jkbanner

THE TEACHINGS OF J.KRISHNAMURTI   -   INDONESIAN WEBSITE



DIALOG

DIALOG : KETERGANTUNGAN
[Dari buku Mendesaknya Kebutuhan Perubahan Bab 20]



Penanya: Saya ingin memahami sifatnya ketergantungan. Saya melihat bahwa saya sendiri tergantung pada banyak hal - kepada wanita, pada bermacam-macam hiburan, pada minuman anggur yang baik, kepada isteri dan anak, kepada kawan, pada pendapat orang. Untunglah bahwa saya tidak lagi tergantung pada hiburan keagamaan, tapi saya tergantung pada buku bacaan saya untuk mendapatkan semangat dan pada percakapan yang menyenangkan. Saya melihat bahwa para remaja juga tergantung, barangkali tidak sebanyak saya, tapi mereka mempunyai ketergantungannya sendiri dalam bentuknya yang khusus. Saya pernah ke dunia Timur dan melihat betapa mereka disana tergantung pada guru dan keluarga. Di sana tradisi dimuliakan dan lebih mendarah-daging ketimbang di Eropa sini dan tentu saja, lebih-lebih lagi ketimbang di Amerika. Tapi kita semua nampaknya tergantung pada suatu sandaran, bukan hanya bersifat lahiriah saja, tapi lebih-lebih sebagai sandaran batin. Maka pikiran saya bertanya-tanya apakah memang mungkin untuk benar-benar bebas dari ketergantungan dan seharusnyakah kita bebas dari ketergantungan?

Krishnamurti: Menurut hemat saya pertanyaan Anda itu menyangkut soal rasa lekat yang psikologis. Makin kuat rasa lekat seseorang, makin kuat pula ketergantungannya. Merasa lekat tidak hanya pada orang saja tapi juga pada angan-angan dan pada benda. Orang bisa lekat pada lingkungan tertentu, pada negeri tertentu dan sebagainya.  Dan dari rasa lekat timbullah ketergantungan dan oleh sebab itu : penentangan.

Penanya: Mengapa penentangan?

Krishnamurti: Obyek rasa lekat saya adalah teritorial saya, atau daerah seks saya.  Kepentingan ini saya lindungi, dengan menentang sebarang bentuk gangguan dari orang lain. Saya juga membatasi kebebasan orang yang saya lekati dan membatasi pula kebebasan saya sendiri. Jadi rasa lekat adalah penentangan. Saya merasa lekat pada sesuatu atau pada seseorang. Rasa lekat itu adalah rasa memiliki; rasa memiliki itu penentangan, maka rasa lekat adalah penderitaan.

Penanya: Ya, saya mengerti,

Krishnamurti: Bentuk gangguan apa pun terhadap milik saya akan menimbulkan kekerasan, yang bersifat hukum atau yang bersifat psikologis. Jadi rasa lekat itu kekerasan, penentangan, pengurungan - mengurung diri sendiri dan mengurung obyek rasa lekat. Rasa lekat berarti: ini milik saya, bukan milikmu; jangan sentuh! Jadi hubungan ini adalah penentangan terhadap orang lain.  Seluruh dunia terbagi-bagi dalam milikku dan milikmu : pendapat saya, ketentuan saya, saran saya, Tuhan saya, negeri saya, - dan masih banyak lagi tetek-bengek semacam itu. Melihat semua kejadian ini, bukan sebagai sesuatu yang abstrak tetapi sebagai sesuatu yang sungguh-sungguh terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari, timbullah pertanyaan pada kita mengapa terdapat rasa lekat kepada orang, benda maupun angan-angan? Mengapa kita tergantung? Segenap perikehidupan adalah antar hubungan, dan semua antar hubungan berada dalam ketergantungan berikut kekerasannya, penentangan serta penguasaannya. Kita telah membuat dunia seluruhnya menjadi begini. Kalau kita merasa memiliki, kita harus menguasai. Kita berjumpa dengan keindahan, tumbuh rasa cinta, dan serta merta keadaan itu berubah menjadi rasa lekat, maka segala kesengsaraan inipun bermunculan dan hilanglah cinta kasih keluar lewat jendela. Kita lantas bertanya "Apakah yang terjadi pada cinta kita yang besar itu?" Inilah yang sungguh-sungguh terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Dan, setelah melihat semua ini, sekarang kita bisa bertanya : mengapa manusia selalu merasa lekat, tidak hanya pada sesuatu yang bagus saja, tetapi juga pada setiap bentuk khayalan dan pada begitu banyak angan-angan yang gila?
Kebebasan bukanlah keadaan kebalikan dari ketergantungan; kebebasan adalah keadaan yang positif yang tak mengenal ketergantungan. Tapi itu bukan suatu hasil, itu tidak mempunyai sebab. Ini harus dipahami dengan jelas sekali sebelum kita dapat memasuki persoalan mengenai mengapa manusia itu tergantung atau terjebak ke dalam perangkap rasa lekat beserta segala kesengsaraannya. Karena merasa lekat kita berusaha untuk memupuk suatu keadaan tak tergantung - yaitu satu bentuk penentangan yang lain.

