jkbanner

THE TEACHINGS OF J.KRISHNAMURTI   -   INDONESIAN WEBSITE



DIALOG

DIALOG : KEKERASAN (VIOLENCE)
[Dari buku Bebas Kekerasan Bab 6]



Apa yang akan kita diskusikan pagi ini? Kata diskusi tidaklah benar, lebih tepat disebut suatu percakapan (dialogue). Pendapat-pendapat tidak akan membawa kita kemanapun dan kalau hanya menghanyutkan diri kedalam kepintaran intelektuil belaka akan mempunyai arti yang sangat sedikit, karena kebenaran tidak dapat ditemukan melalui tukar menukar pendapat atau ide. Maka jika kita ingin membicarakan bersama setiap problema (persoalan) haruslah berada di tingkat yang bukan intelektuil, emosionil atau sentimentil.

Penanya: Saya pikir perang melawan Komunis dipandang dari sudut tertentu dapat dibenarkan. Saya ingin mencari tahu dengan anda apakah saya benar atau salah. Anda harus mengerti, saya hidup sepuluh tahun di bawah Komunis, saya pernah berada di dalam sebuah kamp tawanan Rusia, saya juga pernah berada di dalam sebuah rumah penjara Komunis. Mereka hanya mengenal satu bahasa, yaitu Kekuasaan. Maka pertanyaan saya adalah apakah perang melawan Komunis ini suatu pembelaan diri ataukah bukan?

Krishnamurti: Saya percaya bahwa setiap kelompok yang menimbulkan perang selalu berkata bahwa itu adalah perang untuk membela diri. Selalu terdapat perang, baik menyerang maupun membela diri; namun terdapatlah perang yang telah menjadi suatu permainan aneh dan mengerikan selama berabad-abad. Dan kita celakanya, kita yang disebut terpelajar dan berbudaya, kita hanyut dalam cara pembunuhan yang paling buas. Maka dapatkah kita memasuki persoalan tentang apakah kekerasan yang mendalam ini, keganasan (aggression) dalam diri rnanusia ini? — dapatkah kita melihat apakah mungkin untuk bebas dari itu?

Terdapat mereka yang berkata, "Dalam keadaan apapun jangan melakukan kekerasan;" itu berarti melaksanakan kehidupan penuh damai sungguhpun dikelilingi oleh orang-orang yang agresif, keras; itu berarti suatu macam pusar (nucleus) di tengah-tengah orang yang buas, kejam, keras. Akan tetapi apakah batin membebaskan diri sendiri dari timbunan kekerasan, kekerasan berbudaya, kekerasan pembelaan diri, kekerasan agresi, kekerasan persaingan, kekerasan dalam usaha menjadi ternama, kekerasan dalam usaha mendisiplin diri menurut suatu tauladan, kekerasan dalam usaha menjadi seorang tertentu, dalam usaha untuk menekan dan menindas diri sendiri, kejam terhadap diri sendiri, dalam usaha untuk tidak keras bagaimana batin dapat terbebas dari seluruh bentuk kekerasan macam itu?

Terdapat demikian banyak macamnya kekerasan/keganasan (violence). Apakah kita akan menyelidiki seluruh susunan (struktur) dari kekerasan? Dapatkah kita memandang kepada seluruh rangkaian (spectrum) dari kekerasan, tidak hanya kepada satu bagian saja daripadanya?

Sumber dari kekerasan adalah si "aku", si ego, si diri sendiri, yang mewujudkan dirinya sendiri dalam begitu banyak cara — dalam pemisahan, dalam usaha untuk menjadi atau jadi seorang seperti yang di inginkannya — yang memisahkan dirinya sendiri sebagai si "aku" dan "bukan aku", sebagai yang dibawah sadar dan yang sadar : si "aku" yang mempersamakan diri dengan keluarga atau tidak, dengan masyarakat atau tidak dan selanjutnya. Seperti sebuah batu di jatuhkan ke dalam telaga; ombaknya makin melebar, di tengah-tengahnya adalah si "aku". Selama si "aku" mempertahankan diri dalam bentuk apapun, sangat halus atau kasar, pasti ada kekerasan.
Akan tetapi dengan bertanya, "Apakah sebab pokok dari kekerasan?" dengan mencoba untuk menemukan apakah sebab dari kekerasan, tidaklah berarti mesti terlepas daripadanya.

