jkbanner

THE TEACHINGS OF J.KRISHNAMURTI   -   INDONESIAN WEBSITE



DIALOG

DIALOG :  ILUSI & KECERDASAN


DISKUSI DENGAN KELOMPOK BUDDHIS
VARANASI, 13 November 1978



PEMBICARA:
- Rimpoche
- Krishnamurti
- Jagannath Upadhyaya
- Achyut Patwardhan
- Pupul Jayakar
- P.Y. Deshpande
- Radha Burnier
- Sunanda Patwardhan




RIMPOCHE [RMP]: Pak, ketika si pengamat mengamati, ia adalah matriks pikiran dan ingatan. Selama si pengamat mengamati dari matriks ini, mustahil baginya untuk melihat tanpa memberi nama, oleh karena pemberian nama muncul dari matriks itu. Jadi, bagaimana si pengamat bisa membebaskan diri dari matriks ini?

KRISHNAMURTI [K]: Saya ingin tahu, apakah kita mendiskusikan ini sebagai masalah teoretis, suatu abstraksi, ataukah sebagai sesuatu yang harus dihadapi secara langsung tanpa teori?

JAGANNATH UPADHYAYA [J.U.]: Pertanyaan ini berkaitan langsung dengan kehidupan kita sehari-hari.

K: Pak, siapakah si pengamat itu? Kita menerima begitu saja bahwa si pengamat berasal dari matriks itu, atau bahwa ia adalah matriks itu. Ataukah si pengamat itu seluruh gerakan dari masa lampau? Apakah bagi kita ini suatu fakta atau ide? Apakah si pengamat itu sendiri menyadari bahwa ia adalah seluruh gerakan dari masa lampau? Dan bahwa selama ia mengamati, apa yang diamati tidak pernah bisa akurat? Saya rasa ini pertanyaan penting. Dapatkah si pengamat, yang adalah seluruh gerakan masa lampau, beserta  seluruh keterkondisiannya, yang kuno maupun modern, eling akan dirinya sebagai terkondisi?

ACHYUT PATWARDHAN [A.P.]: Si pengamat, bila ia memandang suatu fakta, memandang dengan keterkondisiannya yang lama, `samskara'. Jadi, dengan demikian ia tidak bisa melihat fakta sebagai apa adanya.

J.U.: Dapatkah kita menerima ini?

K: Apakah kita semua berada pada tingkat yang sama seperti Rimpoche-ji, yang mengajukan pertanyaan ini: Si pengamat terdiri dari masa lampau, dan selama ia berakar pada masa lampau, apakah ia mampu melihat kebenaran fakta ini? Jika ia tidak eling akan dirinya sebagai si pengamat yang terkondisi, akan ada kontradiksi antara dirinya dengan apa yang diamatinya, kontradiksi yang adalah pembagian.

A.P.: Selama ia tidak melihat ini dengan jelas, ada konflik di dalam tindakan melihat.

K: Pak, maka timbullah pertanyaan: Mungkinkah bagi si pengamat untuk memahami dirinya dan menemukan keterbatasannya, keterkondisiannya, dan dengan demikian tidak mencampuri pengamatan?

RMP: Itulah masalah dasarnya. Setiap kali kita mencoba mengamati, si pengamat selalu mencampuri pengamatan. Saya ingin tahu, apakah ada metode untuk memotong si `aku' yang mencampuri ini.

K: Si pengamat adalah latihan, sistem, metode. Oleh karena ia adalah hasil dari semua latihan, metode, pengalaman, pengetahuan, rutinitas, proses mekanis peniruan dari masa lampau, ia adalah masa lampau. Dengan demikian, jika Anda memperkenalkan sistem, metode, latihan baru, itu masih terletak dalam bidang yang sama.

RMP.: Jadi bagaimana melakukannya?

K: Kita akan sampai ke situ. Marilah lebih dulu melihat apa yang kita lakukan. Jika kita menerima suatu metode, suatu sistem, melatih hal itu akan membuat si pengamat menjadi lebih mekanis. Setiap sistem apa pun hanya akan memperkuat si pengamat.

J.U.: Maka kita sampai pada jalan buntu.

