jkbanner

THE TEACHINGS OF J.KRISHNAMURTI   -   INDONESIAN WEBSITE



CERAMAH

Apakah yang harus dilakukan seorang manusia di dunia ?
(Diambil dari buku Andalah Dunia Ini, Bab C-1)


Makin lama makin menjadi sukar untuk hidup tenteram dalam dunia ini tanpa mengundurkan diri ke dalam sebuah biara atau ke dalam suatu ideologi yang bersumber pada keakuan. Dunia berada dalam ketidaktertiban yang sedemikian rupa, dan telah terdapat begitu banyaknya teori-teori dan anjuran-anjuran spekulatif tentang bagaimana orang harus hidup dan apa yang harus dilakukan. Ahli-ahli filsafat telah menggarap soal itu sejak lama sekali, menelorkan gagasan-gagasan mereka tentang apakah manusia itu dan apa saja yang seharusnya dilakukannya. Karena saya melakukan perjalanan di seluruh dunia —bukan sebagai seorang ahli filsafat atau seorang manusia yang penuh sesak dengan banyak ideologi dan tidak mempunyai kepercayaan sama sekali tentang apapun —saya bertanya kepada diri sendiri apakah itu memang mungkin bagi manusia untuk berubah.

Apabila kita mengajukan pertanyaan itu (dan saya yakin mereka di antara kita yang agak mau berpikir dengan serius bertanya demikian), kita rnendengar orang berkata bahwa kita seharusnya lebih dulu merubah dunia — yaitu, merubah struktur sosial dengan ekonominya — dan bahwa hal itu harus merupakan suatu perubahan di seluruh dunia, suatu revolusi dunia, bukan suatu perubahan mengenai hanya sebagian saja dari dunia. Kalau sudah begitu, demikian katanya, tidak perlu lagi bagi manusia perorangan untuk mengusahakan perubahan diri sama sekali dia akan berubah dengan sendirinya. Keadaan sekeliling lalu akan mendatangkan pekerjaan yang cocok, waktu terluang, perhubungan yang benar, pertimbangan, cinta, pengertian dan seterusnya. Demikianlah terdapat mereka yang, dengan berpikir demikian, menganjurkan perubahan keadaan sekeliling — dan hal itu harus terjadi di seluruh dunia — sehingga manusia, mahluk ciptaan keadaan sekelilingnya, juga akan berubah, secara wajar.

Lalu terdapat pemisahan ini, antara yang di dalam dan yang di luar, yang di luar ialah keadaan sekeliling, masyarakat. Laksanakanlah revolusi mendalam di masyarakat, mereka berkata, dan hal ini akan menghasilkan perubahan dalam perorangan : si "anda" dan si "aku". Pemisahan ini telah dipertahankan selama ribuan tahun, pemisah-misahan antara apa yang dinamakan hal spirituil, dan apa yang duniawi, benda — hal-hal religius dan yang disebut duniawi. Dan pembagi-bagian ini sendiri teramat merusak, karena hal itu melahirkan pemisahan dan serangkaian konflik : bagaimana yang di dalam dapat menyesuaikan diri kepada yang di luar dan betapa yang di luar membentuk yang di dalam. Inilah selalu yang menjadi problem. Seluruh dunia Komunis menyangkal hal spirituil ini; mereka berkata, “Jangan hiraukan tentang itu, ia akan mengurus diri sendiri apabila segala sesuatu terorganisir secara sempurna dan birokratis".

Kita melihat pula bahwa manusia, dengan semua kekhawatirannya, kekerasannya, keputusasaannya, rasa takutnya, keserakahannya, persaingannya yang tak kunjung habis, telah menghasilkan suatu struktur tertentu yang kita namakan masyarakat, berikut moralitas dan kekerasannya. Demikianlah, sebagai seorang manusia, kita bertanggung jawab atas apapun yang sedang terjadi di dalam peperangarn kebingungan, konflik yang sedang terjadi di sebelah dalam dan di luar. Setiap orang dari kita bertanggung jawab, akan tetapi saya sangsikan apakah kebanyakan dari kita memang merasakan hal itu. Secara intelektuil barangkali, kita boleh jadi menerima hal itu; akan tetapi apakah kita secara sungguh-sungguh merasa bertanggung jawab terhadap perang yang sedang terjadi di Vietnam atau di Timur Tengah, terhadap bencana kelaparan di Timur, dan terhadap semua kesengsaraan, pemisah-misahan dan konflik? Saya ragukan itu. Jika kita merasa bertanggung jawab, seluruh sistim pendidikan akan menjadi lain. Karena kita tidak merasa bertanggung jawab, jelaslah bahwa kita tidak mencinta anak-anak kita. Jika kita mencinta anak-anak kita besok takkan ada perang sama sekali; kita akan berusaha bahwa suatu kebudayaan yang berbeda, suatu pendidikan yang berbeda, dilaksanakan.

