atau seorang psikolog. Kita menemukan ketertiban bagi diri kita apabila kita bebas dari semua rasa keterpaksaan, dari semua rasa adanya daya-upaya untuk memperoleh ketertiban melalui suatu jalan khusus. Ketertiban itu datang secara wajar sekali. Dalam ketertiban itu terdapat kejujuran. Itulah ketertiban, bukan menurut satu pola, dan bukan saja di dunia lahiriah, yang begitu kacau keadaannya, melainkan di dalam batin kita sendiri di mana kita tidak jelas, di mana kita bingung dan tidak pasti. Belajar tentang diri kita sendiri adalah bagian dari ketertiban. Jika Anda mengikuti orang lain, betapapun arifnya, Anda tidak akan mampu mengerti diri Anda sendiri.

Untuk menemukan apa ketertiban itu kita harus mulai mengerti sifat dari tata hubungan kita. Hidup kita suatu gerak dalam tata hubungan kita; seberapapun orang mengira ia hidup sendirian, ia selalu berhubungan dengan sesuatu atau lainnya, dengan masa lampau ataupun dengan suatu citra yang diproyeksikan ke masa depan. Jadi, hidup itu suatu gerak dalam keterhubungan dan di dalam keterhubungan itu ada ketertiban. Kita harus memeriksa dari dekat mengapa kita hidup dalam ketidak-tertiban dalam keterhubungan kita dengan orang lain — betapapun intim atau dangkalnya hubungan itu.

Si pembicara tidak sedang mencoba untuk membujuk Anda untuk berfikir dalam satu arah tertentu, atau agak memaksa Anda dengan bujukan halus apa pun. Sebaliknya, kita bersama-sama memikirkan tentang masalah-masalah manusiawi kita dan menemukan seperti apa keterhubungan kita seorang dengan lainnya dan apakah kita bisa membawa ketertiban dalam tata hubungan kita. Untuk dapat mengerti makna sepenuhnya dari hubungan kita seorang dengan lainnya, betapapun akrab, atau tidak akrabnya, kita harus mulai mengerti mengapa otak menciptakan citra. Kita mempunyai citra tentang diri kita dan citra tentang orang lain. Mengapa setiap orang mem punyai sebuah citra tersendiri dan menyamakan dirinya dengan citra itu? Apakah citra itu perlu, apakah citra memberikan rasa aman kepada kita? bukankah citra itu menimbulkan pemisahan antara seorang manusia dengan lainnya?

Kita harus mengamati keterhubungan kita dengan istri, suami atau teman dari dekat; mengamati dari dekat sekali, bukan berusaha menghindarinya, bukan berusaha mengesampingkannya. Kita harus bersama-sama memeriksa dan mencari tahu mengapa manusia di seluruh dunia mempunyai mesin luar biasa yang menciptakan citra, lambang, pola ini. Apakah itu karena di dalam pola-pola, lambang-lambang dan citra-citra itu telah didapatkan keamanan yang mantap?

Jika Anda mengamati, Anda akan melihat bahwa Anda mempunyai citra tentang diri Anda, apakah itu sebuah citra tentang suatu kehebatan diri yang khayali yang bersifat sombong atau yang bersifat sebaliknya. Atau Anda telah mengumpulkan banyak sekali pengalaman, memperoleh banyak sekali pengetahuan, yang kemudian menciptakan citra itu, citra tentang scorang pakar. Mengapa kita mempunyai citra tentang diri kita sendiri? Citra itu memisah-misahkan orang. Jika Anda mempunyai citra tentang diri Anda sebagai orang Swiss atau orang Inggris dan sebagainya, maka citra itu bukan saja membuat distorsi dalam pengamatan Anda tentang kemanusiaan, tetapi juga memisahkan Anda dari orang lain. Dan di mana pun ada pemisahan, pemecahan, disitu pasti ada konflik seperti konflik yang ada di mana-mana di dunia, bangsa Arab lawan bangsa Israel, orang Muslim lawan orang Hindu, gereja Kristen yang satu lawan lainnya. Pemecahan bersifat kebangsaan dan pemecahan yang bersifat ekonomis, semua adalah buah ciptaan citra, konsep, ide dan otak berpegang teguh pada citra-citra ini mengapa? Apakah itu disebabkan oleh pendidikan kita, disebabkan oleh kebudayaan kita di mana individu itu yang paling penting dan dimana masyarakat kolektif merupakan sesuatu yang sama sekali lain daripada individu? Itulah bagian dari pendidikan kita sehari-hari. Bila orang mempunyai citra tentang dirinya sebagai orang Inggris atau Amerika, citra itu memberikan semacam rasa aman tertentu. Itu cukup jelas. Setelah menciptakan citra tentang diri sendiri, citra itu menjadi sesuatu yang semi-permanen; dibalik citra itu, atau di dalam citra itu, orang mencoba untuk menemukan rasa aman, rasa terjamin, satu bentuk perlawanan. Jika orang dalam keadaan berhubungan dengan orang lain, betapapun lembut, betapapun halus sifat hubungan itu, secara psikis atau fisik, selalu ada respons yang didasarkan pada citra. Jika orang menikah atau berhubungan intim dengan seseorang, maka terbentuklah sebuah citra dalam kehidupannya sehari-hari; apakah orang mengenal seseorang seminggu atau sepuluh tahun citra tentang orang itu secara perlahan-lahan terbentuk, tahap demi tahap, setiap reaksi diingat, ditambahkan kepada citra itu dan disimpan diotak sedemikian rupa hingga – mungkin secara fisik, seksual atau psikis --hubungan itu terjadi antara dua buah citra, citra tentang diri sendiri dan citra tentang orang lainnya.