K: Bukan. Malah sebaliknya. Itulah sebabnya saya bertanya, apakah si pengamat menyadari bahwa ia adalah hasil dari semua pengalaman, dari masa lampau dan masa kini. Di dalam pengalaman itu termasuk metode, sistem, latihan, berbagai bentuk `sadhana'. Dan sekarang Anda bertanya, adakah rangkaian latihan, metode, sistem lebih jauh, yang berarti Anda tetap berjalan di arah yang sama.

J.U.: Saya rasa, bukan hanya mungkin untuk membuang masa lampau secara total, tetapi juga saat kini. Masa lampau dapat dinegasikan dengan pengamatan, tetapi kekuatan saat kini tidak akan lenyap kecuali masa lampau dinegasikan. Kita berkepentingan dengan saat kini.

A.P.: Saat kini dan masa lampau sesungguhnya satu. Keduanya tidak terpisah.

J.U.: Oleh karena itu, kita harus menegasikan saat kini. Akar masa lampau akan ternegasikan bila saat kini runtuh.

A.P.: Anda maksud dengan saat kini, saat ini, adalah saat kini dari pengamatan?

K: Saat kini dari pengamatan adalah pengamatan dari seluruh gerakan masa lampau. Apakah tindakan yang diperlukan untuk mengakhiri gerakan itu? Itukah pertanyaannya?

J.U.: Yang saya katakan ialah, masa lampau bertumpu pada saat kini, dan pada saat kinilah kita membangun bangunan masa depan. Jadi, untuk bisa bebas sepenuhnya dari masa lamapu atau masa depan, perlu mematahkan saat itu pada masa kini, sehingga masa lampau tidak punya tempat bertumpu dan tidak punya titik dari mana masa depan dapat diproyeksikan. Mungkinkah itu?

K: Bagaimana gerakan masa lampau ini, yang menciptakan masa kini, mengubah dirinya sementara bergerak dan menjadi masa depan, bisa berakhir?

J.U.: Dengan proses pengamatan kita menegasikan masa lampau. Dengan menegasikan masa lampau kita juga menegasikan masa kini. Dan kita tidak lagi membangun masa depan berdasarkan keinginan yang tercipta oleh masa lampau. Hanya pengamatan yang tinggal. Tetapi bahkan saat pengamatan ini adalah satu saat. Kalau kita tidak mematahkannya, kita tidak bebas dari kemungkinan munculnya masa lampau dan penciptaan masa depan. Oleh karena itu, saat kini, saat pengamatan, harus dipatahkan.

K: Pak, apakah Anda berkata bahwa dalam keadaan perhatian, pada saat kini, masa lampau berakhir; tetapi bahwa pengamatan yang mengakhiri masa lampau itu sendiri memiliki akar di masa lampau?

J.U.: Itu bukan yang saya katakan. Saya tidak menerima pendapat bahwa masa lampau menciptakan masa kini atau masa kini menciptakan masa depan. Dalam proses pengamatan, sejarah masa lampau dan masa depan kedua-duanya melarut. Tetapi masalahnya sekali lagi sejarah-sejarah masa lampau dan masa depan menyentuh saat kini, saat yang eksis ini. Kalau saat ini sendiri tidak dinegasikan, masa lampau dan masa depan menjadi aktif kembali.

Supaya jelas, saya namakan itu `eksistensi', saat `ada'. Kita harus mematahkan saat `ada' ini, lalu semua kecenderungan, entah mencerminkan masa lampau entah memproyeksikan masa depan, patah. Mungkinkah itu?

K: Pertanyaan itu mempunyai relevansi khusus bagi Anda. Saya ingin memahami pertanyaannya sebelum saya menjawab. Saya hanya bertanya, bukan menjawab: Masa lampau adalah gerakan. Ia berhenti dengan perhatian. Dan dengan berakhirnya masa lampau, dapatkah detik itu, saat itu, peristiwa itu sendiri lenyap?

J.U.: Saya ingin lebih menjelaskan soal ini: Saat ini adalah saat yang `eksis'.

K: Begitu Anda menggunakan kata `eksistensi', ia memiliki konotasi tertentu. Kita harus melihatnya dengan sangat hati-hati.

PUPUL JAYAKAR [P.J.]: Itu tidak stabil.