Penanya: Maka apakah kebebasan itu? Anda mengatakan bahwa itu bukanlah peniadaan ketergantungan atau berakhirnya ketergantungan. Anda mengatakan bahwa itu bukanlah bebas dari sesuatu, melainkan bebas saja. Lalu apakah itu? Apakah itu suatu abstraksi atau memang suatu kenyataan?

Krishnamurti: Itu bukan sesuatu yang abstrak. Itu adalah keadaan batin di mana tidak ada penentangan dalam bentuk yang bagaimanapun. Itu tidak seperti sungai yang menyesuaikan diri dengan batu-batu besar di sana-sini, mengalir mengelilingi atau menerjang batu-batu itu. Dalam kebebasan ini tidak ada batu besar sama sekali, yang ada hanya geraknya air.

Penanya: Akan tetapi batu rasa lekat ada di situ, di dalam sungai kehidupan ini.  Kita tidak dapat begitu saja bicara tentang sungai lain yang tidak ada batu-batunya.

Krishnamurti: Kita tidak menjauhi batu besar itu atau menyatakan benda itu tidak ada. Pertama-tama kita harus memahami kebebasan. Itu bukan sungai seperti yang ada batu-batu besarnya.

Penanya: Saya masih tetap menghadapi sungai saya yang berbatu-batu, sebab itu saya datang menanyakannya kepada Anda, tidak mengenai sebuah sungai lain yang tidak dikenal dan tidak berbatu. Itu tidak berguna bagi saya.

Krishnamurti: Betul sekali. Tapi Anda harus memahami apa kebebasan itu untuk dapat memahami batu-batu rasa lekat Anda. Tapi hendaklah kita tidak secara membuta mengartikan sebuah kiasan. Keduanya harus kita renungkan, kebebasan dan rasa lekat.

Penanya: Apa hubungannya rasa lekat saya dengan kebebasan, atau kebebasan dengan rasa lekat saya?