Maka pertanyaan kita adalah apakah seorang manusia dapat diusahakan untuk merasa — tidak secara paksa tidak pula melalui hukuman dan rasa-takut —bahwa dia harus berubah secara menyeluruh. Jika dia tidak berubah, dia akan mencipta suatu dunia (atau, lebih tepat, mengekalkan suatu dunia) di mana terdapat kesengsaraan, penderitaan, kematian dan keputusasaan; dan tidak ada teori apapun, duga-dugaan teologis atau sangsi-sangsi birokratis yang dapat memecahkan masalah ini. Maka apakah yang harus kita lakukan ? Dihadapkan dengan semua kebingungan, perjuangan, permusuhan, kekerasan dan kekejaman ini, apakah yang harus dilakukan oleh seorang manusia ? Bagaimanakah dia harus bertindak ? Saya tak tahu apakah kita pernah mengajukan pertanyaan ini secara serius kepada diri sendiri — tidak secara sentimentil, romantis, atau hanya dalam suatu saat antusias belaka, melainkan sebagai suatu pertanyaan yang selalu ada dalam keseriusannya. Dan saya tak tahu bagaimana kita akan menjawabnya ? Kita boleh menyatakan bahwa tidaklah mungkin untuk berubah sedemikian mendalam, seketika dan fondamentil sehingga dapat menciptakan suatu masyarakat baru. Akan tetapi pada saat anda berkata bahwa hal itu tidak mungkin, maka hal itu telah diselesaikan yaitu anda telah menghalangi diri sendiri. Jika kita berkata bahwa hal itu mungkin, maka kita dihadapkan pada pertanyaan tentang bagaimana kita harus mengadakan revolusi batin dalam diri sendiri. Maka, apakah yang harus kita lakukan? Melarikan diri dengan menganut suatu kepercayaan agama atau dengan melarikan diri ke dalarn suatu biara di mana anda berlatih Buddhisme Zen ? Dengan mengikuti suatu kelompok kebatinan atau sekte agama baru yang menjajikan segala yang anda inginkan ?

Melihat pemisah-misahan luar biasa dari dunia ke dalam kebangsaan-kebangsaan dan agama-agama, umat Hindu, umat Buddhis, umat Kristen, umat Katholik dan pemisah-misahan dari ras-ras dengan prasangka-prasangka mereka; melihat bahwa batin kita begitu berat dibeban-pengaruhi oleh propaganda dari para ahli filsafat, ahli teori dan sebagainya — menghadapi semua itu — kita bertanya kepada diri sendiri, "Apakah yang harus saya lakukan, sebagai seorang manusia dalam hubungan saya dengan dunia apa yang dapat saya lakukan ?" Apabila kita mengajukan pertanyaan itu kepada diri sendiri, kita juga harus bertanya, "Apakah adanya tindakan itu ?" Kita bertanya, "Kita harus berbuat apa dalam hubungan kepada apa ?" Apakah kita harus berurusan hanya dengan satu bagian, satu pecahan saja dari seluruh keadaan kehidupan ini? Melibatkan diri kita hanya kepada satu bagian dari seluruh keadaan ini, seluruh kehidupan ini, dan bertindak menurut pecahan itu sebagai seorang spesialis? Melihat seluruh kehidupan ini — kehidupan dari kedukaan manusia, kebingungan manusia, kehampaan perhubungan, proses pemikiran yang mengisolir diri sendiri, kekerasan, kekejaman dari kehidupan kita dengan segala rasa-takutnya, kekhawatirannya, air mata, kematian dan tidak adanya belas kasih — melihat semua ini apakah saya dan anda akan menanggulangi seluruh dari itu semua, ataukah hanya sebagian saja dari itu ? Untuk menanggulangi keseluruhan hal itu, untuk melibatkan diri secara menyeluruh kita harus waspada terhadap diri kita sendiri seperti apa adanya kita — bukan seperti apa yang kita inginkan; waspada akan batin kita, waspada bahwa kita adalah manusia yang keras, kejam, serakah, dan kita harus bertanya apakah hal itu dapat berubah seketika.

Keadaan yang dicita-citakan, yaitu tanpa kekerasan kebebasan, cinta kasih, tidaklah ada; itu hanya suatu gagasan belaka. Yang ada ialah apa adanya. Dapatkah "apa adanya" berubah ? — akan tetapi bukan dengan menjadi "apa yang seharusnya ada". Kita telah dibebanpengaruhi untuk mengejar "apa yang seharusnya", cita-cita, dan agaknya bagi saya merupakan pemborosan waktu yang begitu sia-sia untuk mengejar cita-cita, mengejar yang sempurna, keadaan luar biasa yang kita gambarkan. Apabila anda mengejar cita-cita, "apa yang seharusnya", itu merupakan suatu pemborosan enersi, suatu pelarian dari "apa adanya". Maka, dapatkah batin, yang telah begitu berat dibeban-pengaruhi untuk menerima cita-cita, membuangnya sama sekali dan menghadapi "apa adanya"? Karena apabila kita membuang apa yang palsu, kita mempunyai enersi dari kebenaran akan "apa adanya". Yaitu, sifat manusia, diwarisi dari binatang, adalah ganas, keras, pemarah, penuh kebencian dan iri hati, sedangkan cita-citanya adalah tanpa kekerasan. Cita-cita ini, dengan demikian, ditaruh di suatu jarak yang jauh. Dan jika kita memang serius, kita menghabiskan waktu dan enersi kita dalam mencoba untuk menjadi tidak keras. Kita dapat mengamati dalam diri sendiri betapa beratnya kita dibeban-pengaruhi. Terdapat konflik antara "apa adanya" dan "apa yang seharusnya" sebagaimana selalu terdapat konflik apabiia terdapat suatu bentuk apapun dari pembagi - bagian atau pemisah-misahan. Terdapat konflik dalam antar huhungan kita karena setiap orang memisahkan dirinya sendiri di dalam aktivitasnya.