J.U.: Saya ingin menamakan momen ini `kshana bindu', momen waktu. `Hakekat' momen, `adanya' momen, itu harus dipatahkan. Mungkinkah itu? Di dalam gerakan pengamatan tidak ada masa lampau tidak ada kemungkinan masa depan. Saya bahkan tidak menamakannya momen pengamatan oleh karena ia tidak mempunyai kekuatan eksistensi. Di mana tidak ada masa lampau dan masa depan, tidak mungkin ada saat kini.

K: Bolehkah saya mengajukan perrtanyaan itu secara lain? Saya adalah hasil dari masa lampau. `Aku' adalah timbunan ingatan, pengalaman, pengetahuan--yang adalah masa lampau. `Aku' selalu aktif, selalu bergerak. Dan gerakan itu adalah waktu. Jadi, gerakan sebagai `aku' menghadapi saat kini, memodifikasi dirinya sebagai `aku', tetapi masih tetap `aku', dan `aku' berlanjut ke masa depan. Itulah seluruh gerakan kehidupan kita sehari-hari. Anda bertanya, dapatkah gerakan sebagai `aku', si pusat, berakhir dan tidak mempunyai masa depan? Begitukah, Pak?

J.U.: Ya.

K: Pertanyaan saya adalah, apakah `aku', yang adalah kesadaran, mengenali dirinya sebagai gerakan masa lampau, atau apakah pikiran memaksakan itu sebagai ide, bahwa ia adalah masa lampau?

J.U.: Bisakah Anda mengulangi pertanyaan itu?

K: Aku, ego saya, si pusat dari mana saya beroperasi, sifat berpusat-pada-diri ini sudah berumur berabad-abad, jutaan tahun lamanya. Itu adalah tekanan terus-menerus dari masa lampau, timbunan hasil dari masa lampau. Keserakahan, iri hati, kesedihan, kesakitan, kecemasan, ketakutan, kepedihan, semua itu `aku'. Apakah `aku' ini keadaan verbal, konklusi kata-kata, ataukah itu suatu fakta seperti mikrofon ini fakta?

J.U.: Ya, begitu; namun tidak sepenuhnya begitu. Itu tidak tampak dengan sendirinya.

A.P.: Mengapa? Itu bergantung pada apa?

J.U.: Ketika saya berkata, memang begitu, itu sekadar dalam pengertian masa lampau atau masa depan. Itu bukan benar-benar di masa lampau bukan benar-benar di masa depan. Saya tidak menerimanya sebagai kebenaran transendental. Saya mungkin menerimanya pada tingkat realitas sehari-hari.

A.P.: Tetapi Anda mengatakan bahwa itu adalah pencipta dari konteks.

J.U.: `Ini' adalah ciptaan masa lampau. Apa artinya `ini'? `Aku' adalah sejarah masa lampau.

K: Yang adalah kisah manusia yang membanting tulang, yang bergulat, yang menderita, yang ketakutan, yang sedih, dan seterusnya.

P.Y. DESHPANDE [P.Y.D.]: Itu kisah alam semesta, bukan kisah-`ku'.

K: Itu `aku'. Janganlah kita membayangkan itu alam semesta.

J.U.: Si `aku' adalah sejarah, yang dapat dipatahkan dengan pengamatan.

A.P.: Ia mengatakan bahwa fakta-fakta ini tidak berkaitan dengan si pusat sebagai pengamat.

K: Eksistensi tidak mempunyai eksistensi-diri. Itu adalah pernyataan deskriptif dalam mengamati; itu bukan fakta.

J.U.: Itu sejarah. Itu tidak ada kaitannya dengan pengamatan.

P.J.: Ia berkata, aku begini, aku begitu, aku sejarah. Ini adalah pernyataan deskriptif. Dalam mengamati, itu tidak eksis.

K: Marilah kita selami secara tenang. Si `aku' adalah gerakan masa lampau, kisah umat manusia, sejarah manusia. Dan kisah itu adalah `aku'. Ia selalu mengungkapkan diri dalam hubungan saya dengan orang lain. Jadi, masa lampau di dalam hubunganku,  dengan istriku, suamiku, anakku atau temanku adalah kerja masa lampau beserta imaji-imajinya, gambar-gambarnya, dan itu memecah hubunganku dengan orang lain.

