jkbanner

THE TEACHINGS OF J.KRISHNAMURTI   -   INDONESIAN WEBSITE



CERAMAH 

MANUSIA TIDAK MENEMUKAN KEBAHAGIAAN DI DUNIA
Krishnamurti di PBB (Perhimpunan "Pacem in Terris", PBB, 11 April 1985)



Pengantar :
[Krishnamurti diundang memberikan ceramah umum di depan Perhimpunan "Pacem in Terris", PBB, pada 11April 1985, di mana ia menerima penghargaan Medali Perdamaian PBB. Ketika itu K berusia 90 tahun, kurang dari setahun sebelum ia meninggal dunia pada Februari 1986.]

----------


“Manusia Tidak Menemukan Kebahagiaan di Dunia”

KRISHNAMURTI DI PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA
11 APRIL 1985

Saya diminta bicara tentang [kemungkinan] Perdamaian Dunia di kemudian hari sesudah ulang tahun Perserikatan Bangsa-Bangsa yang ke-40.

Umat manusia, manusia, telah hidup di muka bumi ini lebih dari lima puluh ribu tahun, mungkin lebih lama atau lebih pendek. Sepanjang masa evolusi yang lama itu, manusia tidak menemukan kebahagiaan di dunia--“Pacem in Terris” [“Damai di Bumi”] telah dikhotbahkan lama sebelum Agama Kristen tiba, oleh orang Hindu dan Buddhis di zaman kuno. Dan sepanjang masa itu manusia telah hidup dalam konflik, bukan hanya konflik dengan tetangganya, tetapi dengan orang-orang di dalam komunitasnya sendiri, dengan masyarakatnya sendiri, dengan keluarganya sendiri; ia telah berkelahi, bergulat dengan sesama manusia sepanjang lima puluh ribu tahun, mungkin lebih lama lagi. Sepanjang sejarah, terjadi perang hampir setiap tahun. Dan kita masih berperang sampai sekarang. Saya rasa, ada empat puluh perang berlangsung pada saat ini. Dan hirarki keagamaan, bukan hanya kaum Katolik, tetapi juga golongan-golongan lain, telah bicara tentang “Pacem in Terris”, “Damai di Bumi”, “Kehendak Baik di antara Manusia.” Itu tidak pernah terwujud--damai di bumi. Dan mereka bicara tentang kedamaian ketika Anda meninggal dan pergi ke surga dan Anda menemukan kedamaian di sana.

Kita bertanya-tanya, jika kita memang serius, mengapa manusia membunuh manusia lain--atas nama tuhan, atas nama perdamaian, atas nama ideologi tertentu, atau demi negaranya--apa pun artinya itu--atau demi Raja atau Ratu, dan segala macam itu. Mungkin kita tahu semua ini: bahwa manusia tidak pernah hidup [bahagia] di muka bumi, yang perlahan-lahan tengah dihancurkan- -dan mengapa kita tidak bisa hidup damai dengan sesama manusia lain. Mengapa ada bangsa-bangsa yang saling terpisah, yang bagaimana pun juga hanyalah kesukuan yang diagungkan. Dan agama-agama, entah Kristianitas, Hinduisme atau Buddhisme, mereka juga berperang satu sama lain. Bangsa-bangsa saling berperang, kelompok-kelompok saling berperang, ideologi-ideologi- -entah Rusia, atau Amerika, atau kategori ideologi lain--mereka semua berperang satu sama lain, berkonflik. Dan, setelah hidup di muka bumi ini berabad-abad lamanya, mengapa manusia tidak bisa hidup damai di muka bumi yang indah ini? Pertanyaan ini telah diajukan berulang-ulang. Sebuah organisasi seperti ini telah dibentuk di sekeliling masalah itu. Apakah masa depan organisasi ini khususnya? Setelah tahun ke-40, apa yang akan terjadi kemudian?

Waktu adalah faktor aneh dalam kehidupan. Waktu sangat penting bagi kita semua. Dan masa depan adalah apa yang ada di masa sekarang. Masa depan adalah sekarang, oleh karena masa sekarang, yang juga masa lampau, memodifikasikan diri sekarang, menjadi masa depan. Inilah siklus waktu, titian waktu. Dan sekarang, bukan kemudian dari ulang tahun ke-40 organisasi ini, melainkan sekarang, pada saat kini, jika tidak ada perubahan radikal, mutasi fundamental, masa depan adalah apa yang ada kini. Dan itu telah terbukti dalam sejarah, dan kita bisa membuktikannya dalam kehidupan kita sehari-hari.

Jadi pertanyaan sesungguhnya adalah apakah umat manusia--Anda dan kami, yang duduk di panggung ini--mohon maaf, saya duduk di panggung ini­sebagai manusia, selama kita saling berkonflik terus-menerus dengan sesama manusia, tidak akan ada perdamaian di muka bumi ini. Orang boleh bicara tentang hal itu tanpa akhir. Hirarki Katolik Roma bicara tentang ‘Pacem in Terris’, dan mereka juga bertanggung jawab atas perang-perang yang mengerikan di masa lampau. Perang Seratus Tahun, penyiksaan, segala macam hal yang mengerikan yang mereka lakukan terhadap manusia. Semua ini fakta, aktualitas, bukan keinginan pembicara. Dan agama-agama, termasuk Islam, Hindu dan Buddha, dan sebagainya, mereka juga mempunyai perangnya sendiri. Dan masa depan setelah ulang tahun ke-40 ini ialah apa yang tengah terjadi sekarang.

