jkbanner

THE TEACHINGS OF J.KRISHNAMURTI   -   INDONESIAN WEBSITE



CERAMAH

Langkah Pertama Adalah Langkah Terakhir
Dari "Krishnamurti in India, 1970-71", hal 50-3, 55-7



Langkah pertama adalah langkah terakhir. Langkah pertama adalah langkah persepsi jernih, dan tindakan persepsi jernih adalah tindakan terakhir. Ketika Anda melihat suatu bahaya, seekor ular, persepsi itu sendiri adalah tindakan lengkap. Pahamkah Anda? 

Nah, kita berkata, langkah pertama adalah langkah terakhir. Langkah pertama adalah untuk melihat [perceive], melihat apa yang Anda pikirkan, melihat ambisi Anda, melihat kecemasan Anda, kesepian Anda, keputusasaan Anda, rasa kesedihan yang luar biasa ini, melihatnya, tanpa menyalahkan, mem-benarkan, tanpa menginginkan supaya lain—hanya melihatnya saja, seperti apa adanya. 

Bila Anda melihat itu seperti apa adanya, maka ada tindakan yang berbeda sama sekali yang berlangsung, dan tindakan itu adalah tindakan terakhir. Bukan? Artinya, bila Anda melihat sesuatu sebagai salah atau benar, persepsi itu sendiri adalah tindakan terakhir, yang adalah langkah terakhir. Bukan? 

Nah, simaklah ini. Saya melihat kesalahan mengikuti orang lain, ajaran orang lain—Krishna, Buddha, Kristus, tidak peduli siapa dia. Saya melihat ada persepsi atau kebenaran bahwa mengikuti orang lain adalah sama sekali salah. Bukan? Oleh karena akal budi Anda, logika Anda, dan segala sesuatu menunjukkan betapa absurdnya mengikuti orang lain. Nah,persepsi itu adalah langkah terakhir, dan bila Anda sudah melihat, Anda meninggalkannya, melupakannya, oleh karena pada menit berikutnya Anda harus melihat lagi yang baru, yang lagi-lagi langkah terakhir. 

Jika Anda tidak melepaskan apa yang telah Anda pelajari, apa yang Anda lihat, maka ada kelanjutan dari gerakan pikiran, dan gerakan dan kelanjutan dari pikiran adalah waktu. Dan bila batin terperangkap dalam gerakan waktu, itu adalah ikatan.

Jadi, itulah salah satu masalah utama, yakni apakah batin bisa bebas dari masa lampau, penyesalan lampau, kenikmatan lampau, ingatan, kenangan, kejadian dan pengalaman, segala sesuatu yang telah kita bangun, masa lampau, yang adalah juga si ‘aku’. Si ‘aku’ adalah masa lampau. Nah, pikiran memberi kelanjutan pada sesuatu yang telah terlihat secara jelas, dan karena tidak bisa mengesampingkannya, memberinya kelanjut-an yang menjadi alat untuk melestarikan pikiran.

Anda mengalami kejadian yang menyenangkan kemarin. Anda tidak melupakannya, Anda tidak melepaskannya, Anda membawa-bawanya bersama Anda, Anda memikirkannya. Berpikir tentang sesuatu yang dari masa lampau itu sendiri memberikan kelanjutan masa lampau. Dengan demikian, masa lampau tidak pernah berakhir. Anda paham semua ini? 

Tetapi, jika Anda melihat bahwa Anda mengalami kejadian yang amat luar biasa, menyenangkan kemarin, melihatnya, mencerapnya [perceive], dan mengakhirinya sepenuhnya, tidak membawa-bawanya, maka tidak ada kelanjutan sebagai masa lampau yang telah dibangun oleh pikiran. Dengan demikian, setiap langkah adalah langkah terakhir. Pahamkah Anda?

Jadi, kita harus menyelami masalah apakah pikiran, yang memberi kelanjutan kepada ingatan sebagai ingatan—dan ingatan adalah masa lampau—apakah pikiran bisa berhenti. Oleh karena itu adalah bagian dari meditasi. Itu adalah bagian dari perubahan [mutation] total pada sel-sel otak itu sendiri, oleh karena jika ada kelanjutan dari gerakan pikiran, itu adalah pengulangan dari yang usang, oleh karena pikiran adalah ingatan, pikiran adalah respons ingatan,  pikiran adalah pengalaman, pikiran adalah pengetahuan. 
Jadi, masalah kita adalah: pikiran selalu melestarikan dirinya melalui pengalaman, melalui pengulangan terus-menerus dari ingatan-ingatan tertentu. Pengetahuan selalu berada di masa lampau, dan bila Anda bertindak menurut pengetahuan, Anda memberi kelanjutan kepada pikiran; tetapi Anda harus punya pengetahuan untuk bertindak secara teknologis. Tampakkah kesulitannya? 

