jkbanner

THE TEACHINGS OF J.KRISHNAMURTI   -   INDONESIAN WEBSITE



CERAMAH

Ceramah kedua di Alpino, 4 Juli 1933 (2/2)


BAGAIMANA ANDA BISA TAHU KEBENARAN JIKA ANDA MASIH TERBELENGGU ILUSI?



PENANYA: Mohon dijelaskan apa yang Anda maksud dengan berkata bahwa disiplin-diri tidak ada gunanya. Apa yang Anda maksud dengan disiplin-diri?

KRISHNAMURTI: Jika Anda memahami apa yang saya katakan, Anda akan melihat kesia-siaan disiplin-diri. Tetapi saya akan mencoba menjelaskan ini lagi.

Mengapa Anda berpikir bahwa Anda perlu mendisiplinkan diri Anda? Kepada apa Anda ingin mendisiplinkan diri? Ketika Anda berkata, “Saya harus mendisiplinkan diri,” Anda memegang di hadapan Anda suatu standar yang terhadapnya Anda berpikir harus menyesuaikan diri. Disiplin-diri ada selama Anda ingin mengisi kekosongan di dalam batin Anda; ia ada selama Anda memegang suatu deskripsi tertentu tentang Tuhan, tentang kebenaran, selama Anda menyukai suatu standar moral tertentu dan Anda paksakan diri Anda menerimanya. Artinya, tindakan Anda diatur, dikendalikan oleh keinginan untuk menyesuaikan diri. Tetapi jika tindakan lahir dari penglihatan, maka tidak ada disiplin.

Harap pahami apa yang saya maksud dengan penglihatan (discernment). Jangan berkata, “Saya belajar bermain piano. Apakah itu melibatkan disiplin?” Atau, “Saya belajar matematika. Bukankah itu disiplin?” Saya tidak bicara tentang belajar suatu teknik, yang tidak bisa disebut disiplin. Saya bicara tentang bagaimana orang hidup. Apakah itu jelas? Saya khawatir kebanyakan dari Anda tidak memahami ini, oleh karena untuk bebas dari ide disiplin-diri adalah hal yang paling sukar, oleh karena dari sejak kanak-kanak kita telah diperbudak oleh disiplin, oleh pengendalian. Untuk melenyapkan ide tentang disiplin tidak berarti bahwa Anda harus pergi kepada lawannya, bahwa Anda harus kacau balau. Yang saya katakan ialah bahwa apabila ada penglihatan, tidak perlu ada disiplin-diri; maka tidak ada disiplin-diri.

Kebanyakan dari Anda terperangkap dalam kebiasaan disiplin. Pertama-tama, Anda memegang suatu gambaran mental tentang apa yang benar, apa yang sejati, tentang bagaimana watak yang baik itu. Kepada gambaran mental ini Anda mencoba menyesuaikan tindakan Anda. Anda bertindak semata-mata menurut gambaran mental yang Anda pegang. Selama Anda punya ide terlebih dulu tentang apa yang benar--dan kebanyakan dari Anda memiliki ide ini--Anda harus bertindak sesuai dengan itu. Kebanyakan dari Anda tidak sadar bahwa Anda bertindak mengikuti suatu pola, tetapi bila Anda menjadi eling bahwa Anda bertindak seperti itu, maka Anda tidak lagi mengkopi atau meniru; maka tindakan Anda mengungkapkan apa yang benar.

Begitulah, latihan jasmani kita, latihan keagamaan dan moral kita, cenderung mencetak kita menurut suatu pola. Dari sejak kanak-kanak, kebanyakan kita dilatih untuk menyesuaikan terhadap suatu pola--sosial, religius, ekonomis--dan kebanyakan dari kita tidak menyadarinya. Disiplin menjadi kebiasaan, dan Anda tidak sadar akan kebiasaan itu. Hanya apabila Anda menjadi eling bahwa Anda tengah mendisiplinkan diri Anda menurut suatu pola, barulah tindakan Anda lahir dari penglihatan.