Kita bertanya-tanya jika kita menyadari itu. Masa kini bukan hanya masa lampau, tetapi juga mengandung masa depan, masa lampau yang memodifikasikan diri, terus-menerus melalui masa kini, dan memroyeksikan masa depan. Jika kita tidak mengakhiri pertengkaran, pergulatan, antagonisme, kebencian, sekarang juga, esok akan seperti ini lagi. Dan Anda bisa mengulur esok itu selama seribu tahun, itu akan tetap esok.

Jadi penting bagi kita untuk bertanya kepada diri sendiri, apakah kita, sebagai manusia, sendirian atau sebagai komunitas, atau dalam keluarga, apakah kita bisa hidup damai satu sama lain? Organisasi tidak memecahkan masalah ini. Anda boleh membentuk organisasi baru, tetapi perang tetap berlangsung. Jadi organisasi, entah organisasi dunia entah organisasi tertentu untuk menciptakan perdamaian, organisasi seperti itu tidak akan pernah berhasil, oleh karena manusia, secara individual, secara kolektif, sebagai bangsa, berkonflik. Negara-negara besar, seperti Amerika atau Rusia, berperang satu sama lain--secara ekonomis, secara ideologis, dan secara aktual--masih belum terjadi pertumpahan darah. Jadi perdamaian tidak mungkin terwujud di muka bumi ini jika ada bangsa-bangsa, yang seperti kami katakan, adalah kesukuan yang diagungkan. Bangsa memberikan rasa aman tertentu; manusia membutuhkan rasa aman, dan ia berinvestasi dalam nasionalisme, atau dalam ideologi atau kepercayaan tertentu. Kepercayaan, ideologi dan sebagainya telah memisahkan manusia. Dan organisasi tidak mungkin bisa menghasilkan perdamaian di antara manusia oleh karena ia percaya pada sesuatu, ia percaya pada ideologi-ideologi tertentu, ia percaya pada tuhan, dan orang lain tidak percaya.

Saya tidak tahu apakah orang pernah berpikir, agama-agama yang berdasarkan pada satu buku--seperti Al-Qur’an atau Alkitab--menjadi sangat fanatik, sempit dan fundamentalis. Dan agama-agama seperti Hinduisme dan Buddhisme, mereka memiliki banyak kitab, yang semuanya dianggap suci, benar, langsung datang dari mulut tuhan! Mereka tidak begitu fanatik, mereka toleran, mereka menyerap. Jadi begitulah konflik ini berlangsung terus; mereka yang bergantung, menaruh kepercayaan pada kitab suci-kitab suci, dan mereka yang tidak menaruh kepercayaan pada kitab mana pun. Jadi konflik antara satu kitab dan mereka yang menerima banyak kitab; saya tidak tahu, apakah kita sadar akan semua ini.

Dan kita bertanya dengan mendalam--jika Anda memang benar-benar serius--apakah Anda dan saya, dan mereka yang terlibat di dalam berbagai organisasi, bisa hidup damai satu sama lain? Kedamaian membutuhkan kecerdasan mendalam, bukan sekadar demonstrasi terhadap perang tertentu, terhadap bom atom atau bom nuklir, dan sebagainya. Semua itu produk dari pikiran, otak yang terpaku pada nasionalisme, pada sebentuk kepercayaan, ideologi tertentu, sehingga mereka menyediakan senjata--negara- negara adidaya, entah itu Rusia, Amerika, atau Inggris, atau Prancis--senjata ke seluruh dunia, dan mereka juga bicara tentang perdamaian, pada saat yang sama mereka menyediakan senjata.
Ini adalah dunia sinis yang besar, dan sinisme tidak pernah mentolerir kasih sayang, perhatian, cinta. Saya rasa, kita telah kehilangan sifat itu--sifat welas asih. Bukan menganalisis apa itu welas asih--itu bisa dianalisis dengan amat mudah. Anda tidak bisa menganalisis apa itu cinta; cinta tidak berada di dalam keterbatasan otak, oleh karena otak adalah alat dari indra, itu adalah pusat dari semua reaksi dan tindakan, dan kita mencoba menemukan perdamaian, cinta di dalam wilayah terbatas ini. Ini berarti, pikiran bukanlah cinta, oleh karena pikiran berdasarkan pengalaman, yang terbatas, dan berdasarkan pengetahuan, yang selalu terbatas, entah sekarang entah di masa depan. Jadi pengetahuan selalu terbatas. Dan dari pengetahuan, yang tersimpan di otak sebagai ingatan, dari ingatan itu muncullah pikiran. Ini bisa diamati dengan amat sederhana dan mudah jika kita memeriksa diri sendiri, jika kita memandang kegiatan pikiran, pengalaman, pengetahuan kita sendiri. Anda tidak perlu membaca buku apa pun, atau menjadi spesialis untuk memahami cara Anda sendiri berpikir, hidup.