Si pembicara tidak mengatakan sesuatu yang berlebihan, atau yang eksotik atau yang fantastik; ia sekedar menunjukkan bahwa citra-citra ini ada. Citra-citra ini ada dan orang tak pernah bisa mengenal orang lain selengkapnya. Jika orang menikah atau mempunyai pacar, orang tak akan pemah mengenalnya betul-betul; orang mengira ia mengenal pacarnya karena setelah hidup bersama dengan orang itu, dia telah mengumpulkan memori tentang berbagai macam peristiwa, pelbagai kejengkelan dan segala kejadian yang timbul dalam kehidupan sehari-hari; dan pihak lainnya pun mengalami sendiri dan citra reaksi-reaksi sendiri itu dicatat dalam otak. Peran citra-citra itu luar biasa pentingnya dalam kehidupan orang. Ruparupanya sedikit sekali diantara kita yang bebas dari citra bentuk apapun. Kebebasan dari citra-citra adalah kebebasan yang sesungguhnya. Di dalam kebebasan itu tidak ada pemisahan yang ditimbulkan oleh citra. Jika orang seorang Hindu, dilahirkan di India dengan segala beban pengaruh yang ditimpakan padanya, beban pengaruh ras, atau kelompok khusus dengan takhyulnya, dengan kepercayaan, dogma, ritual agamanya keseluruhan struktur masyarakat itu maka orang hidup dengan kumpulan citra itu, yang merupakan keterpengaruhannya. Dan betapapun banyak orang mungkin berbicara tentang persaudaraan, kesatuan, keutuhan, itu sekedar kata-kata kosong saja tanpa mempunyai makna dalam kehidupannya sehari-hari. Tetapi jika orang membebaskan diri dari semua keterpaksaan dari semua pengaruh segala tetek-bengek khayali itu, maka orang menghancurkan citra. Dan di dalam keterhubungan orang, apakah mungkin untuk tidak menciptakan citra sama sekali tidak mencatat suatu insiden yang barangkali menyenangkan atau menyakitkan, di dalam keterhubungan ini, tidak mencatat hinaan ataupun pujian, kata-kata yang mendorong ataupun yang tidak mendorong semangat? Mungkinkah itu untuk tidak mencatat sama sekali? Sebab jika otak selalu mencatat segala sesuatu yang terjadi, secara psikologis, maka otak tidak akan pernah bebas untuk tenang, tak akan pernah tentram, damai. Jika mesin otak bekerja sepanjang waktu ia menjadi aus. Ini jelas demikian. Inilah yang terjadi dalam hubungan antar kita jenis apapun hubungan itu dan jika selalu terjadi pencatatan tentang segala sesuatu maka otak secara perlahan-lahan mulai menjadi gersang dan itulah pada hakikatnya usia tua itu.

