jkbanner

THE TEACHINGS OF J.KRISHNAMURTI   -   INDONESIAN WEBSITE



DIALOG

DIALOG : BATIN YANG RELIGIUS
(Diambil dari buku Jaringan Kerja Pikiran, Bab IX)



Kita seperti dua orang sahabat duduk-duduk di taman pada suatu hari yang cerah berbincang-bincang tentang masalah-masalah kita, menyelidiki sifat sebenarnya dari eksistensi kita, dan bertanya pada diri kita sendiri dengan kesungguhan hati mengapa hidup menjadi problem yang begitu besar, mengapa, walaupun secara intelektual kita canggih sekali, namun kehidupan sehari-hari kita demikian berat dan membosankan, tanpa arti sedikitpun, kecuali untuk bertahan hidup yang juga masih diragukan. Mengapa hidup, eksistensi sehari-hari, menjadi siksaan seperti itu? Kita mungkin pergi ke gereja, mengikuti seorang pemimpin politik atau agama, namun kehidupan sehari-hari selalu rusuh, walaupun kadang kala ada kegembiraan, kebahagiaan, sebuah mega mendung selalu membayangi hidup kita. Dan dua sahabat ini, seperti kita, Anda dan si pembicara, memperbincangkan bersama sebagai sahabat, barangkali dengan rasa kasih-sayang, dengan hati-hati, dengan keprihatinan, apakah itu mungkin untuk menghayati kehidupan kita sehari-hari tanpa masalah sedikitpun. Walaupun kita mengenyam pendidikan yang tinggi, mempunyai karir-karir dan spesialisasi tertentu, kita mempunyai perjuangan-perjuangan yang tidak terpecahkan ini, rasa sakit dan derita, dan kadang-kadang secercah rasa gembira dan perasaan tidak sepenuhnya mementingkan diri.

Jadi marilah kita memeriksa masalah mengapa kita manusia hidup seperti ini, pergi ke kantor dari jam sembilan sampai jam lima atau jam enam selama lima puluh tahun, dan selalu dengan otak, batin yang terus-menerus sibuk. Tidak pernah ada ketenangan, tidak pemah ada kedamaian, tetapi selalu dalam kesibukan ini atau itu. Dan itulah hidup kita. Itulah kehidupan kita sehari-hari, yang monoton, agak kesepian dan tidak terasa cukup. Dan kita berusaha untuk keluar dari situ melalui agama, melalui aneka ragam hiburan. Pada akhir hari kita tetap berada di tempat di mana kita sudah berada ribuan dan ribuan tahun lamanya. Rupa-rupanya kita hanya berubah sedikit sekali, psikologis, batiniah. Masalah-masalah kita kian menanjak jumlahnya, dan selalu ada ketakutan akan usia tua, penyakit, suatu kecelakaan yang akan melenyapkan kita dari muka bumi. Maka inilah eksistensi kita, dari masa kanak-kanak hingga mati, secara sukarela atau tidak sukarela. Tampaknya kita belum mampu memecahkan problem itu, problem kematian. Khususnya pada usia yang lebih lanjut orang mengingat-ingat segala hal yang telah lalu, waktu ada rasa senang, waktu ada rasa sakit, dan perihal penderitaan, dan perihal airmata. Namun selalu ada benda yang tak dikenal yang disebut kematian yang ditakuti oleh kebanyakan dari kita. Dan sebagai dua sahabat duduk di taman di atas bangku, bukan di dalam ruangan dengan lampunya yang terang-benderang, yang agak buruk ini, melainkan duduk di bawah cahaya matahari yang bersinar melalui celah-celah dedaunan, bebek-bebek di kali dan kemolekan bumi, marilah kita membicarakan ini bersama. Marilah kita membicarakannya bersama-sama sebagai dua sahabat yang sudah menghayati satu kehidupan panjang yang serius dengan segala kesusahannya, kesusahan seks, kesepian, keputusasaan, depresi, kecemasan, ketidak-pastian, perasaan ketidak-berartian — dan yang selalu berakhir dengan kematian.