Jadi pertama-tama, Anda perlu menyadari mengapa Anda mendisiplinkan diri, bukan apa saja yang perlu dan tidak perlu Anda disiplinkan. Apa yang terjadi pada manusia melalui berabad-abad pendisiplinan-diri? Ia menjadi semakin mirip mesin, dan kurang menjadi manusia; ia sekadar memperoleh ketrampilan lebih besar dalam peniruan, dalam menjadi mesin. Disiplin-diri--yakni menyesuaikan diri dengan suatu gambaran mental yang dibuat oleh Anda sendiri atau oleh orang lain--tidak membawa keharmonisan; ia hanya menghasilkan kekacauan.

Apa yang terjadi bila Anda mencoba mendisiplinkan diri? Tindakan Anda terus menciptakan kekosongan di dalam batin Anda oleh karena Anda mencoba menyesuaikan tindakan Anda mengikuti suatu pola. Tetapi jika Anda eling bahwa Anda tengah bertindak menurut suatu pola--suatu pola yang dibuat oleh Anda sendiri atau oleh orang lain--maka Anda akan melihat palsunya peniruan, dan tindakan Anda akan lahir dari penglihatan, artinya, dari keharmonisan antara pikiran dan hati.

Nah, secara mental Anda ingin bertindak menurut cara tertentu, tetapi secara emosional Anda tidak menginginkan tujuan itu, dan dengan demikian terjadilah konflik. Untuk menaklukkan konflik itu, Anda mencari keamanan di dalam otoritas, dan otoritas itu menjadi pola Anda. Dengan demikian, Anda tidak bertindak menurut apa yang sungguh-sungguh Anda rasakan dan pikirkan; tindakan Anda termotivasi oleh ketakutan, oleh keinginan akan keamanan, dan dari tindakan seperti itu muncullah disiplin-diri. Pahamkah Anda?

Begini, pemahaman dengan seluruh keberadaan Anda sangat berbeda dengan pemahaman secara intelektual semata-mata. Ketika orang berkata, “Saya paham,” mereka biasanya hanya memahami secara intelektual. Tetapi analisis intelektual tidak akan membebaskan Anda dari kebiasaan disiplin-diri ini. Ketika Anda bertindak, jangan bilang, “Saya harus meneliti apakah tindakan ini berasal dari disiplin-diri, apakah ia sesuai dengan suatu pola.” Upaya seperti itu hanya menghalangi tindakan sejati. Tetapi jika dalam bertindak Anda eling akan peniruan, maka tindakan Anda akan spontan.

Seperti telah saya katakan, jika Anda menyelidiki setiap tindakan untuk menentukan apakah ia berasal dari disiplin-diri, dari peniruan, maka tindakan Anda akan semakin terbatas; maka ada rintangan, perlawanan. Anda tidak sungguh-sungguh bertindak. Tetapi jika Anda eling, dengan seluruh keberadaan Anda, akan kesia-siaan peniruan, kesia-siaan penyesuaian-diri, maka tindakan Anda tidak akan meniru, terhalang, atau terikat lagi. Bukankah demikian? Bagi saya, analisis tindakan tidak membebaskan batin dari peniruan, yang adalah penyesuaian-diri, disiplin-diri. Yang membebaskan batin dari peniruan adalah eling dengan seluruh keberadaan Anda dalam tindakan Anda.

Bagi saya, analisis-diri menggagalkan tindakan. Ia menghancurkan hidup yang lengkap. Mungkin Anda tidak setuju dengan ini, tetapi mohon simak apa yang saya katakan sebelum Anda memutuskan untuk setuju atau tidak setuju. Saya berkata, proses analisis-diri yang terus-menerus ini, yang adalah disiplin-diri, terus-menerus membatasi aliran kehidupan yang bebas, yang adalah tindakan. Oleh karena disiplin-diri didasarkan pada ide pencapaian, bukan pada ide tindakan lengkap. Melihatkah Anda perbedaannya? Di satu pihak, ada serangkaian pencapaian dan dengan demikian selalu ada finalitas; sedangkan di lain pihak, tindakan berasal dari penglihatan, dan tindakan demikian adalah harmonis dan dengan demikian tak terbatas. Apakah ini jelas?

Amatilah diri Anda lain kali ketika Anda berkata, “Saya tidak boleh.” Disiplin-diri, “Saya harus,” “Saya tidak boleh,” didasarkan pada ide pencapaian. Bila Anda menyadari kesia-siaan pencapaian--bila Anda menyadari ini dengan seluruh keberadaan Anda, secara emosional dan intelektual--maka tidak ada lagi “Saya harus,” dan “Saya tidak boleh.”