J.U.: Itu ada sebelum ada keelingan. Dengan keelingan saat itu akan patah dan bersama itu semua hubungan juga patah.

P.Y.D.: Pada titik perhatian ini segala sesuatu melarut.

K: Anda mengatakan bahwa pada titik perhatian segala sesuatu lenyap. Tetapi apakah itu lenyap dalam hubungan saya dengan istriku?

J.U.: Tidak. Itu bukan pengalamanku. Saya tidak punya sejarah; saya tidak membuat sejarah apa pun. Sejarah tidak bergantung pada `aku'.

A.P.: Ia berkata, ia adalah produk sejarah, dan ia menerima identitas ini.

K: Tetapi jika Anda produk sejarah, Anda adalah hasil masa lampau. Masa lampau mencampuri hubungan Anda dengan orang lain. Dan hubungan saya dengan orang lain menghasilkan konflik. Pertanyaan saya, dapatkah konflik itu berakhir sekarang?

J.U.: Ya. Itu akan berakhir oleh karena momen itu patah.

P.J.: Itu akan berakhir pada saat perhatian, dan bersamanya seluruh masa lampau berakhir.

RADHA BURNIER [R.B.]: Semua ini cuma teoretis semata-mata.

J.U.: Saya berbicara dari pengalaman. Perhatian adalah pengalaman, pengalaman khusus ­ dan itu mengingkari masa lampau.

A.P.: Perhatian tidak mungkin merupakan pengalaman oleh karena kalau begitu itu adalah khayalan. Itu adalah bagian masa lampau oleh karena ada si pengamat yang terpisah dari apa yang diamati dan dengan demikian tidak ada perhatian.

K: Itulah sebabnya, Pak, saya mulai dengan bertanya pada permulaan, apakah kita mendiskusikan teori atau fakta kehidupan sehari-hari?

Rimpocheji, saya rasa pertanyaan Anda pertama adalah, dapatkah sejarah masa lampau ini, gerakan masa lampau ini, yang selalu memberi tekanan pada batin kita, otak kita, hubungan-hubungan kita, seluruh eksistensi kita, berakhir, sehingga ia tidak menghalangi pengamatan murni? Dapatkah kesedihan, ketakutan, kenikmatan, kesakitan, kecemasan, yang adalah kisah manusia, berakhir sekarang, sehingga masa lampau tidak mencampuri atau menghalangi pengamatan murni?

RMP.: Ya. Itulah pertanyaannya semula.

K: Anda bertanya--jika saya memahaminya dengan benar--adakah latihan, metode, sistem, bentuk meditasi, yang akan mengakhiri masa lampau?

RMP.: Setiap kali kita mencoba mengamati masa lampau, masa lampau menyela. Pada saat itu, pengamatan menjadi sia-sia. Begitulah menurut pengalaman saya.

K: Tentu saja, itu jelas.

RMP.: Nah, bagaimana mengamati tanpa campur tangan si pengamat?

K: Apakah kualitas atau hakekat dari si pengamat? Ketika Anda berkata si pengamat adalah seluruh masa lampau, apakah ia eling akan dirinya sebagai masa lampau?

RMP.: Saya rasa tidak.

K: Tidak, ia tidak eling.

R.B.: Ataukah ia sebagian eling bahwa ia adalah masa lampau?

RMP.: Tidak. Pada saat pengamatan, ia tidak eling akan masa lampau.

K: Pada saat ini kita tidak sedang mengamati; kita menyelidiki si pengamat. Kita bertanya, apakah si pengamat dapat eling akan dirinya.

RMP.: Maksud Anda pada saat pengamatan?

K: Bukan. Bukan pada saat pengamatan; lupakan pengamatan. Saya bertanya, apakah si pengamat dapat mengenali dirinya.

RMP.: Ya. Ia dapat memahami masa lampau, ia dapat memahami keterkondisiannya.

K: Dapatkah ia memahami keterkondisiannya sebagai orang luar mengamatinya, ataukah ia eling akan dirinya sebagai terkondisi? Anda melihat bedanya, Pak?

RMP.: Pengamatan oleh batin dari orang yang nyata, entah itu dualitas entah sendiri­itu tidak jelas. Keelingan akan diri--apakah itu dualitas?