Dengan membicarakannya, kita mendekatinya secara intelektual — yaitu, kita merasionalisasikannya, berkata bahwa itu tidak terelakkan, jangan takut padanya atau lari darinya melalui suatu bentuk kepercayaan tentang akhirat, atau reinkamasi, atau, jika Anda intelektual sekali, mengatakan pada diri Anda sendiri bahwa kematian ialah akhir dari segalanya, eksistensi kita, pengalaman-pengalaman kita, kenang-kenangan kita, betapapun lembut, menyenangkan, berlimpah-limpah; juga akhir dari rasa sakit dan derita. Apa arti semua itu, hidup ini yang, jika kita memeriksanya dari dekat sekali, betul-betul hampir tanpa anti? Kita dapat, secara intelektual, verbal, membangun suatu arti bagi hidup, namun cara kita hidup itu sebenamya sedikit sekali artinya. Hidup dan mati ialah yang kita ketahui. Apapun yang lain dari itu adalah teori, spekulasi; pengejaran tanpa arti dari suatu kepercayaan yang di dalamnya kita temukan semacam rasa aman dan harapan. Kita mempunyai cita-cita yang diproyeksikan oleh pikiran-pikiran dan kita berjuang untuk mencapainya. Inilah hidup kita, bahkan bila kita sangat muda sekalipun, penuh vitalitas dan kegembiraan, dengan perasaan bahwa kita dapat melakukan hampir apa saja; tetapi dengan datangnya masa muda, setengah baya dan usia tua, selalu ada pertanyaan tentang kematian ini.

Anda bukan sekedar, jika saya boleh menunjukkannya, mendengarkan serentetan kata-kata, beberapa gagasan, tetapi sebaiknya bersama-sama, maksud saya bersama-sama, menyelidiki seluruh masalah hidup dan mati. Dan, atau Anda melakukannya dengan hati Anda, dengan seluruh batin Anda, atau Anda melakukannya secara parsial, dangkal — dan karena itu dengan arti yang kecil sekali.

Kita pertama-tama harus melihat bahwa otak kita tidak pemah bertindak sepenuhnya, selengkapnya; kita hanya menggunakan sebagian kecil sekali dari otak kita. Bagian itu ialah kegiatan pikiran. Karena pikiran itu sendiri sebuah bagian, pikiran tidak lengkap. Otak bekerja dalam batas-batas daerah yang sempit, tergantung pada indera, yang juga terbatas, parsial; keseluruhan indera-indera tak pernah bebas, bangkit. Saya tidak tahu apakah Anda pemah bereksperimen dengan mengamati sesuatu dengan keseluruhan, indera Anda; mengamati laut, burung-burung dan sinar bulan di malam hari atas sebuah halaman rumput hijau, untuk melihat apakah Anda mengamati secara parsial atau dengan semua indera bangkit sepenuhnya. Kedua keadaan itu berbeda sama sekali. Jika Anda mengamati sesuatu secara parsial Anda lebih cenderung membuat sikap hidup yang berpusatkan-diri yang separatif. Tetapi jika Anda mengamati sinar bulan yang membuat garis keperakan di atas air itu dengan semua indera Anda, yaitu dengan batin, dengan hati, dengan syaraf memberikan seluruh perhatian Anda kepada pengamatan itu, maka Anda akan melihat bagi diri Anda sendiri bahwa di situ tidak ada pusat dari mana Anda mengamati.

Ego kita, personalitas kita, keseluruhan struktur kita sebagai individu, seluruhnya disusun oleh memori; kita adalah memori. Ini suatu hal yang harus diselidiki, sebab itu harap jangan menerimanya begitu saja. Amati, dengarkan. Si pembicara berkata bahwa ‘Anda', si ego, ‘aku', semuanya adalah memori. Tidak ada satu titik atau ruang yang di dalamnya terdapat kejelasan — Anda dapat percaya, berharap, mempunyai keyakinan, bahwa ada sesuatu di dalam diri Anda yang tidak tercemar, yaitu Tuhan, yaitu percikan dari sesuatu yang tanpa waktu, Anda dapat percaya pada semua itu, namun kepercayaan itu hanya ilusi saja. Semua kepercayaan adalah ilusi. Tetapi faktanya ialah bahwa seluruh eksistensi kita memori belaka, kenang-kenangan. Tak ada satu titik atau ruang di dalam batin yang bukan memori. Anda dapat memeriksa hal ini; jika Anda menyelidiki dengan serius ke dalam diri Anda sendiri Anda akan melihat bahwa si ‘aku', si ego, memori belaka, kenangan. Dan itulah hidup Anda. Kita bekerja, hidup, dari memori. Dan bagi kita, kematian ialah berakhirnya memori itu.