Jika Anda tidak menggunakan pikiran, Anda tidak bisa pulang ke rumah, Anda tidak bisa bekerja di kantor. Anda mesti punya pengetahuan, tetapi juga lihat pentingnya, bahayanya suatu batin yang terperangkap di dalam gerak pikiran terus-menerus, dan dengan demikian tidak pernah melihat sesuatu secara baru. Pikiran selalu usang, pikiran selalu terkondisi, tidak pernah bebas, oleh karena ia bertindak menurut masa lampau. 

Jadi, masalahnya ialah: bagaimanakah gerak pikiran ini, yang pada satu tingkat mutlak diperlukan untuk berfungsi secara logis, waras, sehat, bagaimanakah gerak pikiran ini bisa berakhir, bagi manusia untuk melihat sesuatu yang sama sekali baru, untuk hidup secara lain sama sekali?

Pendekatan yang tradisional terhadap masalah ini ialah mengendalikannya, menahannya, atau belajar berkonsentrasi. Bukan? Ini lagi-lagi adalah absurd, karena siapakah si pengendali? Bukankah si pengendali bagian dari pikiran, bagian dari pengetahuan yang berkata, Anda harus mengendalikan? Artinya, Anda telah diajar untuk mengendalikan. 

Ada cara mengamati pikiran tanpa suatu pengendalian, tanpa memberinya kelanjutan, melainkan mengamatinya sampai ia berakhir. Pahamkah Anda pertanyaan saya? Oleh karena, jika pikiran berlanjut, batin tidak pernah hening, dan hanya ketika batin hening sepenuhnya ada kemungkinan bagi persepsi. 

Lihatlah kelogisan hal ini. Artinya, jika batin saya terus berceloteh, membandingkan, menilai, mengatakan ini benar, itu salah, saya tidak menyimak Anda. Untuk menyimak Anda, untuk memahami apa yang Anda katakan, saya harus mem-berikan perhatian, dan untuk bisa memberikan perhatian penuh, perhatian itu sendiri adalah keheningan. Bukan?

Kita melihat begitu jelas bahwa keheningan sama sekali perlu, bukan hanya pada tingkat permukaan, tetapi juga pada tingkat paling dalam; di pusat diri kita harus ada keheningan penuh. Bagaimana ini bisa terjadi? 
Itu tidak mungkin terjadi jika ada sebentuk pengendalian, oleh karena dengan demikian ada konflik, oleh karena lalu ada orang yang berkata, “Saya harus mengendalikan,” dan ada yang harus dikendalikan. Di situ ada pemisahan, dan di dalam pemisahan itu ada konflik. Dengan demikian, mungkinkah bagi batin untuk kosong dan hening sepenuhnya, bukan berkelanjutan, melainkan dari detik ke detik? 

Itulah persepsi pertama, bahwa batin harus hening sepenuhnya. Persepsi itu, kebenaran itu dan melihat kebenaran itu adalah langkah pertama dan terakhir. Lalu persepsi itu harus diakhiri; kalau tidak, Anda akan membawa-bawanya. Dengan demikian, batin harus mengamati, harus eling tanpa memilih akan setiap persepsi, dan harus ada pengakhiran dari persepsi itu dengan seketika, melihat dan mengakhiri. Paham-kah Anda ini?

Jadi batin tidak hidup bersama pikiran, yang adalah respons dari masa lampau, dan memberikan kelanjutan kepada pikiran itu ke masa depan, yang mungkin menit berikutnya, detik berikutnya. 

Dan pikiran adalah respons ingatan, yang adalah struktur sel-sel otak itu sendiri. Jika Anda pernah mengamati batin Anda sendiri, Anda akan melihat bahwa di dalam sel-sel otak itu sendiri terdapat bahan ingatan, dan ingatan itu merespons, yang adalah pikiran. 

Untuk menghasilkan perubahan [mutation] total pada kualitas sel itu sendiri, harus ada pengakhiran dari setiap persepsi, pemahaman, melihat, bertindak dan meninggalkan itu, sehingga batin selalu melihat dan mati, melihat kepalsuan dari kebenaran itu dan mengakhirinya dan bergerak terus tanpa membawa-bawa ingatan. Bukan?

Semua ini menuntut persepsi yang sangat kuat, vitalitas, energi yang sangat besar. Untuk menyelami ini selangkah demi
selangkah seperti tengah kita lakukan, tanpa terlewat satu hal pun, membutuhkan energi sangat besar. 
...