Jadi, pikiran selamanya terbatas, entah sekarang entah di masa depan. Dan kita mencoba memecahkan semua masalah kita, entah yang bersifat teknologis, religius, dan pribadi, melalui kegiatan pikiran. Jelas pikiran bukanlah cinta, cinta bukanlah sensasi atau kenikmatan, itu bukan hasil dari keinginan. Itu sesuatu yang sama sekali lain. Untuk sampai pada cinta itu, yang adalah welas asih, yang memiliki kecerdasannya sendiri, kita perlu memahami diri sendiri, apa adanya diri kita--bukan melalui seorang analis, melainkan memahami kesedihan kita sendiri, kesenangan kita sendiri, kepercayaan kita sendiri.

Anda tahu, ke mana pun Anda pergi, di seluruh dunia, umat manusia menderita, karena berbagai alasan, yang mungkin remeh, mungkin pula sebuah peristiwa yang amat dalam, yang menyebabkan kepedihan, kesedihan. Dan setiap orang di muka bumi ini mengalami itu dalam skala kecil, atau sebagai peristiwa hebat, sebagai kematian. Dan kesedihan dialami oleh seluruh umat manusia; itu bukan kesedihan Anda atau kesedihan saya, itu kesedihan umat manusia, kecemasan, kepedihan, kesepian, keputusasaan, keagresifan umat manusia. Jadi, Anda dan kami, dan seluruh umat manusia, kita bukan manusia yang terpisah-pisah secara psikologis. Anda mungkin seorang perempuan atau laki-laki, Anda mungkin tinggi, gelap, pendek, dan seterusnya, tetapi di dalam, secara psikologis, yang jauh lebih penting, kita adalah umat manusia. Anda adalah umat manusia; jadi, jika Anda membunuh sesama manusia, jika Anda berkonflik dengan sesama manusia, Anda menghancurkan diri sendiri. Anda bisa mengamati ini dengan amat cermat jika Anda memandang diri sendiri tanpa distorsi apa pun.

Jadi, perdamaian hanya bisa ada apabila umat manusia, apabila Anda dan saya, tidak mempunyai konflik dalam diri kita. Dan Anda mungkin berkata, “Jika orang mencapai, atau sampai pada akhir dari semua konflik di dalam diri sendiri, bagaimana itu mempengaruhi seluruh umat manusia?” Ini pertanyaan yang amat tua. Ini sudah diajukan ribuan tahun lalu kepada Kristus; jika ia memang pernah ada. Dan kita harus bertanya, apakah di dalam diri kita kesedihan, kepedihan, kecemasan, dan semua itu, bisa berakhir? Jika kita menerapkan, memandang, mengamati, dengan perhatian mendalam, sebagaimana Anda memandang dengan cukup perhatian ketika Anda menyisir rambut Anda, atau mencukur jenggot Anda, dengan kualitas perhatian seperti itu, yang kuat, Anda bisa mengamati diri Anda--segala nuansa, yang halus-halus. Dan cerminnya adalah hubungan Anda dengan sesama manusia; di dalam cermin itu Anda bisa melihat diri Anda persis seperti apa adanya. Tetapi kebanyakan dari kita takut melihat apa adanya diri kita; jadi, berangsur-angsur kita mengembangkan perlawanan, rasa bersalah, dan segala macam itu. Jadi, kita tidak pernah menuntut kebebasan total--bukan untuk berbuat sesuka hati, melainkan untuk bebas dari pilihan. Di mana ada banyak pilihan, di situ ada banyak kebingungan.

Jadi, bisakah kita hidup di muka bumi ini, ‘Pacem in Terris’, dengan pemahaman mendalam tentang umat manusia, yang berarti memahami diri Anda sendiri dengan begitu mendalam, bukan menurut seorang psikolog atau psikoanalis. Mereka juga perlu dianalisis. Jadi, kita bisa, tanpa perlu berpaling kepada para spesialis, sebagai orang awam sederhana, kita bisa mengamati keanehan-keanehan, kecenderungan- kecenderungan kita sendiri. Otak kita--pembicara bukan seorang spesialis otak--otak kita telah terkondisi oleh perang, oleh kebencian, oleh konflik. Ia terkondisi melalui masa evolusi yang panjang ini; apakah otak itu beserta sel-selnya, yang mewadahi seluruh ingatan, apakah otak itu bisa membebaskan diri dari keterkondisiannya sendiri? Begini, mudah sekali menjawab pertanyaan seperti itu. Jika Anda berjalan ke Utara setiap hari sepanjang hidup Anda, sementara umat manusia berjalan ke satu arah, yakni konflik, dan ada orang datang lalu berkata, “Itu tidak akan membawa kita ke mana-mana.” Ia serius, dan mungkin Anda juga serius. Lalu ia berkata, “Pergilah ke Selatan, pergilah ke Timur, ke mana saja, asal bukan ke situ.” Dan ketika Anda benar-benar menjauhkan diri dari arah itu, terjadilah perubahan di dalam sel-sel otak sendiri, oleh karena Anda telah mematahkan polanya. Dan pola itu harus dipatahkan sekarang, bukan empat puluh atau seratus tahun lagi.