Saya pikir, jika saya tahu mengapa saya kasar, saya akan mengakhirinya. Lalu saya rnenggunakan waktu berminggu, berbulan, bertahun, mencari sebabnya, atau membaca keterangan-keterangan yang diberikan oleh para ahli, tentang bermacam sebab dari kekerasan atau agresi namun pada akhirnya saya masih tetap saja keras. Maka apakah kita akan menyelidiki persoalan kekerasan ini melalui penemuan tentang sebab dan akibatnya? — ataukah kita akan mengambil seluruhnya dan memandangnya? Kita melihat bahwa sebab menjadi akibat dan akibat menjadi sebab — tidak ada sebab dan tidak ada akibat yang dapat dibedakan secara jelas — itu adalah suatu rantai, suatu sebab menjadi akibat dan akibat menjadi sebab — dan kita menyusuri proses ini tanpa batas. Namun jika kita dapat memandang kepada seluruh persoalan kekerasan ini kita akan memahaminya sedemikian penuh enersi sehingga kekerasan itu akan berakhir.

Kita telah membangun suatu masyarakat yang keras dan kita, sebagai manusia adalah keras/ganas; keadaan sekeliling, kebudayaan dalam mana kita hidup, adalah hasil dari usaha kita, hasil dari perjuangan kita; dari penderitaan kita, dari kekejaman kita yang dahsyat. Maka pertanyaan yang paling penting adalah Apakah mungkin kita mengakhiri kekerasan hebat dalam diri sendiri ini?
Itulah sesungguhnya yang menjadi persoalan.

Penanya: Apakah mungkin untuk merubah kekerasan.

Krishnamurti: Kekerasan adalah sesuatu bentuk enersi; kekerasan adalah enersi yang dipergunakan dalam suatu cara tertentu yang menjadi keganasan (aggression). Namun pada saat ini kita tidak sedang mencoba untuk merubah kekerasan melainkan untuk mengerti dan memahaminya sedemikian sempurna sehingga kita terbebas darinya; batin telah bebas dari kekerasan — apakah batin telah mengatasinya atau merubahnya, tidaklah begitu penting. Mungkinkah itu? — tidak mungkinkah itu? itu mungkin — semua kata-kata ini! Bagaimana kita pikir tentang kekerasan? Bagaimana kita memandang kepada kekerasan? Harap dengarkan pertanyaan ini : bagaimana kita tahu bahwa kita keras? Bila seseorang diliputi kekerasan, apakah orang sadar bahwa ia keras? Bagaimana kita mengetahui kekerasan? Soal mengetahui adalah sungguh ruwet. Bila saya berkata, "saya kenal (know) anda" apakah itu artinya "saya kenal" ? Saya kenal anda seperti adanya anda ketika saya bertemu dengan anda kemarin, atau sepuluh tahun yang lalu. Namun di antara sepuluh tahun yang lalu dan sekarang anda telah berubah dan saya telah berubah, karena itu berarti saya tidak kenal anda. Saya kenal anda hanya sebagai masa lalu, karena itu saya tidak pernah dapat berkata, "Saya kenal anda" — Haraplah dimengerti hal sederhana ini lebih dulu. Karena itu saya hanya dapat berkata, "Saya telah bersikap keras, namun saya tidak tahu apakah kekerasan itu sekarang." Anda rnengatakan sesuatu kepada saya yang menyakiti hati saya dan saya menjadi marah. Sedetik kemudian, anda berkata, "Saya telah marah". Pada saat kemarahan itu anda tidak mengenalnya, hanya kemudian baru anda mengenalnya. Anda harus menyelidiki susunan (struktur) dari pengenalan kembali (recognition) : jika ada tidak mengerti itu anda takkan dapat menjumpai kemarahan pada saat itu juga. Saya marah, namun saya insyaf akan hal ini sesaat kemudian. Keinsyafan itu adalah pengenalan kembali bahwa saya telah marah; keinsyafan ini terjadi setelah saya marah kalau tidak begitu saya tidak akan mengenalnya sebagai kemarahan. Lihatlah apa yang terjadi : pengenalan kembali mencampuri kenyataan. Saya selalu menterjemahkan kenyataan saat ini dalam saat yang lalu.