Jadi dalam menyelidiki kita sampai pada pertanyaan: Apakah dalam keterhubungan kita dengan segala reaksi dan kepelikannya, dengan segala respons esensialnya, ada kemungkinan untuk tidak mencatat, mengingat? Pengingatan dan pencatatan ini berlangsung terus-menerus. Kita bertanya apakah itu mungkin untuk tidak mencatat secara psikologis, tetapi hanya mencatat, apa yang mutlak perlu saja? Ada bidang-bidang tertentu dimana pencatatan diperlukan. Misalkan, orang harus mengingat segalanya yang perlu untuk belajar matematika. Jika aku mau menjadi insinyur aku harus mengingat semua matematika yang berkaitan dengan struktur dan sebagainya. Jika mau menjadi seorang ahli fisika aku harus mencatat segala sesuatu yang telah ditentukan sebagai kenyataan dalam bidang itu. Untuk belajar menyetir mobil aku harus mencatat. Tetapi apakah di dalam tata pergaulan kita perlu ada catatan psikologis, batiniah, barang sedikitpun? Kenangan akan peristiwa-peristiwa masa lampau, apakah itu cinta? Bila aku berkata kepada isteriku, ‘Aku cinta padamu', apakah itu keluar dari kenangan tentang segalanya yang pernah kamu alami bersama peristiwa-peristiwa, perjuangan, pergulatan, yang dicatat, disimpan dalam otak — apakah kenangan itu betul-betul cinta.

Jadi mungkinkah itu untuk hidup bebas dan tidak mencatat secara psikologis? Itu hanya mungkin apabila ada perhatian sepenuhnya. Apabila ada perhatian sepenuhnya maka di situ tidak ada pencatatan.

Saya tidak tahu mengapa kita selalu minta keterangan, atau mengapa otak kita tidak cukup cepat untuk menangkap, untuk mempunyai pengertian mendalam tentang keseluruhan dari sesuatu yang kita amati. Mengapa kita tidak dapat melihat benda ini, kebenaran dari semuanya ini, dan membiarkan kebenaran itu bekerja dan karena itu membersihkan papan tulis itu dan mempunyai otak yang sama sekali tidak mencatat secara psikologis? Tetapi kebanyakan makhluk rnanusia cenderung malas, lebih suka hidup dalam pola mereka yang lama, dalam kebiasaan-kebiasaan berpikir mereka yang khusus; apa pun yang baru mereka tolak karena mengira itu jauh lebih baik hidup dengan yang dikenal daripada dengan yang tak dikenal. Di dalam yang dikenal terdapat keselamatan -- paling tidak mereka mengira disitu ada keamanan, keselamatan maka mereka terus saja mengulang, bekerja dan berjuang di dalam bidang yang dikenal. Apakah kita dapat mengamati tanpa kerjanya seluruh proses dan permesinan memori?

Apakah cinta itu? Ini pertanyaan yang sangat rumit, kita semua merasa menaruh cinta pada sesuatu atau lain hal, cinta abstrak, cinta akan bangsa, cinta akan seseorang, cinta akan Tuhan, cinta berkebun, cinta makan terlalu banyak. Kita telah menodai kata cinta, begitu parahnya hingga kita perlu menyelidiki secara mendasar apa cinta itu. Cinta bukan sebuah ide. Cinta pada Tuhan sebuah ide, cinta pada sebuah lambang tetap saja sebuah ide. Bila anda pergi ke gereja dan berlutut dan berdoa, Anda sesungguhnya memuja, atau berdosa, pada sesuatu yang diciptakan oleh pikiran. Jadi, lihatlah apa yang terjadi, pikiran menciptakannya ini betul-betul fakta dan Anda memuja sesuatu yang diciptakan pikiran, yang berarti, Anda memuja, secara halus, diri Anda sendiri. Ini barangkali tampak sebagai pemyataan yang melanggar kesucian, tetapi itu fakta. Itulah yang terjadi diseluruh dunia. Pikiran menciptakan sebuah lambang dengan segala atribut lambang itu, yang romantis ataupun yang logis dan sehat; setelah menciptakannya Anda mencintainya, Anda menjadi sama sekali tidak toleran terhadap apa pun lainnya. Semua guru kebatinan, semua pendeta, semua struktur religius, berlandaskan fakta itu. Lihatlah betapa fatalnya hal itu. Pikiran menciptakan bendera, lambang sebuah negeri tertentu, lalu Anda berjuang untuk membelanya, Anda sating membunuh demi lambang itu, bangsa Anda mau menghancurkan bumi dalam persaingan melawan bangsa lain, dan begitulah bendera menjadi sebuah simbol cinta Anda. Kita telah hidup berjuta-juta tahun secara itu dan kita masih saja manusia-manusia yang luar biasa destruktif-nya, keras-nya, kejam-nya, sinis-nya.

