jkbanner

THE TEACHINGS OF J.KRISHNAMURTI   -   INDONESIAN WEBSITE



DIALOG

DIALOG : IMPIAN
Diambil dari buku Mendesaknya Kebutuhan Perubahan, bab 22


Penanya: Saya diberitahu oleh para ahli bahwa impian itu sama vitalnya dengan pikiran dan kegiatan pada siang hari, dan bahwa saya akan mengalami tekanan serta ketegangan batin yang berat dalam kehidupan sehari-hari jika saya tidak bermimpi. Disini saya gunakan kata-kata saya sendiri, bukan bahasa yang khusus bagi para ahli : mereka berpendapat bahwasanya dalam keadaan tidur tertentu, bergeraknya kelopak mata menunjukkan impian yang menyegarkan dan bahwa ini menimbulkan kejernihan tertentu dalam otak. Saya bertanya-tanya dalam hati apakah keheningan batin yang sering Anda bicarakan itu mungkin tidak akan menimbulkan keselarasan yang lebih besar dalam kehidupan ketimbang keseimbangan yang ditimbulkan oleh aneka pola impian. Saya juga bertanya mengapa bahasa impian itu bahasa yang menggunakan lambang.

Krishnamurti: Bahasa itu sendiri adalah lambang, dan kita sudah terbiasa dengan lambang : kita melihat sebuah pohon melalui citra yang merupakan lambang pohon itu; kita melihat tetangga melalui citra kita tentang mereka itu. Rupa-rupanya salah satu hal yang paling sukar bagi manusia ialah untuk melihat apa pun secara langsung, tidak melewati citra, pendapat, kesimpulan yang kesemuanya merupakan lambang. Maka dalam impian lambang memainkan peran yang besar dan disitu terdapat tipu daya serta bahaya yang besar. Makna satu impian tidak selalu jelas bagi kita, meskipun kita menginsafi bahwa itu berbentuk lambang dan berusaha menafsirkannya. Apabila kita melihat sesuatu, kita membicarakannya demikian spontannya sehingga kita tidak ingat bahwa kata-katapun adalah lambang. Semua ini menunjukkan bahwa dalam soal teknis terjadi komunikasi langsung, namun hal itu jarang terjadi dalam soal antar hubungan manusia dan pengertian, bukan? Anda tidak membutuhkan lambang-lambang apabila seseorang memukul Anda. Itulah yang disebut komunikasi langsung. Perhatikan soal pokok yang sangat menarik ini : pikiran menolak untuk melihat sesuatu secara langsung, untuk menyadari dirinya sendiri tanpa kata-kata dan lambang. Anda berkata langit itu biru. Maka orang yang mendengar Anda kemudian menafsirkannya sesuai dengan tanggapannya sendiri tentang warna biru dan meneruskannya kepada Anda dalam bentuk tafsirannya itu. Jadi kita hidup dalam lambang, dan impian adalah bagian dari proses pelambangan ini. Kita tidak mampu mencerap sesuatu dengan langsung dan segera tanpa menggunakan lambang, tanpa menggunakan kata-kata, tanpa prasangka dan kesimpulan. Alasannya tampak jelas : itu bagian dari kegiatan berpusatkan si “aku“ dengan pertahanannya, dengan perlawanannya, pelariannya, dan rasa takutnya. Ada reaksi penafsiran pada kegiatan otak, dan dengan sendirinya impian berbentuk lambang, sebab selama kita dalam keadaan jaga kita tidak mampu menanggapi atau mencerap dengan langsung.

Penanya: Saya rasa ini lalu merupakan fungsi bawaan dari otak.

Krishnamurti: Pembawaan berarti sesuatu yang permanen, yang tak terelakkan dan kekal. Tentu saja keadaan psikologis apa saja dapat berubah. Hanya tuntutan yang dalam dan tetap dari otak akan keselamatan fisik organisme itulah yang bersifat pembawaan. Lambang merupakan perlengkapan bagi otak untuk melindungi jiwa; ini adalah keseluruhan proses pikiran. Si "aku" adalah lambang, bukan fakta nyata. Setelah menciptakan lambang si "aku", pikiran mengidentifikasi dirinya dengan kesimpulannya, dengan rumusannya, kemudian mempertahankannya. Segala kesengsaraan dan kesedihan timbul dari sini.

Penanya: Bagaimanakah saya bisa menghindarinya?