Demikianlah, bagaimanakah suatu batin yang telah begitu berat dibeban-pengaruhi dan yang sekarang dihadapkan dengan "apa adanya" — yaitu kekerasan, kebencian, kemarahan dan sebagainya itu bagaimanakah batin itu dapat berubah ? Itulah, sesungguhnya, pertanyaan hakiki yang dihadapi oleh setiap dari kita, secara batiniah. Dan bagaimanakah rasa terpisah ini dapat diakhiri sehingga kita dapat memiliki perhubungan yang sejati ? Karena hanya apabila tidak terdapat pemisahan sajalah maka tidak akan terdapat konflik.

Kita melihat bahwa dalarn usahanya untuk merubah apa adanya, manusia telah menciptakan penolong dari luar. Karena tahu bahwa dia adalah keras, kejam, pemarah dan iri, dan bahwa akan makan waktu terlalu lama untuk menjadi sempurna, dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Maka dia menciptakan penolong dari luar yang penuh otoritas Tuhan, suatu cita-cita, seorang guru kebatinan, seorang guru dan sebagainya — seseorang yang akan mengatakan kepadanya apa yang harus dilakukan sehingga dia dapat hidup dalam kedamaian luar biasa, tanpa konflik. Akan tetapi, apabila kita membuang semua otoritas —dan kita harus melakukan ini, karena otoritas mengandung rasa-takut— apabila kita membuang si guru kebatinan, si guru, si penolong dari luar, kita tinggal sendirian dengan diri sendiri. Dan itu adalah suatu hal yang teramat menakutkan berada sendirian seorang diri saja —tanpa menjadi neurotik atau memperoleh segala macam kekacauan emosionil. Apabila kita telah membuang semua otoritas —dengan demikian menjadi seorang guru dan murid bagi diri sendiri dan bukan bagi orang lain— lalu di manakah kita berada? Apabila anda tidak mempunyai cita-cita dan tidak mempunyai seorangpun untuk membimbing anda —karena semua orang yang telah mencoba untuk membimbing telah menyesatkan manusia membiarkannya tetap tidak bahagia, tetap bingung. khawatir dan ketakutan— setelah anda sampai sekian jauh, di manakah anda berada ? Apabila kita mengesampingkan si guru kebatinan, si pengajar, si otoritas; si cita-cita —apabila anda sungguh-sungguh tidak bergantung kepada siapapun secara psikologis— lalu apakah yang harus kita lakukan ? Apakah ada sesuatu yang dapat kita lakukan ?

Anda tahu, berkomunikasi dengan kata-kata adalah cukup mudah. Apabila kita mempergunakan bahasa yang sama dan memberi arti-arti yang pasti kepada kata-kata, maka amat mudahlah untuk berkomunikasi. Akan tetapi apa yang lebih penting, agaknya bagi saya, adalah penghayatan bersama mengenai masalah ini. Tentang masalah kehidupan dan keadaan hidup ini, karenanya, tidak hanya harus terdapat komunikasi kata-kata melainkan juga, pada saat yang sama, terdapat pula penghayatan bersama. Kalau sudah begitu pengertian menjadi cukup mudah.
Terdapat persoalan rasa-takut ini, yang jelas merupakan satu di antara soal-soal yang paling ruwet dan membingungkan dalam kehidupan kita. Betapapun banyaknya kita boleh menerangkan sebab-sebab dari rasa-takut, menguraikan struktur dari rasa-takut, kita harus mengetahui bahwa selamanya si kata bukanlah si benda, uraian bukanlah benda yang diuraikan. Dan tidak tertawan oleh si kata atau si uraian, melainkan sungguh-sungguh berada dalam kontak dengan apa yang kita sebut rasa-takut itu, atau dengan apa yang kita sebut kekerasan, berarti sungguh-sungguh mempunyai perhubungan langsung dengan apa adanya. Maka kita harus memasuki persoalan dari perhubungan antara si pengamat dan hal yang diamati. Ambillah rasa-takut : Apakah si pengamat berbeda dari hal yang diamatinya ? Apabila si pengamat adalah yang diamati, maka hubungan menjadi langsung dan memiliki suatu mutu yang luar biasa pentingnya yang menuntut tindakan. Akan tetapi apabila terdapat pemisahan antara si pengamat dan hal yang diamati, maka terdapatlah konflik. Seluruh hubungan kita dengan lain manusia — baik akrab maupun tidak — didasarkan atas pembagi-pembagian dan pemisah-misahan. Si suami mempunyai suatu gambaran pikiran tentang si isteri dan si isteri mempunyai gambaran pikiran tentang si suami. Gambaran-gambaran pikiran ini telah disusun selama banyak tahun melalui kesenangan dan penderitaan, melalui kejengkelan dan sebagainya seperti anda tahu, perhubungan antara suami dan isteri. Demikianlah hubungan antara si suami dan si isteri itu sesungguhnya merupakan hubungan antara dua gambaran. Bahkan dalam hubungan sex — kecuali dalam perbuatannya — si gambaran pikiran memainkan bagian yang penting.