Maka dapatkah kita, tanpa menterjemahkan saat ini dalam istilah saat lalu, memandang kepada tanggapannya (response) secara baru, dengan jiwa yang segar? Anda memaki saya gila dan darah saya naik dan saya berkata "Kamu juga gila". Dan apa yang telah terjadi, di dalam diri saya, secara emosionil, secara batiniah? Saya mempunyai gambaran tentang diri saya sebagai sesuatu yang saya anggap patut, mulia, berharga; dan anda menghina gambaran itu. Adalah gambaran ini yang menjawab, yalah yang lapuk. Maka pertanyaan berikutnya adalah dapatkah tanggapannya itu tidak dari yang lapuk? — bisakah terdapat selingan antara yang "lapuk" dan kenyataan baru? — dapatkah yang lapuk meragu, sehingga membiarkan yang baru berwujud? Saya pikir disitulah terletak seluruh persoalannya.

Penanya: Apakah anda berkata bahwa semua kekerasan hanyalah pemisahan antara apa yang bukan dan apa adanya?

Krishnamurti: Tidak tuan. Marilah kita mulai lagi. Kita adalah keras. Dalam seluruh keadaan hidupnya, manusia telah bersifat keras dan masih keras. Saya ingin menemukan, sebagai manusia, bagaimana untuk mengatasi kekerasan ini, bagaimana untuk bebas daripadanya. Apa yang harus kita lakukan? Saya melihat apa yang telah dilakukan oleh kekerasan di dalam dunia, betapa kekerasan telah menghancurkan setiap bentuk hubungan, betapa kekerasan telah mendatangkan kesengsaraan hebat dalam diri sendiri, kedukaan — saya melihat semua itu. Dan saya berkata kepada diri sendiri, saya menghendaki suatu kehidupan yang sungguh damai dimana terdapat cintakasih yang berlimpah-limpah — semua kekerasan harus pergi. Sekarang apa yang harus saya lakukan? Pertama saya harus tidak menyingkir dari kekerasan; hal ini harus kita yakini benar.
Saya harus tidak lari dari kenyataan bahwa saya adalah keras — "melarikan diri" dalarn arti kata menyalahkan atau membenarkannya, atau memberinya nama sebagai kekerasan — pemberian nama adalah suatu bentuk dari menyalahkan, suatu bentuk dari membenarkan.
Saya harus menginsyafi bahwa batin harus tidak di selewengkan dari kenyataan akan kekerasan ini, tidak dengan cara mencari sebabnya ataupun menjelaskan tentang sebabnya, tidak dengan memberi nama pada kenyataan bahwa saya keras, tidak pula membenarkannya, menyalahkannya, mencoba untuk membebaskan diri dari kekerasan. Semua ini adalah bentuk-bentuk penyelewengan dari kenyataan akan kekerasan. Batin harus melihat seterang-terangnya bahwa tidaklah mungkin melarikan diri dari kekerasan; juga tidak harus ada latihan kemauan yang berkata, "Aku akan mengalahkannya" --- kemauan adalah intisari dari kekerasan itu sendiri”.

Penanya: Pada dasarnya, apakah kita sedang berusaha menemukan apakah kekerasan itu dengan rnenemukan ketertiban di dalamnya?

Krishnamurti: Tidak tuan. Bagaimana bisa terdapat ketertiban dalam kekerasan? — kekerasan adalah ketidaktertiban.
Haruslah tidak ada pelarian dari kekerasan dalam bentuk apa pun, tidak ada pembelaan bersifat intelektuil atau penjelasan — lihatlah betapa sukarnya ini; karena batin demikian penuh muslihat, demikian cerdik untuk lari karena dia tidak tahu harus berbuat apa dengan kekerasannya. Batin tidak dapat mengatasi atau merasa tidak mampu — karena itu ia lari. Setiap bentuk pelarian, penyelewengan, setiap bentuk pengelakan, menunjang kekerasan itu sendiri. Jika kita menginsyafi ini, batin dihadapkan dengan kenyataan dari "apa adanya" semata.

Penanya: Bagaimana anda dapat mengatakan bahwa itu adalah kekerasan jika anda tidak memberinya nama?