Dan bisakah manusia memiliki vitalitas, energi untuk mengubah diri mereka sendiri menjadi manusia yang beradab, tidak saling membunuh satu sama lain?

PIMPINAN SIDANG: Bolehkah kami bertanya?

KRISHNAMURTI: Ya, Pak, bertanyalah. Senang sekali.

PIMPINAN: Kita punya waktu untuk beberapa pertanyaan, dan Mr. Krishnamurti dengan senang hati bersedia menjawab pertanyaan apa pun yang Anda ajukan. Bila Anda akan bertanya, silakan mengangkat tangan sehingga sistem suaranya terhubung. Terima kasih.

PENANYA: Saya mengajukan pertanyaan berkaitan dengan keinginan akan suatu ungkapan spiritual yang saya rasakan terhubung dengannya. Apakah saya didengarkan? Saya rasa tidak. Saya rasa, ada rasa terputus hubungan, yang dikomunikasikan kepada saya. Saya mengharapkan suatu hubungan spiritual dengan saya dan orang-orang lain di kelompok ini yang akan memberikan suasana batin yang membahagiakan. Itulah yang saya harapkan akan saya alami pada ceramah ini, suatu rasa akan kesatuan yang meningkat secara spiritual, alih-alih suatu ungkapan intelektual.

KRISHNAMURTI: Pertama-tama, saya tidak paham akan kata ‘spiritual’. Apakah itu emosional, romantik, ideologis, atau sesuatu yang samar-samar di udara; ataukah menghadapi aktualitas, apa yang tengah terjadi sekarang, yang terjadi di dalam diri kita maupun yang terjadi di dunia? Oleh karena Anda adalah dunia, Anda tidak terpisah dari dunia. Kita telah menciptakan masyarakat ini, dan kita adalah masyarakat itu. Dan apa pun pengalaman yang kita miliki, apa yang dinamakan ‘religius’ atau ‘spiritual’, kita harus meragukan pengalaman itu sendiri, kita harus mempertanyakan, bersikap skeptis. Saya tidak tahu, apakah Anda menyadari bahwa kata ‘skeptisisme’, mempertanyakan, menyelidik, tidak dianjurkan di dunia Kristen. Sedangkan di dalam Buddhisme, dan juga Hinduisme, itu adalah salah satu hal yang esensial, Anda harus mempertanyakan segala sesuatu, sampai Anda menemukan atau sampai pada kebenaran itu, yang bukan milik Anda, atau milik siapa pun, itulah kebenaran.
Dan penyelidikan itu bukan intelektual. Intelek hanyalah sebagian dari keseluruhan struktur manusia. Kita harus memandang dunia dan diri sendiri sebagai keberadaan yang holistik. Dan kebenaran bukanlah sesuatu untuk dialami. Jika boleh kami tunjukkan, siapakah yang mengalami itu, yang terlepas dari pengalamannya. Bukankah yang mengalami itu bagian dari pengalaman? Kalau tidak, ia tak akan tahu apa pengalaman yang dialaminya. Jadi yang mengalami adalah pengalaman; si pemikir adalah pikiran; si pengamat, dalam arti psikologis, adalah yang diamati. Tidak ada perbedaan. Dan di mana ada perbedaan, pemisahan, muncullah konflik. Dengan berakhirnya konflik terdapat kebebasan, dan barulah kebenaran bisa muncul. Semua ini bukanlah intelektual, demi tuhan. Ini adalah sesuatu yang kita hayati, dan temukan.

PENANYA: Anda banyak menekankan pada penyelidikan dan skeptisisme. Saya ingin tahu, apakah menurut Anda iman juga berperan di situ.

KRISHNAMURTI: Apakah iman itu? Pada apakah Anda beriman? Orang beriman pada suatu pengalaman tertentu; orang beriman pada suatu kepercayaan tertentu, atau pada sebuah lambang, dan seterusnya. Mengapa kita beriman? Apakah itu karena rasa takut, karena rasa tidak pasti, karena rasa tidak aman? Bila Anda punya iman, misalnya sebagai seorang Hindu beriman pada suatu lambang tertentu, dan Anda berpegang teguh pada iman itu, atau pada lambang itu, maka Anda berperang dengan dunia selebihnya. Tetapi untuk menyelidik dengan lembut, dengan berhati-hati, dengan mempertanyakan, bertanya kepada diri sendiri, maka dari situ muncullah kejernihan. Dan perlu ada kejernihan untuk memahami apa yang abadi.

PENANYA: Pada akhirnya, Anda berkata bahwa kita perlu mematahkan pola konflik di antara sesama manusia. Pertanyaan saya kepada Anda adalah, apakah Anda melihatnya sebagai proses evolusioner yang mau tidak mau akan terjadi? Ataukah Anda melihatnya sebagai sesuatu yang harus kita capai dengan bekerja keras? Dan ada pepatah yang kira-kira berbunyi: di dalam masa kegelapan, mata mulai melihat. Dan mengapa saya melontarkan pertanyaan ini kepada Anda, oleh karena dalam suatu arti tertentu, itu akan terjadi, atau itu tidak akan terjadi; tetapi bagaimana Anda melihat terjadinya?

