jkbanner

THE TEACHINGS OF J.KRISHNAMURTI   -   INDONESIAN WEBSITE



DIALOG

DIALOG : KEBEBASAN
[Dari buku Bebas Kekerasan Bab 2]



Kita telah mengatakan betapa penting adanya perubahan dasar dalam batin manusia dan bahwa perubahan ini hanya dapat terjadi melalui kebebasan yang sempurna. Kata-kata "kebebasan" adalah suatu kata yang sangat berbahaya jika kita tidak mengerti dengan lengkap dan mutlak akan artinya; kita harus mempelajari makna sepenuhnya yang terkandung dalam kata itu, bukan hanya mempelajari artinya menurut kamus. Kebanyakan dari kita menggunakan kata ini sesuai dengan kecenderungan tertentu kita, atau persangkaan kita, atau secara politis. Kita akan menggunakan kata ini tidak secara politis, juga tidak menurut keadaan, melainkan lebih condong memasuki artinya yang mendalam dan batiniah.

Namun sebelum itu, kita harus mengerti arti dari kata-kata "belajar". Seperti telah kita katakan beberapa hari yang lalu, kita akan berkomunikasi bersama — yang berarti mengambil bagian, merasakan bersama — dan belajar adalah sebagian dari Anda tidak akan belajar dari si pembicara, namun anda belajar dengan pengamatan, dengan mempergunakan si pembicara sebagai sebuah cermin untuk mengamati gerakan pikiran dan perasaan anda sendiri, mengamati batin anda sendiri, jiwa anda sendiri. Di dalam kerjasama ini tidak ada penguasa (otoritas) sama sekali, sungguhpun si pembicara harus duduk diatas mimbar, karena ini adalah praktis, namun posisi ini tidaklah memberi pembicara suatu kekuasaan apa pun juga. Maka kita dapat menyapu bersih pendapat seperti itu dan mempertimbangkan persoalan dari "belajar" ini — bukan belajar dari orang lain melainkan mempergunakan si pembicara untuk belajar tentang diri sendiri, Anda belajar dari pengamatan terhadap batin anda sendiri, terhadap diri anda sendiri — apapun adanya itu. Untuk belajar, haruslah ada kebebasan, haruslah ada keinginan tahu yang besar dan haruslah ada kesungguhan, gairah, tanpa menunda. Anda tidak dapat belajar jika tidak ada gairah, tidak ada enersi untuk menyelidiki. Jika terdapat suatu macam prasangka, suatu kecenderungan untuk suka atau tidak suka, menyalahkan, maka kita tidak mungkin dapat belajar, kita hanya menyeleweng dari apa yang kita amati.
Kata "disiplin" berarti belajar dari seseorang yang tahu; anda dianggap tidak tahu, maka anda belajar dari orang lain. Kata "disiplin" menunjukkan arti demikian (pada umumnya). Akan tetapi di sini kita mempergunakan kata "disiplin" bukan sebagai belajar dari orang melainkan sebagai pengamatan terhadap diri sendiri dan pengamatan ini menuntut suatu disiplin yang bukan penekanan, bukan tiruan atau penyesuaian, bahkan bukan pula sesuatu yang diselaraskan, melainkan pengamatan yang sesungguhnya; pengamatan itu sendiri adalah suatu gerakan dari disiplin — ialah belajar dari pengamatan. Justru belajar itulah disiplin, dalam arti kata bahwa dalam belajar anda harus mencurahkan perhatian besar, anda harus memiliki enersi besar, kesungguhan dan bertindak tanpa menunda.

Kita akan bicara tentang takut, dan dalam memasuki persoalan ini kita harus mempertimbangkan banyak hal, karena takut adalah suatu persoalan yang amat rumit. Kecuali jika batin telah bebas sama sekali dari rasa takut, setiap bentuk perbuatan mendatangkan Iebih banyak kejahatan, lebih banyak kesengsaraan, lebih banyak kekacauan. Maka kita akan menyelidiki bersama seluk beluk dari rasa takut dan apakah benar mungkin untuk bebas sepenuhnya dari rasa takut bukan besok bukan untuk suatu masa depan, melainkan begitu anda meninggalkan ruangan ini maka beban itu, kegelapan itu, kesengsaraan dan kejahatan dari rasa takut itu tidak ada lagi pada diri anda.