Demikianlah apabila kita mengamati diri sendiri, kita melihat bahwa kita selalu membentuk gambaran-gambaran dalam perhubungan dan karenanya menciptakan pemisah-misahan. Oleh karena itu sesungguhnya tidak ada hubungan sama sekali. Walaupun kita boleh mengatakan bahwa kita mencinta keluarga atau isteri, itu adalah gambaran pikiran, dan karena itu tidak terdapat perhubungan yang sesungguhnya. Perhubungan berarti bukan hanya kontak badaniah akan tetapi juga suatu keadaan di mana tidak ada pemisahan secara batiniah. Sekarang setelah kita mengerti itu — bukan hanya kata-katanya melainkan sesungguhnya — lalu apakah hubungannya antara si pengamat yang berkata, "Saya takut", dan hal yang dinamakan rasa-takut itu sendiri? Apakah mereka itu dua hal yang berbeda? Hal ini membawa kita kepada pertanyaan apakah rasa-takut dapat dilenyapkan melalui analisa. Apakah semua ini menarik hati anda.

Pendengar: Ya.

Krishnamurti: Karena jika tidak, saya akan bangkit pergi dan anda dapat pergi. Bagi saya hal ini teramat serius. Saya bukan seorang filsof, bukan seorang tukang ceramah, juga saya tidak mewakili suatu filsafat kuno dari India — Demi Tuhan ! (Suara ketawa)

Setelah sering sekali berkelana di seluruh dunia dan bicara kepada banyak orang, saya dihadapkan bukan hanya dengan kesengsaraan dunia akan tetapi juga dengan tidak adanya tanggung jawab sama sekali dari manusia, dan tentu saja saya menjadi sangat serius sekali. Hal ini bukan berarti tanpa humor, akan tetapi saya telah menjadi luar biasa serius dan penuh intensitas. Dan kita harus sangat serius dan penuh intensitas untuk memecahkan masalah-masalah ini dalam diri sendiri, karena dunia berada di dalam diri sendiri, seluruh kemanusiaan berada di dalam diri sendiri — walaupun secara dangkal kita mempunyai cara yang berbeda, pakaian dan kebiasaan yang berbeda.

Demikianlah, apabila kita serius, kita dihadapkan pada masalah apakah batin sesungguhnya dapat bebas dari rasa-takut untuk selamanya, dan apakah rasa-takut dapat dilenyapkan melalui analisa — melalui analisa terhadap diri sendiri hari demi hari, atau pergi ke seorang ahli untuk dianalisa, barangkali untuk sepuluh tahun mendatang, dengan membayar jumlah besar jika anda memiliki uangnya. Atau apakah terdapat suatu jalan lain, suatu pendekatan lain kepada masalah ini, sehingga rasa-takut dapat berakhir tanpa analisa ? Karena dalam analisa selalu terdapat si pengamat dan hal yang diamati; yaitu, si penganalisa dan hal yang dianalisa. Dan si penganalisa haruslah luar biasa sadarnya, tidak dibeban-pengaruhi, tanpa prasangka atau penyelewengan agar dapat menganalisa; jika dia dibeban-pengaruhi secara bagaimanapun, maka apapun yang dianalisanya juga akan berprasangka, menyeleweng. Demikian itulah satu masalah dalam analisa. Masalah lain adalah bahwa hal itu akan makan waktu lama sekali, lambat-laun dan perlahan-lahan, sedikit demi sedikit, untuk menghilangkan semua sebab dari rasa-takut — dalam waktu itu kita sudah mati (suara ketawa). Sementara itu kita hidup dalam kegelapan, sengsara, neurotik, membuat keonaran dalam dunia. Dan, bahkan setelah anda menemukan sebab (atau sebab-sebab) dari rasa-takut, apakah hal itu akan mempunyai nilai apapun? Dapatkah rasa-takut menghilang apabila saya tahu apa yang saya takutkan ? Apakah pencaharian intelektuil dari sebabnya mampu untuk mengusir rasa-takut ? Semua masalah ini tercakup di dalam analisa karena, seperti kita akui, terdapat pemisahan ini antara si penganalisa dan hal yang dianalisa. Karena itu, analisa bukanlah jalannya —jelas bukan— karena kita telah melihat mengapa dan mengapa tidak, kita telah melihat kepalsuannya, bahwa hal itu makan waktu dan kita tidak mempunyai waktu. Bicara secara psikologis tidaklah terdapat hari esok : kita yang telah menciptakannya. Dan demikianlah, apabila anda melihat kepalsuan dari analisa, apabila anda melihat kenyataan bahwa si pengamat sesungguhnya adalah yang diamati, maka analisapun berakhirlah.

Anda dihadapkan dengan kenyataan ini bahwa andalah rasa-takut itu — bukan seorang pengamat yang takut terhadap rasa-takut. Anda adalah si pengamat dan hal yang diamati; si penganalisa dan hal yang di analisa. Anda tahu, apabila anda melihat sebatang pohon apabila anda sungguh-sungguh memandang kepada sebatang pohon — bukan hanya arti kata - katanya melainkan sesungguhnya maka anda melihat bahwa antara anda dan pohon itu bukan hanya terdapat jarak lahiriah akan tetapi juga jarak batiniah. Jarak itu diciptakan oleh gambaran pikiran yang anda punyai tentang pohon itu, sebagai pohon "jati", atau pohon apapun juga. Maka terdapatlah pemisahan antara si pengamat dan yang diamati, yaitu pohon itu. Dapatkah pemisah-misahan dan jarak ini menghilang ? Hal mana bukan berarti bahwa anda menjadi si pohon, hal itu akan menjadi sangat tak masuk diakal dan tidak ada artinya — akan tetapi apabila jarak antara si pengamat dan si pohon lenyap, maka anda melihat pohon itu secara berbeda sama sekali. Saya tidak tahu apakah anda pernah mencoba hal itu.