KRISHNAMURTI: Saya tidak begitu paham pertanyaan Anda, Pak.

PENANYA: Baiklah. Anda bicara tentang mematahkan pola; manusia memiliki pola, otak memiliki pola, dan pola itu harus dipatahkan agar perdamaian bisa terwujud di dunia.

KRISHNAMURTI: Tentu saja.

PENANYA: Nah, apakah Anda melihat pematahan pola itu sebagai suatu gerak aktif, ataukah sebagai kemajuan alamiah di dalam evolusi manusia?

KRISHNAMURTI: Pak, apakah kita ini benar-benar ber-evolusi?

PENANYA: Saya rasa, kita terus-menerus ber-evolusi.

KRISHNAMURTI: Jadi, Anda menerima evolusi--evolusi psikologis, kita tidak berbicara tentang evolusi biologis, atau evolusi teknis--evolusi psikologis. Setelah sejuta tahun, atau lima puluh ribu tahun, apakah kita berubah secara mendalam? Bukankah kita ini sangat primitif, biadab? Jadi saya minta, mohon pertimbangkan apakah ada evolusi psikologis sama sekali? Saya mempertanyakan itu. Secara pribadi, bagi pembicara, tidak ada evolusi psikologis; yang ada hanya pengakhiran kesedihan, kesakitan, kecemasan, kesepian, keputusasaan, dan sebagainya. Manusia telah hidup bersama itu selama sejuta tahun. Dan jika kita bergantung pada waktu, yang adalah pikiran--pikiran dan waktu selalu terjadi bersama-sama- -jika kita bergantung pada evolusi, seribu tahun lagi atau lebih, kita masih akan tetap biadab.

PENANYA: Pertanyaan saya adalah: apa yang harus terjadi agar evolusi psikologis bisa mulai sebagaimana dipahami pembicara?

KRISHNAMURTI: Evolusi psikologis bagaimana? Saya tidak paham pertanyaannya.

PENANYA: Anda berkata, menurut Anda belum ada evolusi psikologis. Pertanyaan saya adalah: apakah yang harus terjadi agar akan terjadi, atau bisa terjadi, evolusi psikologis.

KRISHNAMURTI: Ibu, saya rasa, kita berdua tidak memahami satu sama lain. Kita telah hidup di bumi ini secara historis, atau dari penyelidikan zaman bahari, selama kurang lebih lima puluh ribu tahun. Dan selama masa evolusi yang panjang itu, secara psikologis, di dalam, secara subyektif, kita tetap kurang lebih biadab--saling membenci, saling membunuh. Dan waktu tidak akan memecahkan masalah itu, yang adalah evolusi. Dan kita bertanya, mungkinkah bagi setiap manusia, yang adalah dunia ini selebihnya, bahwa gerak psikologis itu berhenti, dan melihat sesuatu yang segar?

PENANYA: Saya ingin mengajukan pertanyaan yang sama kepada Anda, dirumuskan secara lain: apakah yang perlu kita lakukan untuk mempengaruhi perlawanan terhadap evolusi ini. Saya ingin menyampaikan satu hal lagi. Bulan lalu, ada seorang bernama Dr Bohm; ia mengatakan hal yang sama seperti Anda dengan cara berbeda; ia seorang ilmuwan, ia menerangkan masalah yang sama. Saya bertanya, menurut Anda apakah yang bisa kita lakukan sekarang untuk menghasilkan ini?

KRISHNAMURTI: Sekarang saya mengerti. Apa yang bisa Anda lakukan sekarang, bukan? Berubahlah sepenuhnya!- -baik secara psikologis, maupun secara lahiriah. Pertama, revolusi psikologis, bukan evolusi, melainkan revolusi, berubahlah sepenuhnya. Itulah tindakan manusia yang sesungguhnya, bukan mencoba mengotak-atik di pinggiran.

PENANYA: Anda berkata, bahwa syarat penting untuk memahami umat manusia adalah mulai memahami diri kita sendiri dengan jelas. Apakah Anda melihat bahwa di ruangan ini, dalam waktu empat puluh tahun lagi, di Perserikatan Bangsa-Bangsa, pemahaman akan umat manusia melalui pemahaman akan diri sendiri akan menjadi bagian dari pengambilan keputusan global?

KRISHNAMURTI: Saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu, karena saya tidak termasuk organisasi ini. Tanyakan kepada boss-boss itu.