Krishnamurti: Apabila anda memberinya nama berarti anda menghubungkannya melalui nama itu dengan masa lalu, karena itu anda memandangnya dengan mata yang sudah di sentuh masa lalu, karena itu anda tidak memandangnya secara baru, itulah soalnya. Apakah anda menangkap intinya?
Anda memandang kepada kekerasan, membenarkan, berkata bahwa kekerasan adalah perlu demi untuk hidup di dalam rnasyarakat yang ganas ini, anda berkata bahwa kekerasan adalah sebagian dari alam — "Lihat, alam membunuh" — anda dibeban pengaruhi untuk memandang dengan batin menyalahkan, membenarkan atau melawan. Anda hanya dapat memandang kepada kekerasan dengan cara yang segar, baru, apabila anda menjadi sadar bahwa anda mempersamakan apa yang anda lihat dengan gambaran pikiran dari apa yang anda telah kenal dan bahwa karena itu anda tidak melihatnya secara baru. Maka timbullah pertanyaan: bagaimanakah bayangan pikiran ini terbentuk, apakah alatnya (mechanism) yang membentuk gambaran ini? Isteri saya berkata kepada saya, "Engkau seorang gila". Saya tidak menyukai ini dan makian itu meninggalkan suatu bekas dalam batin saya. Bekas-bekas ini adalah bayangan pikiran dari ingatan. Sekarang apabila dia berkata kepada saya, "Engkau seorang gila," jika pada saat itu juga saya waspada, memberi perhatian, maka tidaklah terdapat bekas sama sekali --- dia boleh jadi berkata benar.
Maka tidak adanya perhatian melahirkan gambaran pikiran; perhatian membebaskan batin dari gambaran pikiran. Ini sangat sederhana. Dengan cara yang sama, jika pada waktu saya marah saya mencurahkan seluruh perhatian, maka tidaklah terdapat kelengahan itu yang membiarkan masa lalu masuk dan mencampuri pengamatan sesungguhnya dari kemarahan pada saat itu juga.

Penanya: Bukankah itu merupakan suatu tindakan dari kemauan?

Krishnamurti: Kita telah berkata : "Kemauan dalam intinya adalah kekerasan." Marilah kita periksa apa adanya kemauan : "Aku ingin melakukan itu" — "Aku tidak mau mempunyai itu" —"aku akan melakukan itu" — aku menolak, aku menuntut, aku menginginkan, adalah bentuk-bentuk dari perlawanan. Apabila anda berkata, "saya mau itu", ini adalah suatu bentuk perlawanan dan perlawanan adalah kekerasan.

Penanya: Saya mengerti maksud anda ketika anda berkata bahwa kita telah menghindari persoalannya dengan cara mencari suatu jawaban; hal itu menjauhkan dari "apa adanya".

Krishnamurti: Maka saya ingin tahu bagaimana harus memandang kepada "apa adanya". Sekarang, kita sedang mencoba untuk mencari tahu apakah mungkin untuk mengatasi kekerasan. Kita berkata : "Jangan lari dari kekerasan; jangan menjauhi kenyataan pokok dari kekerasan". Pertanyaan telah diajukan "Bagaimana anda tahu bahwa itu adalah kekerasan?" — apakah anda mengetahuinya hanya karena anda telah mengenalnya kembali sebagai kekerasan yang lalu? Namun bila anda memandangnya tanpa memberi nama, tanpa membenarkan atau menyalahkan (yang kesemuanya adalah beban pengaruh masa lalu) maka anda memandangnya secara baru — bukan? Kalau sudah demikian, adakah itu kekerasan? Ini adalah satu di antara hal-hal yang paling sukar untuk dilakukan, karena seluruh kehidupan kita telah dibeban pengaruhi oleh masa lalu. Tahukah anda apa artinya hidup di saat ini?

Penanya: Anda berkata, "Bebaslah dari kekerasan" — hal itu mengandung arti yang jauh lebih luas; sampai bagaimanakah luasnya kebebasan?

Krishnamurti: Memasuki kebebasan; apa artinya itu? Terdapat semua kemarahan, kekecewaan dan perlawanan yang mendalam; batin juga harus bebas dari semua itu bukan? Saya bertanya dapatkah batin bebas dari kekerasan aktif disaat ini, bebas dari timbunan bawah-sadar dari kebencian, kemarahan, dendam, yang berada di situ, jauh di sebelah dalam? Bagaimana ini harus dilakukan?

Penanya: Jika kita bebas dari kekerasan dalam diri sendiri ini, kemudian kita melihat kekerasan di luar dari diri sendiri, apakah kita tidak merasa tertekan? Apa yang harus kita lakukan?

Krishnamurti: Apa yang harus kita lakukan adalah mengajar orang lain. Mengajar orang lain adalah pekerjaan termulia didunia — bukan untuk uang, bukan untuk simpanan bank anda yang besar, melainkan hanya mengajar, memberitahu kepada orang lain.

