jkbanner

THE TEACHINGS OF J.KRISHNAMURTI   -   INDONESIAN WEBSITE



CERAMAH

Adakah sesuatu yang tidak disusun oleh pikiran, oleh keadaan, yang bukan hasil propaganda ?
(Diambil dari buku Andalah Dunia Ini, Bab B-4)


Manusia mencari-cari sesuatu yang lebih dari pada yang fana. Barangkali sejak jaman pra-sejarah manusia telah bertanya-tanya kepada diri sendiri apakah terdapat sesuatu yang suci, sesuatu yang bukan duniawi, yang bukan disusun oleh pikiran, oleh intelek. Manusia telah selalu bertanya apakah terdapat suatu realitas, suatu keadaan tanpa waktu yang bukan dihasilkan oleh pikiran, bukan diprojeksikan oleh pikiran, melainkan suatu keadaan batin di mana unsur waktu sungguh-sungguh tidak ada : apakah terdapat sesuatu yang "illahi", "keramat", "suci" (jika kita boleh menggunakan kata-kata itu), yang tidak dapat binasa. Perkumpulan-perkumpulan agama agaknya telah menyediakan jawabannya. Mereka berkata bahwa terdapat suatu realitas, terdapat suatu Tuhan, terdapat sesuatu yang tak mungkin dapat diukur oleh batin. Kemudian mereka mulai mengorganisir apa yang mereka anggap sebagai yang sejati dan manusia tertuntun sesat. Anda boleh jadi teringat cerita tentang iblis yang berjalan bersama seorang teman di jalan raya; mereka melihat seseorang di sebelah depan membungkuk dan mengambil sesuatu dari jalan. Dan ketika dia mengambilnya dan memandangnya terdapat kegembiraan besar di wajahnya; teman si iblis itu bertanya apakah yang diambil orang itu dan si iblis berkata “ltu adalah kebenaran/kesunyatan". Teman itu berkata. “Bukankah itu merupakan hal yang amat buruk bagimu?" Si Iblis menjawab, “Tidak sama sekali, saya akan membantu dia untuk mengorganisirnya". (Hadirin tertawa)

Pemujaan suatu gambaran yang dibuat oleh tangan atau oleh pikiran dan dogma-dogma dan upacara-upacara dari perkumpulan-perkumpulan agama, dengan semacam keindahan mereka, telah menjadi sesuatu yang sangat suci, sangat keramat. Dan demikianlah manusia, di dalam pencariannya untuk sesuatu yang berada di luar semua ukuran, di luar semua unsur waktu, telah tertawan, terjebak, tertipu, karena dia selalu mengharapkan untuk menemukan sesuatu yang sama sekali bukan dari dunia ini. Betapapun juga, apakah yang sesungguhnya dapat diberikan oleh masyarakat tradisionil, birokratis, kapitalis atau Komunis? Sangat sedikit kecuali makanan, pakaian dan tempat tinggal. Barangkali kita boleh mendapatkan lebih banyak kesempatan untuk pekerjaan atau dapat memperoleh lebih banyak uang, akan tetapi pada akhirnya, seperti yang kita lihat, masyarakat-masyarakat itu hanya dapat memberi sangat sedikit; dan batin, jika ia cerdas dan waspada, menolak itu. Secara alamiah kita membutuhkan makanan, pakaian dan tempat tinggal, hal itu mutlak panting sekali. Akan tetapi apabila hal itu menjadi sesuatu yang luar biasa pentingnya, kehidupan lalu kehilangan artinya yang amat ajaib. Maka malam ini boleh jadi berharga untuk menggunakan beberapa waktu untuk menyelidiki sendiri apakah sesungguhnya terdapat sesuatu yang keramat, sesuatu yang tidak disusun oleh pikiran, oleh keadaan, yang bukan hasil dari propaganda. Akan cukup berharga, jika kita dapat, untuk memasuki persoalan ini, karena kecuali kalau kita menemukan sesuatu yang tak dapat diukur oleh kata-kata, oleh pikiran, oleh pengalaman apapun, maka kehidupan — yaitu, kehidupan sehari-hari — menjadi dangkal sama sekali. Barangkali itulah sebabnya mengapa (walaupun boleh jadi juga tidak) generasi sekarang menolak masyarakat ini dan mencari-cari sesuatu yang berada di luar pergulatan, kejelekan, dan kekejaman sehari-hari itu.