Untuk mengerti hal ini anda harus menyelidiki pula ide yang kita miliki tentang perubahan tingkat demi tingkat — yaitu, angan-angan tentang membebaskan diri dari rasa takut sedikit demi sedikit. Apa yang dikatakan membebaskan diri dari rasa takut sedikit demi sedikit itu, sesungguhnya tak ada. Yang ada hanyalah anda sama sekali bebas dari rasa takut, atau tidak bebas sama sekali; tidak ada lambat laun, yang menyangkut waktu — waktu bukan hanya dalam arti tempo (kronologis), akan tetapi juga dalam arti batiniah. Waktu bahkan adalah intisari dari rasa takut, seperti yang akan kita tunjukkan sebentar. Maka dengan mengerti dan bebas dari rasa takut dan beban pengaruh di mana kita di besarkan, ide untuk membebaskan diri dari rasa takut secara perlahan-lahan, berangsur-angsur, harus berhenti sama sekali. Ini menjadi kesukaran kita yang pertama.

Jika saya boleh menujukkan lagi, ini bukanlah suatu kuliah; lebih tepat dikatakan bahwa dua orang yang bersahabat dan berkasih sayang, menyelidiki bersama kedalam suatu persoalan yang amat sukar. Manusia telah hidup dengan rasa takut, manusia telah menerima rasa takut sebagai bagian dari hidupnya dan kita sedang menyelidiki apakah mungkin, atau lebih baik apakah itu "tidak mungkin" untuk menghentikan rasa takut. Anda tahu, apa yang mungkin, berarti sudah dilakukan, sudah selesai — bukan? Jika itu "mungkin" berarti anda dapat melakukannya. Akan tetapi apa yang tidak mungkin menjadi mungkin hanya apabila anda mengerti bahwa tidaklah ada hari esok sama sekali — dalam arti kata batiniah. Kita di hadapkan pada persoalan luar biasa dari rasa takut, dan agaknya manusia belum pernah dapat membebaskan diri secara menyeluruh dari rasa takut ini. Tidak hanya lahiriah, namun di sebelah dalam, batiniah, manusia tidak pernah dapat terbebas dari rasa takut; manusia selalu melarikan diri dari rasa takut melalui bermacam bentuk kesenangan, melalui agama dan sebagainya. Dan pelarian-pelarian ini adalah untuk menghindarkan diri dari "apa adanya". Nah, yang penting kita perhatikan adalah "ketidak-mungkinan" terbebas sama sekali dari rasa takut itu — karena itu, yang "tidak mungkin" menjadi mungkin.

Apakah sesungguhnya takut itu? Kalau dibuat pembandingan, takut badaniah dapat di mengerti lebih mudah. Namun rasa takut batiniah adalah jauh lebih rumit, dan untuk mengerti ini haruslah ada kebebasan untuk menyelidik — bukan untuk membentuk suatu pendapat, bukan pula suatu analisa kritis untuk mencari kemungkinan mengakhiri rasa takut. Akan tetapi pertama-tama marilah kita memasuki persoalan rasa takut badaniah, yang tentu saja mempengaruhi batin. Apabila anda bertemu dengan bahaya apapun di situ terdapat tanggapan badaniah yang cepat. Adakah tanggapan ini rasa takut?

(Anda tidak sedang belajar dari saya, kita belajar bersama: karena itu anda harus mencurahkan perhatian, sebab tidaklah berguna jika datang ke suatu pertemuan macam ini lalu pergi lagi dengan membawa beberapa macam ide, atau rumus — hal itu tidak akan membebaskan batin dari rasa takut. Akan tetapi apa yang dapat membebaskan batin secara menyeluruh dan mutlak dari rasa takut adalah dengan sungguh-sungguh mengerti akan rasa takut itu sekarang juga bukan esok hari. Hal itu adalah seperti kalau melihat sesuatu secara menyeluruh dan lengkap; dan apa yang anda lihat anda mengerti. Kalau sudah demikian, barulah itu pengertian anda sendiri dan bukan dari orang lain).