PENANYA: Saya ingin menambahkan catatan lain, mungkin catatan untuk untuk menambah semangat dalam pertanyaan saya. Anda mengisyaratkan bahwa organisasi mungkin tidak bisa memberikan jawaban, dan Anda juga mengisyaratkan bahwa sejarah umat manusia membuat Anda cenderung pesimistik tentang masa depan dan keselamatan. Saya rasa, itu bergantung pada sifat organisasi, dan apakah organisasi itu melayani kepentingan umat manusia dan siap ber-evolusi, sebagaimana PBB dan banyak kelompok lain ber-evolusi, dan sebagaimana manusia ber-evolusi, dengan syarat kita tidak bunuh diri, dan dengan syarat kita bisa menghubungkan diri dengan kasih sayang dan respek, yang untuk itu gen-gen kita juga terkode. Tidak ada akhir dari apa yang bisa kita buat di atas atau di luar planet ini. Dan implikasinya di situ, yang saya setujui, ialah bahwa kita ber-evolusi oleh karena kita mempuyai kemampuan untuk mencinta dan bekerja sama, dan bahwa kita tidak akan habis oleh karena kita menunjukkan kebencian dan ketakutan dan keserakahan, dan di masa lampau kita menyerah kepada keburukan-keburukan itu. Tetapi justru dengan adanya Perserikatan Bangsa-Bangsa, kita mempunyai contoh tentang kemampuan manusia untuk tumbuh dan berbagi cita-cita. Saya rasa, masa kini memang mengandung masa depan, dan dengan bertindak dengan penuh semangat pada masa kini kita bisa mempengaruhi masa depan dan kelestarian kita. Oleh karena itu saya bertanya, apakah jawaban terhadap pertanyaan yang Anda tampilkan tentang bila orang mencapai kedamaian di dalam diri sendiri, bagaimana hal itu mempengaruhi umat manusia selebihnya, dengan adanya batas waktu?

KRISHNAMUTI: Apakah pertanyaannya, Pak?

PENANYA: Pertanyaannya adalah, ketika orang mencapai kedamaian di dalam diri sendiri, bagaimana hal itu mempengaruhi umat manusia selebihnya tanpa struktur organisasi.

KRISHNAMURTI: Saya telah menjelaskan itu; maaf, saya telah menjelaskan itu. Jika saya berubah, bagaimana itu mempengaruhi umat manusia, dunia selebihnya? Itu pertanyaannya, bukan, Pak? Tunggu sebentar, Pak.

PENANYA: Itu pertanyaannya.

KRISHNAMURTI: Saya rasa, jika boleh saya dengan penuh hormat menunjukkan, itu pertanyaan yang salah. Berubahlah dulu, dan Anda akan melihat apa yang terjadi. Ini hal yang sungguh amat penting. Kita harus mengesampingkan semua masalah-masalah sampingan. Mohon disadari sesuatu yang amat besar: bahwa Anda secara psikologis adalah seluruh umat manusia. Anda adalah umat manusia, entah Anda hidup di India, di Rusia, di Cina, atau di Amerika, atau di Eropa, Anda adalah umat manusia selebihnya, oleh karena Anda menderita, dan setiap orang di dunia ini menderita dengan caranya sendiri. Kita berbagi penderitaan ini, itu bukan penderitaanku. Jadi, jika Anda mengajukan pertanyaan: perbedaan apa yang akan dihasilkan jika saya atau Anda berubah, kalau saya boleh menunjukkan dengan segala kerendahan hati, itu adalah pertanyaan yang salah. Anda menghindari masalah pokoknya. Dan tampaknya kita tidak pernah menghadapi masalah pokoknya, tantangan pokok yang menuntut bahwa kita hidup secara lain sama sekali, bukan sebagai orang Amerika, orang Rusia, orang India, atau orang Buddhis, atau orang Kristen.

Saya tidak tahu, apakah Anda pernah menyadari bahwa orang Kristen bertanggung jawab terhadap pembunuhan lebih banyak manusia daripada kelompok agama lainnya. Harap jangan marah! Lalu Islam, dunia Muslim, lalu orang Hindu, dan orang Buddhis menyusul jauh di belakang. Jadi, jika mereka yang menamakan diri Kristen, termasuk Katolik, yang berjumlah sekitar delapan ratus juta orang, jika mereka berkata, “Tidak boleh ada perang lagi,” Anda akan memperoleh perdamaian di muka bumi ini. Tetapi mereka tidak mau berkata demikian. Hanya Buddhisme, Hinduisme, yang berkata, “Jangan membunuh. Jika Anda membunuh,”--mereka percaya akan reinkarnasi- -“Anda akan membayarnya dalam kehidupan yang akan datang.” Oleh karena itu, jangan membunuh, jangan membunuh makhluk yang paling kecil sekalipun, kecuali Anda harus makan, tumbuhan dan sebagainya. Tetapi jangan membunuh! Kami sebagai brahmana tidak dibesarkan secara itu, tidak membunuh seekor lalat, tidak membunuh binatang untuk makanan Anda. Tetapi semua itu sudah lenyap. Jadi, kami menyarankan bahwa masalah pokok dalam menghentikan perang adalah Anda harus mengakhiri antagonisme Anda sendiri, mengakhiri konflik-konflik Anda sendiri, mengakhiri kesengsaraan dan penderitaan Anda sendiri.