K: Saya tidak tahu tentang dualitas. Saya tidak mau menggunakan kata-kata yang tidak kita pahami. Supaya lebih sederhana: Bisakah pikiran eling akan dirinya?

RMP: Tidak. Apakah itu sama dengan mengatakan, apakah kita eling akan iri hati, marah, dsb, sebagai lain dari diri kita?

K: Elingkah saya bahwa saya sedang marah? Apakah ada keelingan akan marah pada saat munculnya? Sudah tentu ada, saya bisa melihat munculnya iri hati. Saya melihat sehelai permadani indah, dan ada iri hati, ada keserakahan untuk memilikinya. Nah, di dalam mengenali itu, apakah pikiran eling bahwa ia adalah iri hati, ataukah iri hati itu sendiri eling? Saya iri hati, saya tahu apa arti kata 'iri hati'. Saya tahu reaksinya, saya tahu rasanya. Apakah rasa itu adalah kata itu? Apakah kata itu menciptakan rasa itu? Jika kata 'iri hati' tidak ada, maka benarkah itu iri hati? Jadi, adakah pengamatan akan iri hati, rasa tanpa katanya? Kita tidak tahu persis, tetapi adakah sesuatu yang kemudian kita beri nama?

P.J.: Pemberian nama yang menciptakan perasaan?

K: Itulah yang saya katakan. Kata menjadi lebih penting. Bisakah Anda membebaskan kata dari perasaan? Atau apakah kata membentuk perasaan? Saya melihat permadani. Ada persepsi, sensasi, kontak, dan pikiran, sebagai imaji memiliki permadani itu, maka timbullah keinginan. Dan imaji yang diciptakan pikiran adalah kata. Jadi, adakah pengamatan akan permadani itu tanpa kata, yang berarti tidak ada campur tangan pikiran?

RMP.: Pengamatan akan permadani, suatu obyek luar ... Itu bisa dilihat tanpa campur tangan.

K: Nah, mungkinkah mengamati tanpa kata, tanpa masa lampau, tanpa ingatan akan iri hati-iri hati sebelumnya.

RMP.: Itu sulit.

K: Kalau boleh saya tunjukkan, Pak, itu tidak menjadi sulit. Pertama-tama, hendaklah kita jelas: kata bukanlah halnya; deskripsi bukanlah apa yang dideskripsikan. Tetapi bagi kebanyakan dari kita, kata menjadi luar biasa penting. Bagi kita, kata adalah pikiran. Tanpa kata, adakah 'berpikir', dalam artinya yang biasa? Kata mempengaruhi pemikiran kita, bahasa membentuk pemikiran kita, dan pemikiran kita bersama kata, bersama simbol, bersama gambar, dan seterusnya. Nah, kita bertanya, dapatkah Anda mengamati perasaan itu, yang telah kita verbalkan sebagai 'iri hati', tanpa kata itu, yang berarti tanpa ingatan akan iri hati-iri hati di masa lampau?

RMP.: Itulah poin yang tidak kita lihat. Begitu pengamatan mulai, masa lampau sebagai pikiran selalu mencampuri. Bisakah kita mengamati tanpa campur tangan pikiran?

K: Saya bilang 'bisa', pasti.

J.U.: Petunjuk kepada semua ini terletak di dalam melihat bahwa si pejalan tidak berbeda dengan berjalan. Berjalan itu sendiri adalah si pejalan.

K: Apakah itu teori?

J.U.: Itu bukan teori. Kalau tidak begitu, tidak mungkin berdialog.

K: Apakah itu begitu dalam kehidupan sehari-hari?

J.U.: Ya. Ketika kita duduk di sini, itu hanya pada tingkat hubungan itu. Kita ada di sini untuk melihat fakta 'apa adanya', kita memisahkan si pelaku dari tindakan. Itu menjadi sejarah. Bila kita memahami bahwa si pelaku dan tindakan adalah satu, melalui pengamatan, maka kita mematahkan sejarah sebagai masa lampau.

A.P.: Apakah kita benar-benar jelas bahwa tidak ada perbedaan antara hubungan dan fakta hubungan?