Maka terdapatlah rasa takut badaniah, seperti melihat sebuah, jurang, bertemu dengan seekor binatang buas. Adakah tanggapan dalam bertemu bahaya macam itu merupakan rasa takut badaniah, ataukah itu adalah kecerdasan (inteligensia)? Anda bertemu seekor ular, dan anda bertindak segera. Tanggapan ini adalah beban pengaruh masa lalu yang mengatakan "berhati-hatilah" dan seluruh tanggapan jiwa raga anda adalah segera, sungguhpun di beban pengaruhi; itu adalah hasil masa lalu, karena anda pernah diberitahu bahwa binatang itu berbahaya. Dalam pertemuan dengan bentuk apa saja dari bahaya badaniah, adakah rasa takut? Atau apakah itu tanggapan dari kecerdasan untuk keperluan pemeliharaan diri?

Dan ada pula rasa takut akan menderita lagi penyakit atau rasa nyeri badaniah yang pernah dirasakan. Apakah yang terjadi? Apakah ini bijaksana? Ataukah ini suatu perbuatan dari pikiran, ya itu tanggapan dari ingatan yang takut bahwa rasa nyeri yang pernah di derita di masa lalu itu akan terjadi lagi? Apakah ini jelas bahwa pikiran menghasilkan rasa takut? Terdapat juga bermacam-macam bentuk rasa takut badaniah — takut akan kematian, takut akan masyarakat, takut akan tidak dihormati, takut akan apa yang di katakan orang-orang, takut akan kegelapan dan selanjutnya.

Sebelum kita memasuki persoalan rasa takut batiniah ini, kita harus mengerti tentang, sesuatu dengan sangat jelas; yaitu kita tidak sedang membuat analisa. Menganalisa tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan pengamatan, dengan memandang. Dalam analisa selalu ada si penganalisa dan hal yang dianalisa. Si penganalisa adalah suatu pecahan (fragmen) dari banyak pecahan yang lain, tersusun menjadi diri kita ini. Suatu pecahan menerima kekuasaan (otoritas) si penganalisa dan mulailah dia menganalisa. Nah, apakah yang terlihat dalam hal ini? Yang menganalisa adalah si sensor, menjadi sesuatu yang berlagak bahwa dia mempunyai pengetahuan dan karenanya dia mempunyai kekuasaan untuk menganalisa. Kecuali jika dia menganalisa secara lengkap, benar, tanpa suatu penyelewengan, maka analisanya itu tidak ada harganya sama sekali. Harap hal ini di mengerti dengan sangat jelas, karena si pembicara tidaklah mempertahankan pentingnya suatu analisa apapun, dan kapanpun juga. Hal ini agaknya merupakan sebutir pil pahit yang harus di telan, karena sebagian banyak dari anda pernah di analisa, atau akan di analisa; atau telah mempelajari apakah analisa itu. Analisa berarti tidak hanya seorang penganalisa terpisah dari yang di analisa, akan tetapi juga berarti waktu. Anda harus menganalisa berangsur-angsur, sedikit demi sedikit , seluruh seri dari pecahan-pecahan yang merupakan anda sendiri dan hal ini makan waktu bertahun-tahun. Dan apabila anda menganalisa, batin haruslah sama sekali terang dan bebas.

Maka beberapa hal terlibat; si penganalisa, suatu pecahan yang memisahkan diri dari lain-lain pecahan dan berkata, "Aku akan menganalisa", dan juga menyangkut waktu, hari demi hari, memandang, mengeritik, menyalahkan, mengadili, menilai, mengingat-ingat. Juga analisa berarti seluruh drama dari mimpi; kita tidak pernah bertanya apakah memang penting untuk bermimpi, sungguhpun semua ahli jiwa berkata bahwa anda harus mimpi, kalau tidak anda akan menjadi gila.