Dapatkah kita menyelidiki pertanyaan, “Apakah adanya batin yang religius itu ?" Bagaimanakah keadaan batin yang dapat melihat apakah adanya kebenaran itu? Anda dapat berkata “Tidak ada hal seperti kebenaran itu, tidak ada apa yang dinamakan Tuhan itu, Tuhan telah mati, kita harus memanfaatkan dunia ini sebaiknya dan melanjutkannya. Kenapa mengajukan pertanyaan seperti itu sedangkan terdapat begitu banyak kebingungan, begitu banyak kesengsaraan, kelaparan, ghett (perkampungan terasing), prasangka-prasangka rasial; marilah kita berurusan dengan semua itu, marilah kita mengadak; suatu masyarakat yang berperikemanusiaan". Bahkan jika hal ini dilakukan — dan saya harap hal itu akan dilakukan — pertanyaan ini harus tetap diajukan. Anda boleh mengajukan itu pada akhir sepuluh, limabelas, limapuluh tahun, akan tetapi pertanyaan ini tak terhindarkan lagi akan diajukan. Harus ditanyakan : apakah terdapat, suatu keadaan yang mengakhiri unsur waktu.

Pertama-tama sekali harus terdapat kebebasan untuk memandang, kebebasan untuk mengamati apakah ada suatu keadaan seperti itu atau tidak; kita tidak mungkin dapat menduga-duga apapun. Selama terdapat dugaan harapan, rasa-takut apapun, batin diselewengkan, ia tak mungkin dapat melihat dengan terang. Maka kebebasan adalah mutlak perlu demi untuk menyelidiki. Sekalipun di dalam laboratorium ilmiah anda membutuhkan kebebasan untuk mengamati; anda boleh mempunyai suatu hipotesa dugaan, akan tetapi jika hal itu rnengganggu pengamatan lalu anda mengesampingkannya. Hanya dalam kebebasanlah anda dapat menemukan sesuatu yang sama sekali baru. Maka jika kita akan menyelidiki bersama-sama, tidak hanya dalam arti kata-katanya belaka melainkan bebas pengaruh kata-kata, maka harus terdapat ini kebebasan dari rasa tuntutan pribadi apapun, rasa takut apapun, harapan atau keputusasaan apapun; kita harus mempunyai mata yang terang, tidak ternoda tidak dibeban-pengaruhi, sehingga kita dapat mengamati dari kebebasan. Itulah hal yang pertama.

Dalam tiga pembicaraan yang lalu kita telah menemukan bahwa terdapat soal rasa-takut dan kesenangan. Jika hal itu tidak jelas dan jika kita belum menyelidiki soal rasa-takut, maka tidak akan mungkinlah untuk melanjutkan memasuki ke dalam apa yang akan kita selidiki ini. Jelas bahwa batin kita dibeban-pengaruhi oleh kepercayaan-kepercayaan — Kristen, Hindu, Buddhis dan selanjutnya. Kecuali terdapat kebebasan menyeluruh dari kepercayaan apapun, tidaklah mungkin untuk mengamati, untuk menyelidiki sendiri apakah terdapat suatu kenyataan yang tak dapat dikotori oleh pikiran. Dan kita harus pula bebas dari seluruh moral, karena keahlakan dari masyarakat tidak berahlak. Batin yang tidak berahlak tinggi, batin yang tidak tegak teguh dalam kebajikan, tidak mampu bebas. Itulah sebabnya mengapa penting untuk mengerti diri sendiri, untuk mengenal diri sendiri, untuk melihat seluruh struktur dari diri sendiri—pikiran-pikiran, rasa takut, kekhawatiran-khawatiran, ambisi-ambisi, dan semangat bersaing dan agresif. Kecuali kita mengerti dan secara mendalam melaksanakan kelakuan baik, tidaklah terdapat kebebasan, karena batin menjadi bingung oleh ketidaktentuannya sendiri, oleh keraguannya, tuntutannya, dan penekanannya sendiri.