Krishnamurti: Pada rasa lekat Anda terdapat perasaan sakit. Anda ingin bebas dari perasaan sakit itu, maka Anda memupuk rasa lepas dari kelekatan, yang merupakan penentangan dalam bentuk lain. Kebalikannya itu tidak mengandung kebebasan. Kedua kebalikan ini sama-sama tidak mengandung kebebasan, dan saling memperkuat. Yang Anda pentingkan ialah bagaimana bisa merasakan kenikmatannya rasa lekat tanpa merasakan kesengsaraannya. Anda tak akan bisa. Itulah sebabnya mengapa penting sekali untuk memahami bahwa kebebasan tidak terletak dalam upaya untuk lepas dari kelekatan. Dalam proses memahami rasa lekat terdapatlah kebebasan, bukan dalam pelarian menjauhi rasa lekat. Maka pertanyaan kita sekarang ialah, mengapa manusia itu merasa lekat, tergantung?
Karena merasa dirinya sebagai bukan apa-apa, karena dalam hatinya ia merasa sebagai tanah gersang, orang berharap bisa menemukan air melalui bantuan orang lain. Karena merasa hampa, miskin, susah tidak kecukupan, sama sekali tanpa perhatian atau kepentingan, orang berharap dapat diperkaya oleh orang lain.  Melalui cinta orang lain orang berharap dapat melupakan dirinya sendiri. Melalui keindahan orang lain, orang berharap bisa memperoleh keindahan. Melalui keluarga, melalui bangsa, melalui sang pengasih, melalui suatu kepercayaan yang fantastik, orang berharap bisa menutupi gurun pasir dengan bunga. Dan Tuhan adalah sang pengasih yang paling hebat. Jadi orang merasa tergantung kepada semua itu. Disitu terdapat rasa sakit dan rasa tidak pasti, dan gurun pasir itu pun nampak lebih tandus ketimbang sebelumnya. Tentu saja gurun itu tidak bertambah dan tidak pula berkurang tandusnya; keadaan ini tetap saja seperti semula, hanya saja orang tidak mau melihatnya selagi ia melarikan diri melalui suatu bentuk rasa lekat beserta rasa sakitnya, dan kemudian melarikan diri dari rasa sakit itu melalui pemupukan rasa tak lekat. Namun orang tetap saja dalam keadaan tandus dan hampa seperti semula. Maka daripada berusaha melarikan diri, baik melalui rasa lekat maupun rasa tidak lekat, tak dapatkah kita menjadi sadar akan fakta ini, fakta adanya kemiskinan dan ketidakcukupan yang dalam ini, pemencilan yang suram dan kosong ini? Inilah satu-satunya soal yang pokok, bukan soal rasa lekat atau ketidaklekatan, Dapatkah Anda melihatnya tanpa sedikit pun rasa menyalahkan atau menilai? Jika Anda bisa, apakah Anda melihatnya sebagai si pengamat yang melihat sesuatu yang diamati, atau melihatnya tanpa si pengamat?

Penanya: Apa yang Anda maksudkan dengan si pengamat ?

Krishnamurti: Apakah Anda memandang kepadanya dari suatu pusat beserta segala kesimpulan mengenai suka dan tak suka, pendapat, penilaian, keinginan untuk bebas dari kekosongan ini dan seterusnya - apakah Anda melihat ketandusan ini dengan pandangan yang berkesimpulan - ataukah Anda melihatnya dengan pandangan yang betul-betul bebas? Apabila Anda melihatnya dengan pandangan yang betul-betul bebas, Anda melihat tanpa si pengamat. Jika si pengamat tidak ada, maka apakah sesuatu yang diamati sebagai rasa kesepian, rasa hampa, rasa sedih itu ada?

Penanya: Apakah Anda bermaksud mengatakan bahwa pohon itu tidak ada manakala saya memandangnya tanpa kesimpulan, tanpa titik pusat, yaitu si pengamat?

Krishnamurti: Tentu saja pohon itu ada di sana.

Penanya: Mengapa rasa kesepian itu hilang tapi pohon itu tidak hilang apabila saya melihatnya tanpa si pengamat?

Krishnamurti: Karena pohon tidak diciptakan oleh si pusat, tidak diciptakan oleh pikiran si "aku".  Tapi pikirannya si "aku" dalam segala kegiatannya yang berpusat pada "aku" itu telah menciptakan rasa hampa ini, keterpisahan ini. Dan bilamana pikiran itu, tanpa pusat, melihat, maka berhentilah kegiatan berpusatkan si "aku" tadi. Jadi rasa kesepian tidak ada. Maka batin berfungsi dalam kebebasan. Dengan memandang kepada seluruh struktur kelekatan dan ketidaklekatan serta geraknya rasa sakit dan rasa nikmat, kita melihat bagaimana pikiran sebagai gerak si "aku" membangun gurun pasirnya sendiri dan pelariannya. Apabila pikiran yang berpusatkan si "aku" diam, maka tak ada gurun pasir dan tak ada pelarian.


KEMBALI KE DIALOG