J.U.: Saya harus menjelaskan. Ada pedati dan pedati itu penuh dengan beban. Semua yang diletakkan di atas pedati itu, di manakah itu bertumpu, di manakah itu berdiri? Itu bertumpu pada titik di bumi, titik di mana roda pedati menyentuh titik di bumi. Di titik itulah seluruh beban pedati bertumpu. Kehidupan adalah titik di mana sejarah sebagai masa lampau bertumpu--masa lampau dan masa depan. Momen saat kini yang eksis, ketika saya pegang dalam bidang pengamatan, patah. Dengan demikian, beban dan pedati itu patah.

A.P.: Bila Anda berkata itu patah, apakah perhatian itu pengalaman Anda? Jika yang Anda katakan itu fakta, maka pertanyaan Rimpoche tadi seharusnya sudah terjawab. Jika pertanyaannya belum terjawab, maka apa yang dikatakan adalah teoretis.

RMP.: Ini tidak menjawab pertanyaan saya.

K: Pak, pertanyaan Anda pada mulanya adalah, bisakah masa lampau berakhir? Itu pertanyaan yang sangat sederhana oleh karena seluruh kehidupan kita adalah masa lampau. Itu adalah kisah seluruh umat manusia, seluruh panjang, kedalaman, isi, dari masa lampau. Dan kita mengajukan pertanyaan yang amat sederhana tetapi amat rumit: Bisakah kisah yang maha luas beserta seluruh isinya yang amat banyak, seperti sungai yang amat besar dengan air yang amat banyak, berakhir?

Pertama-tama, apakah kita menyadari isinya yang amat banyak itu--bukan kata-kata, melainkan isi sesungguhnya? Ataukah itu sekadar teori bahwa itu masa lampau. Pahamkah Anda pertanyaan saya, Pak? Apakah kita menyadari beban yang besar dari masa lampau? Maka muncullah pertanyaan, apakah nilai masa lampau ini? Yang berarti, apakah nilai dari pengetahuan?

RMP.: Itu adalah titik realisasi.

A.P.: Realisasi sesungguhnya adalah mustahil oleh karena pada titik ini pikiran masuk.

K: Tidak ada realisasi oleh karena pikiran mencampuri. Mengapa? Mengapa pikiran harus mencampuri ketika Anda bertanya kepada saya: Apakah peran pengetahuan dalam hidup saya?

RMP.: Pengetahuan mungkin mempunyai kegunaannya sendiri.

K: Ya, pengetahuan mempunyai perannya yang terbatas. Secara psikologis, ia tidak punya tempat. Mengapa pengetahuan, masa lampau, mengambil alih bidang lain?

P.J.: Pak, apakah yang Anda tuju dengan pertanyaan ini? Saya bertanya begini oleh karena penerimaan akan pertanyaan itu sendiri juga berada dalam bidang pengetahuan.

K: Bukan. Itulah sebabnya saya mengajukan pertanyaan yang amat sederhana kepada Anda: Mengapa pengetahuan harus berperan dalam hubungan saya dengan orang lain? Apakah hubungan dengan orang lain merupakan ingatan? Ingatan berarti pengetahuan. Hubungan saya dengan dia, atau dengan Anda, menjadi ingatan--seperti misalnya, "Engkau melukai hatiku"; "Ia memujiku"; "Ia sahabatku"; "Engkau bukan sahabatku". Dengan demikian, tidak ada cinta. Bagaimana memori, ingatan ini, yang menghalangi cinta, bisa berakhir dalam hubungan?

A.P.: Pertanyaan tempat kita mulai semula telah berakhir digantikan oleh pertanyaan lain.

K: Saya tengah melakukannya: Apakah fungsi otak?

RMP.: Utuk menyimpan ingatan.

K: Apa artinya itu? Merekam; seperti tape recorder. Mengapa otak harus merekam kecuali apa yang mutlak perlu? Saya harus merekam di mana saya tinggal, bagaimana mengemudikan mobil. Harus ada perekaman hal-hal yang mempunyai kegunaan. Mengapa otak harus merekam ketika ia menghina saya, atau Anda memuji saya? Perekaman itulah yang merupakan kisah masa lampau--sanjungan, hinaan. Saya bertanya, bisakah itu berhenti?