Apakah saya berbicara pada diriku sendiri ataukah kita semuanya bersama-sama melakukan ini? Si pembicara biasa berbicara di tempat terbuka, di bawah pohon-pohon, atau di tenda yang luas tanpa lampu-lampu yang menyilaukan ini, sehingga kita bisa berkomunikasi secara intim seorang dengan lainnya. Terus terang saja yang ada hanyalah Anda dan saya yang berbincang-bincang bersama, bukan hadirin yang banyak sekali ini dalam ruangan yang luas, melainkan Anda dan saya duduk di pinggir sebuah sungai, di atas bangku, membicarakan bersama satu hal ini. Dan seorang mengatakan kepada lainnya, kita bukan apa-apa selain memori, dan pada memori itulah kita terikat — rumahku, milikku, pengalamanku, hubunganku, kantor atau pabrik tempat kerjaku, ketrampilan yang aku ingin bisa gunakan selama satu kurun waktu tertentu — aku adalah kesemuanya itu. Pada semuanya itu, pikiran terikat. Itulah yang kita sebut hidup. Dan keterikatan ini menciptakan segala macam masalah; jika kita terikat maka ada ketakutan akan kehilangan; kita terikat karena kita merasa seorang diri dengan suatu rasa kesepian kekal yang mencekik, mengasingkan, membawa depresi. Dan semakin terikat kita pada seseorang, lagi-lagi sebuah memori, sebab orang lain itu sebuah memori, semakin banyak timbul masalah. Aku terikat pada nama, pada bentuk, eksistensiku terikat pada memori-memori yang telah kukumpulkan sepanjang hidupku itu. Dimana ada keterikatan aku lihat di situ terdapat kerusakan. Bila aku terikat pada suatu kepercayaan, dengan harapan bahwa dalam keterikatan itu akan terdapat keamanan tertentu, baik psikologis maupun fisik, maka keterikatan itu mencegah pemeriksaan lebih lanjut. Aku takut menyelidiki apabila aku terikat sekali pada sesuatu, pada seseorang, pada sebuah gagasan, pada sebuah pengalaman. Jadi kerusakan ada dimana ada keterikatan. Seluruh hidup kita sebuah gerak dalam batas-batas bidang segala yang dikenal. Ini jelas. Kematian berarti berakhimya yang dikenal. Berarti berakhimya organisme fisik, berakhirnya semua memori yakni aku, sebab aku tak lain dan tak bukan memori itu saja—karena memori ialah yang dikenal. Dan aku takut untuk melepaskannya, yang berarti kematian. Saya pikir itu semua cukup jelas, paling tidak secara verbal. Dengan intelek Anda dapat menerima hal itu secara logis, sehat; itu sebuah fakta.

Dunia Asia percaya pada reinkarnasi, yang berarti jiwa, ego, si aku, yakni sekumpulan memori, akan lahir lagi di waktu lain dalam suatu kehidupan yang lebih baik jika jiwa itu berkelakuan baik sekarang, membawa dirinya secara benar, menghayati satu kehidupan tanpa kekerasan, tanpa ketamakan dan sebagainya; maka dalam reinkarnasi berikutnya jiwa itu akan mempunyai kehidupan yang lebih baik, posisi yang lebih baik. Tetapi sebuah kepercayaan tentang reinkamasi sekedar sebuah kepercayaan saja sebab mereka yang mempunyai kepercayaan kuat ini tidak menghayati suatu kehidupan yang bajik pada hari ini. Itu hanya sebuah ide bahwa kehidupan berikutnya akan menjadi bagus sekali. Mereka berkata bahwa kualitas kehidupan berikutnya pasti cocok dengan kualitas kehidupan sekarang. Tetapi kehidupan sekarang begitu menyiksa, begitu menuntut, begitu rumit, sehingga mereka lupa akan kepercayaan itu, dan berjuang, menipu, menjadi munafik, dan menerima setiap bentuk kekasaran. Itu satu respons terhadap kematian, yaitu percaya akan adanya kehidupan berikutnya. Tetapi apa yang akan berinkarnasi itu? Apa yang akan hidup terus? Apa yang mempunyai kelanjutannya dalam kehidupan kita sekarang? Itu adalah kenangan dari pengalaman-pengalaman, kenikmatan-kenikmatan, ketakutan-ketakutan, kecemasan-kecemasan hari kemarin, dan itu semua berlanjut terus sepanjang hidup kecuali jika kita mematahkannya dan meninggalkan arus itu.