Penanya: Apakah cara yang paling mudah untuk …….   

Krishnamurti: Apakah cara yang paling mudah? . . . . (suara ketawa) . . Sebuah sirkus! Tuan, anda mengajar orang lain dan dengan mengajar berarti anda sendiripun belajar. Soalnya bukan lebih dulu anda telah belajar, menimbun, lalu anda memberitahu. Anda sendiri adalah keras; mengerti diri anda sendiri berarti membantu orang lain untuk mengerti dirinya sendiri, karena itu mengajar adalah belajar juga. Anda tidak melihat keindahan dari semua ini.
Marilah kita lanjutkan. Apakah anda tidak mengetahui dari hati anda apakah cintakasih itu? Bukankah telah menjadi jeritan manusia, selama ribuan tahun, untuk mencari tahu bagaimana dapat hidup penuh damai, bagaimana dapat memiliki cintakasih dan belas kasihan yang berlimpah-limpah? Itu hanya dapat terujud apabila terdapat kesadaran sesungguhnya dari "tanpa aku", anda tentu mengerti. Dan kita berkata : Pandanglah, untuk mencari tahu — baik itu dari kesepian, atau kemarahan, atau dendam — pandanglah, tanpa pelarian apapun. Pelarian adalah pemberian nama pada hal-hal itu, maka jangan memberi nama, pandanglah saja. Kemudian lihatlah tanpa memberi nama — apakah dendam itu ada.

Penanya: Apakah anda menasihatkan untuk menyingkirkan seluruh kekerasan, ataukah ada suatu kekerasan yang sehat dalam kehidupan kita? Saya tidak maksudkan kekerasan jasmaniah, melainkan menyingkirkan kekecewaan. Apakah ini menolong, mencoba untuk menghindarkan kekecewaan?

Krishnamurti: Tidak nyonya. Jawabannya berada didalam pertanyaan : Mengapa kita kecewa? Pernahkah anda bertanya kepada diri sendiri mengapa anda kecewa? Dan untuk menjawab pertanyaan itu pernahkah anda bertanya; Apakah artinya memenuhi angan-angan (fulfilment)? — mengapa anda ingin untuk memenuhi angan-angan? Adakah itu yang disebut memenuhi angan-angan? Apakah yang memenuhi itu? — apakah itu si "aku", si "aku" sebagai yang keras, si "aku" yang memisah-misah, si "aku" yang berkata, "Aku lebih hebat daripada engkau" yang mengejar ambisi, ketenaran, kemasyhuran? Karena ingin mencapai sesuatu, ia menjadi kecewa apabila tidak dapat mencapainya, karena itu menjadi duka nestapa.
Apakah anda melihat bahwa terdapat sesuatu sebagai si "aku" yang ingin memperluas diri sendiri, yang apabila tidak dapat memperluas diri, merasa kecewa dan karena itu lalu menjadi duka nestapa? duka nestapa ini, keinginan untuk memperluas diri ini, adalah kekerasan. Sekarang setelah anda melihat kebenaran tentang itu, tidak ada Iagi kehendak untuk dipenuhi keinginannya sama sekali, karena itu tidak ada lagi kekecewaan.

Penanya: Tumbuh-tumbuhan dan hewan keduanya adalah benda-benda hidup, mereka keduanya berusaha untuk bertahan hidup (survive). Apakah anda menarik garis perbedaan antara membunuh hewan untuk di makan dan membunuh turnbuh-tumbuhan untuk di makan? Jika benar demikian mengapa?

Krishnamurti: Kita harus bertahan hidup, maka kita membunuh benda paling kurang peka yang tersedia. Saya tidak pernah makan daging selama hidup saya. Dan saya percaya beberapa orang sarjana lambat laun tiba pada pendapat yang sama pula; kalau mereka berpendapat demikian, barulah anda semua akan menerimanya

Penanya: Agaknya menurut saya, bahwa setiap orang di sini telah terbiasa dengan cara berfikir filsuf Aristoteles dan anda menggunakan taktik non-Aristoteles dan jurang pemisahnya demikian lebar dan saya terperanjat. Bagaimana kita dapat saling berkomunikasi secara sangat dekat?