RMP.: Ketika saya berpikir, itu sangat sulit ...

K: Saya akan tunjukkan kepada Anda itu tidak sulit.

RMP.: Pak, Anda berkata mengapa tidak merekam saja apa yang perlu, tetapi otak tidak tahu apa yang perlu. Itulah sebabnya ia terus merekam.

K: Bukan, bukan.

RMP.: Perekaman itu tidak disadari.

K: Tentu saja.

RMP.: Jadi bagaimana kita bisa merekam hanya apa yang perlu saja?

K: Mengapa itu tidak disadari? Apakah hakekat otak itu? Ia membutuhkan keamanan--keamanan fisik--kalau tidak ia tidak bisa berfungsi. Ia membutuhkan makanan, pakaian dan tempat berlindung. Adakah keamanan dalam bentuk lain? Pikiran menciptakan bentuk-bentuk keamanan lain: aku seorang Hindu, beserta tuhan-tuhanku. Pikiran menciptakan ilusi, dan di dalam ilusi itu otak mencari perlindungan, keamanan. Nah, apakah pikiran menyadari bahwa penciptaan tuhan-tuhan dsb itu suatu ilusi, dan dengan demikian, membuangnya, sehingga saya tidak lagi pergi ke gereja, melakukan ritual keagamaan, oleh karena semua itu produk pikiran, yang di dalamnya otak mendapatkan sejenis keamanan ilusif?

J.U.: Saat perlindungan-diri adalah juga masa lampau. Untuk mematahkan kebiasaan perlindungan-diri juga merupakan suatu titik. Itu adalah titik di mana seluruh eksistensi bertumpu. Atma ini yang adalah 'samskriti' juga harus dinegasikan. Itulah satu-satunya jalan keluar.

K: Untuk melestarikan diri, pelestarian-diri secara fisik, bukan hanya Anda dan saya, melainkan seluruh umat manusia, mengapa kita membagi diri menjadi Hindu, Muslim, Komunis, Sosialis, Katolik?

RMP.: Itu adalah ciptaan pikiran, yang ilusif.

K: Namun kita berpegang erat kepadanya. Anda menyebut diri Anda seorang Hindu. Mengapa?

RMP.: Itu untuk melestarikan diri, suatu refleks pelestarian-diri.

K: Apakah itu pelestarian-diri?

A.P.: Itu bukan pelestarian-diri, oleh karena ia musuh dari pelestarian-diri.

P.J.: Pada tingkat tertentu kita bisa saling memahami. Tetapi itu tidak menghentikan prosesnya.

K: Karena kita tidak menggunakan otak kita untuk menemukan, untuk mengatakan bahwa memang begitu: Saya harus melestarikan diri.

P.J.: Anda berkata, otak seperti tape recorder yang merekam. Adakah fungsi lain dari otak, kualitas lain?

K: Ya, yakni kecerdasan.

P.J.: Bagaimana membangkitkannya?

K: Begini, saya melihat tidak ada keamanan dalam nasionalisme, dan dengan demikian saya keluar; saya bukan lagi seorang India. Dan saya melihat tidak ada keamanan dalam mengikuti suatu agama; dengan demikian saya tidak masuk suatu agama. Nah, apa artinya itu? Saya sudah mengamati betapa bangsa-bangsa saling bertempur, betapa komunitas-komunitas saling bertempur, betapa agama-agama saling bertempur, kebodohannya, dan pengamatan itu sendiri membangunkan kecerdasan. Melihat apa yang palsu adalah bangunnya kecerdasan.

P.J.: Apakah penglihatan ini?

K: Mengamati secara lahiriah Inggris, Prancis, Jerman, Rusia, Amerika saling menggorok, saya melihat betapa bodohnya itu. Melihat kebodohan itu adalah kecerdasan.

R.B.: Apakah Anda berkata, bahwa begitu kita melihati ini, perekaman yang tidak perlu itu berakhir?

K: Ya. Saya bukan lagi seorang nasionalis. Itu adalah hal yang hebat.

SUNANDA PATWARDHAN: Maksud Anda, jika kita tidak lagi menjadi nasionalis, semua perekaman yang tidak perlu berhenti?

K: Ya, yang berkaitan dengan nasionalisme.