Maka untuk menyelidiki ke dalam pertanyaan fundamentil tentang apakah adanya batin yang religius, dan apakah ada hal seperti itu, haruslah terdapat kebebasan ini, tidak hanya pada tingkat kesadaran, melainkan juga pada tingkat-tingkat yang lebih mendalam daripada kesadaran kita. Kebanyakan dari kita telah menerima bahwa terdapat suatu bawah-sadar, bahwa itu adalah sesuatu yang tersembunyi, gelap, tak dikenal. Tanpa mengerti keseluruhan dari bawah-sadar ini, hanya menggaruk permukaannya saja dengan penelitian analisa mempunyai arti sangat sedikit, baik hal itu dilakukan oleh para ahli atau penyelidikan sendiri. Maka kita harus memandang ke dalam ini pula, ke dalam batin yang sadar maupun ke dalam batin yang berada jauh di dalam, rahasia, tersembunyi, yang tak pernah diperlihatkan kepada cahaya kecerdasan, kepada cahaya dari penyelidikan. Dapatkah kita juga menyelidiki apakah batin yang sadar — yaitu batin sehari-hari, batin yang telah mempertajam diri sendiri melalui persaingan, melalui apa yang dinamakan pendidikan apakah batin seperti itu dapat menyelidiki lapisan-lapisan bawah-sadar yang lebih mendalam.

Apakah adanya bawah-sadar yang diagung-agungkan dan yang setiap orang membicarakannya itu ? Apakah kita harus membaca habis dulu berjilid-jilid kitab yang ditulis oleh para spesialis itu untuk menyelidikinya? Apakah kita harus pergi kepada seorang ahli untuk memberitahu kita apa adanya itu? Atau apakah kita dapat menyelidiki sendiri — selengkapnya, tidak sebagian-sebagian, tidak dalam kepingan-kepingan? Orang berkata bahwa anda harus bermimpi, kalau tidak anda akan menjadi gila, karena impian-impian adalah isyarat-isyarat, tanda-tanda dari bawah-sadar dan lapisan-lapisan rahasia batin yang belum diselidiki. Impian-impian karena itu merupakan suatu ekspresi dari lapisan-lapisan lebih dalam dan dengan cara ini, jika anda atau si penganalisa mampu untuk menafsirkan mimpi-mimpi, maka anda dapat mengungkapkan, mengosongkan bawah-sadar. Tidak ada yang pernah bertanya mengapa kita kok harus mimpi. Dikatakan bahwa anda harus bermimpi, itu adalah sehat, normal; akan tetapi kita dapat menyelidiki kebenaran dari pernyataan itu karena kita harus meragukan segala hal. (Keraguan ini memberi enersi, vitalitas, gairah kepada anda untuk menyelidiki). Kita harus bertanya mengapa kita kok harus bermimpi, karena jika batin bekerja terus-menerus, bergerak tak kunjung henti siang malam, maka ia tak dapat beristirahat, ia tak dapat menyegarkan kembali diri sendiri, ia tak dapat memperbarui diri sendiri. Ia menjadi seperti sebuah mesin yang terus-menerus bekerja; ia membikin lapuk diri sendiri. Maka kita bertanya, seperti yang kita lakukan sekarang, "Apa perlunya mimpi ?" Boleh jadi ada kemungkinan untuk tidak bermimpi. Setelah mengajukan pertanyaan itu kita akan menyelidiki apakah mungkin untuk tidak bermimpi, karena bawah - sadar adalah gudang dari masa lalu, warisan rasial dan keluarga, tradisi masyarakat, bermacam-macam rumus, sanksi-sanksi dan motif-motif, warisan dari kebinatangan — semua itu ada di situ. Melalui mimpi semua ini terungkap sedikit demi sedikit dan kita harus mampu untuk menafsirkannya secara tepat. Hal itu, tentu saja, tidak mungkin sama sekali. Terdapat ahli-ahli yang akan menafsirkan semua impian itu—akan tetapi menurut beban-pengaruh mereka, menurut pengetahuan mereka, menurut keterangan yang telah mereka peroleh dari orang lain.