Maka siapakah yang menganalisa? Dia adalah sebagian dari anda sendiri, sebagian dari batin anda, dan dia akan memeriksa bagian-bagian yang lain; dia adalah hasil dari pengalaman-pengalaman lain, pengetahuan lalu, penilaian-penilaian yang lalu, dia adalah si pusat dari mana dia akan memeriksa. Adakah si pusat ini memiliki suatu kebenaran, suatu kenyataan? Kita semua bertindak dari si pusat ini dan apakah pusat ini? Pusat ini adalah pusat dari rasa takut kecemasan, ketamakan, kesenangan, keputus-asaan, pengharapan, ketergantungan, ambisi, pembandingan — dari situlah kita berpikir dan bertindak. Ini bukanlah suatu dugaan, bukan pula suatu teori, melainkan suatu kenyataan sehari-hari yang mutlak dan dapat di amati. Di dalam pusat ini terdapat banyak pecahan dan satu dari pecahan-pecahan itu menjadi si penganalisa — ini adalah tak masuk akal, karena yang menganalisa adalah yang dianalisa pula.

Anda harus mengerti ini, kalau tidak anda, takkan dapat mengikuti bila kita memasuki persoalan takut jauh lebih mendalam lagi. Anda harus mengerti selengkapnya, karena bilamana anda meninggalkan ruangan ini anda harus bebas dari rasa takut sehingga anda dapat hidup, menikmati dan memandang dunia ini dengan mata lain; sehingga anda dapat memiliki hubungan yang tidak lagi dibebani rasa takut, cemburu, putus-asa; sehingga anda menjadi seorang manusia, bukan seekor binatang yang buas dan merusak.

Maka yang menganalisa adalah yang dianalisa sendiri dan dalam pemisahan antara yang menganalisa dengan yang dianalisa terdapat seluruh proses dari pertentangan. Dan penganalisaan menyangkut waktu, pada waktu anda telah menganalisa kesemuanya, anda telah berada di ambang kubur dan anda sama sekali tak pernah hidup. (Semua tertawa). Tidak, jangan tertawa; ini bukanlah suatu pesta hiburan, ini adalah luar biasa sekali seriusnya. Hanyalah orang yang sungguh-sungguh dan serius saja yang tahu apakah hidup ini — bukan orang yang mencari kesenangan. Karena itu, hal ini menuntut suatu penyelidikan sungguh-sungguh yang tidak kepalang tanggung.

Batin harus sama sekali bebas dari angan-angan tentang analisa, karena itu tidak mempunyai arti. Anda harus melihat ini, bukan karena si pembicara mengatakan demikian, akan tetapi dengan melihat kenyataan dari seluruh proses dari analisa. Dan kenyataan akan mendatangkan pengertian; kenyataan adalah pengertian — tentang kapalsuan dari analisa. Karena itu apabila anda melihat apa yang palsu, anda dapat mengesampingkannya sama sekali. Hanyalah jika kita tidak melihat, maka kita bingung.

Sekarang dapatkah kita memadang kepada rasa takut sebagai suatu keseluruhan — tidak kepada rasa takut batiniah yang banyak macamnya, melainkan memandang kepada rasa takut? — yang ada hanyalah satu rasa takut. Sungguhpun boleh jadi terdapat sebab-sebab berbeda dari rasa takut, di timbulkan melalui bermacam-macam reaksi dan pengaruh, namun yang ada hanya rasa takut saja. Dan rasa takut tidaklah timbul sendiri, melainkan timbul dalam hubungan dengan sesuatu, hal ini adalah amat sederhana dan jelas. Kita takut akan sesuatu — akan masa depan, masa lain, takut akan tidak dapat memenuhi sesuatu keinginan, takut akan tidak dicinta, hidup kesunyian, hidup sengsara, akan usia tua dan kematian.

