jkbanner

THE TEACHINGS OF J.KRISHNAMURTI   -   INDONESIAN WEBSITE



CERAMAH

Ceramah pertama di Stresa, 2 Juli 1933


JIKA ANDA MERASA AMAN, ANDA TIDAK PERNAH MENEMUKAN REALITAS YANG HIDUP


Di dalam ceramah-ceramah saya, saya tidak akan menyulam suatu teori intelektual. Saya akan bicara tentang pengalaman saya yang bukan lahir dari ide-ide intelektual, melainkan yang nyata. Harap jangan melihat saya sebagai seorang filsuf yang mengemukakan sekumpulan ide-ide baru, yang dapat dibolak-balik oleh intelek Anda. Itu bukan yang saya tawarkan kepada Anda. Alih-alih, saya ingin menjelaskan bahwa kebenaran, kehidupan yang penuh dan kaya, tidak mungkin direalisasikan melalui orang mana pun, melalui peniruan, atau melalui bentuk otoritas apa pun.

Kebanyakan dari kita kadang-kadang merasakan ada suatu kehidupan sejati, sesuatu yang abadi, tetapi saat-saat di mana kita merasakan itu begitu jarang sehingga sesuatu yang abadi ini semakin menjauh ke latar belakang dan tampak kepada kita semakin tidak nyata.

Nah, bagi saya ada realitas; ada realitas yang hidup dan abadi­ sebutlah Tuhan, keabadian, kekekalan, atau apa pun. Ada sesuatu yang hidup, kreatif, yang tak dapat dideskripsikan, oleh karena realitas lolos dari semua deskripsi. Tiada deskripsi kebenaran bisa bertahan, oleh karena ia hanya merupakan ilusi kata-kata. Anda tidak mungkin mengenal cinta melalui deskripsi orang lain; untuk mengenal cinta, Anda sendiri harus mengalaminya. Anda tidak mungkin mengenal rasa garam sebelum Anda mencicipi sendiri garam. Namun kita menghabiskan waktu kita mencari deskripsi kebenaran, alih-alih mencoba menemukan realisasinya. Saya katakan, saya tidak bisa menguraikan, saya tidak bisa mengungkapkan dengan kata-kata, realitas yang hidup itu yang berada di atas semua ide tentang kemajuan, semua ide tentang pertumbuhan. Hati-hatilah terhadap orang yang mencoba menguraikan realitas yang hidup itu, oleh karena ia tidak mungkin diuraikan; ia harus dialami, dihayati.

Realisasi dari kebenaran ini, dari keabadian ini, bukan terletak di dalam gerakan waktu, yang tiada lain adalah kebiasaan pikiran. Bila Anda berkata, bahwa Anda akan merealisasikannya dalam perjalanan waktu, artinya, pada suatu saat di masa depan, maka Anda hanya menunda pemahaman itu yang harus selalu ada pada saat kini. Tetapi jika batin memahami kelengkapan hidup, dan bebas dari pembagian oleh waktu menjadi masa lampau, masa kini dan masa depan, maka muncullah realisasi dari realitas yang hidup dan abadi itu.

Tetapi oleh karena semua batin terperangkap dalam pembagian waktu, oleh karena mereka berpikir akan waktu sebagai masa lampau, masa kini, dan masa depan, maka muncullah konflik. Lagi, karena kita membagi tindakan menjadi masa lampau, masa kini, dan masa depan, oleh karena bagi kita tindakan tidaklah lengkap dalam dirinya, melainkan lebih merupakan sesuatu yang digerakkan oleh motif, oleh ketakutan, oleh tuntunan, oleh ganjaran dan hukuman, maka batin kita tidak mampu memahami keseluruhan yang berlanjut. Hanya apabila batin bebas dari pembagian waktu, tindakan sejati bisa muncul. Bila tindakan berasal dari kelengkapan, bukan di dalam pembagian waktu, maka tindakan itu harmonis dan bebas dari kungkungan masyarakat, kelas, ras, agama dan keinginan memiliki.