Mengapa kita memilih, terlepas dari benda-benda fisik--dua bahan, pakaian, mobil? Anda memilih karena perbedaan fungsinya dan keiritannya, dan sebagainya. Tetapi, secara psikologis, mengapa Anda harus memilih? Mengapa ada pilihan? Ada pilihan, bila Anda ingin pergi dari satu kota ke kota lain, bila Anda ingin pindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain--bukan di Rusia, bukan di dunia tiranikal, di dunia totaliter, Anda terpaku di tempat Anda, Anda tidak boleh pindah--kecuali disetujui atasan. Dan di negeri ini, di masyarakat yang dinamakan demokratis, Anda mempunyai pilihan untuk melakukan apa yang Anda inginkan. Dan Anda menamakannya kebebasan--untuk memenuhkan diri Anda, untuk memperoleh sukses besar. Anda mempunyai pilihan amat besar. Sekarang kita bicara tentang pilihan di bidang psikologis. Jika Anda melihat dengan amat jelas, tidak ada pilihan. Sayang kita tidak melihat dengan jelas. Kita tidak melihat jelas bahwa nasionalisme adalah salah satu penyebab perang. Kita tidak melihat jelas bahwa ideologi menumbuhkan perang, entah itu ideologi Marxis, atau Lenin, atau ideologi tertentu yang kita miliki. Jadi, kita memilih dari satu ideologi ke ideologi lain, dari satu agama ke agama lain, dari satu kelompok ke kelompok lain, dan kita mengira kita bebas. Sebaliknya, itu menunjukkan kebingungan. Dan bila kita bingung, kita bertindak dalam kebingungan, dan dengan demikian menggandakan kebingungan, seperti dilakukan oleh para politisi--maaf.

PENANYA: Kami ada pertanyaan tertulis bagi Mr. Krishnamurti di sini. Apakah Anda percaya akan roh-roh yang tercerahkan?

KRISHNAMURTI: Apakah Anda percaya akan roh-roh yang tercerahkan? Saya tidak tahu, apa artinya itu. Tunggu dulu, Pak.

PENANYA: Maaf, sekarang ini Anda bicara dari forum publik, dan begitu ceramah ini selesai, Anda mungkin kembali ke dalam privasi yang mungkin sangat Anda senangi. Jadi, bagi kebanyakan manusia di dunia ini, terdapat pemisahan antara kehidupan publik dan kehidupan privat. Apa komentar Anda mengenai pemisahan ini? Apakah menurut Anda ini membawa pada konflik, apakah itu perlu?

KRISHNAMURTI: Antara kehidupan publik dan kehidupan privat? Itukah pertanyaannya? Mengapa Anda memisahkannya? Mengapa kita memisahkan kehidupan publik seolah-olah itu sesuatu di luar, dan kehidupan privat? Jika kita hidup dengan benar, dengan teliti, bukan secara intelektual, melainkan secara holistik, maka tidak ada kehidupan luar dan kehidupan privat. Secara holistik, artinya hidup sebagai manusia yang utuh, bukan sebagai seorang sektarian, bukan sebagai individual, bukan sebagai batin kecil remeh, otak yang aktif mengejar kepentingan diri. Maaf, bila saya terkesan tegas. Sudah selesai, Pak?

PIMPINAN SIDANG: Ada dua pertanyaan lagi.

PENANYA: Jika Anda hidup dengan damai, dan seorang tiran menyerang, apakah Anda tidak mempertahankan diri?

KRISHNAMURTI: Apa yang Anda lakukan? Jika Anda hidup damai, dan seorang tiran atau seorang perampok menyerang Anda, apa yang Anda lakukan? Itulah pertanyaannya. Apakah Anda hidup damai sehari atau dua hari? Ataukah Anda hidup damai sepanjang hidup Anda? Jika Anda pernah hidup damai bertahun-tahun, maka Anda akan melakukan hal yang tepat bila Anda diserang.

Bapak-Bapak, pembicara telah berbicara seperti ini selama enam puluh tahun terakhir atau lebih--di seluruh dunia, kecuali di balik Tirai Besi; sebelum perang ia telah berkeliling di Eropa--dan pertanyaan-pertanya an ini telah diajukan kepada pembicara selama enam puluh tahun. Pola yang sama diulangi kembali oleh generasi muda, oleh suatu peradaban yang baru seperti Amerika, pertanyaan-pertanya an yang sama, dengan maksud yang sama, untuk menjerumuskan pembicara, atau untuk sungguh-sungguh memahami pembicara, atau memahami diri sendiri. Dan jika Anda bernasib malang atau bernasib mujur untuk berbicara selama enam puluh tahun, Anda akan tahu semua jawaban dan semua pertanyaan. Tidak ada perbedaan antara pertanyaan dan jawaban. Jika Anda memahami pertanyaannya dengan mendalam sungguh-sungguh, maka jawabannya terdapat di dalam pertanyaan itu.

PIMPINAN SIDANG: Mr. Robert Miller ingin bertanya.