Jadi rasa takut itu ada, baik dikenal maupun tersembunyi. Apa yang kita selidiki bukanlah suatu bentuk tertentu dari rasa takut melainkan keseluruhan dari rasa takut, takut yang di sadari maupun yang tersembunyi. Bagaimanakah terjadinya rasa takut? Dalam mengajukan pertanyaan ini anda harus pula bertanya apakah kesenangan itu? Karena rasa takut dan kesenangan berjalan berdampingan. Anda tidak bisa membuang rasa takut tanpa mengerti tentang kesenangan; keduanya itu adalah dua muka dari sebuah mata uang. Maka dalam mengerti kenyataan tentang rasa takut, anda juga mengerti kenyataan tentang kesenangan. Hanya menginginkan kesenangan saja tanpa rasa takut adalah suatu tuntutan yang tidak mungkin. Bila anda mengerti keduanya, anda akan mempunyai penghargaan yang berbeda sekali, mempunyai pengertian yang berbeda. Yang berarti bahwa kita harus mempelajari tentang susunan dan sifat dari rasa takut dan juga dari kesenangan. Anda tidak dapat bebas dari yang satu dan mempertahankan yang lain.

Apakah rasa takut dan apakah kesenangan itu? Seperti anda dapat mengamati dalam diri anda sendiri, anda ingin bebas dari rasa takut. Seluruh kehidupan adalah pelarian dari rasa takut. Tuhan-tuhan anda, gereja-gereja anda, ahlak-ahlak anda, semua berdasarkan rasa takut dan untuk mengerti hal itu anda harus mengerti bagaimanakah timbulnya rasa takut ini. Anda telah berbuat sesuatu di masa lalu dan anda tidak ingin orang lain tahu akan perbuatan anda itu; itulah suatu bentuk dari rasa takut. Anda takut akan masa depan karena anda tidak mempunyai pekerjaan, atau anda takut akan sesuatu yang lain lagi. Demikianlah, anda takut akan masa lalu dan anda takut pula akan masa depan. Rasa takut datang apabila pikiran memandang kembali kepada hal-hal yang terjadi di masa lalu atau membayangkan kejadian-kejadian yang boleh jadi akan terjadi di masa depan. Pikiranlah yang bertanggung jawab untuk ini. Anda telah menyingkirkan dengan hati-hati terutama di Amerika — pikiran tentang kematian; betapapun juga, kematian selalu ada. Anda tidak ingin berpikir tentang kematian, karena pada saat anda memikirkan, anda menjadi takut. Dan karena anda takut, anda mempunyai teori-teori tentang kematian; anda percaya akan Kebangkitan kembali, anda percaya akan tumimbal-lahir (reincarnasi) — anda mempunyai banyak macam kepercayaan — semua itu adalah karena anda takut dan semua itu timbul dari pikiran. Pikiran mencipta dan mempertahankan rasa takut akan masa lalu dan masa depan, dan pikiran juga mempertahankan kesenangan. Anda telah melihat sendiri matahari tenggelam yang indah; pada saat itu terdapatlah suatu kegembiraan besar, keindahan cahaya di atas air dan lambaian dari pohon-pohon; terdapatlah kenikmatan yang besar. Kemudian pikiranpun datanglah dan berkata "Betapa aku ingin dapat menikmatinya lagi". Anda mulai memikirkan kesenangan itu dan pergi lagi ketempat itu besok dan anda tidak melihatnya.

Anda mengalami kenikmatan sex dan anda memikirkan tentang itu, anda mengunyahnya dalam kenangan, anda membangun khayal dan gambaran tentang pengalaman itu, dan pikiran menunjangnya. Adalah pikiran yang menunjang kesenangan dan pikiran pula yang menujang rasa takut. Maka pikiranlah yang bertanggung jawab. Ini bukanlah suatu rumus untuk anda pelajari, melainkan suatu kenyataan untuk dimengerti bersama; karena itu tidaklah ada soal setuju atau tidak setuju.