Penanya: Apakah yang sesungguhnya anda maksudkan dengan jarak antara anda dan pohon menghilang ?

Krishnamurti: Tunggu sebentar, tuan, biarkan saya menyelesaikan dulu, lalu anda dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan sesudahnya. Saya harap anda akan bertanya. Analisa mengandung jarak ini, dan karena itu tidak terdapat kontak atau hubungan langsung antara si penganalisa dan yang dianalisa. Dan hanya apabila terdapat kontak seketika dengan apa yang dinamakan rasa-takut, maka terdapat tindakan yang sama sekali berbeda. Lihatlah, tuan, apabila anda mengamati orang lain — isteri anda, teman anda, suami anda — apakah pengamatan itu didasarkan atas tumpukan pengetahuan anda mengenai orang yang bersangkutan ? Jika begitu, pengetahuan itu menimbulkan pemisahan, pengetahuan itu memisahkan oleh karena itu terdapat konflik dan maka dari itu tidak terdapat hubungan yang sungguh-sungguh. Demikianlah, dapatkah anda memandang kepada orang lain ---sekarang tentu saja anda dapat memandang kepada pembicara karena dia akan pergi dan tidak mempunyai hubungan langsung dengan anda— akan tetapi dapatkah anda memandang tanpa jarak itu kepada isteri anda, anak-anak anda, tetangga anda atau politikus anda ? Jika anda dapat melakukannya, maka anda akan melihat segala sesuatu secara sama sekali berbeda.

Anda tahu, saya telah diceritakan oleh mereka yang sangat serius dan yang pernah mempergunakan obat-obat bius tertentu — bukan demi kesenangan, rangsangan atau penglihatan-penglihatan khayal, melainkan mempergunakannya untuk melihat apakah yang sesungguhnya terjadi -- mereka itu bercerita kepada saya bahwa jarak antara mereka yang mempergunakan obat bius itu dan bunga-bunga dalam tempat bunga di atas meja menghilang, dan bahwa oleh karena itu, mereka melihat bunga-bunga itu, warnanya, teramat intens, dan bahwa terdapat suatu mutu dalam intensitas itu yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kita tidak menganjurkan— setidaknya saya tidak menganjurkan — bahwa anda seyogianya mempergunakan obat-obat bius, akan tetapi, seperti yang telah kita katakan, selama terdapat jarak dalam hubungan baik antara si penganalisa dan yang dianalisa, si pengamat dan yang diamati, atau yang mengalami dan hal yang dialaminya — pasti terdapat konflik dan pasti terdapat penderitaan.

Demikianlah, apabila hal ini dimengerti sungguh-sungguh —bukan sebagai suatu gagasan, bukan sebagai suatu penukaran pikiran melalui kata-kata melainkan sungguh-sungguh dirasakan — anda akan melihat bahwa kekerasan, yang sebelumnya dialami sebagai antara si pengamat dan hal yang diamati, perasaan dari kemarahan dan kebencian itu, mengalami suatu perobahan yang amat hebat : ia bukan seperti keadaan sebelumnya, suatu konflik terus menerus dari masa kanak-kanak sampai kematian, suatu medan pertempuran abadi dalam perhubungan, baik dalam kantor ataupun dalam keluarga. Dalam keadaan konflik tanpa mampu mengatasinya, muncullah rasa-takut. Rasa takut juga ada di mana terdapat kesenangan. Kita selalu mengejar kesenangan : itulah yang kita inginkan, kesenangan yang semakin lebih besar saja. Dan apabila kita mengejar kesenangan, tak terhindarkan lagi pasti terdapat penderitaan dan rasa-takut.

Maka pertanyaan kita sore hari ini adalah apakah batin manusia dapat merubah diri sendiri, bukan dalam unsur waktu melainkan di luar unsur waktu. Yaitu, apakah bisa terdapat suatu revolusi batin yang besar di sebelah dalam tanpa adanya ide unsur waktu. Pikiran, betapapun juga, adalah waktu, bukan ? Pikiran, yaitu tanggapan dari ingatan, pengetahuan, pengalaman, adalah dari masa lalu. Kita dapat mengamati hal ini bagi diri sendiri sebagai suatu kenyataan, bukan sebagai teori. Pikiran berpikir tentang apa yang ditakutinya, atau tentang apa yang memberikan kesenangan, dan pemikiran tentang kesenangan dan penderitaan terletak dalam lapangan unsur waktu. Hal ini jelas. Kita mengalami kesenangan ketika kita melihat matahari terbenam, atau melalui berbagai bentuk lain dari rangsangan dan kegembiraan, dan selanjutnya. Pikiran berpikir tentang apa yang telah memberi rangsangan, kegernbiraan. Harap perhatikan ini : anda dapat melihatnya sendiri, hal itu demikian sederhana. Pemikiran tentang hal itu memberi kelanjutan kepada apa yang telah kita nikmati. Kemarin terdapat matahari terbenam yang indah itu. Bukannya kita menyelesaikan matahari terbenam itu, yang telah lewat kemarin, malahan kita melanjutkan berpikir tentang itu, dan aktivitas dari pikiran itu sendiri mengenai peristiwa itu melahirkan unsur waktu. Yaitu, saya mengharap-harapkan bahwa saya akan memperoleh kesenangan itu lagi besok. Demikianlah pikiran melahirkan kesenangan dan juga penderitaan. Kemudian, dari ini, muncullah suatu pertanyaan yang jauh lebih mendalam: apakah pikiran dapat hening sama sekali. Karena hanya kalau sudah begitu sajalah terdapat perubahan yang sesungguhnya.