Jika kita berkata kita mencintai orang lain, di dalam cinta itu terdapat keinginan, proyeksi-proyeksi menyenangkan dari pelbagai aktivitas pikiran. Orang harus menyelidiki apakah cinta itu keinginan, apakah cinta itu kenikmatan, apakah di dalam cinta ada rasa takut; sebab di mana ada rasa takut di situ pasti ada rasa benci, iri, cemas, rasa memiliki, mendominasi. Di dalam keterhubungan ada keindahan dan seluruh kosmos adalah sebuah gerak dalam keterhubungan. Kosmos itu tertib dan bila kita mempunyai tertib dalam diri kita, kita mempunyai tertib dalam keterhubungan kita dan karena itu ada kemungkinan timbulnya tertib dalam masyarakat kita. Jika kita menyelami sifat keterhubungan, kita menemukan bahwa tertib itu mutlak perlu, dan dari tertib itu datanglah cinta. Apakah keindahan itu? Anda melihat segarnya salju di gunung-gunung pagi ini, bersih, pemandangan yang elok. Anda melihat pohon-pohon berdiri sendiri-sendiri hitam berlatar-belakangkan warna putih itu. Memandangi dunia sekeliling kita, Anda melihat mesin-mesin menakjubkan, komputer yang luar biasa dengan keindahan khususnya itu, Anda melihat keindahan sebuah wajah, keindahan sebuah lukisan, keindahan sebuah syair Anda tampaknya mengenali keindahan di luar sana.

Dalam museum-museum atau bila Anda pergi ke suatu konser dan mendengarkan Beethoven, atau Mozart, maka ada keindahan yang besar tetapi selalu di luar sana. Di bukit-bukit, di lembah-lembah dengan kali-kalinya, dan terbangnya burung-burung dan kicau burung hitam di waktu subuh, terdapat keindahan. Tetapi apakah keindahan hanya ada di luar sana? Ataukah keindahan itu sesuatu yang hanya ada apabila si ‘aku' tidak ada? Bila Anda memandang gunung-gunung itu pada suatu pagi yang cerah, bersih berseri-seri berlatar-belakangkan langit biru, keanggunan gunung-gunung itu sendiri menghalau semua memori tentang diri Anda untuk sesaat. Maka keindahan lahiriah, kehebatan lahiriah, keagungan dan kekuatan gunung-gunung itu, menghapus bersih persoalan-persoalan Anda walaupun hanya untuk sesaat. Anda telah melupakan diri Anda. Apabila diri Anda lenyap sama sekali, keindahan ada. Tetapi kita tidak bebas dari diri kita, kita adalah orang-orang yang egois, yang memikirkan diri sendiri, dengan rasa penting diri atau dengan persoalan-persoalan kita, dengan kepedihan yang mendalam, kesusahan dan kesepian. Dari kesepian yang tak tertahankan kita menginginkan identifikasi dengan sesuatu dan lain hal lalu kita melekat pada sebuah ide, sebuah kepercayaan, pada seseorang, khususnya pada seseorang. Dalam ketergantungan muncullah semua persoalan kita. Di mana ada ketergantungan psikologis, maka mulailah ada rasa takut. Apabila Anda terikat pada sesuatu maka mulailah datang keburukan.

Keinginan adalah dorongan yang paling mendesak dan vital dalam hidup kita. Kita sedang membicarakan tentang keinginan itu sendiri, bukan keinginan akan sesuatu hal yang khusus. Semua agama telah mengatakan bahwa jika Anda ingin berbakti pada tuhan Anda harus mengalahkan keinginan, menghancurkan keinginan, mengontrol keinginan. Semua agama telah mengatakan: gantilah keinginan dengan sebuah citra yang diciptakan pikiran citra yang dimiliki kaum Kristiani, yang dimiliki kaum Hindu dan sebagainya. Mengsubstitusikan sebuah citra bagi yang sesungguhnya ada. Yang sesungguhnya ada ialah keinginan --nyala keinginan itu, dan mereka mengira bahwa orang dapat mengatasi keinginan itu dengan mengsubstitusikan sesuatu yang lain bagi keinginan itu. Atau, serahkan dirimu pada orang yang kau pikirkan sebagai pembimbing, juru selamat, guru kebatinanmu — yang lagi-lagi adalah aktivitas pikiran. Inilah yang selalu menjadi pola semua pikir keagamaan. Orang harus mengerti keseluruhan gerak keinginan; sebab sudah jelas ini bukan cinta, ataupun rasa kasih. Tanpa cinta dan kasih, meditasi sama sekali tak ada artinya. Cinta dan kasih mempunyai inteligensinya sendiri yang bukan inteligensi buah pikir yang cerdik.
Jadi pentinglah untuk mengerti sifat keinginan, mengapa keinginan telah memegang peran yang begitu luar biasa pentingnya dalam hidup kita; betapa keinginan mendistorsikan pandangan; betapa keinginan mencegah adanya kualitas cinta yang luar biasa. Yang penting ialah bahwa kita mengerti dan tidak menekan; janganlah mencoba mengontrol keinginan atau mengarahkannya ke satu arah khusus, yang Anda pikir dapat memberikan Anda kedamaian.