Krishnamurti: Itulah kesukarannya tuan. Anda telah terbiasa dengan suatu rumus atau Bahasa tertentu, dengan suatu arti tertentu pula dan si pembicara tidak mempunyai pandangan tertentu tersebut. Maka terdapatlah kesukaran dalam komunikasi. Kita telah memasuki persoalan itu : kita telah berkata, kata-kata bukanlah sang benda, gambarannya bukanlah yang digambarkan, keterangannya bukanlah yang diterangkan. Anda selalu melekat kepada keterangannya, berpegang kepada kata-kata; itulah sebabnya mengapa terdapat kesukaran.
Nah, kita melihat bahwa kekerasan ada didalam dunia — sebagian dari rasa takut, sebagian dari kesenangan. Terdapat gairah hebat untuk memperoleh kenikmatan/keasyikan (excitement); kita menginginkan itu dan kita memberi semangat kepada masyarakat untuk memberikan itu kepada kita. Dan kemudian kita menyalahkan masyarakat; padahal kitalah yang bertanggung jawab. Dan kita bertanya kepada diri sendiri apakah enersi yang dahsyat dari kekerasan ini dapat dipergunakan secara berbeda. Untuk menjadi keras dibutuhkan enersi : dapatkah enersi ini dipindahkan atau dijuruskan kepada arah lain? Nah didalam pengertian dan penglihatan akan kebenaran tentang itu, enersi tersebut menjadi sama sekali berbeda.

Penanya: Apakah anda mengatakan kalau begitu bahwa tanpa kekerasan adalah mutlak — bahwa kekerasan adalah suatu penyimpangan dari apa yang dapat terjadi?

Krishnamurti: Ya, kalau anda ingin menyatakan secara demikian. Kita berkata bahwa kekerasan adalah suatu bentuk dari enersi pula dan cintakasih adalah suatu bentuk dari enersi pula — cintakasih tanpa cemburu, tanpa kekhawatiran, tanpa rasa takut, tanpa dendam, tanpa semua kesengsaraan yang datang bersama apa yang disebut cintakasih itu. Nah, kekerasan adalah enersi dan cintakasih yang dikelilingi pagar cemburu, adalah lain bentuk enersi juga.
Untuk mengatasi keduanya, bebas dari keduanya, termasuk enersi yang sama, bergerak kearah atau dimensi yang lain sama sekali.

Penanya: Cinta dengan cemburu sesungguhnya adalah kekerasan?

Krishnamurti: Tentu saja begitu.

Penanya: Jadi anda memiliki dua enersi, anda memiliki kekerasan dan cinta kasih.

Krishnamurti: Itu adalah enersi yang sama, tuan.

Penanya: Bilakah kita akan memperoleh pengalaman batin ?

Krishnamurti: Apakah sangkut pautnya itu dengan kekerasan? Bilakah anda akan memperoleh pengalaman batin ? Selamanya tidak! Tahukah anda apa artinya memperoleh pengalaman batin ? Untuk memperoleh pengalaman yang hanya dapat tampak oleh indera ke enam (extra sensory perceptive), anda harus luar biasa matang, luar biasa peka dan karenanya harus luar biasa cerdas; dan jika anda luar biasa cerdasnya, anda tidak lagi menginginkan pengalaman batin (suara tertawa).
Harap anda mencurahkan hati anda kepada persoalan ini : manusia saling menghancurkan melalui kekerasan, si suami menghancurkan si isteri dan si isteri menghancurkan si suami.. Sungguh pun mereka tidur bersama, jalan bersama, masing-masing hidup dalam pengasingan bersama problemanya sendiri-sendiri, bersama kekhawatirannya masing-masing; dan pengasingan ini adalah kekerasan. Sekarang apabila anda melihat semua ini demikian jelasnya di depan anda — melihatnya, tidak hanya memikirkannya — bila anda melihat bahayanya, anda bertindak bukan? Bilamana anda melihat seekor binatang yang berbahaya, anda bertindak; disitu tidak ada keraguan, di situ tidak ada perbantahan antara anda dan binatang itu — anda hanya bertindak, anda lari atau melakukan sesuatu. Di sini kita berbantahan karena anda tidak melihat bahaya hebat dari kekerasan.
Jika anda sungguh-sungguh, dengan hati anda, melihat sifat dari kekerasan, melihat bahayanya, anda terbebas daripadanya. Sekarang bagaimana seseorang dapat menunjukkan bahayanya, jika anda tidak ingin melihatnya? --- baik bahaya Aristoteles maupun non-Aristoteles tidak akan dapat menolong anda.