Nah, pertanyaannya sekarang ialah: apakah mungkin, selagi orang hidup, dengan semua energi, kemampuan dan kerusuhan, untuk mengakhiri, misalkan, keterikatan? Sebab itulah yang akan terjadi apabila Anda meninggal. Anda mungkin terikat pada isteri atau suami Anda, pada milik Anda. Anda mungkin terikat pada satu kepercayaan adanya tuhan yang sekedar sebuah proyeksi, atau sebuah karangan pikiran, tetapi Anda terikat padanya karena hal itu memberikan semacam rasa aman tertentu betapa pun ilusif sifatnya. Kematian berarti berakhimya keterikatan itu. Sekarang selagi hidup, apakah Anda dapat mengakhiri secara sukarela, dengan mudah, tanpa usaha sedikit pun, bentuk keterikatan itu? Yang berarti mati terhadap sesuatu yang Anda kenal—mengertikah Anda? Dapatkah Anda melakukan ini? Sebab itulah mati bersama hidup, bukanya terpisah oleh limapuluh atau terserah berapa tahun, sambil menanti datangnya penyakit yang akan merenggut jiwa Anda dari kehidupan. Itulah hidup dengan seluruh vitalitas, energi, kemampuan intelektual Anda dan dengan hati besar, dan di saat yang sama mati terhadap konklusi tertentu, sifat-sifat istimewa, pengalaman, keterikatan rasa sakit tertentu. Yakni, selagi hidup, juga hidup dengan kematian. Maka kematian bukan sesuatu yang jauh sekali, kematian bukan sesuatu yang ada di akhir hayat kita, dibawa oleh suatu kecelakaan, penyakit atau usia tua, melainkan lebih tepat suatu pengakhiran dari segalanya yang bersifat memori—itulah kematian, sebuah kematian yang tidak terpisah dari kehidupan.

Sebagai dua orang sahabat duduk bersama di tepi sebuah sungai, dengan airnya yang jernih mengalir—bukan air yang kotor dan berlumpur—melihat gerak ombak yang berkejar-kejaran mengikuti turunnya arus sungai, kita harus juga memikirkan tentang mengapa agama memegang peran yang begitu besar dalam hidup orang dari zaman yang paling purba hingga hari ini? Apakah batin yang religius itu, seperti apa? Apa arti kata religi yang sebenarnya? Soalnya, menurut sejarah, sejumlah peradaban telah menghilang, dan kepercayaan-kepercayaan baru telah menggantikannya, yang telah melahirkan peradaban-peradaban baru dan kebudayaan-kebudayaan baru —bukan dunia teknologinya komputer, kapal selam, perangkat perang, atau usahawan-usahawan atau pakar ekonomi, melainkan orang-orang religius di segala penjuru dunia telah menimbulkan suatu perubahan yang menakjubkan. Jadi orang harus menyelidiki bersama apa yang kita maksud dengan ‘religi' itu. Apa maknanya? Apakah itu sekedar takhyul, tidak logis dan tanpa arti? Ataukah ada sesuatu yang jauh lebih besar, suatu yang tak terhingga indahnya? Untuk menemukan itu, apakah tidak perlu — kita bercakap-cakap tentang hal ini sebagai dua sahabat—tidakkah perlu untuk hidup bebas dari segala sesuatu yang dikarang pikiran tentang religi?
Manusia senantiasa mencari sesuatu yang ada di luar eksistensi fisik. Ia selalu mencari, bertanya, menderita, menyiksa dirinya sendiri, untuk menemukan apakah ada sesuatu yang tidak terlibat oleh waktu, yang bukan ciptaan pikiran, yang bukan kepercayaan atau keyakinan. Untuk memeriksanya orang harus betul-betul bebas, sebab jika Anda terpaku pada satu bentuk khusus kepercayaan, maka kepercayaan itu sendiri akan mencegah penyelidikan ke dalam sesuatu yang kekal—jika sesuatu semacam kekekalan itu ada, sesuatu yang tak tersentuh oleh waktu, yang di luar segala ukuran. Jadi orang harus bebas—jika orang serius dalam hal menyelidiki apa religi itu—orang harus bebas dari segala-galanya yang telah dikarang pikiran tentang sesuatu yang dianggap religius. Yakni, segala-galanya yang telah dikarang oleh Hinduisme, misalkan, dengan takhyulnya, dengan kepercayaannya, dengan citranya, dan kesusasteraannya yang kuno seperti Upanishad—orang harus bebas sama sekali dari semua itu. Jika orang terikat pada semua itu maka mustahil, tentunya, untuk menemukan sesuatu yang orisinil. Anda mengerti masalahnya? Jika batinku, otakku terkondisi oleh takhyul, kepercayaan, dogma dan pemberhalaan Hindu, dengan segala tradisi kunonya, maka ia terpaku pada semuanya itu dan tidak dapat bergerak, ia tidak bebas.