PENANYA: Bukan mau bertanya, melainkan ingin mengucapkan selamat atas pernyataan Anda. Dan mengkonfirmasikan bahwa setelah tinggal di organisasi ini selama hampir empat puluh tahun, dan telah hidup lebih dari enam puluh tahun, saya telah sampai pada kesimpulan yang sama dengan Anda. Kita semua telah terprogram, kita terprogram ke dalam suatu bangsa, ke dalam suatu ideologi, ke dalam suatu agama. Dan semua ini adalah manusia yang terpecah-belah. Saya perlu waktu empat puluh tahun berada di gedung ini untuk di-deprogram- kan dari dua atau tiga kebangsaan yang dipaksakan kepada saya, setiap kali saya diberi senapan untuk ditembakkan ke arah lain. Dan di sinilah, setelah melihat dunia dalam totalitasnya dan umat manusia dalam totalitasnya, saya sampai pada kesimpulan bahwa lebih penting untuk menjadi seorang manusia daripada menjadi seorang Yahudi, atau seorang Katolik, atau seorang Prancis, atau seorang Rusia, atau seorang kulit putih, atau seorang kulit hitam.

KRISHNAMURTI: Benar.

PENANYA: Dan di dalam kitab saya, saya tidak akan membunuh berdasarkan alasan apa pun, atau demi bangsa saya, atau demi agama apa pun, atau demi ideologi apa pun. Inilah kesimpulan saya yang juga kesimpulan Anda.

KRISHNAMURTI: Apakah itu suatu kesimpulan, Pak? Ataukah aktualitas?

PENANYA: Itu aktualitas saya.

KRISHNAMURTI: Benar. Bukan kesimpulan.

PENANYA: Saya tidak berdebat tentang agama, tetapi ingin mengingatkan bahwa pepatah, “Sebuah mata bagi sebuah mata, sebuah gigi bagi sebuah gigi,” sesungguhnya bukanlah ajaran Kristiani. Sebaliknya, Kristus berpendapat bahwa jalan perdamaian adalah memperhatikan dan mengurus sesama manusia, memiliki welas asih dan cinta satu sama lain. Tetapi saya ingin tahu, bagaimana mematahkan pola konfrontasi di antara manusia ini. Saya tidak bicara tentang negara, karena negara dibentuk oleh manusia, dan juga pemerintah, mereka adalah manusia yang memerintah negeri. Bagaimana kita bisa mematahkan pola ini? Mengapa umat manusia tidak mampu memraktikkan pikiran-pikiran gemilang yang ditulis Kristus untuk kita, dan ditulis pula oleh semua agama? Saya ingin tahu, apakah kita bisa menemukan resep, solusi untuk mematahkan pola konfrontasi yang mengerikan, bahkan kebencian di antara keluarga, sebagaimana ditunjukkan oleh Krishnamurti, oleh karena itu bukan hanya perang di antara bangsa, selalu ada konfrontasi, bahkan di antara anak-anak, yang seorang bersama Mama dan yang lain ingin pula ke situ. Pola itu, bagaimana kita bisa mematahkannya?

KRISHNAMURTI: Bolehkah saya menjawab pertanyaan Anda? Kita terprogram, seperti komputer--kita orang Katolik, Protestan, Buddhis, dan seterusnya. Seperti disampaikan oleh Bapak (?), kita terkondisi. Apakah kita menyadari, atau melihat secara aktual, bukan secara teoretis, atau secara ideologis, melainkan secara aktual melihat bahwa kita terprogram? Ataukah itu sekadar pernyataan sepintas lalu saja? Jika Anda sungguh-sungguh terprogram, sadarkan Anda konsekuensi dari terprogram? Salah satu konsekuensinya adalah kebencian, atau perang, atau memisahkan dari orang lain. Jika kita menyadari bahwa kita terprogram, ditekan, dikhotbahi, dan jika kita sungguh-sungguh melihat itu, Anda membuangnya, Anda tidak butuh resep untuk itu. Pada saat Anda mempunyai resep Anda terperangkap lagi di situ. Maka Anda terprogram lagi, oleh karena Anda mempunyai program Anda, dan orang akan memberikan program mereka kepada Anda. Jadi, yang penting adalah menyadari aktualitas keadaan terprogram, bukan secara intelektual, melainkan dengan seluruh darah daging dan energi Anda.

PIMPINAN SIDANG: Oleh karena unsur waktu, kita tidak bisa mengajukan pertanyaan-pertanya an lagi. Atas nama Pacem in Terris Society dan Movement for A Better World, izinkan kami mengucapkan terima kasih kepada pembicara tamu kita yang terhormat, serta Brother Fellow dan Ambassador Berry yang merupakan Ketua-Ketua Keohormatan dari Perhimpunan ini, serta Anda sekalian yang telah datang menghadiri ceramah pada hari ini.

Ada sebuah upacara sangat sederhana sebelum Anda pergi. Tuan Krishnamurti berada di sini tahun lalu pada 17 April, pada saat kita merayakan hari Pacem in Terris. Dan tahun ini kita beruntung, pada hari ulang tahun ke-22 Pacem in Terris, dan Anda semua telah mendengar tentang hal itu. Atas nama Pacem in Terris Society di Perserikatan Bangsa-Bangsa, kami mendapat kehormatan untuk menganugerahkan kepada Anda, Mr. Krishnamurti, Guru Dunia, Medali Perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun 1984.***


KEMBALI KE CERAMAH