Bagaimana batin, tanpa mengikuti suatu sistem, tanpa mengikuti suatu paksaan, tanpa pembandingan apa pun, bagaimana batin yang telah terkondisi begitu lama, bisa kosong sepenuhnya dari masa lampau? Anda paham per-tanyaan saya? Kosong sepenuhnya sehingga ia melihat dengan jelas, dan apa yang jelas terlihat mengakhirinya, sehingga ia selalu memperbarui dirinya dalam kekosongan, artinya, memperbarui dirinya dalam kepolosan [innocence].

Nah, kata ‘kepolosan’ berarti batin yang polos, batin yang tak pernah bisa terluka. Kata ‘kepolosan’ berasal dari sebuah kata Latin yang berarti tak dapat terluka. Dan kebanyakan dari kita terluka, terluka dengan segala ingatan yang kita timbun di sekitar luka-luka itu, penyesalan-penyesalan kita, kerinduan-kerinduan kita, kesepian kita. Ketakutan-ketakutan kita adalah bagian dari rasa terluka ini. 

Dari sejak kanak-kanak kita terluka secara sadar atau tak sadar. Bagaimana mengosongkan semua luka itu, tanpa mengambil waktu—Anda paham?—tanpa berkata, “Saya akan berangsur-angsur melenyapkan luka itu”? Bila Anda lakukan itu, Anda tak akan pernah mengakhirinya, Anda mati pada akhirnya. Jadi, masalahnya ialah: bisakah batin mengosongkan dirinya sama sekali, bukan saja di tingkat permukaan, tetapi juga di kedalaman dirinya, pada akarnya. Oleh karena kalau tidak, kita hidup di dalam penjara, kita hidup di dalam penjara sebab dan akibat di dunia perubahan ini.

Jadi Anda harus mengajukan pertanyaan ini, mengajukan-nya kepada diri Anda sendiri: apakah batin Anda bisa kosong dari segenap masa lampaunya, namun tetap mempertahankan pengetahuan teknologis, pengetahuan insinyur Anda, pengeta-huan bahasa Anda, ingatan dari semua itu, namun berfungsi dari sebuah batin yang kosong sepenuhnya? 

Pengosongan batin itu terjadi secara alamiah, secara manis tanpa disuruh, bila Anda memahami diri Anda, bila Anda memahami apa diri Anda itu. Diri Anda adalah ingatan, kumpulan ingatan, pengalaman, pikiran. Bila Anda memahami itu, memandangnya, mengamatinya, dan bila Anda meng-amatinya, melihat di dalam pengamatan itu tidak ada dualitas antara si pengamat dan yang diamati. Maka bila Anda melihat itu, Anda akan melihat bahwa batin Anda bisa kosong sepenuhnya, penuh perhatian. Dan di dalam perhatian itu, Anda bisa bertindak secara utuh, tanpa keterpecahan [fragmentation] sedikit pun. Semua itu adalah bagian dari meditasi.

Dan bila Anda memahami sepenuhnya seluruh keterpecah-an dari diri Anda—bukan keterpaduan [integration]—pahami-lah bagaimana keterpecahan dan kontradiksinya muncul, bukan bagaimana mempersatukannya kembali. Anda tak bisa melakukan itu. Mempersatukan menyiratkan ada dualitas—orang yang mengerjakan itu, yang memadukan, dan sebagainya. 

Maka bila Anda sungguh-sungguh, secara mendalam, secara kuat memahami diri Anda, belajar  tentang diri Anda, maka Anda bisa memahami makna dari waktu, waktu yang mengikat, menahan, yang menghasilkan kesedihan.

Jika Anda telah melangkah sejauh itu—dan itu bukan berarti Anda pergi jauh dalam jarak—jauh secara kata-kata—bukan jauh yang terukur—jika Anda telah melangkah sejauh itu—bukan dalam ketinggian maupun kedalaman—jika Anda telah sampai pada ketinggian pemahaman, dengan kepenuhan itu, maka Anda akan mendapati sendiri suatu dimensi yang tak dapat diuraikan, yang tidak punya kata-kata, yang bukan sesuatu yang bisa dibeli dengan pengorbanan, yang tidak tercantum dalam kitab-kitab, yang tidak bisa dialami oleh Guru mana pun. Ia ingin mengajar Anda tentang itu, bagaimana mencapainya. Dengan demikian, kalau ia berkata, “Saya telah mengalami itu, dan saya tahu apa itu,” ia belum mengalami-nya, ia tidak tahu apa itu. Orang yang berkata ia tahu, tidak tahu. Jadi batin harus bebas, dari kata itu, gambaran [image] itu, masa lampau, dan itu adalah langkah pertama dan langkah terakhir.



KEMBALI KE CERAMAH