Maka kita bertanya : apakah mimpi diperlukan ? Mungkinkah untuk tidak mimpi? Kesadaran adalah jelas bukan hanya apa yang berada di atas, akan tetapi juga apa yang berada di bawah —keseluruhannya. Jika selama siang hari isi dari batin anda dapat diamati, diawasi, maka apabila anda tidur tidak ada keperluan lagi bermimpi. Yaitu, jika di waktu tidak tidur anda waspada terhadap pikiran-pikiran anda, perasaan-perasaan anda, reaksi-reaksi anda, pamrih-pamrih anda, tradisi, pantangan-pantangan, berbagai macam bentuk pemaksaan, ketegangan-ketegangan — jika anda mengawasi semua itu, tidak membetulkannya, tidak memaksanya untuk menjadi lain, tidak menafsirkannya, akan tetapi jika anda sungguh-sungguh tanpa pilihan waspada selama siang hari — maka batin menjadi begitu awas, begitu peka terhadap setiap reaksi, terhadap setiap gerakan pikiran, sehingga pamrih-pamrihnya, warisan rasial dan selebihnya itu terlempar ke atas dan terungkap. Lalu anda akan melihat, jika anda melakukannya dengan serius, dengan intensitas, dengan suatu gairah untuk menyelidiki, bahwa malam-malam anda menjadi tenteram, tanpa suatu mimpi, sehingga ketika bangun batin menjadi segar, jernih, tanpa penyelewengan. Unsur pribadi telah dipecahkan sehingga ia dapat mengamati dengan sempurna; hal ini mungkin, bukan dengan mernpraktekkan apa yang dikatakan oleh para ahli, melainkan dengan mempelajari diri sendiri seperti kalau anda memandang diri anda sendiri di dalam cermin ketika anda bercukur, atau ketika anda menyisir rambut anda. Maka anda akan mendapatkan bahwa seluruh bawah-sadar sama piciknya, dangkalnya, bodohnya, seperti juga batin yang kerdil; tidak ada yang suka pada bawah-sadar itu. Lalu batin, setelah bebas dari rasa-takut, dari semua penderitaan yang didatangkan oleh kesenangan, tidak lagi mencari-cari kesenangan. Kebahagian bukanlah kesenangan, kebahagiaan adalah sesuatu yang sama sekali berbeda. Kesenangan, seperti telah kita tunjukkan, mendatangkan bersamanya derita dan karenanya rasa-takut, akan tetapi batin mencari-cari kesenangan — kesenangan tertinggi — karena kesenangan yang kita miliki dalam dunia ini begitu lapuk, telah menjadi begitu menjemukan dan layu, dan demikianlah kita selalu mencari-cari kesenangan-kesenangan baru. Akan tetapi batin seperti itu selalu berada dalam keadaan takut. Batin yang mencari-cari kesenangan kekal, atau menginginkan pengalaman yang akan menjamin kesenangan luar biasa, batin seperti itu berada dalam kegelapan. Anda dapat melihat ini sebagai suatu fakta yang sangat sederhana.

Maka batin, tanpa bebas dari rasa-takut dan bebas dari pencarian untuk pendalaman dan perluasan kesenangan — yang mendatangkan derita dan kekhawatiran, dan semua beban dan siksaan dari kesenangan — batin seperti itu tidaklah bebas. Dan suatu batin yang percaya bahwa terdapat suatu Tuhan, atau bahwa tidak terdapat Tuhan, sama saja merupakan suatu batin yang dibeban pengaruhi dan berprasangka.

Saya harap anda dapat melakukan semua itu. Pembicara tegas menyatakan ini, akan tetapi jangan anda terpengaruh olehnya, karena dia tidak mempunyai otoritas sama sekali. Dalam persoalan menyelidiki ini tidak terdapat otoritas, tidak terdapat guru, tidak terdapat pengajar. Andalah gurunya, dan andalah muridnya. Jika saja kita dapat mengesampingkan seluruh otoritas, karena itulah kesukaran terbesar — bebas namun pasti berada dalam kebaikan, dalam kebajikan, karena kebajikan adalah ketertiban. Kita hidup dalam ketidaktertiban luar biasa; masyarakat di mana kita hidup berada dalam keadaan yang sama sekali tidak tertib, :dengan ketidakadilan sosial, perbedaan-perbedaan rasial, pemisah-misahan ekonomi dan kebangsaan. Seperti yang anda lihat dalam diri anda sendiri, kita juga berada dalam ketidaktertiban, dan batin yang tidak tertib tak mungkin dapat bebas. Maka ketertiban, yang sesungguhnya adalah kebajikan, amat perlu; ketertiban, bukan menurut suatu pola atau menurut para pendeta atau mereka yang berkata “Kami tahu dan anda tidak tahu". Ketertiban adalah kebajikan dan ketertiban ini hanya datang apabila kita mengerti apa adanya ketidaktertiban. Melalui penolakan dari apa adanya ketidaktertiban, maka ketertiban dapat menjelma. Dalam menolak ketidaktertiban masyarakat, terdapatlan ketertiban, karena masyarakat mendukung ketamakan, persaingan, iri hati, perjuangan, kekejaman, kekerasan. Lihatlah angkatan perang, angkatan laut—itulah ketidaktertiban! Apabila anda menolak — bukan masyarakat, melainkan di sebelah dalam diri anda sendiri — rasa takut, ambisi, ketamakan, iri hati, pencarian kesenangan dan prestise — yang melahirkan ketidaktertiban batiniah —maka di dalam seluruh penolakan dari ketidaktertiban itu datanglah ketertiban ialah keindahan, yang bukan hanya merupakan hasil penekanan keadaan sekitar atau kelakuan keadaan sekitar belaka. Haruslah terdapat ketertiban dan anda akan mendapat kenyataan bahwa ketertiban adalah kebajikan.