Penanya: Bagaimana kita harus menghadapi kekerasan orang lain?

Krishnamurti: Hal itu sungguh merupakan suatu problem yang berbeda, bukan? Tetanggaku keras; bagaimana saya akan menghadapinya? Memberikan pipi yang sebelah lagi? Dia kegirangan. Apa yang akan saya lakukan? Apakah anda akan mengajukan pertanyaan itu jika anda benar-benar bebas dari kekerasan (non-violent), jika tidak ada kekerasan dalam diri anda? Dengarkanlah pertanyaan ini. Jika di dalam hati anda, di dalam jiwa anda, tidak ada kekerasan sama sekali, tidak ada kebencian, tidak ada dendam, tidak ada rasa hendak memenuhi angan-angan, tidak ada keinginan untuk bebas, tidak ada kekerasan sama sekali, apakah anda akan bertanya tentang bagaimana anda harus menghadapi tetangga yang keras? Ataukah anda akan tahu pada saat itu juga apa yang harus anda lakukan dengan tetangga anda itu? Orang-orang lain boleh jadi mengatakan apa yang anda lakukan itu adalah kekerasan, namun anda boleh jadi tidak keras; pada saat tetangga anda bertindak keras anda akan tahu bagaimana untuk menanggulangi keadaan itu.
Namun orang ketiga yang menyaksikannya, boleh berkata, "Anda juga keras". Namun anda tahu bahwa anda tidak keras. Maka apa yang penting adalah untuk menjadi sama sekali tanpa kekerasan bagi anda sendiri --- dan tidaklah menjadi soal apa yang dikatakan orang lain tentang diri anda.

Penanya: Bukankah kepercayaan akan persatuan segala benda sama manusiawinya dengan kepercayaan akan pemisahan segala benda?

Krishnamurti: Mengapa anda ingin mempercayai sesuatu? Mengapa anda ingin percaya dalam persatuan seluruh umat manusia? — kita tidak bersatu, ini suatu kenyataan; mengapa anda ingin percaya pada sesuatu yang tidak nyata? Terdapatlah seluruh persoalan kepercayaan ini; pikir saja, anda memiliki kepercayaan anda dan orang lain memiliki kepercayaan sendiri; dan kita berkelahi dan saling bunuh untuk suatu kepercayaan.
Mengapa anda mempunyai suatu kepercayaan? Apakah anda mempunyai kepercayaan karena anda takut? Tidak? Apakah anda percaya bahwa matahari terbit? — matahari ada di sana untuk di lihat, anda tidak perlu mempercayainya. Kepercayaan adalah suatu bentuk pemisahan dan karena itu merupakan suatu bentuk kekerasan. Untuk bebas dari kekerasan berarti bebas dari segala sesuatu yang orang telah menaruhnya kepada orang lain, kepercayaan, dogma, upacara agama, negeriku, negerimu, Tuhanku dan Tuhanmu, pendapatku, pendapatmu, cita-citaku. Semua itu mendorong pemisahan antara manusia dan karenanya menimbulkan kekerasan.
Dan sungguhpun agama-agama yang diorganisir telah mengkhotbahkan persatuan antara manusia, setiap agama berbendapat bahwa dia jauh lebih baik dari pada yang lain.

Penanya: Saya menafsirkan apa yang anda katakan tentang persatuan berarti bahwa mereka yang mengkhotbahkan persatuan sesungguhnya menambah pemisahan.

Krishnamurti: Benar sekali, tuan.

Penanya: Apakah tujuan hidup hanya agar dapat mengatasi keadaan hidup (eksistensi)?

Krishnamurti: Anda berkata, "Apakah ini tujuan hidup?" —akan tetapi mengapa anda menginginkan suatu tujuan untuk kehidupan? — hiduplah. Tujuan hidup adalah hidup itu sendiri; mengapa anda menginginkan suatu tujuan? Lihatlah setiap orang mempunyai tujuannya sendiri, orang beragama dengan tujuannya, sarjana dengan tujuannya, kepala keluarga dengan tujuannya dan selanjutnya, semua itu memecah belah. Kehidupan seseorang yang mempunyai suatu tujuan melahirkan kekerasan. Ini demikian jelas dan gamblang.

                                                                                                                    San Diego State College 1 April 1970

KEMBALI KE DIALOG