Krishnamurti: Apabila Anda menanyakan bagaimana Anda bisa menghindarinya, Anda masih tetap berpegangan pada lambang si "aku" yaitu sesuatu yang khayali. Anda menjadi sesuatu yang terpisah dari apa yang Anda lihat, dengan demikian timbullah dualitas.

Penanya: Bolehkah saya besok datang lagi untuk meneruskan pembahasan ini?

* * * *

Penanya : Anda sungguh baik telah sudi menerima kedatangan saya lagi, maka saya ingin melanjutkan pembicaraan kita kemarin.
Kita telah berbicara mengenai lambang dalam impian dan Anda menunjukkan bahwa kita hidup dalam lambang, menafsirkannya sesuai dengan kesukaan kita.  Kita berbuat demikian tidak hanya dalam mimpi saja tapi juga dalam kehidupan sehari-hari; itu sudah menjadi tingkah laku kita yang lazim. Kebanyakan dari tindakan kita di dasarkan pada penafsiran lambang atau citra yang kita miliki.  Aneh sekali, setelah kemarin saya membicarakannya dengan Anda, impian saya mengalami perubahan yang aneh. Saya mendapat impian yang menggelisahkan dan penafsiran mengenai impian tadi terjadi pada saat mimpi itu berlangsung.  Kejadian itu merupakan proses yang serentak; impian itu ditafsirkan oleh si pemimpi. Keadaan ini sebelumnya tidak pernah saya alami.

Krishnamurti: Selama kita dalam keadaan jaga, selalu ada si pengamat, yang berbeda dengan yang di amati; si pelaku yang terpisah dari tindakannya. Sejalan dengan itu terdapatlah si pemimpi terpisah dari impiannya. Dia mengira bahwa itu terpisah dari dirinya dan karenanya memerlukan penafsiran. Tapi apakah impian itu terpisah dari si pemimpi dan perlu ditafsirkan? Apabila si pengamat adalah yang diamati, perlukah kita menafsirkan, menentukan, menilai? Orang menganggap hal itu perlu hanya jika si pengamat berbeda dengan yang diamati. Ini penting sekali untuk dipahami. Kita telah memisahkan hal yang kita amati dari si pengamat dan dari situ timbul tidak hanya problema penafsirannya saja, tapi juga konflik, dan banyak problema yang berhubungan dengan konflik itu. Keterpisahan ini adalah khayalan. Pemisah-misahan antara kelompok, ras dan kebangsaan bersifat khayal. Kita adalah mahluk yang tidak terpecah-belah oleh nama, oleh label. Jika label menjadi teramat penting, maka timbullah pemisah-misahan, dan kemudian timbul peperangan serta perjuangan lainnya.

Penanya: Lalu bagaimana saya bisa memahami isinya impian? Itu pasti mengandung makna. Adakah itu merupakan suatu kebetulan jika saya bermimpi mengenai suatu peristiwa atau seseorang yang khusus?

Krishnamurti: Kita seharusnya melihat persoalan ini secara lain sama sekali.  Adakah dalam hal ini sesuatu yang harus dipahami? Apabila si pengamat mengira bahwa ia berbeda dengan sesuatu yang diamatinya, maka ada upaya untuk mengerti sesuatu yang berada diluar dirinya, Proses yang sama berlangsung di dalam dirinya. Si pengamat berharap bisa memahami apa yang diamatinya, yaitu dirinya sendiri. Tetapi apabila si pengamat adalah apa yang diamati, maka tak ada persoalan mengenai pemahaman, yang ada hanyalah pengamatan saja.  Anda berkata bahwa dalam impian ada sesuatu yang harus dipahami, kalau tidak, tak akan ada impian. Anda mengatakan bahwa impian adalah isyarat tentang sesuatu yang tak terpecahkan yang seharusnya dipahami. Anda menggunakan istilah "memahami", dan dalam istilah itulah terdapat proses dualitas.  Anda mengira bahwa ada seorang “aku“, dan ada sesuatu yang harus dipahami, padahal dalam kenyataannya kedua entitas ini setali tiga uang. Sebab itu, penyelidikan Anda untuk menangkap makna impian, adalah tindakan konflik.

Penanya: Apakah menurut Anda impian adalah ekspresi dari sesuatu di dalam batin kita?

Krishnamurti: Jelas demikian.

Penanya: Saya tidak mengerti bagaimana mungkin memperhatikan impian menurut cara yang Anda gambarkan itu. Jika tidak ada maknanya, rnengapa impian itu ada?