Jika kita telah rnelakukan semua ini — dan kita harus melakukannya — lalu kita dapat bertanya : “Apakah adanya meditasi ?" Hanya batin yang meditatif saja yang dapat menyelidiki, bukan batin yang ingin tahu, bukan batin yang selalu mencari-cari. Adalah aneh bahwa apabila batin mencari-cari, ia akan menemukan apa yang dicarinya itu. Akan tetapi apa yang dicarinya dan ditemukan itu telah dikenal, karena yang ditemukannya harus dapat dikenal — tidakkah begitu? Pengenalan kembali adalah bagian dari pencarian ini, dan pengalaman serta pengenalan kembali datang dari masa lalu. Maka di dalam pengalaman yang datang melalui pencarian di mana pengenalan kembali tercakup, tidak terdapat apapun yang baru, pengalaman itu telah dikenal. Itulah sebabnya mengapa orang mempergunakan berbagai macam obat bius; hal itu telah dilakukan di India selama ribuan tahun, hal itu merupakan suatu muslihat usang untuk mendatangkan ketajaman batin untuk memperoleh pengalaman-pengalaman batin baru; akan tetapi kita tidak pernah menyelidiki apakah artinya pengalaman batin itu sendiri. Kita berkata bahwa kita harus memperoleh pengalaman-pengalaman batin baru, visiun-visiun baru. Bilamana kita memperoleh suatu pengalaman, suatu visiun baru, katakanlah melihat Kristus atau Buddha atan Krishna, vision itu adalah projeksi dari beban-pengaruh dari anda sendiri. Seorang Komunis, jika dia memang memperoleh visiun, akan melihat keadaan sempurna teratur dengan indah dalam hal mana segala sesuatu telah diletakkan secara birokratis. Atau jika anda seorang Kitholik, anda akan memperoleh visiun dari Kristus atau Perawan Suci dan sebagainya; semua itu tergantung dari beban-pengaruh anda. Dan apabila anda mengenal visiun itu, anda mengenalnya karena hal itu telah anda alami, sudah anda kenal. Maka tidak terdapat sesuatu yang sungguh-sungguh baru dalam pengenalan suatu visiun. Suatu batin yang dipengaruhi oleh obat bius walaupun ia boleh jadi untuk sementara menjadi tajam dan melihat sesuatu dengan sangat jelas apa yang ia lihat adalah beban pengaruhnya sendiri, kepicikannya sendiri, yang dibesarkan.

Jika anda telah melakukan semua ini ---dan saya harap anda telah melakukannya demi kepentingan anda sendiri — kita sekarang siap untuk masuk ke dalam sesuatu yang menuntut penglihatan tajam yang amat besar, keindahan dan kepekaan. Kata "meditasi" telah didatangkan ke negara ini dari Timur. Umat Kristen memiliki kata-kata mereka sendiri, kontemplasi dan sebagainya, akan tetapi "meditasi" sekarang telah menjadi sangat terkenal. Dikatakan oleh para yogi dan guru kebatinan bahwa meditasi adalah suatu cara untuk menemukan, untuk pergi lebih tinggi, untuk mengalami hal transendental. Akan tetapi apakah anda pernah bertanya siapakah adanya dia yang mengalami? Apakah yang mengalami itu berbeda dari hal yang dialaminya ? Sudah pasti tidak, karena yang mengalami adalah masa lalu dengan segala kenangannya dan apabila dia memperoleh pengalaman memasuki yang transendental melalui meditasi, atau melalui penggunaan obat bius, maka dia memprojeksinya dari masa lalu, mengenalnya kembali dan berkata, “Ini adalah suatu visiun, yang amat hebat". Sama sekali bukan demikian, karena batin yang dibebani dengan masa lalu tidak mungkin dapat melihat apa yang baru.