Agama harus menyentuh cara hidup kita, makna hidup, sebab barulah ada tertib dalam hidup. Tertib ialah sesuatu yang tidak ada kaitannya dengan kekacauan. Kita hidup dalam kekacauan — yaitu, dalam konflik, kontradisi, menyatakan ini, berbuat itu, berpikir begini dan bertindak begitu: itulah kontradiksi. Di mana ada kontradiksi, yakni pemisahan, pasti ada kekacauan. Dan batin yang religius sama sekali tanpa kekacauan. Itulah fondasi suatu kehidupan religius, bukan tetek bengek yang terjadi di sekitar guru-guru kebatinan dengan kedunguannya itu.

Sungguh luar biasa betapa banyak guru-guru kebatinan datang untuk bertemu si pembicara, beberapa di antara mereka datang karena mereka mengira bahwa saya menyerang mereka. Mereka mau membujuk saya untuk tidak menyerang, mereka berkata 'Yang kau katakan dan yang kau hayati itu kebenaran mutlak, tetapi itu bukan bagi kami, sebab kami harus membantu orang-orang yang tidak sepenuhnya maju seperti kamu'. Anda lihat permainan yang mereka lakukan—mengertikah Anda? Jadi orang heran mengapa ada orang Barat pergi ke India, mengikuti guru-guru ini, didiksakan—apa pun itu artinya — mengenakan aneka ragam jubah dan mengira bahwa mereka religius sekali. Tetapi ambillah jubahnya, mintalah mereka berhenti dan selidiki mereka, maka mereka persis seperti Anda dan saya.

Jadi ide untuk pergi ke suatu tempat untuk menemukan penerangan batin, mengganti nama Anda dengan narna Sansekerta, tampaknya begitu tidak masuk di akal dan romantis, tanpa realita sedikit pun—tetapi ribuan orang berbuat itu. Barangkali itu satu bentuk hiburan tanpa banyak arti. Si pembicara tidak sedang menyerang. Marilah kita mengerti bahwa: kita tidak sedang menyerang pihak mana pun, kita sekedar mengamati —mengamati kebodohan pikiran manusia, betapa mudahnya kita terperangkap; kita begitu mudah terpengaruh.

Batin yang religius ialah batin yang faktual sekali; ia berurusan dengan fakta, dengan apa yang betul-betul terjadi di dunia lahir dan dunia batin. Dunia lahir ialah ekspresi dari dunia batin; tidak ada pemisahan antara yang lahiriah dan yang batiniah. Kehidupan religius ialah kehidupan yang tertib, yang cermat, berurusan dengan sesuatu yang benar-benar ada di batin, tanpa ilusi, sehingga orang menjalani suatu kehidupan benar dan tertib. Bila itu telah mantap, tidak tergoyahkan, maka barulah kita mulai bisa menyelidiki meditasi itu apa.

Barangkali kata itu dahulu tidak ada di dunia Barat sebagai yang orang menggunakannya sekarang sejak tigapuluhan tahun yang lalu. Guru-guru dari Timur telah membawanya kemari. Ada meditasi cara Tibet, meditasi cara Zen, meditasi cara Hindu, meditasi khusus seorang guru yang khusus meditasi yoga, duduk bersila, bemapas — Anda tahu semua itu. Semua itu disebut meditasi. Kita bukannya memburukkan nama orang-orang yang melakukan semua ini. Kita hanya mau menunjukkan betapa meditasi itu menjadi tak masuk di akal. Dunia Kristiani percaya pada kontemplasi, berserah diri pada kehendak Tuhan, doa dan sebagainya. Ada hal yang sama di dunia Asia, hanya mereka menggunakan kata-kata lain dalam Sansekerta, namun sama halnya — orang mencari suatu jenis keamanan, kebahagiaan, kedamaian yang kekal, dan karena tidak menemukannya di dunia, berharap bahwa hal itu ada di satu atau lain tempat entah di mana — yaitu pencarian yang mati-matian untuk memperoleh sesuatu yang tak terhancurkan —pencarian yang dilakukan manusia sejak waktu tak terukur.