Krishnamurti: Si "aku" adalah si pemimpi, dan si pemimpi ingin melihat makna dalam impian yang telah dikarang atau diproyeksikannya itu, jadi keduanya adalah impian, keduanya bukan kenyataan. Yang bukan kenyataan ini menjadi kenyataan bagi si pemimpi, bagi si pengamat yang menganggap dirinya terpisah, Seluruh problema mengenai penafsiran impian timbul dari keterpisahan ini, dari pemisahan antara si pelaku dengan tindakannya.

Penanya: Saya menjadi semakin bingung, maka bisakah kita meninjaunya lagi secara lain? Saya dapat melihat bahwa impian adalah hasil dari pikiran saya dan tidak terpisah dari pikiran itu; tapi impian nampaknya datang dari lapisan kesadaran yang belum sempat diselidiki, dan dengan demikian tampak sebagai isyarat dari sesuatu yang hidup dalam batin.

Krishnamurti: Bukanlah batin pribadi Anda yang mengandung hal-hal yang tersembunyi. Batin Anda adalah batin umat manusia; kesadaran Anda adalah seluruh kemanusiaan. Akan tetapi apabila Anda mengkhususkannya sebagai batin pribadi Anda, Anda membatasi kegiatannya, dan karena pembatasan inilah maka impian timbul. Dalam keadaan jaga lakukanlah pengamatan tanpa hadirnya si pengamat, yaitu ekspresi dari keterbatasan. Sebarang keterpisahan adalah keterbatasan. Setelah memecah-belah dirinya menjadi si "aku" dan si "bukan aku", maka si "aku", si "pengamat, si pemimpi ", mempunyai banyak problema - di antaranya impian dan penafsiran tentang impian.  Bagaimanapun juga Anda hanya akan melihat makna atau nilainya impian dalam pengertian yang terbatas, sebab si pengamat senantiasa terbatas. Si pemimpi mengekalkan keterbatasannya sendiri, oleh karena itu impian selalu ekspresi dari sesuatu yang tidak sempurna, tak pernah dari sesuatu yang utuh.

Penanya: Potongan-potongan batu dari bulan dibawa kembali ke bumi untuk memahami komposisi bulan. Sejalan dengan itu kita berusaha memahami berpikirnya umat manusia dengan membawa potongan-potongan dari impian kita, dan menyelidiki apa yang diekspresikannya.

Krishnamurti: Ekspresi batin adalah fragmen-fragmen batin. Setiap fragmen mengekspresikan dirinya sendiri menurut caranya sendiri dan bertentangan dengan fragmen-fragmen lainnya. Impian yang satu bisa berkontradiksi dengan yang lain, tindakan yang satu berkontradiksi dengan yang lain, keinginan yang satu berkontradiksi dengan yang lain. Batin hidup dalam kebingungan ini. Sebagian dari batin berkata bahwa ia harus memahami bagian yang lain, seperti impian, tindakan atau suatu keinginan. Jadi tiap-tiap fragmen mempunyai pengamatnya sendiri, kegiatannya sendiri; kemudian si pengamat yang super mencoba memadukannya dalam keselarasan. Si pengamat yang super itupun merupakan fragmen dari batin. Kontradiksi-kontradiksi ini, pemisah-misahan inilah yang menimbulkan impian.
Maka persoalan yang sesungguhnya bukanlah penafsiran atau pemahaman suatu impian yang khusus; masalahnya ialah persepsi bahwa fragmen yang banyak ini terkandung dalam keseluruhan. Dengan demikian Anda melihat diri Anda sendiri seutuhnya dan bukan sebagai fragmen dari keseluruhan diri Anda.

Penanya: Apakah Anda bermaksud mengatakan bahwa orang dalam keadaan jaga harus sadar akan keseluruhan gerak kehidupan, tidak hanya sadar akan kehidupan keluarganya saja, atau kehidupan usahanya saja, atau sebarang segi kehidupan individual apa pun ?

Krishnamurti: Kesadaran adalah keseluruhan kemanusiaan dan tidak merupakan milik seseorang tertentu. Apabila terdapat kesadaran satu orang khusus, maka terdapatlah problema fragmentasi, kontradiksi dan peperangan yang kompleks. Apabila ada kesadaran akan gerak kehidupan yang total dalam diri seseorang dalam keadaan jaga, apa perlunya orang bermimpi? Kesadaran total ini, perhatian ini, mengakhiri fragmentasi dan pemisah-misahan. Bilamana tidak ada konflik apapun, maka batin tidak perlu mimpi.

Penanya: Ini betul-betul membukakan pintu bagi saya, yang melaluinya banyak yang bisa saya lihat.

***

KEMBALI KE DIALOG