Kita sekarang tiba pada titik untuk menyelidiki apakah adanya meditasi itu. Apabila anda menyelidiki suatu metoda, suatu sistim, apakah yang terkandung di dalamnya ? Seseorang berkata, “Lakukanlah hal-hal ini berlatihlah hari demi hari, selama duabelas, duapuluh, empatpuluh tahun dan anda akhirnya akan tiba kepada realitas (reality)". Yaitu, latihlah suatu metoda, apapun adanya itu, akan tetapi dalam melatih suatu metode apa yang terjadi? Apapun yang anda lakukan sebagai rutin setiap hari, pada suatu waktu tertentu, duduk bersila, atau berbaring, atau berjalan kaki. Jika anda mengulangnya dari hari ke hari batin anda menjadi mekanis. Maka apabila batin anda melihat kenyataan itu, anda melihat bahwa apa yang terkandung dalam semua itu adalah mekanis, tradisionil, pengulang-ulangan, dan bahwa hal itu berarti konflik, penekanan, pengendalian. Batin yang dibikin tumpul oleh suatu metoda tak mungkin dapat menjadi cerdas dan bebas untuk mengamati. Mereka telah membawa Mantra Yoga dari India. Dan anda rnempunyai hal itu pula di dalam dunia Katholik — yaitu Ave Maria yang diulang-ulang ratusan kali. Hal ini dilakukan di atas tasbeh/rosario dan sudah tentu untuk sementara waktu hal itu menenangkan batin. Suatu batin yang tumpul dapat dibikin sangat tenang oleh pengulang-ulangan kata-kata dan ia memang bisa memperoleh pengalaman-pengalaman batin yang aneh-aneh, namun pengalaman-pengalam itu sama sekali tidak ada artinya. Suatu batin yang dangkal, suatu batin yang ketakutan, ambisius, tamak akan kebenaran atau tamak akan kekayaan dunia ini, batin seperti itu betapa seringpun ia mengulang beberapa buah kata yang dinamakan kata keramat akan tetap tinggal dangkal. Jika anda telah mengerti diri anda sendiri secara mendalam, telah mempelajari tentang diri sendiri melalui kewaspadaan tanpa pilihan dan telah meletakkan fondasi dari kebajikan, yang sesungguhnya adalah ketertiban, anda bebas dan anda tidak menerima yang dinamakan otoritas rohaniah apapun (sungguhpun sudah tentu kita harus menerima hukum-hukum masyarakat tertentu).

Lalu anda dapat menyelidiki apakah adanya meditasi itu. Dalam meditasi terdapat keindahan besar, hal itu adalah sesuatu yang luar biasa jika anda tahu apakah meditasi itu — bukan "bagaimana caranya bermeditasi" Kata "bagaimana" menunjukkan suatu cara metode, oleh karena itu jangan sekali-kali tanya "bagaimana"; terdapat orang-orang yang sangat suka menawarkan suatu metoda. Akan tetapi meditasi adalah kewaspadaan akan rasa takut, akan implikasi dan struktur dan sifat dari kesenangan, pengertian akan diri sendiri, dan karena itu pengertian adalah peletakan fondasi ketertiban, ialah kebajikan, dalam hal mana terdapat mutu disiplin yang bukan merupakan penekanan, bukan pengendalian, bukan pula tiruan. Suatu batin seperti itu lalu berada dalam suatu keadaan meditasi.