Mohon sclalu diingat bahwa si pembicara tidak sedang mencoba untuk memaksakan sesuatu pada Anda atau membimbing dan membantu Anda. Tetapi kita bersama-sama menjalani sebuah jalanan yang samar dan rumit. Kita harus saling mendengarkan untuk menemukan kebenaran tentang keinginan. Jika kita mengerti makna, arti, keutuhan, kebenaran keinginan, maka keinginan mempunyai nilai atau dorongan yang sama sekali lain dalam hidup kita.

Apabila kita mengamati keinginan, apakah kita mengamatinya sebagai orang luar mengamati keinginan? Ataukah kita mengobservasi keinginan selagi timbulnya keinginan itu? Bukannya keinginan sebagai sesuatu yang terpisah dari diri kita, kita adalah keinginan. Apakah Anda melihat perbedaannya? Atau kita mengamati keinginan, yang kita lakukan pada waktu kita melihat barang di etalase yang kita sukai, dan kita mempunyai keinginan untuk membelinya sehingga barang itu berbeda dari ‘aku', atau sebaliknya keinginan itu adalah ‘aku', sehingga di situ terdapat suatu persepsi akan keinginan tanpa si pengamat yang sedang mengamati keinginan.

Kita bisa memandang sebuah pohon. Pohon ialah sebuah kata yang membuat kita mengenali sesuatu yang berdiri di lapangan itu. Tetapi kita tahu bahwa kata ‘pohon' bukanlah pohonnya sendiri. Serupa halnya, isteri orang bukanlah kata itu. Tetapi kita telah membuat kata itu menjadi isteri orang. Saya tidak tahu apakah Anda melihat kepelikan dari semua ini. Kita harus mengerti dengan jelas sekali, dari permulaan, bahwa kata bukanlah bendanya. Kata ‘keinginan' bukanlah rasanya—perasaan luar biasa yang ada di balik reaksi itu. Jadi kita harus waspada sekali jangan sampai kita terjerat ke dalam kata. Lagi pula otak harus cukup aktif untuk menjaga jangan sampai obyek itu menciptakan keinginan — keinginan yang terpisah dari obyek itu. Apakah kita menyadari bahwa kata bukanlah bendanya dan bahwa keinginan tidak terpisah dari si pengamat yang mengamati keinginan? Apakah kita menyadari bahwa obyek mungkin menciptakan keinginan tetapi keinginan itu tidak tergantung pada obyek?

Bagaimana keinginan itu mekar? Mengapa terdapat energi yang begitu dahsyat dibalik keinginan itu? Jika kita tidak mengerti sifat keinginan secara mendalam, kita akan selalu berada dalam konflik seorang lawan lainnya. Kita mungkin menginginkan sesuatu hal dan isteri kita barangkali menginginkan hal lainnya dan anak-anak mungkin menginginkan sesuatu yang lain lagi. Maka kita selalu bertabrakan seorang dengan lainnya. Dan perang ini, pergulatan ini, disebut cinta, keterhubungan.