Dinyatakan secara lain, tindakan harus bersifat individual sejati. Saya tidak menggunakan kata `individual' itu dalam arti menghadapkan individu dengan yang banyak. Dengan `tindakan individual' saya maksudkan tindakan yang lahir dari pengertian lengkap, pemahaman lengkap oleh individu, pemahaman yang bukan dipaksakan oleh orang lain. Bila pemahaman itu ada, terdapat individualitas sejati, kesendirian sejati ­bukan kesendirian dari pelarian ke dalam kesunyian, melainkan kesendirian yang lahir dari pemahaman penuh akan pengalaman hidup. Agar tindakan lengkap, batin harus bebas dari ide waktu sebagai hari kemarin, hari ini, dan hari esok. Jika batin tidak bebas dari pembagian itu, maka timbul konflik, dan membawa pada penderitaan, dan pada pencarian akan cara lari dari penderitaan.

Saya berkata, ada realitas yang hidup, kekekalan, keabadian yang tak teruraikan; itu hanya dapat dipahami dalam kepenuhan tindakan individual Anda sendiri, bukan sebagai bagian dari sebuah struktur, bukan sebagai bagian dari mesin sosial, politis, atau keagamaan. Oleh karena itu Anda harus mengalami individualitas sejati sebelum Anda dapat memahami apa yang sejati. Selama Anda tidak bertindak dari sumber yang abadi itu, selalu ada konflik; selalu ada pembagian dan pergulatan terus-menerus.

Nah, masing-masing dari kita kenal akan konflik, pergulatan, kesedihan, ketidakharmonisan. Inilah unsur-unsur yang membentuk sebagian besar kehidupan kita, dan dari situ kita mencoba, secara sadar atau tidak, untuk lari. Tetapi sedikit orang yang tahu sendiri penyebab dari konflik itu. Secara intelektual mereka mungkin tahu penyebabnya, tetapi pengetahuan itu hanya di permukaan. Untuk mengetahui penyebabnya berarti sadar akan itu dengan pikiran dan hati.

Oleh karena hanya sedikit orang yang sadar akan penyebab yang dalam dari penderitaan mereka, mereka merasa keinginan untuk lari dari penderitaan itu, dan keinginan untuk lari ini menciptakan dan menghidupkan sistem moral, sosial dan keagamaan kita. Di sini saya tidak sempat mendalaminya, tetapi jika Anda mau merenungkannya, Anda akan melihat bahwa sistem keagamaan kita di seantero dunia didasarkan pada ide akan penundaan dan penghindaran, pencarian juru perantara dan juru penghibur. Oleh karena kita tidak bertanggung jawab akan tindakan-tindakan kita sendiri, oleh karena kita mencari pelarian dari penderitaan kita, kita menciptakan sistem dan otoritas yang akan memberi kita penghiburan dan perlindungan.

Jadi, apakah penyebab dari konflik? Mengapa kita menderita? Mengapa kita harus bergulat tanpa henti? Bagi saya, konflik adalah hambatan dalam arus tindakan spontan, hambatan dalam pikiran dan perasaan yang harmonis. Bila pikiran dan emosi tidak harmonis, terdapat konflik dalam tindakan; artinya, bila pikiran dan hati berada dalam keadaan tidak akur, mereka menciptakan hambatan bagi ekspresi tindakan yang harmonis, dan dengan demikian konflik. Hambatan terhadap tindakan harmonis itu disebabkan oleh keinginan untuk lari, oleh sikap menghindar terus-menerus dari menghadapi hidup secara utuh, oleh menghadapi hidup selalu dengan beban tradisi ­entah religius, politis atau sosial. Ketidakmampuan menghadapi pengalaman dalam kelengkapannya menciptakan konflik, dan keinginan untuk lari darinya.

Jika Anda merenungkan pikiran Anda dan tindakan yang berasal darinya, Anda akan melihat bahwa di mana ada keinginan untuk lari tentu ada pencarian keamanan. Oleh karena Anda mendapati konflik dalam kehidupan beserta segala tindakannya, perasaannya, pikirannya, Anda ingin lari dari konflik itu kepada suatu keamanan yang memuaskan, kepada suatu keadaan yang menetap. Jadi seluruh tindakan Anda didasarkan pada keinginan akan keamanan. Tetapi sesungguhnya tidak ada keamanan dalam hidup ­entah fisik entah intelektual, entah emosional entah spiritual. Jika Anda merasa aman, Anda tak pernah menemukan realitas yang hidup itu; namun, kebanyakan dari Anda mencari keamanan.