Apakah pikiran itu? Pikiran adalah jelas jawaban dari ingatan. Jika anda tidak mempunyai ingatan, maka tidak akan ada pikiran. Jika anda tidak mempunyai ingatan akan jalan yang menuju ke rumah anda, anda tidak akan dapat pulang ke rurnah. Maka pikiran bukan hanya melahirkan dan menunjang rasa takut dan kesenangan, akan tetapi pikiran juga perlu untuk berfungsi, untuk bertindak dengan tepat (efficient). Lihat betapa sukar jadinya; pikiran harus dipekerjakan selengkapnya secara objektif apabila anda berfungsi secara tehnis, apabila anda melakukan sesuatu dan pikiran juga menimbulkan rasa takut dan kesenangan dan karenanya juga penderitaan.

Maka kita bertanya pada diri sendiri : bagaimanakah kedudukan pikiran? Manakah garis — batas antara di mana pikiran harus dipekerjakan sepenuhnya dan dimana pikiran harus tidak ikut campur seperti ketika anda melihat matahari terbenam yang teramat indah dan menikmatinya pada saat itu lalu melupakannya pada saat itu pula. Seluruh proses pemikiran tidak pernah bebas karena akar-akarnya berada dalam masa lalu; pikiran tidak pernah baru. Tidak ada persoalan memilih kebebasan karena pikiran bekerja apabila anda memilih. Maka kita berhadapan dengan suatu persoalan yang halus, yaitu kita melihat bahaya dari pikiran yang melahirkan rasa takut — rasa takut merusak, membujuk, membuat batin hidup dalam kegelapan, dalam kesengsaraan — namun kita melihat pula bahwa pikiran harus dipergunakan secara tepat, objektif, tanpa emosi, bagaimanakah keadaan batin anda — ketika anda mengamati kenyataan ini ?

Perhatikanlah tuan-tuan, adalah teramat penting untuk mengerti ini secara sangat jelas, karena tidak ada gunanya anda duduk di situ mendengarkan banyak kata-kata yang tidak berarti, apabila pada akhir pertemuan ini, anda masih dihinggapi rasa takut. Bilamana anda meninggalkan tempat ini harus tidak ada rasa takut lagi, bukan karena anda menghipnotis anda sendiri bahwa di sana tidak ada rasa takut, melainkan karena anda telah mengerti dengan sesungguhnya, secara batiniah, di sebelah dalam, seluruh susunan dari rasa takut.

Itulah mengapa sangat penting untuk belajar, untuk memandang.  Apa yang kita lakukan adalah mengamati sangat dekat bagaimana rasa takut terjelma. Apabila anda memikirkan tentang kematian, atau tentang kehilangan pekerjaan anda, apabila anda memikirkan tentang banyak hal, baik hal lain maupun hal mendatang, muncullah rasa takut yang tak dapat dielakkan lagi. Apabila batin melihat kenyataan bahwa pikiran harus berfungsi dan juga melihat bahaya dari pikiran, bagaimanakah keadaan batin yang melihat ini? Anda harus mencari tahu, jangan menunggu saya untuk memberitahu anda.

Harap dengarkan dengan penuh perhatian, ini sesungguhnya demikian sederhana. Kita berkata bahwa analisa tidaklah berguna, dan kita telah menerangkan mengapa demikian. Jika anda melihat kebenaran tentang itu berarti anda mengerti itu. Sebelumnya, anda menerima analisa, sebagai bagian dari beban-pengaruh anda. Sekarang, setelah anda melihat kesia-siaan dan kepalsuan dari analisa, hal itu terlepaslah sudah. Maka bagaimanakah keadaan batin yang telah mengesampingkan analisa? Batin menjadi lebih bebas bukan? Karenanya batin menjadi lebih hidup, lebih aktif dan karena itu jauh lebih cerdas, lebih tajam, lebih peka rasa. Dan apabila anda telah melihat kenyataan akan bagaimana terjelmanya rasa takut, telah menpelajari tentang itu dan mengamati pula proses dari kesenangan, lalu mengamati batin anda, yang menjadi jauh lebih tajam, lebih terang, karenanya lebih cerdas. Kecerdasan ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan pengetahuan atau pengalaman; anda tidak dapat mencapai inteligensia ini dengan pergi berkuliah dan belajar untuk menjadi peka (sensitive). Inteligensia ini datang apabila anda telah mengamati sangat dekat seluruh susunan dari analisa dan apa yang termasuk di dalamnya — waktu yang terlibat dan pemikiran bodoh bahwa suatu pecahan akan menerangkan suatu proses — dan apabila anda telah melihat sifat dari rasa takut dan mengerti apakah kesenangan itu.