Nah, inginkah anda sekarang untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan apapun?

Penanya: Anda bicara tentang bertanggung jawab, akan tetapi saya boleh jadi tidak bertanggung jawab mengenai pikiran saya. Setiap perubahan yang saya ingin buat haruslah dibuat dengan pikiran dan barangkali saya tidak bertanggung jawab untuk pikiran-pikiran saya. Saya tidak dapat menentukan apa yang saya pikir.

Krishnamurti: Tuan, apa yang kita maksudkan dengan kata-kata "tanggung jawab" itu ? Dan apakah perasaan dari pertanggungan jawab itu merupakan hasil dari pikiran ?

Penanya: Tidak, dan pada saat yang sama, ya.

Krishnamurti: Lihatlah, tuan, apakah cinta kasih itu hasil dari pikiran ?

Penanya: Tidak.

Krishnamurti: Ah, tunggu! Perlahan-lahanlah, tuan (suara ketawa). Lalu, jika anda berkata tidak, apakah peranan dari pikiran apabila anda mencinta?

Penanya: Hal ini berarti seolah-olah saya memahami cinta kasih.

Krishnamurti: Ah, tunggu, tuan ! — Itulah sebabnya mengapa saya bertanya apakah cinta kasih itu kesenangan. Jika cinta kasih itu kesenangan maka ia adalah suatu hasil dari pikiran. Lalu kesenangan dapat dipupuk secara tak terbatas — seperti apa yang sedang kita lakukan. Akan tetapi cinta kasih tidak dapat dipupuk. Karena itu cinta kasih bukanlah hasil dari pikiran. Dan apabila terdapat cinta kasih, apakah artinya pertanggungan jawab ? Harap memasuki hal ini perlahan-lahan. Apabila pertanggungan jawab didasarkan atas pikiran dan kesenangan, maka terdapatlah kewajiban terlibat di dalamnya, dan segala sesuatu yang bertalian dengan itu. Akan tetapi apabila cinta kasih itu bukan kesenangan —dan kita harus menyelami hal ini secara sangat hati-hati sekali— maka apakah cinta kasih (jika saya menggunakan kata itu), apakah cinta kasih mempunyai pertanggungan jawab dalam arti kata yang lazim ? Saya mencinta keluarga saya karena itu saya bertanggung jawab untuk keluarga saya. Apakah cinta itu didasarkan atas kesenangan? Jika demikian, halnya, maka kata pertanggungan jawab itu mengambil arti yang sama sekali berbeda : lalu keluarga itu adalah punya saya, saya memilikinya, saya bergantung kepadanya, saya harus menjaganya. Lalu saya menjadi cemburu, karena di mana terdapat kebergantungan, di situ terdapat rasa-takut dan cemburu. Demikianlah kita mempergunakan kata "cinta kasih" ini ketika kita berkata, "Saya mencinta keluarga saya, saya bertanggung jawab untuknya"; akan tetapi apabila anda mengamatinya agak lebih mendalam, anda menemukan anak-anak dilatih untuk membunuh, dididik dalam cara yang begitu ganjil sehingga mereka selalu akan mampu untuk mencari nafkah, mendapatkan suatu pekerjaan, seolah-olah hal itu merupakan akhir kehidupan. Demikianlah apakah semua itu pertanggungan jawab ?

Penanya: Kita tidak dapat sungguh-sungguh mempunyai kemauan, karena apa yang kita maui telah ditentukan oleh beban-pengaruh kita.

Krishnamurti: Tuan, apakah adanya kemauan itu ? Harap anda lihat bahwa pertanyaan-pertanyaan ini memerlukan banyak penjelasan, dan semua orang telah menjadi bosan atau mereka harus pergi. Kita lebih baik berhenti.

Hadirin: Mereka hanya terpaksa harus meninggalkan tempat ini — mereka tidak bosan. Pertanggungan jawab keluarga!