Jadi kita harus menyelidiki bersama, secara mendalam, meditasi itu apa, dan apakah ada sesuatu apa pun yang teramat suci—bukan sesuatu yang dikarang pikiran sebagai yang suci, itu bukanlah suci. Yang diciptakan pikiran itu tidak suci, tidak keramat karena didasarkan pada pengetahuan, dan bagaimana sesuatu yang dikarang pikiran, yang karenanya tidak sempurna, bersifat keramat? Tetapi di mana-mana di dunia kita memuja buah karangan pikiran itu.

Tidak ada sistem, tidak ada latihan kecuali kejelasan persepsi suatu batin yang bebas untuk mengamati, batin yang tanpa jurusan, tidak mempunyai pilihan. Kebanyakan sistem meditasi mempunyai masalah pengontrolan pikiran. Kebanyakan meditasi, apakah Zen, Hindu, Buddhis, Kristiani, atau meditasinya guru yang paling mutakhir, berusaha untuk mengendalikan pikiran; melalui kontrol Anda memusatkan diri, Anda membawa seluruh energi Anda pada sebuah titik khusus. Itu konsentrasi, yang berarti bahwa ada yang mengontrol yang berbeda dari yang dikontrol. Si pengontrol adalah pikiran, memori, dan apa yang dikontrolnya masih tetap pikiran yang melantur, maka muncullah konflik. Anda duduk dengan tenang dan pikiran pergi kemana-mana; Anda seperti seorang anak sekolah yang melihat ke luar melalui jendela dan gurunya berkata, ‘Jangan melihat ke luar jendela, berkonsentrasilah pada bukumu'. Kita harus belajar bahwa faktanya ialah: si pengontrol adalah yang dikontrol. Si pengontrol, si pemikir, yang mengalami, adalah menurut pikiran kita, lain daripada yang dikontrol, dari gerak pikiran, dad pengalamannya. Tetapi jika kita mengamati dari dekat, maka si pemikir ialah pikiran. Pikiran telah membuat si pemikir terpisah dari pikiran, yang lalu berkata, ‘Aku harus mengontrol'. Jadi bila Anda melihat bahwa si pengontrol ialah yang dikontrol, Anda menghilangkan konflik sama sekali. Konflik hanya ada apabila ada pemisahan. Dimana ada pemisahan antara si pengamat, orang yang menyaksikan, orang yang mengalami dan sesuatu yang ia amati dan alami, pasti ada konflik. Hidup kita dalam keadaan konflik karena kita hidup dengan pemisahan ini. Tetapi pemisahan ini semu, tidak riil, itu sudah menjadi kebiasaan kita, kebudayaan kita, untuk mengontrol. Kita tidak pemah melihat bahwa si pengontrol ialah sesuatu yang dikontrolnya.

Jadi bila orang menyadari fakta itu—bukan secara verbal, bukan secara idealistik, bukan sebagai suatu keadaan Utopia yang Anda harus berjuang untuk mencapainya, melainkan betul-betul menyadari dalam hidup orang bahwa si pengontrol ialah yang dikontrol, si pemikir ialah pikiran — maka seluruh pola berpikir orang mengalami perubahan radikal dan tidak ada konflik. Perubahan itu mutlak perlu jika orang bermeditasi, sebab meditasi menuntut suatu batin yang penuh kasih, dan karenanya inteligen sekali, dengan suatu inteligensi yang dilahirkan oleh cinta, bukan oleh pikiran yang cerdik. Meditasi berarti didirikannya tertib dalam kehidupan sehari-hari, sehingga tidak ada kontradiksi; itu berarti telah ditolaknya sama sekali semua sistem meditasi sehingga batin bebas sama sekali, tanpa arah; sehingga batin betul-betul hening. Mungkinkah itu? Sebab, orang mengoceh terus tak henti-hentinya; saat orang meninggalkan tempat ini orang akan mulai mengoceh. Batin akan melanjutkan kehidupannya yang tetap sibuk, mengoceh, berpikir, berjuang, dan karena itu tidak ada ruang. Ruang itu perlu supaya ada keheningan, karena batin yang berlatih, berjuang, untuk menjadi hening tidak pemah hening. Tetapi bila ia melihat bahwa keheningan itu mutlak perlu— bukan keheningan yang diproyeksikan oleh pikiran, bukan keheningan antara dua nada, antara dua kegaduhan, antara dua peperangan, melainkan heningnya tertib—maka dalam keheningan itulah, kebenaran, yang baginya tidak ada jalan, ada. Kebenaran yang tanpa waktu, keramat, tidak dapat rusak. Itulah meditasi, itulah batin yang religius.

20 September 1981


KEMBALI KE DIALOG