Bermeditasi berarti melihat dengan sangat terang dan adalah tidak mungkin untuk melihat secara jelas, atau menyelami seluruhnya ke dalam apa yang terlihat, apabila terdapat jarak di antara si pengamat dan yang diamati. Yaitu, apabila anda melihat setangkai bunga, kecantikan sebuah wajah, atau langit indah suatu senja, atau seekor burung sedang terbang, terdapatlah ruang —bukan hanya lahiriah melainkan juga batiniah— antara anda dan bunga itu, antara anda dan awan yang penuh dengan cahaya dan keagungan; terdapat jarak — secara batiniah. Apabila terdapat jarak, terdapatlah konflik, dan jarak itu terbuat oleh pikiran, ialah si pengamat. Pernahkah anda memandang kepada setangkai bunga tanpa ruang pemisah? Pernahkah anda mengamati sesuatu yang sangat indah tanpa adanya jarak antara si pengamat dan yang diamati, antara anda dan bunga itu? Kita memandang kepada setangkai bunga melalui tabir kata-kata, melalui tabir pikiran, tabir suka dan tidak suka, mengharapkan bunga itu berada dalam taman kita sendiri, atau berkata, “Betapa indahnya bunga itu". Dalam pengamatan itu, selagi anda memandang, terdapat pemisah-misahan yang diciptakan oleh si kata, oleh perasaan suka anda, kesenangan, dan dengan demikian terdapatlah pemisahan batin antara anda dan bunga itu dan tidak terdapat penglihatan yang tajam. Akan tetapi apabila tidak terdapat jarak, anda akan melihat bunga itu seperti yang belum pernah anda lihat sebelumnya. Apabila tidak terdapat pikiran, apabila tidak terdapat keterangan ilmiah tentang bunga itu, apabila tidak terdapat suka atau tidak suka melainkan hanya perhatian selengkapnya, maka anda akan melihat bahwa jarak itu lenyap dan karena itu anda akan berada dalam hubungan sepenuhnya dengan bunga itu, dengan burung yang sedang terbang itu, dengan awan, atau dengan wajah itu.

Dan apabila terdapat mutu batin seperti itu, di mana jarak antara si pengamat dan yang diamati lenyap dan karenanya benda itu dapat dilihat dengan sangat jelas, dengan penuh gairah dan intensitas, maka terdapatlah mutu dari cinta kasih; dan bersama cinta kasih itu terdapat keindahan.

Anda tahu, apabila anda mencinta sesuatu dengan mendalam — bukan melalui mata dari kesenangan dan penderitaan — apabila anda bersungguh-sungguh mencinta, jarak menghilang, baik secara lahiriah maupun batiniah. Tidak terdapat aku dan kamu. Bilamana anda telah sejauh itu dalam meditasi ini, anda akan menemukan mutu keheningan yang bukan merupakan hasil dari "pikiran mencari-cari keheningan". Dua hal itu berbeda —bukan? Pikiran dapat membuat diri sendiri tenang — saya tidak tahu apakah anda pernah mencobanya. Kita bergulat melawan pikiran karena kita melihat dengan baik bahwa kecuali kalau pikiran hening tidak terdapat kedamaian di dalam dunia ataupun di dalam batin — tidak terdapat kebahagiaan. Maka kita mencoba dengan berbagai jalan untuk mengheningkan batin melalui obat bius, melalui obat-obat penenang, melalui pengulang-uiangan kata-kata. Akan tetapi keheningan batin yang dibuat hening oleh pikiran tidak dapat dibandingkan dengan keheningan yang didatangkan oleh kebebasan — bebas dari segala hal yang telah kita bicarakan. Di dalam keheningan itu, yang merupakan mutu yang lain sama sekali dari keheningan yang didatangkan oleh pikiran, terdapat suatu dimensi yang berbeda. Ini adalah suatu keadaan berbeda yang harus anda selidiki sendiri; tidak ada orang pun dapat membukakan pintu itu untuk anda, dan tidak ada kata, tidak ada uraian yang dapat mengukur yang tak dapat diukur itu. Maka kecuali kalau kita sungguh-sungguh melakukan perjalanan panjang ini — yang sama sekali tidak panjang, melainkan seketika — hidup mempunyai arti yang sangat kecil. Dan apabila anda melakukannya anda akan menemukan sendiri apakah yang keramat itu.

Apakah anda ingin mengajukan sesuatu pertanyaan ? Bukankah keheningan ini lebih baik dari pada pertanyaan-pertanyaan? Jika anda hening di sebelah dalam, tidakkah hal itu lebih baik dari pada pertanyaan dan jawaban apapun ? Jika anda sungguh-sungguh hening, maka anda mempunyai cinta kasih dan keindahan — keindahan yang tidak berada dalam bangunan, dalam wajah, dalam awan, dalam hutan, melainkan di dalam hati anda. Keindahan itu tak dapat diuraikan, ia berada di luar jangkauan pernyataan. Dan apabila anda memilikinya, tidak ada pertanyaan yang perlu ditanyakan lagi.***

KEMBALI KE CERAMAH