R.B.: Apakah Anda berkata, bahwa bila orang melihat bahwa keamanan atau kelestarian-diri adalah minimum yang mutlak perlu dan menghapus segala sesuatu yang lain, maka perekaman itu berhenti?

K: Jelas, dengan sendirinya.

J.U.: Satu lagu berakhir, dan lagu lain mulai; suatu lagu baru direkam di atas lagu yang lama. Itu akan berlangsung terus. Musik tua yang destruktif akan rusak dan musik baru yang bagus, yang benar, mengambil alih. Inikah masa depan umat manusia?

K: Bukan; lihat, itu adalah teori. Sudahkah Anda berhenti menjadi Buddhis?

J.U.: Saya tidak tahu. Masa lampau sebagai sejarah telah membentuk imaji dalam otak saya. Ke-Buddhis-an saya adalah masa lampau--masa lampau historis.

K: Jadi, lepaskan--yang berarti, Anda melihat ilusi sebagai seorang Buddhis.

J.U.: Itu benar.

K: Melihat ilusi itu adalah awal dari kecerdasan.

J.U.: Tetapi kita ingin melihat, jika satu hal runtuh, tidak terbentuk yang lain.

K: Bisakah kita menggarap ini secara lain? Kita dikelilingi hal-hal ilusif yang palsu. Haruskah kita berjalan selangkah demi selangkah, satu per satu? Atau adakah jalan untuk memandang keseluruhan ilusi ini dan mengakhirinya? Untuk melihat keseluruhan gerak ilusi,gerak pikiran yang menciptakan ilusi-ilusi, dan dengan melihatnya mengakhirinya--mungkinkah itu?

J.U.: Itu mungkin.

K: Apakah itu teori? Pada saat kita memasuki teori, itu tidak bermakna apa-apa.

J.U.: Jika kita bisa mematahkan proses perlindungan-diri, maka itu mungkin. Wujud proses itu lalu mengalami perubahan; tetapi proses perlindungan-diri itu sendiri berakhir. Bila kita berpikir bahwa sesuatu mempunyai eksistensi, bahkan itu pun ilusi. Ribuan ilusi seperti itu patah, dan ribuan ilusi baru muncul. Itu bukan 'sadhana'; itu terjadi sepanjang waktu. Sejauh ini kita hanya berbicara tentang ilusi yang kasar; itu tentu patah. Tetapi suatu imaji baru terus-menerus membentuk diri. Ia membuat struktur pikirannya sendiri.

A.P.: Yang dikatakannya ialah bahwa proses menegasikan ini memberi kesempatan timbulnya ilusi yang baru dan lebih halus.

K: Bukan. Pikiran itu terbatas; apa pun yang diciptakannya terbatas--apa pun: tuhan-tuhan, pengetahuan, pengalaman, segala sesuatu terbatas. Melihatkah Anda bahwa pikiran terbatas dan kegiatannya terbatas? Jika Anda melihat itu, itu selesai; tidak ada lagi ilusi, tidak ada ilusi lebih jauh.

RMP.: Titik ini, pikiran ini, muncul lagi.

K: Itulah sebabnya saya katakan, Pak, pikiran harus menemukan tempat yang semestinya, yang adalah kegunaan, dan ia tidak punya tempat lain. Jika ia punya tempat lain, itu ilusi. Pikiran bukan cinta. Apakah cinta ada? Anda sepakat pikiran itu terbatas, tetapi apakah Anda mencintai manusia? Saya tidak mau teori. Apa gunanya semua ini? Apa gunanya semua pengetahuan Anda, Bhagavad Gita, Upanishad, dan lainnya itu? Apakah kita menjadi jelas, ataukah kita masih berada di tingkat verbal?

RMP.: Bukan; bukan pada tingkat verbal.

K: Bila kita sungguh-sungguh telah menemukan keterbatasan pikiran, maka ada pemekaran dari sesuatu yang lain. Apakah itu sungguh-sungguh terjadi? Apakah itu tengah berlangsung?

RMP.: Saya sekarang menyadari keterbatasan pikiran dengan lebih menyentuh.***

[Diterjemahkan oleh: Hudoyo Hupudio]

KEMBALI KE DIALOG