Sekarang Anda terperangkap dalam upaya menyesuaikan diri pada suatu gambaran dalam batin Anda; Anda memiliki kebiasaan berpikir, “Saya harus,” dan “Saya tidak boleh.” Dengan demikian, lain kali Anda berkata begitu, elinglah akan diri Anda, maka di dalam keelingan itu Anda akan melihat apa yang benar, dan Anda akan bebas dari rintangan “Saya harus,” dan “Saya tidak boleh.”

PENANYA: Anda berkata, tidak seorang pun dapat menolong orang lain. Kalau begitu, mengapa Anda berkeliling dunia dan bicara dengan orang?

KRISHNAMURTI: Perlukah itu dijawab? Itu berarti banyak jika Anda bisa memahaminya. Begini, kebanyakan dari kita ingin memperoleh kearifan atau kebenaran melalui orang lain, melalui suatu agen luar. Tidak seorang pun dapat menjadikan Anda seorang seniman; hanya Anda sendiri yang bisa melakukannya. Itulah yang ingin saya katakan: Saya bisa memberi Anda cat, kuas, dan kanvas, tetapi Anda sendiri yang harus menjadi seniman, pelukis. Saya tidak bisa membuat Anda menjadi itu. Nah, dalam upaya Anda untuk menjadi spiritual, kebanyakan dari Anda mencari guru, juruselamat; tetapi saya berkata, tidak seorang pun di dunia dapat membebaskan Anda dari konflik penderitaan. Orang lain bisa memberi Anda materialnya, alatnya, tetapi tidak seorang pun bisa memberi Anda nyala kehidupan kreatif.

Begini, kita berpikir dalam pengertian suatu teknik, tetapi teknik tidak datang pertama kali. Pertama-tama Anda harus memiliki nyala keinginan, lalu menyusullah teknik. “Tetapi,” kata Anda, “biarkan saya belajar. Jika saya diajar teknik melukis, maka saya akan bisa melukis.” Ada banyak buku yang menguraikan teknik melukis, tetapi hanya sekadar teknik tidak akan pernah membuat Anda menjadi seniman yang kreatif. Hanya apabila Anda berdiri sendiri sepenuhnya, tanpa teknik, tanpa guru, hanya di situ Anda bisa menemukan kebenaran.

Marilah kita pahami ini lebih dulu. Sekarang Anda mendasarkan ide-ide Anda pada penyesuaian-diri. Anda menganggap ada sebuah standar, sebuah jalan, yang dengan itu Anda bisa menemukan kebenaran; tetapi jika Anda menyelidiki, Anda akan mendapati bahwa tidak ada jalan yang membawa pada kebenaran. Untuk dapat dituntun menuju kebenaran, Anda harus tahu apa itu kebenaran, dan penuntun Anda harus tahu apa itu. Bukankah demikian? Saya berkata, orang yang mengajarkan kebenaran mungkin memilikinya, tetapi jika ia menawarkan akan menuntun Anda menuju kebenaran dan Anda dituntunnya, maka keduanya berada dalam ilusi. Bagaimana Anda bisa tahu kebenaran jika Anda masih terbelenggu oleh ilusi? Jika kebenaran ada, ia akan mengungkapkan dirinya. Seorang penyair besar mempunyai keinginan, nyala untuk menulis secara kreatif, lalu ia menulis. Jika Anda memiliki keinginan itu, Anda akan belajar tekniknya.

Saya rasa, tidak seorang pun dapat menuntun orang lain menuju kebenaran, oleh karena kebenaran itu tak terbatas; itu adalah wilayah tanpa jalan, dan tidak seorang pun dapat mengatakan kepada Anda bagaimana menemukannya. Tidak seorang pun dapat mengajar Anda untuk menjadi seorang seniman; orang lain hanya bisa memberi Anda kuas dan kanvas dan menunjukkan kepada Anda warna-warna yang harus digunakan. Tidak seorang pun mengajar saya, saya katakan kepada Anda; saya juga tidak mempelajari apa yang saya katakan dari buku-buku. Tetapi saya telah mengamati, saya telah berjuang, dan saya telah berupaya menemukan. Hanya apabila Anda sungguh-sungguh telanjang, bebas dari semua teknik, bebas dari semua guru, Anda akan menemukan.***


KEMBALI KE CERAMAH