Beberapa di antara Anda mencari keamanan fisik melalui kekayaan, kenyamanan, dan kekuasaan atas orang lain yang diberikan oleh kekayaan kepada Anda; Anda berminat pada perbedaan sosial dan kemudahan sosial yang menjamin sebuah kedudukan bagi Anda, yang dari situ Anda memperoleh kepuasan. Keamanan fisik adalah bentuk keamanan yang kasar, tetapi oleh karena tidak mungkin bagi mayoritas manusia mencapai keamanan itu, manusia berpaling pada bentuk keamanan yang lebih halus yang dinamakannya spiritual atau religius. Oleh karena keinginan untuk lari dari konflik, Anda mencari dan menegakkan keamanan ­fisik atau spiritual. Harapan akan keamanan fisik memperlihatkan diri dalam keinginan memiliki rekening bank yang banyak, kedudukan yang baik, keinginan terpandang di masyarakat, perjuangan untuk memperoleh gelar dan titel, dan segala kebodohan yang tak berarti itu.

Lalu beberapa di antara Anda merasa tidak puas dengan keamanan fisik dan berpaling pada bentuk keamaan yang lebih halus. Itu masih keamanan, hanya saja agak kurang nyata, dan Anda menamakannya spiritual. Tetapi saya tidak melihat perbedaan sesungguhnya di antara keduanya. Bila Anda jenuh dengan keamanan fisik atau bila Anda tidak mampu memperolehnya, Anda berpaling pada apa yang Anda namakan keamanan spiritual. Dan bila Anda berpaling ke situ, Anda menegakkan dan menghidupkan apa yang Anda namakan agama dan kepercayaan spiritual terorganisir. Oleh karena Anda mencari keamanan, Anda menegakkan sebentuk agama, suatu sistem pemikiran filosofis, yang di situ Anda terperangkap, yang olehnya Anda diperbudak. Dengan demikian, dari sudut pandang saya, agama beserta semua perantaranya, upacaranya, pendeta atau ulamanya, menghancurkan pemahaman kreatif dan memutarbalikkan penilaian.

Salah satu bentuk keamanan religius adalah kepercayaan akan reinkarnasi, kepercayaan akan kehidupan yang akan datang, beserta segala implikasinya. Saya berkata, bila orang terperangkap dalam kepercayaan apa pun, ia tidak mampu mengenal kepenuhan hidup. Orang yang hidup sepenuhnya bertindak dari sumber itu di mana tidak ada reaksi, melainkan hanya aksi (tindakan); tetapi orang yang mencari keamanan, pelarian, harus berpegang pada suatu kepercayaan oleh karena dari situ ia memperoleh dukungan, dorongan terus-menerus bagi ketiadaan pemahamannya.

Lalu ada keamanan yang diciptakan oleh manusia di dalam ide tentang Tuhan. Banyak orang bertanya kepada saya, apakah saya percaya kepada Tuhan, apakah ada Tuhan. Anda tidak bisa mendiskusikannya. Kebanyakan dari konsepsi kita tentang Tuhan, tentang realitas, tentang kebenaran, hanyalah sekadar peniruan spekulatif. Dengan demikian, mereka palsu sama sekali, dan semua agama kita didasarkan pada kepalsuan seperti itu. Orang yang telah menjalani hidupnya di dalam sebuah penjara hanya bisa berspekulasi tentang kebebasan; orang yang tidak pernah mengalami gairah kebebasan tidak mungkin tahu kebebasan. Jadi tidak banyak manfaatnya mendiskusikan Tuhan, kebenaran; tetapi jika Anda memiliki kecerdasan, intensitas untuk menghancurkan penghalang-penghalang di sekitar Anda, maka Anda akan tahu sendiri pemenuhan kehidupan. Maka Anda tidak lagi menjadi budak di dalam sebuah sistem sosial atau keagamaan.

Lagi, ada keamanan melalui pelayanan. Artinya, Anda senang melupakan diri Anda dalam hiruk pikuk kegiatan, di dalam kerja. Melalui kegiatan ini, keamanan ini, Anda ingin lari dari keharusan menghadapi pergulatan Anda yang tanpa henti.