Demikianlah bilamana rasa takut — yang menjadi suatu kebiasaan — datang pada anda besok, anda akan tahu bagaimana untuk menemuinya dan bukan menundanya. Pertemuan itu sendiri dengan rasa takut adalah penghentian rasa takut pada saat itu juga, karena inteligensia anda bekerja. Itu berarti menghentikan bukan hanya rasa takut yang diketahui, akan tetapi juga rasa takut yang mendalam dan tersembunyi.

Anda tahu satu diantara hal-hal paling aneh adalah betapa gampangnya kita dipengaruhi. Sejak masa kanak-kanak kita dididik menjadi Katholik, Protestan, bangsa Amerika atau apapun juga; Kita adalah hasil propaganda yang di ulang-ulang dan kita tetap mengulangnya terus. Kita bukanlah manusia-manusia yang menemukan sendiri sesuatu. Oleh karena itu berjaga-jagalah agar anda tidak dipengaruhi oleh si pembicara, karena anda berurusan dengan kehidupan anda sendiri, bukan kehidupan si pembicara.

Memasuki persoalan kesenangan, kita harus pula mengerti apakah gerangan kegembiraan yang sejati itu, karena hal ini tidak ada hubungannya dengan kesenangan. Apakah kesenangan, nafsu keinginan, ada sangkut pautnya dengan cinta kasih? Untuk mengerti semua ini kita harus mengamati diri sendiri. Kita adalah hasil dari dunia; seseorang adalah seorang manusia yang menjadi bagian dari manusia-manusia lain, yang kesemuanya mempunyai persoalan-persoalan yang sama, barangkali tidak sama dalam bidang ekonomi atau sosial, akan tetapi sama dalam persoalan manusia — semua berkelahi, membuat usaha yang hebat-hebat dan berkata kepada diri sendiri bahwa kehidupan tidak mempunyai arti apapun juga seperti yang dialami sekarang ini. Maka orang menciptakan rumus untuk kehidupan. Semua sama sekali tidak diperlukan lagi apabila anda mengerti akan susunan dari diri anda sendiri dan mengerti pula akan susunan dari rasa takut, kesenangan, cinta-kasih, dan mengerti pula arti dari kematian. Hanya kalau sudah demikian sajalah anda dapat hidup, sebagai seorang manusia lengkap dan tidak akan pernah melakukan sesuatu yang salah.

Jika anda menghendaki, anda boleh mengajukan pertanyaan-pertanyaan, tanpa melupakan bahwa pertanyaan dan jawabannya berada di dalam diri anda sendiri.

Penanya: Jika terdapat rasa takut yang di dorong oleh sesuatu yang tidak dikenal dan anda mengatakan bahwa mempergunakan pikiran adalah suatu cara yang keliru untuk mengerti tentang itu .

Krishnamurti: Anda berkata bahwa anda takut akan sesuatu yang tidak dikenal, baik yang tidak dikenal dari masa depan, maupun takut akan yang sungguh-sungguh tidak dikenal. Apakah yang anda takuti itu sesuatu yang tidak anda kenal? Ataukah anda takut akan sesuatu yang anda kenal, kepada siapa anda terikat ? Karena itu anda takut untuk meninggalkan yang di kenal itu? Ataukah anda takut bahwa anda akan kehilangan semua benda yang anda telah kenal, yaitu kesenangan anda, keluarga anda, kemajuan anda, sukses anda, harta benda anda? Bagaimana orang dapat takut akan sesuatu yang dia tidak kenal (tahu)? Dan jika anda takut akan sesuatu yang tidak dikenal, pikiran anda ingin mengambil yang tidak dikenal itu kedalam lapangan dari yang dikenal, karena itu pikiran-pikiran mulai mengkhayal. Karena itulah Tuhan adalah hasil dari khayalan anda atau hasil dari rasa takut anda. Oleh karena itu janganlah anda berspekulasi tentang yang tidak dikenal. Mengertilah tentang yang dikenal dan bebaslah dari yang dikenal itu.