Krishnamurti: Anda tidak bertanggung jawab terhadap kepergian orang-orang itu ? (suara ketawa). Baiklah ! Anda lihat, tuan-tuan, kita telah melatih kemauan : Aku harus, aku harus tidak; aku seharusnya, aku seharusnya tidak. Anda telah melatih kemauan untuk berhasil, untuk memperoleh kekuasaan, kedudukan, prestise. Anda melatih kemauan untuk dapat menguasai. Kemauan telah memainkan suatu bagian penting dalam kehidupan kita. Dan, seperti anda katakan, itu adalah hasil dari masyarakat, keadaan sekeliling, kebudayaan di mana kita hidup. Akan tetapi kebudayaan di mana kita hidup ini, sebaliknya, terbuat oleh manusia, dan demikianlah kita harus bertanya apakah kemauan itu memang mempunyai sesuatu tempat? Karena kemauan mengandung konflik, pergulatan, kontradiksi : "Saya begini dan saya harus begitu. Dan untuk menjadi begitu, saya harus melatih kemauan". Kita bertanya-tanya apakah tidak terdapat suatu cara bertindak yang lain sama sekali, tanpa kemauan?

Penanya: Jika anda tidak mempergunakan kemauan, apakah anda lalu tidak harus memperalat pikiran?

Krishnamurti: Lihatlah, saya akan memperlihatkan sesuatu kepada anda. Apabila anda melihat bahaya, apakah di situ terdapat penggunaan pikiran atau kemauan ? Di situ terdapat tindakan seketika. Tindakan itu boleh jadi hasil dari pikiran yang lain. Apabila anda melihat sebuah jurang, seekor ular, suatu benda yang berbahaya, anda bertindak seketika. Tindakan itu boleh jadi hasil dari beban-pengaruh masa lalu. Benarkah ? Anda telah diceritakan bahwa adalah berbahaya untuk mendekati seekor ular dan hal itu telah menjadi ingatan, pengaruh, dan anda bertindak. Sekarang apabila anda melihat bahayanya nasionalitas — yang melahirkan perang, bangsa-bangsa dengan pemerintahan-pemerintahan mereka yang terpisah, bala tentara mereka yang terpisah dan segala macam pemisah-misahan mengerikan ini yang sedang terjadi di dunia — apabila anda melihat bahaya yang sesungguhnya dari rasa berkebangsaan — melihat itu, yaitu, bukan secara intelektuil atau hanya arti kata-katanya belaka melainkan sungguh-sungguh melihat bahayanya, sifat yang menghancurkan dari itu —apakah di situ terdapat suatu tindakan dari kemauan? Apakah persepsi —melihat sesuatu sebagai yang palsu atau sebagai yang benar — menuntut adanya pikiran? Apakah kebaikan itu hasil dari pikiran — atau juga keindahan, atau cinta kasih? Dan pernahkah pikiran dapat baru ? — Karena cinta kasih haruslah baru, cinta kasih tidak dapat merupakan sesuatu yang berlangsung hari demi hari antara keluarga dan di dalam keluarga, sebagai suatu macam milik pribadi. Pikiran, di lain fihak, adalah selalu tua. Maka, dapatkah kita, tanpa memperalat kemauan, melihat segala sesuatu sedemikian terangnya sehingga tidak terdapat kebingungan dan sehingga karenanya terdapat tindakan menyeluruh.

Penanya: Tindakan menyeluruh boleh jadi menyenangkan secara estetis.

Krishnamurti: Saya tidak tahu apa yang anda maksudkan dengan "tindakan menyeluruh". Mengapa kita katakan indah secara estetis, sedangkan pada saat-saat lain hal itu boleh jadi juga sangat berbahaya ? Apa yang kita maksudkan dengan "tindakan menyeluruh" ? Tuan, ambillah suatu hal yang sangat sederhana apabila terdapat tindakan membanding-bandingkan — yaitu, membanding-bandingkan arah tindakan mana yang lebih baik — maka terdapatlah pengukuran dan yang baikpun berakhirlah. Benarkah? Tidak ? Apabila terdapat pembandingan, yang baikpun berakhirlah. Dan, untuk berbaik — catat bahwa kita tidak menggunakan kata itu dalam arti borjuis — untuk menjadi baik seluruhnya berarti memberi perhatian sepenuhnya; apabila seluruh tubuh anda — mata, telinga, hati, segalanya — dicurahkan untuk perhatian. Tuan, apabila anda mencinta, tidak ada kurang atau lebih. Itulah tindakan menyeluruh.

Penanya: Dapatkah saya merubah ide-ide atau pikiran-pikiran saya apabila, misalnya, setiap hari apabila saya pergi ke kantor mereka mengharapkan saya untuk bersifat ambisius, serakah dan takut; mereka menekan saya untuk bersifat demikian dan mereka memperlihatkan saya bahwa sesungguhnya saya picik, serakah, ambisius dan takut. Dapatkah saya berubah jika saya melihat bahwa ini bukan hal yang saya inginkan?

Krishnamurti: Dapatkah saya, yang menjadi bagian dari suatu struktur yang menuntut bahwa saya harus takut, ganas, tamak, dapatkah saya pergi ke kantor tanpa bersifat ambisius? Jika saya tidak ambisius, jika saya tidak sama sekali — yaitu sungguh-sungguh dan sama sekali tidak serakah, bukan hanya arti kata-katanya belaka —maka tiada apapun akan membuat saya serakah, karena saya telah melihat kebenaran dan kepalsuan dari keserakahan. Apabila saya telah melihat hal itu dengan terang, apakah saya tidak dapat pergi ke kantor dan tidak sampai dihancurkan? Hanyalah apabila saya serakah untuk sebagian (suara ketawa) maka saya terjebak. Itulah sebabnya mengapa kita haruslah lengkap dan menyeluruh — yaitu penuh perhatian selengkapnya, agar di dalam perhatian itu terdapat kebaikan yang tidak dapat dibandingkan, tidak-dapat diukur. Apabila batin tidak serakah, tidak ada struktur apapun yang dapat membuatnya serakah.