Jadi keamanan tidak lebih dari pelarian. Dan karena kebanyakan orang mencoba lari, mereka membuat dirinya menjadi mesin dari kebiasaan untuk menghindari konflik. Mereka menciptakan kepercayaan dan ide-ide religius; mereka memuja gambaran dari sebuah peniruan yang mereka namakan Tuhan; mereka mencoba melupakan ketidakmampuan mereka untuk menghadapi pergulatan dengan membenamkan diri dalam  pekerjaan. Semua ini adalah jalan pelarian.

Nah, untuk mempertahankan keamanan, Anda menciptakan otoritas. Bukan? Untuk menerima kenyamanan, Anda perlu memiliki seseorang atau suatu sistem yang dapat memberi Anda kenyamanan. Untuk memperoleh keamanan, harus ada seseorang, sebuah ide, sebuah kepercayaan, sebuah tradisi, yang dapat memberi Anda jaminan keamanan itu. Jadi di dalam usaha kita untuk menemukan keamanan, kita membangun sebuah otoritas dan menjadi budak dari otoritas itu. Dalam pencarian kita akan keamanan kita membangun suatu cita-cita keagamaan melalui pendeta-pendeta atau penuntun spiritual yang Anda sebut Guru atau Master.  Atau juga, kita mencari otoritas kita di dalam kekuasaan tradisi ­sosial, ekonomis, atau politis.

Kita sendiri, secara individual, telah membangun otoritas ini. Mereka tidak muncul secara spontan. Selama berabad-abad kita telah membangunnya, dan batin kita menjadi lumpuh, terpiuh oleh pengaruhnya.

Atau, misalkan kita telah membuang otoritas eksternal, maka kita mengembangkan otoritas batiniah, yang kita namakan otoritas intuisional, spiritual ­tetapi yang bagi saya tidak banyak berbeda dari otoritas eksternal. Artinya, bila batin terperangkap di dalam otoritas ­entah eksternal entah batiniah ­ia tidak bisa bebas, dan dengan demikian ia tidak mampu mengenal penglihatan sejati. Dengan demikian, di mana ada otoritas yang lahir dari pencarian keamanan, di dalam otoritas itu terdapat akar dari egotisme.

Nah, apakah yang telah kita perbuat? Dari kelemahan kita, keinginan kita akan kekuasaan, pencarian kita akan keamanan, kita telah membuat otoritas spiritual. Dan di dalam keamanan ini, yang kita namakan kekekalan, kita ingin berada selama-lamanya. Jika Anda memandang keinginan itu secara tenang, dengan penglihatan, Anda akan melihat bahwa itu tidak lebih dari sekadar egotisme yang halus. Di mana ada pembagian pikiran, di mana ada ide akan `aku', ide akan `milikku' atau `milikmu', tidak mungkin ada kelengkapan dalam tindakan, dan dengan demikian tidak mungkin ada pemahaman akan realitas yang hidup.

Tetapi ­dan saya harap Anda memahami ini­ realitas yang hidup itu, totalitas itu, mengungkapkan dirinya di dalam tindakan individualitas. Saya telah menjelaskan apa yang saya maksud dengan individualitas; keadaan di mana tindakan berlangsung melalui pemahaman, terbebaskan dari semua standar ­sosial, ekonomis, atau spiritual. Itulah yang saya namakan individualitas sejati, oleh karena ia adalah tindakan yang lahir dari kepenuhan pemahaman, sedangkan egotisme berakar dalam rasa aman, dalam tradisi, dalam kepercayaan. Dengan demikian tindakan yang dipicu oleh oleh egotisme selamanya tidak lengkap, selamanya terikat pada pergulatan tanpa henti, dengan penderitaan dan kesakitan.

Inilah beberapa hambatan dan rintangan yang mencegah manusia dari merealisasikan realitas tertinggi itu. Realitas yang hidup itu hanya dapat Anda pahami bila Anda telah bebas dari hambatan-hambatan itu. Kebebasan kelengkapan itu bukan terletak pada pelarian dari ikatan, melainkan di dalam pemahaman akan tindakan, yang adalah keselarasan dari pikiran dan hati.