Penanya: Saya telah membaca pernyataan "Ya Tuhan, saya percaya, tolonglah ketidak-percayaan saya". Bagaimanakah kita dapat melaksanakan sesuatu dengan adanya bayangan pertentangan dari kepercayaan dan keraguan ini?

Krishnamurti: Mengapa anda percaya akan sesuatu yang anda baca? Tidak peduli apakah yang anda baca itu terdapat dalam Kitab Injil atau didalam Kitab Gita atau di dalam kitab-kitab suci dari agama-agama lain. Pandanglah itu — mengapa anda percaya? Percayakah anda akan matahari terbit besok pagi? Anda percaya dalam arti kata — anda pikir matahari akan terbit besok. Akan tetapi anda percaya akan Sorga, anda percaya akan suatu Tuhan, anda percaya akan sesuatu — mengapa? Karena anda takut, tidak bahagia, kesepian, karena anda takut akan kematian, maka anda percaya akan sesuatu yang anda pikir abadi. Bagaimana mungkin batin yang dibebani dengan kepercayaan-kepercayaan dapat melihat dengan terang? Bagaimana dapat bebas untuk mengamati? Bagaimana batin seperti itu dapat mencinta? Anda memiliki kepercayan anda dan orang lain memiliki kepercayaannya sendiri. Dalam mengerti seluruh persoalan dari rasa takut, orang harus tidak mempunyai kepercayaan apapun juga. Kalau begitu, batin dapat berfungsi dengan bahagia, tanpa penyelewengan dan karenanya, di situ terdapat kegembiraan besar, ekstase.

Penanya: Saya telah membaca buku-buku anda dan saya mendengarkan anda bicara dan saya mendengar anda mengatakan hal-hal yang indah. Saya mendengar anda bicara tentang rasa takut dan bagaimana kita harus meleyapkannya, namun sifat batin adalah penuh dengan keinginan, penuh dengan pikiran. Bagaimana kita dapat mengalami kebebasan batin selama batin selalu aktif? Apakah caranya?

Krishnamurti: Tuan, apakah keinginan itu? Mengapa batin mengoceh tiada hentinya?

Penanya: Karena ketidak-puasan.

Krishnamurti: Harap jangan menjawab, cari tahulah. Anda menghendaki suatu cara, suatu metode, suatu disiplin untuk mengheningkan batin, untuk mengerti ini atau itu atau untuk menyingkirkan keinginan. Mempraktekkan suatu cara berarti suatu pengulangan seperti mesin, melakukan hal yang lama berulang-ulang, itulah apa yang diartikan oleh suatu cara. Apa yang terjadi apabila batin melakukan pengulangan-pengulangan itu? Batin menjadi tumpul dan bodoh. Orang harus mengerti mengapa batin mengoceh, mengapa pikiran melompat dari satu ke hal lain.

Saya kira saya tidak akan bisa memasuki persoalan itu malam ini — apakah anda tidak lelah? (Teriakan "tidak") Anda telah sehari bekerja di kantor; di kantor anda sana adalah routine (pengulangan kerja sehari-hari). Di sini anda berkata bahwa anda tidak lelah, yang berarti bahwa anda tadi tidak bekerja. (Suara tertawa). Anda tadi tidak melakukan penyelidikan yang serius. Itu berarti bahwa anda hanyalah di hibur (diberi kesenangan) dan anda akan pergi lagi dengan membawa rasa takut anda. Dan demi Tuhan, tuan-tuan, apakah gunanya itu?

                                                                                                            Santa Monica, California, 4 Maret 1970                                                                                                   
KEMBALI KE DIALOG