Kita bertanya, apakah sumber keinginan itu? Kita harus jelas sekali dalam hal ini, jujur sekali, sebab keinginan itu bersifat menipu sekali, sangat samar,kecuali jika kita mengerti akarnya. Bagi kita semua respons inderawi itu penting penglihatan, perabaan, perasa, penciuman, pencicipan, pendengaran? Dan respons suatu inderawi yang khusus mungkin bagi beberapa di antara kita lebih penting daripada respons inderawi lainnya. Jika kita artistik kita melihat segalanya secara khusus. Jika kita dilatih sebagai seorang teknisi maka respons-- respons inderawi kita menjadi lain, jadi kita tak pernah mengamati secara menyeluruh, dengan semua respons inderawi. Kita masing-masing agak khusus dalam respons kita, terpisah-pisah. Apakah mungkin untuk memberi respons yang menyeluruh dengan semua indera kita? Lihatlah pentingnya hal ini. Jika kita memberi respons menyeluruh dengan semua indera kita maka terjadilah eliminasi dari si pengamat sebagai sebuah pusat. Tetapi bila kita memberi respons pada suatu hal yang khusus menurut suatu cara yang khusus, maka dimulailah pemisahan itu. Selidikilah apabila Anda keluar dari tenda ini, pada waktu Anda memandang arus air sungai, cahaya kemilau di atas gerak lincah air, selidikilah apakah Anda dapat memandanginya dengan semua indera Anda. Jangan bertanya pada saya bagaimana melakukannya, sebab nanti itu menjadi bersifat mekanis. Tetapi didiklah diri Anda sendiri dalam hal memperoleh pengertian tentang respons inderawi yang menyeluruh.

Apabila Anda melihat sesuatu, melihat itu sendiri menimbulkan satu respons. Anda melihat sehelai baju hijau, atau gaun hijau, melihat itu membangkitkan respons. Lalu terjadilah kontak. Lalu dari kontak itu pikiran menciptakan citra tentang Anda dalam baju atau gaun itu, lalu timbullah keinginan. Atau Anda melihat sebuah mobil di jalan, bentuknya menawan, mengkilap sekali dan ada kekuatan yang besar di balik itu. Lalu Anda mengelilingi mobil itu, memeriksa mesinnya. Lalu pikiran menciptakan citra Anda memasuki mobil itu dan menjalankan mesin, menginjakkan kaki dan menyetir mobil itu. Begitulah keinginan dimulai dan sumber keinginan ialah pikiran yang menciptakan citra, sampai pada titik itu tidak ada keinginan. Ada respons-respons inderawi itu, yang wajar-wajar saja, tetapi kemudian pikiran menciptakan citra dan sejak saat itu keinginan mulai bergerak. Nah, mungkinkah bagi pikiran untuk tidak bangkit dan menciptakan citra? Inilah belajar tentang keinginan, dan hal itu sendiri adalah disiplin. Belajar tentang keinginan adalah disiplin, bukan pengendaliannya. Jika Anda betul-betul belajar tentang sesuatu hal, maka hal itu berakhir, tuntas. Tetapi jika Anda berkata Anda harus mengendalikan keinginan, maka Anda berada dalam bidang yang lain sama sekali. Apabila Anda melihat keseluruhan gerak ini Anda akan menemukan bahwa pikiran dengan citranya tidak akan turut campur; Anda hanya melihat saja, merasakan respons inderawi dan apa salahnya berbuat demikian?

Kita semua begitu tergila-gila pada keinginan, kita mau menyempurnakan diri melalui keinginan. Tetapi kita tidak melihat kekacauan yang diciptakannya di dunia keinginan untuk keselamatan individu, keberhasilan individu, sukses, kekuasan, prestise. Kita tidak merasa bahwa kita bertanggungjawab sepenuhnya atas segalanya yang kita perbuat. Jika kita mengerti keinginan itu apa, sifatnya, maka dimanakah tempat keinginan itu? Adakah tempat bagi keinginan bila ada cinta? Apakah cinta lalu sesuatu yang begitu di luar jangkauan kehidupan manusia sehingga cinta sebetulnya tidak ada nilainya sama sekali? Ataukah itu terjadi karena kita tidak melihat keindahan dan kedalaman, keagungan dan kesucian kehadiran cinta itu; karena kita tidak mempunyai energi, waktu untuk mempelajari, untuk mendidik diri kita sendiri, untuk mengerti apa cinta itu? Tanpa cinta dan kasih beserta inteligensinya, meditasi kecil sekali artinya. Tanpa keharuman itu sesuatu yang bersifat abadi tak mungkin diketemukan. Dan itulah sebabnya mengapa itu penting untuk membuat ‘rumah' tempat kita hidup, tempat keberadaan kita, tempat kita berjuang, betul-betul tertib.


19 Juli 1981


KEMBALI KE DIALOG