Saya akan menerangkan ini lebih jelas. Kebanyakan orang yang berpikir sadar secara intelektual akan banyak hambatan. Misalnya, jika Anda merenungkan keamanan sebagai kekayaan, yang Anda kumpulkan sebagai perlindungan, atau ide-ide spiritual yang di dalamnya Anda mencoba berlindung, Anda akan melihat kesia-siaannya sama sekali.

Nah, jika Anda merenungkan keamanan-keamanan ini, Anda mungkin secara intelektual melihat kepalsuannya; tetapi bagi saya, kesadaran intelektual akan hambatan itu bukanlah keelingan yang penuh. Itu hanya sekadar konsep intelektual, bukan kesadaran penuh. Kesadaran penuh hanya ada bila Anda eling, secara emosional maupun mental, akan hambatan-hambatan itu. Jika Anda memikirkan hambatan-hambatan itu sekarang, Anda mungkin memikirkannya secara intelektual belaka, dan Anda berkata, "Katakan kepada saya suatu jalan agar saya dapat melenyapkan hambatan-hambatan ini." Artinya, Anda hanya sekadar mencoba mengalahkan hambatan, dan dengan demikian Anda menciptakan sekumpulan perlawanan baru. Saya harap saya telah menjelaskan ini. Saya bisa katakan, keamanan itu sia-sia, bahwa itu tidak punya makna, dan Anda mungkin secara intelektual mengakui ini; tetapi karena Anda telah terbiasa berjuang mencari keamanan, bila Anda pergi dari sini Anda akan meneruskan perjuangan itu lagi, tetapi sekarang melawan keamanan. Dengan demikian, Anda hanya mencari jalan baru, metode baru, teknik baru, yang tidak lebih dari sekadar keinginan akan keamanan yang diperbarui dalam bentuk lain.

Bagi saya, tidak ada apa yang dinamakan teknik untuk hidup, teknik untuk merealisasikan kebenaran. Jika ada teknik seperti itu untuk Anda pelajari, Anda hanya akan diperbudak oleh sebuah sistem lain.

Realisasi kebenaran hanya datang bila terdapat kelengkapan tindakan tanpa daya upaya. Dan berakhirnya daya upaya datang melalui kesadaran akan hambatan ­bukan ketika Anda mencoba mengalahkannya. Artinya, bila Anda sadar sepenuhnya, eling sepenuhnya di dalam hati dan pikiran Anda, bila Anda eling dengan seluruh keberadaan Anda, maka melalui keelingan itu Anda akan bebas dari hambatan. Cobalah bereksperimen dan Anda akan melihat. Segala sesuatu yang telah Anda taklukkan telah memperbudak Anda. Hanya bila Anda memahami sebuah hambatan dengan seluruh keberadaan Anda, hanya bila Anda sungguh-sungguh memahami ilusi dari keamanan, Anda tidak lagi bergulat melawannya. Tetapi jika Anda hanya secara intelektual menyadari hambatan-hambatan itu, maka Anda akan terus berjuang melawannya.

Konsep Anda akan kehidupan berdasarkan pada prinsip ini. Perjuangan Anda untuk pencapaian spiritual, pertumbuhan spiritual, adalah hasil dari keinginan Anda akan keamanan lebih jauh, pembesaran lebih jauh, kemegahan lebih jauh, dan dengan demikian terdapat pergulatan terus-menerus tanpa henti.

Jadi saya berkata, jangan mencari suatu jalan, suatu metode. Tidak ada metode, tidak ada jalan menuju kebenaran. Jangan mencari suatu jalan, melainkan elinglah akan hambatan itu. Keelingan bukan hanya sekadar intelektual; itu bersifat mental dan emosional; itu adalah kelengkapan dalam tindakan. Maka, di dalam nyala keelingan itu, semua hambatan itu runtuh, oleh karena Anda menembusnya. Maka Anda bisa melihat langsung, tanpa pilihan, apa yang sejati. Maka tindakan Anda akan lahir dari kelengkapan itu, bukan dari ketidaklengkapan keamanan; dan di dalam kelengkapan itu, di dalam keselarasan antara pikiran dan hati, terdapat realisasi dari keabadian.***


KEMBALI KE CERAMAH