Penanya: Bagaimana saya dapat mempertahankan perhatian dalam suatu keadaan yang menyakitkan, apabila secara naluri keinginan saya adalah untuk melenyapkan peristiwa yang menyakitkan itu ?

Krishnamurti: Pertama-tama, saya tidak ingin melenyapkan apapun. Baik kesenangan maupun penderitaan, Saya ingin memahaminya, memandangnya, menyelaminya. Melenyapkan sesuatu berarti melawan; dan di mana terdapat perlawanan, terdapat pula rasa-takut: Otak, pikiran, telah dibeban-pengaruhi untuk melawan. Maka, dapatkah batin melihat kenyataan bahwa, perlawanan apapun adalah suatu bentuk rasa-takut ? Yang berarti bahwa saya harus memberi perhatian kepada apa yang dinamakan perlawanan, harus penuh perhatian terhadap perlawanan: yaitu melenyapkan, melarikan diri, minuman keras, menggunakan obat bius; setiap bentuk pelarian diri atau perlawanan — waspadalah sepenuhnya terhadap itu.

Penanya: Berapa lamanya anda dapat melakukan itu, tuan ?

Krishnamurti: Hal itu bukan merupakan soal jangka waktu, soal waktu, soal berapa lama. Apakah anda melihatnya ? — Anda masih berpikir dalam ukuran jangka waktu.

Penanya: Beban-pengaruh saya.

Krishnamurti: Nah, awasilah itu, nyonya, silahkan mengawasinya. Anda menyanjung-nyanjung atau menghina saya : menyenangkan atau menyakitkan. Saya menghendaki menyenangkan dan menolak atau melawan yang menyakitkan. Akan tetapi jika saya penuh perhatian, saya akan waspada ketika penghinaan atau sanjungan itu dilakukan; saya akan melihat hal itu sangat jelas. Lalu hal itu selesai, bukan ? Lain kali kalau anda menyanjung atau menghina saya, hal itu tidak mempengaruhi saya. Itu bukanlah soal mempertahankan perhatian. Apabila anda berkeinginan untuk mempertahankan perhatian, berarti anda sedang mempertahankan kelengahan. Benarkah? Silahkan rnenyelidikinya agak lebih mendalam. Suatu batin yang penuh perhatian tidak bertanya, "Berapa lama aku akan mencurahkan perhatian ?" (Suara ketawa). Hanya batin yang tidak ada perhatian saja yang telah mengenal apakah artinya penuh perhatian itu, yang berkata "Dapatkah saya menaruh perhatian setiap saat ?" Maka, apa yang harus kita perhatikan adalah kelengahan itu. Benarkah ? Waspada akan kelengahan, bukan bagaimana harus mempertahankan perhatian. Waspada saja bahwa saya lengah, bahwa saya mengatakan hal-hal yang tidak saya maksudkan, bahwa saya tidak jujur; hanya memperhatikan saja. Kelengahan melahirkan keonaran, bukan perhatian. Maka, apabila batin waspada akan kelengahan, dia sudah menaruh perhatian — anda tidak perlu melakukannya lagi.

Penanya: Bagaimana anda dapat mengatakan apakah anda mempunyai penglihatan yang benar akan apa yang harus anda lakukan, jika suatu rangkaian tindakan akan menyakiti hati seseorang namun akan menguntungkan orang-orang lain ?

Krishnamurti: Apabila anda melihat sesuatu dengan terang sebagai hal yang benar —dan kejernihan adalah selalu benar— tidak terdapat tindakan lain kecuali tindakan dari kejernihan. Baik tindakan itu menyakitkan hati atau tidak menyakitkan hati tidak begitu penting. Lihatlah, nasionalitas adalah racun nasionalitas telah melahirkan, dan akan terus melahirkan, perang dan kebencian. Sekarang untuk menjadi non-nasionalisme akan menyakitkan sekelompok besar orang : kaum militer, politikus, pendeta, semua pengibar-pengibar bendera dari seluruh dunia. Dan betapapun saya tahu bahwa nasionalisme adalah suatu hal yang teramat mengerikan, saya melihatnya sebagai racun. Apa yang harus saya lakukan ? Saya sendiri tidak mau menyentuhnya. Dalam diri saya sendiri, saya telah menghapus seluruh nasionalisme sama sekali. Akan tetapi kaum militer akan berkata, "Anda menyakiti hati kami". Apabila kita melihat apa yang palsu dan apa yang benar, dan bertindak, maka tidak ada soal menyakiti hati atau menyenangkan siapapun. Jika anda melihat bahwa agama yang terorganisir bukanlah agama, lalu apa yang akan anda lakukan ? Pergi ke gereja untuk menyenangkan orang-orang ? Jika saya tidak pergi ke gereja boleh jadi hal itu menyakiti hati ibu saya. Tuan, yang penting bukan apa yang menyakiti hati dan apa yang menyenangkan, akan tetapi melihat apa yang benar. Dan kemudian kebenaran itu yang akan bekerja, bukan anda.

KEMBALI KE CERAMAH